Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 92



Ketika menatap kembali bayi phoenix di balik kolong akar pohon di sudut timur laut pagar halaman akademi, sebuah perkembangan dapat dikatakan sangat membanggakan. Bulu merah telah menutupi kulit tipis tubuh makhluk mungil itu.


Keluguan sang bayi phoenix yang telah berkembang itu memicu kebahagiaan Sans, Beatrice, dan Yudai. Kerja keras mereka dalam merawat bayi phoenix itu separuh membuahkan hasil. Hanya tinggal menunggu waktu agar burung itu menjadi dewasa dan dapat mengeluarkan air mata.


Dari memberi makan cacing hingga membuat ikatan batin pada bayi phoenix itu setiap hari, harapan mereka untuk membentuk sebuah “faktor lain” demi mendapat setetes air mata seakan mengembang. Meski begitu, butuh waktu lama agar bayi phoenix itu benar-benar menjadi dewasa sesungguhnya.


“Ayo, Sans!” seru Beatrice.


“Pasti bisa. Kalau terus begini, peluangmu untuk mendapat air mata phoenix semakin besar!” tambah Yudai.


Meski merasa berdebar menggenggam cacing yang berlendir, Sans memberanikan diri untuk memasukkannya ke dalam paruh bayi phoenix. Keluguan dari wajah bayi phoenix yang ia rawat bersama itu sedikit meredakan perasaan jijik pada cacing di genggaman.


Bayi phoenix itu menyedot cacing dari genggaman Sans menuju dalam paruhnya. Dapat terlihat ia menikmati “hidangan” hidup berlendir dan memuaskan itu, cocok untuk pertumbuhannya.


“Imut sekali!” Beatrice berseru kagum menatap wajah bayi phoenix itu.


Sans bangkit dari posisi jongkok. “Menyenangkan juga. Apalagi kita juga merawatnya secara sembunyi-sembunyi.”


Yudai tersenyum lebar.


“Sekarang kita harus melakukan apa ya? Kalian tidak ada latihan khusus, kan?” Beatrice ingin tahu.


“Tidak,” jawab Sans.


Yudai mengingatkan, “Ah, uang kita tinggal sedikit lagi. Kita hanya sempat menyelesaikan satu misi selama libur! Kecuali saat kita mencoba misi kelas A, yaitu mengalahkan basilisk, bersama Riri dan Katherine. Kalau begini terus, kita akan kehabisan uang sebelum libur berakhir.”


“Semoga saja ada misi kelas C. Aku belum siap untuk misi kelas B,” ucap Beatrice pesimis.


“Aku juga. Akhir-akhir ini banyak misi kelas A dan B di quest board,” tambah Sans.


“Kita coba lihat quest board.” Yudai bangkit dari posisi jongkok. “Kalau ada misi kelas C, kita ambil. Kalau tidak ada, terpaksa kita ambil misi kelas B dan mengajak Riri serta Katherine lagi.”


***


Satu hal penting untuk berjaga-jaga sebelum pergi ke alun-alun untuk melihat quest board, yaitu kembali ke asrama. Tentu saja untuk mengambil senjata dan perlengkapan dari kamar masing-masing.


Memasuki gedung asrama dan menuruni tangga menuju lounge room, percakapan pun terdengar menuju telinga mereka. Seperti biasa, sudah ketahuan bahwa pertengkaran kecil menjadi ciri khas bagi kedua orang itu.


“Dasar Mata Empat, yang kamu pikirkan hanya itu-itu saja! Memangnya kamu ini ayahku? Guruku? Kamu masih saja tidak puas dengan—” Dapat terdengar perkataan itu terlontar dari mulut Tay.


Neu meletakkan secangkir teh hangat di meja ketika menatap Sans, Beatrice, dan Yudai menuruni tangga memasuki lounge room.


“Halo.” Neu bangkit dari posisi duduk di sofa.


“Tay? Neu?” sapa Sans heran menatap mereka berdua di sekitar sofa dan meja menghadap perapian.


“Te-ternyata kalian juga datang lebih awal?” terka Yudai. “Kukira hanya Zerowolf.”


Neu menghampiri mereka bertiga yang baru saja menginjak anak tangga terakhir. “Tentu saja. Aku sudah merindukan perpustakaan di akademi, ingin sekali kubaca banyak buku di sana.”


