
Keramaian pun semakin memuncak di Festival Malam Walpurgis, terlebih ketika tumpukan kayu bakar telah mencapai setinggi-tingginya, layaknya tinggi kebanyakan tubuh manusia. Tidak ada bagian kayu yang terjatuh sama sekali, semuanya tetap kokoh terbentuk layaknya sebuah pondasi.
Tidak ada seorang pun yang menambah tumpukan kayu itu lebih tinggi lagi merupakan sebuah pertanda malam puncak Festival Malam Puncak Walpurgis. Tanpa pengingat terlebih dahulu, cukup banyak pengunjung mulai berkumpul dan mengelilingi sekitar tumpukan kayu bakar untuk menyaksikan pembakaran api unggun.
Semuanya menghentikan aktivitas masing-masing, mulai dari mempercepat minum bir didampingi kudapan seperti sosis bakar hingga menyelesaikan pertunjukan musik. Semuanya merapat sebelum Professor Arsius kembali ke alun-alun dan melewati pengunjung untuk menghampiri tumpukan kayu bakar.
Seorang lelaki berambut pirang menutupi bagian atas telinga berjaket kain cokelat bermotif perisai merah di bagian tangan dan dada meyelimuti kemeja putih serta bercelana cokelat menghampiri api unggun tersebut, menandakan bahwa acara puncak akan segera dimulai.
Lelaki berambut pirang itu berbalik menghadap antusiasme seluruh pengunjung Festival Malam Walpurgis, terutama kalangan perempuan muda yang terpesona oleh wajah mulus tanpa noda berupa jerawat sedikitpun.
Lelaki berambut pirang itu mulai berpidato, “Kalian bersenang-senang, kah?”
“YAAA!!” seru hampir seluruh pengunjung.
“Neu, apa dia yang akan membakar kayu bakarnya?” Beatrice bertanya.
“Benar, menurut buku. Tapi kamu lebih baik lihat saja sendiri bagaimana caranya,” bujuk Neu.
Lelaki berambut pirang itu melanjutkan pidatonya, “Masyarakat Kerajaan Anagarde, kita di sini untuk memperingati semua jasa dan perjuangan penyihir untuk menetapkan kebenaran, keadilan, dan keberagaman dalam rangka puncak Malam Walpurgis. Seluruh kejadian untuk menetapkan keadilan bagi para penyihir telah membuat seluruh dunia dan Kerajaan Anagarde menjadi seperti sekarang.
“Di hadapan kalian, tumpukan kayu bakar sudah setinggi hampir menyerupai tubuh manusia pada umumnya. Kalian pasti menganggap secara umum bahwa api melambangkan sebuah semangat membara baik dalam pertarungan, melakukan aktivitas, berkeliling dunia, dan terus menuntut ilmu. Kali ini, api juga dilambangkan sebagai sebuah bentuk penyucian terhadap kesalahan-kesalahan kalian pada masa lalu, kesalahan yang membuat kalian menyesal dalam jangka waktu panjang, termasuk memuja setan.
“Hari ini adalah awal baru, tujuan baru, visi baru, dan misi baru bagi pribadi masing-masing. Kita usir kenangan buruk dan menggantinya dengan yang baru. Kita juga berharap tidak ada binatang buas atau setan memasuki kota dan menyebabkan marabahaya. Semoga mulai esok, seluruh dunia akan merasakan aman, nyaman, dan tenteram. Semoga kalian juga mendapat harapan baru dalam menemukan dan melaksanakan tujuan kalian masing-masing.
“Dengan ini, saya akan memulai membacakan mantra untuk membakar kayu bakar menjadi sebuah api unggun yang besar!”
Sorakan dan tepuk tangan pengunjung mulai meledak tidak sabar ingin menyaksikan sebuah puncak acara dalam waktu dekat. Beberapa juga merapalkan harapan dan tujuan di dalam hati masing-masing.
Neu bertanya pada Sans, Beatrice, dan Yudai di balik keramaian tersebut, “Aku ingin tahu sekali lagi, apa harapan baru kalian? Atau masihkah kalian memiliki tujuan yang sama?”
“A-anu, apa ya?” Beatrice kebingungan.
