Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 135



Yudai telah berdiri di hadapan sebuah pintu di selasar ruang pribadi profesor. Melihat Sans pergi untuk meraih langkah berikutnya untuk mencapai sebuah tujuan utama memicu untuk melakukan hal serupa. Ia merasa tidak enak hanya berdiam di kamar saat pagi hari, menunggu seluruh murid keluar untuk melakukan aktivitas masing-masing.


Hanya perlu sepuluh detik untuk menunggu pintu itu terbuka lebar. Dolce, seorang profesor yang ingin ia temui, tertegun menatapnya.


“Yu-Yudai? Ada apa pagi-pagi begini?”


“Maaf menganggu, Dolce.” Yudai menundukkan kepala. “Sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakannya … setelah Anda menjelaskan phoenix bukan familiar. Jika Anda tidak keberatan, maukah Anda bercerita tentang ayahku lebih lanjut?”


Tentu Dolce tidak tercengang atau termenung atas pertanyaan Yudai. Ia sudah menduganya kalau hal tersebut harus ia jelaskan. Bahkan, ia berharap agar Yudai mendatangi ruangannya secara pribadi, empat mata.


“Duduklah.”


Selagi Yudai menutup pintu dan mulai duduk di sofa ruang depan, Dolce membuka lemari dan mengambil sesuatu. Sebelum berbalik menghadapi Yudai, ia berdiam diri sejenak mengeratkan genggaman pada barang itu.


Dolce mulai berbicara saat berbalik. “Ayahmu adalah murid yang hebat di sini. Tidak diragukan lagi. Dia adalah saingan terbesar saya waktu kami belajar di sini, sebagai murid. Kurang lebih sama seperti kamu dan Zerowolf, rival bebuyutan.


“Ayahmu tidak pernah meremehkan dan mengejek siapapun, bahkan setelah seseorang mengejek dan merundungnya. Setidaknya, dia berhasil membuktikan dia merupakan archer yang kuat.”


Yudai menunjuk barang yang Dolce pegang. “Apa itu barang pemberian ayahku?”


“Ya.” Dolce menunjukkan barang itu, yakni glove (sarung tangan) berlapis kain dan platina. “Ini adalah hadiah saat reuni empat tahun setelah kelulusan. Waktu itu saya ingin benda seperti ini, saya percaya ini bisa meningkatkan kemampuan menembak dan membuat tangan lebih nyaman. Harganya bisa mencapai 10000 vial.”


“Mahal sekali.”


“Saya anggap ini sebagai jimat keberuntungan. Sarung tangan ini selalu saya pakai saat berburu dan bertarung sebelum menjadi profesor di sini. Sekarang, ini jadi pengingat persahabatan saya dan ayahmu, Yudai.”


“Kapan terakhir kali Anda melihat ayahku, Dolce?”


“Jujur saja, sudah lama sekali, di Silvarion. Saat kami berburu bersama lagi di sekitar hutan, lalu kami menemukan sebuah kuil. Saya juga tidak ingat nama kuil itu. Tapi, ayahmu ingin menyelusurinya, dan kami bertualang kembali. Kami di sana sampai malam, begitu larut sampai ibumu memarahi kami.


“Esok harinya, saya menghadiri pernikahan mereka, kedua orangtuamu. Saya juga baru tahu kalau mereka mengadakan pesta pernikahan saat itu. Sangat sederhana seperti di kampung halamannya di Grindelr.


“Itulah terakhir kali saya melihat ayahmu. Kami hanya berkomunikasi melalui surat. Setelah lima tahun, dia tidak pernah membalasnya lagi, tepatnya setelah saya menjadi profesor di Akademi Lorelei.


“Setidaknya ayahmu sangat gigih, ingin menyusul saya dalam segala hal, nilai, kemampuan, dan kekuatan. Tidak heran, sifatmu mengingatkan saya dengan ayahmu, gigih dan selalu bersemangat.”