“Jadi begitu rupanya,” tanggap Beatrice.


Tay justru menyindir, “Si Mata Empat ini ingin menjadi lebih sok tahu agar Profesor Alexandria terkesan padanya.”


“Apa kamu mau kita dapat masalah lagi dari Profesor Alexandria? Apalagi saat kita kembali bertengkar gara-gara ini?” Neu memperingatkan.


Tay memutar bola matanya. “Lebih baik kamu saja sendiri.”


“Ka-kalian baru datang begini sudah bertengkar—”


Neu memotong ucapan Beatrice dengan bertanya, “Oh ya, yang penting lagi, selama kalian berada di sini, sudah mengerjakan tugas liburan musim dingin, belum?”


Sans, Beatrice, dan Yudai membeku. Terpicu! Seperti kepingan yang telah lama hilang kembali ke otak, getaran seakan membantu kepingan itu kembali masuk ke dalam pikiran, sesuatu yang seharusnya mereka lakukan.


Sama sekali tidak terpikirkan selama tinggal di akademi selama libur musim dingin. Rutinitas mulai dari melakukan latihan secara individu dan bersama, mencari misi kelas C, hingga mengambil air mata phoenix. Beatrice juga teringat, semenjak menyelesaikan misi kelas A bersama Riri dan Katherine, mereka tidak pernah memikirkan tugas itu sama sekali.


Sans dan Yudai juga tidak menyangka bahwa Neu telah mengingatkan hal penting selama berlibur di akademi. Hal sangat penting hingga mereka harus berimprovisasi.


“A-anu—” Yudai terlebih dahulu menjawab, “—ki-kita bertiga sebenarnya—”


“Lupa?” Neu bangkit dari duduknya. “Jadi kalian asyik menikmati liburan di akademi ini tanpa mengerjakan tugas sama sekali?”


“A-ah, i-itu—” Sans berupaya untuk menjawab.


Beatrice memasang wajah polos tidak bersalahnya. “Ja-jangan khawatir, Neu! Pasti kita akan mengerjakannya!!”


Neu mengetahui kapan mereka akan mengerjakan tugas itu. “Saat akhir liburan, kan? Saat kita mau dekat dengan semester berikutnya?”


Aura tak kasat Neu seakan penuh kehitaman seakan ingin meledak menjadi sebuah api membara.


“U-uh, sebenarnya, kita bertiga ingin mengambil misi untuk hari ini. Uang kita benar-benar menipis. Kita hanya menjalani dua misi selama berlibur, misi kelas C sangat langka akhir-akhir ini,” tanggap Yudai sambil menyeringai.


“Be-benar,” Beatrice membela Yudai, “lebih baik kita—”


Neu memotong, “menunda-nunda seperti itu ide yang buruk! Kalian ingat dengan ancaman Profesor Alexandria?”


“Eh?” Beatrice dan Yudai kembali melongo bersamaan.


Tay memperingatkan, “Hei, Mata Empat, kenapa mengaitkan ini dengan Profesor Alexandria? Padahal dia hanya bilang tidak mengumpulkan, tidak boleh ikut field trip, begitu?”


“Justru itu! Kalau kalian tidak ikut field trip, nilai untuk semester berikutnya pasti akan berkurang! Kalian juga sudah tahu bagaimana tingkah Profesor Alexandria dari saat kita semua terpergok melewati jam malam!”


“H-hah?” Beatrice menyahut ngeri.


Dapat terbayang bagaimana jika Alexandria menceramahi mereka habis-habisan karena tidak mengumpulkan tugas libur musim dingin itu, yaitu mencari informasi tentang Familiar. Dapat terbayangkan kata-kata yang akan terlontar dari profesor paling dibenci di akademi itu, nada tinggi dan wajah geram.


“Ti-tidak! Tidak!” jerit Beatrice menyentuh kepalanya.


“Ta-tapi kenapa tidak besok saja? Begitu kami berhasil menyelesaikan misi, kami bisa—” Yudai berusaha membela diri.


“Terlalu berlebihan, Mata Empat.” Tay melipat kedua tangan di dada.