Neu mengambil giliran pertama untuk mengungkapkan, “Aku di sini, di Benua Aiswalt, di Akademi Lorelei, untuk menjadi mage. Aku ingin berkeliling dunia suatu saat nanti, mau itu saat aku belajar di Akademi Lorelei atau saat lulus, aku ingin melihat sendiri seperti apa dunia. Pada saat yang sama, aku juga ingin belajar lebih banyak tentang sihir penyerangan, pertahanan, dan penyembuhan. Kalian sudah tahu mage pada umumnya merupakan tipe job attacker, itulah yang aku ambil, tetapi ada juga mage bertipe support dan defender.
“Aku tidak hanya ingin menjadi sekadar mage tipe attacker saja. Aku juga ingin mempelajari sihir tipe support dan defender, setidaknya menyerupai high mage, tetapi aku masih tetap akan menjadi mage tipe attacker.”
Beatrice bercerita, “Aku, aku ke sini hanya untuk melarikan diri,” Beatrice mengungkapkan, “aku muak dengan perilaku keluarga yang terus memaksa diriku untuk berperilaku begini begitu, katanya memang hal seperti itu yang dilakukan perempuan bangsawan. Namun, begitu ke sini, aku dapat melihat dunia luar, aku bisa bertemu kalian bertiga, terutama Neu. Aku masih tidak tahu apa sebuah keberuntungan memanggilku untuk menjadi song mage. Sejak kecil, aku suka sekali bernyanyi, tapi aku tidak berani mengungkapkan nyanyianku hingga sekarang, kalian memintaku untuk bernyanyi di hadapan penonton, termasuk kalian.”
“Beatrice,” Neu terdiam sejenak, menghela napas memperhatikan Beatrice kembali menaikkan kepala menghadap pada api unggun dan kerumunan pengunjung, “kamu akan menjadi song mage yang hebat. Maafkan aku telah menertawakan nyanyianmu saat kita kecil, sekarang kamu punya potensi.”
Yudai berkomentar, “Pantas kemarin kamu mengeluhkan professor yang mengeluh soal nyanyianmu.”
“Bagaimana dengan kalian? Apa kalian punya harapan baru? Tujuan baru, Sans dan Yudai?” Neu kembali bertanya.
Yudai menutup mata sejenak sebelum kembali membukanya sambil menyatakan gabungan harapan dan tujuan, “Aku tidak mungkin berada di sini jika kakekku tidak menceritakan Akademi Lorelei, aku akan terus tetap di kampung halaman, menunggu sebuah kepastian. Kepastian tentang kedua orangtuaku.
“Kedua orangtuaku … telah meninggalkan rumah sudah lama sekali, begitu lama tanpa kabar, tanpa mengirimkan surat. Aku ke Akademi Lorelei untuk mencari kedua orangtuaku. Sebelum itu, aku akan menjadi archer yang kuat, yang bisa secara akurat menembak setiap musuh. Kuharap dengan menjadi murid Akademi Lorelei, aku bisa mencari petunjuk tentang keberadaan kedua orangtuaku.”
“Yudai,” Beatrice berdecak setelah mendengar cerita tersebut, “kuharap kamu dapat menemukan orangtuamu secepat mungkin, meski itu setelah kita lulus dari akademi, kuharap kamu menemukan jawabannya.”
“Terima kasih, Beatrice,” Yudai menoleh, “setidaknya aku sudah punya teman seperti kalia bertiga, terutama Sans yang sudah dari awal bersamaku sejak kita berangkat dari Grindelr.”
Sans menoleh pada lelaki berambut pirang yang telah mengangkat tangan menghadap tumpukan kayu bakar. Dapat terdengar juga lelaki berambut pirang itu mulai merapalkan sebuah mantra panjang berupa kalimat bahasa asing secara nyaring hingga terdengar segar di telinga.
“Sans? Sans?” Yudai membuyarkan perhatian Sans terhadap perapalan mantra lelaki berambut pirang.
“Ah? A-apa?” Sans menjawab panggilan Yudai.
“Giliranmu. Saatnya kamu menceritakan tujuan dan harapanmu di sini.”
Memperhatikan Beatrice dan Neu yang menatapnya dengan penuh keingintahuan, Sans menghela napas sejenak, mempertimbangkan untuk melontarkan kata-kata untuk mengekspresikan tujuan dan harapan.
Sans merenung kembali perjuangannya mulai dari meninggalkan kampung halaman, bertemu dengan Yudai di dermaga, berangkat menuju Benua Aiswalt menggunakan kapal, memasuki Akademi Lorelei, mengikuti aptitude test, hingga Festival Malam Walpurgis bersama ketiga teman dekatnya saat ini.