Benar-benar susah untuk memberitahu keempat temannya sendiri saat libur akan berakhir dalam kurang lebih sepekan. Neu tidak segan untuk berperan seakan-akan seperti Alexandria, berteriak keras demi memperingatkan agar mengerjakan tugas.


Sayangnya, Neu tidak dapat melakukannya atas nama persahabatan. Ia tidak ingin membuat Beatrice, teman masa kecilnya itu, membenci dirinya. Maka dia harus sedikit lebih tegas.


“Aku perintahkan kalian semua untuk pergi ke perpustakaan untuk memulai tugas itu!”


“Ti-tidak! Padahal uang kita tinggal sedikit lagi!!” jerit Yudai.


***


Setidaknya, mereka benar-benar beruntung perpustakaan sedang sunyi.


Sangat wajar mengingat hanya sedikit murid akademi, tidak memandang angkatan, telah berada di akademi saat itu. Tidak heran pengunjung perpustakaan siang itu hanya mereka, Sans dan teman-temannya.


Neu telah mengambil berbagai buku dan meletakkannya di meja. Ia ingin memastikan Sans, Beatrice, Yudai, dan Tay membaca salah satu dari pilihan buku tentang Familiar terlebih dahulu sebelum kemudian mencatat sebuah intisari di secarik kertas.


Kabar buruknya, buku yang Neu pilih semuanya seakan berlapis-lapis, tebal dan pasti banyak penjelasan yang tidak mudah terserap. Pasti akan menyita waktu.


Tatapan Neu seakan seperti elang, aura hitam membara tidak kasat mata juga seakan membakar dirinya saking semangat. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada satupun yang dapat meloloskan diri.


Setelah memperhatikan tingkah Neu, Sans mulai membaca lebih dekat isi buku di hadapannya itu. Baru saja mencapai halaman pertama ia sudah merasa tersesat dalam rangkaian kata.


Sans menyimpulkan buku tentang Familiar yang tengah ia baca bahkan lebih buruk daripada Buku Dasar Alchemist. Tentu ia lebih memilih belajar alchemist daripada harus repot menghadapi buku yang ia harus baca.


Beatrice memutarbalikkan setiap halaman buku, melewati beberapa penjelasan dengan harapan langsung mendapat intisarinya. Sayangnya, berbagai kalimat justru membuatnya lebih pusing. Memindai setiap kalimat yang ia anggap menarik tidak akan berguna kecuali memahami kata per kata.


Yudai meletakkan tangan kiri pada pipinya, tipikal pose melamun di kala situasi membosankan. Ia berharap agar dapat menyelesaikan misi atau berlatih memanah alih-alih membaca buku tebal demi mengerjakan tugas.


Tay melirik pada Neu. Ia tidak sudi musuh bebuyutannya itu memaksa agar mengerjakan tugas, sama seperti saat di kampung halamannya.


“Serius, kamu bahkan tidak melakukan apapun sekarang! Hanya mengawasi kami. Menyedihkan sekali!” Tay mengeluh.


“Aku hanya tinggal membaca kembali saat di kamar nanti malam, lalu mencatat intisarinya sebagai tugas. Makanya, jangan mengeluh dan—”


“Kenapa tidak begini saja? Daripada repot-repot membaca buku tebal ini, lebih baik kita semua catat semua yang ada dicatatanmu, Mata Empat.”


Secercah harapan melayang di antara Sans, Beatrice, dan Yudai. Sebuah keputusan cerah turut mengeraskan sorakan mereka dalam hati. Cara cepat itu dapat menjadi keuntungan demi lolos dari jeratan tugas liburan.


“Tunggu dulu. Enak saja!” Neu menolak.


Harapan itu padam seketika.


“Itu sama saja dengan menyontek, bodoh!” Neu tanpa sadar meninggikan volume suara.


Seorang penjaga perpustakaan yang tengah menghampiri salah satu rak buku dekat meja mereka menghampiri. Ia memperingatkan dengan mendekatkan telunjuk dan mendesiskan suara.


Neu langsung tercengang, lupa bahwa mereka sedang berada di perpustakaan selagi memperingatkan.


“Maaf,” ia menundukkan kepala sebelum sang penjaga perpustakaan berlalu.


“Eh?” Yudai mengeluh. “Memang kenapa? Ini kan bukan ujian.”