Sans mulai melontarkan ceritanya, “Kalian tahu, aku terpuruk sekali ketika mengetahui dari murid tingkat atas kalau murid bermantel putih sama sekali tidak punya harapan, harapan untuk tetap belajar dan tinggal di Akademi Lorelei. Aku tahu aku telah dicap sebagai orang gagal, calon murid yang akan dikeluarkan. Aku sangat terpuruk sampai meningat kembali tujuanku.
“Aku merenung bagaimana kalau aku benar-benar dikeluarkan? Bagaimana kalau aku gagal mencapai tujuanku? Aku tidak punya apa-apa kalau aku kembali ke kampung halaman di Grindelr. Aku hanya akan mempermalukan semuanya, semuanya di kampung halaman, bahkan ibuku sendiri.
“Ibuku telah menderita sebuah penyakit kronis, obatnya langka. Alasan aku masuk ke Akademi Lorelei agar untuk menyembuhkan ibu dengan mencari obatnya. Ketika memikirkan kembali tujuan itu setelah mendengar omongan murid tingkat atas seperti yang telah kusebutkan tadi, aku ingin memarahi diriku sendiri karena gagal dalam aptitude test, karena aku tidak punya harapan di Akademi Lorelei.
“Setidaknya, aku punya kalian, Yudai, Beatrice, dan Neu, yang rela membantuku. Oleh karena itu, harapan untuk tetap tinggal di Akademi Lorelei masih terbuka bagiku. Aku … bahkan tidak tahu apa aku bisa tetap tinggal atau dikeluarkan dari akademi.”
Yudai menambah, “Kamu punya kami, teman yang bisa mengisi sebuah kekosongan, termasuk menambah sebuah harapan. Kamu tidak sendiri, Sans.”
Beatrice kembali menjulurkan senyuman. “Kami akan membantumu untuk membuat kampung halamanmu, bahkan ibumu, bangga denganmu. Kami rela.”
Sans terdiam atas perlakuan ketiga temannya, perkataan mereka bertiga seakan menjadi cahaya baru yang terserap ke dalam tubuh membuat sebuah harapan.
Suara ledakan pada api unggun terdengar, bersamaan dengan sorakan seluruh pengunjung. Sans berbalik memperhatikan api sudah mulai menjalar menuju udara. Tinggi api itu seakan hampir mencapai langit. Merah bercampur jingga pada api itu seakan membakar semangat dari acara utama Festival Malam Walpurgis.
Sans mengangguk tersenyum menatap api itu sekali lagi. Api yang membakar tumpukan kayu bakar itu dapat diibaratkan sebagai bahan bakar untuk menetapkan sebuah pola pikir baru setelah menyatakan tujuan dan harapan. Masa lalu sedikit demi sedikit tersapu oleh api, tergantikan oleh visi masa depan di dalam benak.
“Mungkin ini sekian kalinya aku mengucapkannya. Terima kasih. Terima kasih banyak,” Sans mengekpresikan kepuasan terhadap ketiga teman dekatnya.
Alunan musik dari ketukan jari pada djimbe, tiupan udara pada bagpipe, dan gesekan jari pada sitar mulai meluncur menuju telinga, memicu hampir seluruh pengunjung kembali bergoyang, seakan mulai berpesta di hadapan api unggun.
Beatrice tercengang ketika melihat seluruh pengunjung di sekitarnya kembali bergoyang mengikuti irama lagu, kembali berpesta. Ada pula yang memutuskan untuk kembali ke stand makanan dan minuman demi membeli kudapan pendamping pesta.
Nyanyian dua orang vokalis juga turut memeriahkan pesta tersebut. Semangat membara pengunjung untuk berpesta tidak ingin kalah dengan besarnya api unggun.
“Bu-bukannya seharusnya sudah berakhir?” Beatrice mengira.
Neu berkomentar, “Belum. Sudah kubilang bersenang-senang bersama iblis dengan menari dan menyalakan api unggun. Jadi jangan heran kalau melihat semuanya menari kembali setelah api unggun dinyalakan.”
“Oh ya, kita beli sosis bakar sekali lagi,” usul Yudai.
“Lagi?” ulang Neu tercengang.
“Habisnya aku lapar lagi setelah menikmati semuanya. Akan lebih baik kita juga beli makanan lain di salah satu stand,” bela Yudai, “sambil menikmati puncak Festival Malam Walpurgis.”