“Kalian sendiri tahu bagaimana sikap Profesor Alexandria pada murid yang ingin berbuat curang, kan? Contohnya, salah satu murid dikeluarkan karena membawa senjata saat aptitude test bagian luar. Itu juga berlaku dengan tugas ini.”


Tay protes, “Memangnya dia yang akan mengecek tugas ini? Apa kaitannya?”


“Aku juga pernah mencuri dengar dari kelasnya. Dia langsung tahu kalau seseorang telah mencontek atau setidaknya menyalin hanya dengan membacanya. Begitu dia tahu kalau tugas kalian hasil contekan, kalian akan dimarahi habis-habisan seperti ini: kamu menyontek, ya?!”


Sans, Beatrice, dan Yudai menelan ludah.


“Dia akan membuktikan bahwa kalian benar-benar menyontek, mempermalukan di seluruh ruangan kelas. Begitu ketahuan, kalian akan mendapat nilai nol, nilai nol! Pokoknya Profesor Alexandria paling tidak suka dengan murid yang menyontek, apalagi langsung menyalin tanpa memahami terlebih dahulu. Lebih baik kalian jujur daripada harus mendapat hujatan darinya.”


Beatrice mendesah. “Pantas saja, dia itu profesor yang paling dibenci di Akademi Lorelei.”


Tay tetap bersikukuh, “Terserah. Dia itu sudah memberi standar yang paling keterlaluan, itu yang dikatakan murid lain.”


“Aku tidak akan memberikan kalian catatanku tentang Familiar. Kalian mau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Dia terintimidasi hingga tidak masuk selama satu atau dua minggu, itu yang kukorek dari buah bibir angkatan tingkat atas. Memang sering sekali terjadi. Aku tidak ingin kalian juga bernasib seperti dia.”


Sans menelan ludah. Profesor Alexandria memang menyeramkan, sekali lagi itu kesan terhadapnya. Tidak hanya sekadar memberi standar keterlaluan dalam kelas dan mengancam mengeluarkan murid jika terpergok mempelajari alchemist, tetapi juga tidak memandang belas kasihan dalam memberikan nilai nol bagi murid yang terpergok menyalin dalam mengerjakan tugas.


“Sekarang, kalian kerjakan tugasnya. Baca dulu, kemudian rangkum sebagai tugas.”


“Ta-tapi kan—” Beatrice sudah pesimis.


Sans menegakkan kepalanya. “Semuanya. Neu benar. Kita harus menggunakan cara kita sendiri untuk mengerjakan tugas ini masing-masing. Oh ya, seperti saat kita mengerjakan tugas kelas sejarah semester lalu, kita juga bisa berdiskusi kalau kita tidak mengerti. Ya, sebenarnya, buku ini cukup tebal.”


Yudai mengangguk setuju. “Ah! Benar. Untuk hari ini, kita bicarakan apa yang sudah kita baca sejauh ini. Lalu kita catat sepemahaman kita sebagai catatan. Begitu kita selesai, kita hanya tinggal merangkumnya sebagai tugas.”


Tay mendesah heran atas tingkah Yudai. “Kamu selalu saja mendadak berubah sikap.”


Mendengar usul Sans dan Yudai, Neu melebarkan bibirnya. Cara itu memang sudah tepat untuk mengejarkan tugas bersama-sama.


“Boleh juga. Ide bagus. Tapi ingat, kalian jangan tulis saling sama persis. Pokoknya jangan,” Neu menambah,


“Baik.” Yudai memberi hormat pada Neu, tangan kanannya ia dekatkan pada kening. “Ayo kita mulai baca. Semangat!”


 “Omong-omong, kalian pasti tidak akan suka mendengarnya. Profesor Alexandria akan mengampu salah satu dari dua kelas umum yang kita wajib ambil semester ini.”


Baru saja mau melirik kembali pada buku di hadapan mereka masing-masing, Sans, Beatrice, dan Yudai membeku setelah mendengar revelasi itu. Benar, mereka akan berhadapan langsung dengan profesor yang paling dibenci itu ketika libur musim dingin telah berakhir.


“A-apa!!” jerit Sans, Beatrice, dan Yudai.


Sang petugas perpustakaan itu kembali memperingatkan sama seperti pada Neu.