“Baiklah, tapi satu kali saja,” bujuk Neu.
Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu memisahkan diri dari keramaian tarian mengikuti irama menuju kumpulan stand. Sekali lagi, mereka menghampiri stand sosis bakar untuk memesan empat buah ukuran besar.
Nikmatnya kehangatan dari sosis itu melumer di mulut, apalagi jika ikut menghayati tekstur dalam lembut di lidah. Setiap gigitan sosis bakar seakan menghangatkan mulut saking semangat untuk menikmati sedikit demi sedikit. Asin dan gurih berasap juga membantu air liur melumerkan gigitan sosis.
Selanjutnya, mereka meminum segelas sari buah cranberry bercampur anggur. Manis dan asam dari segelas saja sudah membuat mulut puas dan sedikit dingin sehabis menikmati sosis bakar panas-panas. Meski tidak semenyenangkan meminum bir seperti kebanyakan pengunjung, kepuasan tetap tidak kalah.
Mereka kemudian ikut bergabung dalam kerumunan pengunjung yang menari mengikuti irama musik. Sans dan Beatrice benar-benar kesulitan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama, terutama kedua lengan. Keadaan tersebut membuat sedikit canggung hingga Neu mengajak Beatrice untuk menari bersama. Yudai juga mengajari cara menari mengikuti irama dengan benar pada Sans.
Ketika lagu terakhir telah usai, lelaki berambut pirang menutupi bagian atas telinga berjaket kain cokelat bermotif perisai merah di bagian tangan dan dada meyelimuti kemeja putih serta bercelana cokelat kembali menghampiri api unggun dan berbalik menghadap seluruh pengunjung.
Seluruh pengunjung kembali mengalihkan perhatian pada lelaki berambut pirang itu ketika selesai menari mengikuti musik, menyadari bahwa malam telah cukup larut hingga menjelang penghujung acara.
Sekali lagi, lelaki berambut pirang itu mengucapkan kalimat berbahasa asing dengan nyaring menyambut akhir Festival Malam Walpurgis. Nadanya lancang hingga membuat pengunjung menyimpulkan semangat membara dalam sebuah pidato penutup.
Lelaki berambut pirang itu berseru, “Wahai Kerajaan Anagarde, terima kasih telah mengizinkan kami untuk merayakan Festival Malam Walpurgis. Besar harapan kami untuk menjaga perdamaian dunia dan membuat harapan baru. Api baru telah membakar seluruh kesuraman menjadi kecerahan. Masa depan akan kami catat menjadi sejarah dan harapan baru.”
Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu kembali tercerahkan ketika mendengar pidato penutup lelaki berambut pirang itu. Mulut mereka terbuka lebar membentuk sebuah senyuman, menandakan akhir dari Festival Malam Walpurgis merupakan awal dari harapan baru untuk mencapai tujuan masing-masing.
Sebuah bel berbunyi cukup nyaring ikut menyambut berakhirnya Festival Malam Walpurgis di alun-alun kota. Sorakan pengunjung juga turut memeriahkan akhir dari sebuah awal.
Beberapa menit setelah acara tersebut selesai, seluruh pengunjung akhirnya kembali menuju rumah masing-masing, begitu pula dengan setiap murid Akademi Lorelei. Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu juga menyusuri jalan kembali menuju Akademi Lorelei.
“Bagaimana? Apa kalian terhibur?” tanya Neu.
“Tentu saja!” seru Yudai. “Sosis bakar enak sekali!”
“Dasar.” Neu menepuk jidatnya. “Pasti sosis ada di pikiranmu.”
“Setidaknya, kita punya awal baru, seperti kertas putih yang belum tergores,” balas Yudai, “Mari kita terus berjuang bersama!”
“Eh?” ucap Sans dan Beatrice tercengang sejenak.
“Iya. Aku harapkan kita semua bisa berjuang sampai akhir di akademi, bersama-sama,” balas Neu.
Beatrice mengangguk. “Aku akan berjuang lebih keras lagi! Untuk menjadi song mage yang bisa membantu kalian!”
Sans akhirnya bersuara setelah terdiam sejenak, “Iya. Aku akan berjuang sebaik mungkin, agar tidak dikeluarkan dari akademi dan mencapai tujuanku, yaitu menyembuhkan Ibu.”