Yudai kini mengerti mengapa Dolce benar-benar mengenal ayahnya. Ia juga tidak pernah menduga Dolce akan mengenalinya sebagai sang anak dari temannya, meski hal itu tampak mustahil. Satu lagi keajaiban telah ia dapatkan.


Mendengar hal itu, tekad untuk mencari kedua orangtuanya sungguh menguat. Ia kembali berpikir, ia harus memulai langkah untuk menggapai tujuannya, sama seperti Sans yang telah mengambil langkah lebih jauh lagi.


***


Jentikan jari seperti meledak di telinga, memicu buyarnya sebuah kilas balik di benak Yudai. Ia bangkit dari duduknya begitu sadar dari lamunannya, memperhatikan Baron berada tepat di hadapannya. Seluruh murid ber-job archer juga terfokus dan tidak dapat menahan gelak tawa akan kejadian itu.


“Sudah waraskah dirimu?”


Yudai masih tidak bisa berkata-kata menghadapi Baron, hanya berdiri sambil membuang napas.


“Kalau ingin jadi archer hebat, jangan melamun!”


Baron pun menghela napas sambil kembali menjelaskan materi teori khusus job archer. Sungguh membosankan bagi mayoritas dari murid tersebut, berharap agar langsung praktik alih-alih memahami teori seperti saat di kelas.


Tidak seperti job swordsman yang memulai pelatihan dengan praktik berupa pelatihan pertarungan menggunakan senjata sungguhan, seluruh job lain justru memulai pelatihan khusus job masing-masing dengan pemberian teori lanjutan.


“Makanya, jangan melamun saja,” sindir Zerowolf sambil tertawa.


Gelak tawa kembali menggelegar, sungguh membuat pipi Zerowolf memerah.


Yudai kembali merenung, memang sudah ketiga kali ia berada di Silvarion. Pertama untuk field trip, kedua untuk singgah selama menjalankan sebuah misi kelas A, dan ketiga untuk mengikuti bootcamp.


Seorang pria bernama Sanada seakan memicu ingatannya untuk mencari petunjuk keberadaan kedua orangtuanya di sekitar Silvarion, sesuatu yang belum ia lakukan selama berkegiatan sebagai murid Akademi Lorelei. Karena tekadnya sungguh kuat, keinginannya untuk segera mengambil satu lagi langkah demi menggapai tujuan juga menggetarkan hatinya lebih kuat.


***


Sudah menjadi aturan bahwa setiap murid selama berkegiatan di luar akademi dilarang keluar saat larut malam, kurang lebih sama seperti aturan jam malam saat di kastel akademi. Paling tidak, ada celah saat peraturan itu diterapkan, yakni saat seorang profesor yang bertugas untuk mengawasi terdistraksi atau tertidur. Lagipula, waktu berjalan 24 jam dalam sehari, profesor juga butuh tidur.


Meski begitu, tidak ada yang berani untuk keluar ketika larut malam. Pada awal, mereka lolos dari pengawasan, pada akhirnya mereka tertangkap pada saat kembali. Itulah pola pikir yang menyebabkan mereka berpikir dua kali untuk melanggar aturan itu, apalagi saat berada di kastel akademi.


Malam itu, Yudai berpikir memang saatnya mempraktikkan bahwa “aturan ada untuk dilanggar”. Kali ini, ia bertekad untuk melanggar jam malam secara hati-hati. Caranya, ia menunggu semua orang di penginapan tertidur.


Ketika ia sudah terbangun saat semua orang masih tertidur, semuanya. Dapat ia dengar teman sekamarnya mendengkur cukup keras. Usahanya untuk tidur lebih awal memang membuahkan hasil.


Ruangan masih gelap gulita membuatnya bangkit dari tempat tidur dan memulai langkah secara perlahan. Sebaik mungkin ia berusaha agar langkah dan gerakannya tidak memicu suara, apalagi membangunkan teman sekamar ataupun memicu perhatian seseorang di luar kamar itu.


Ia berhasil mengambil busur dan quiver secara pelan. Ia langsung tercengang ketika teman sekamarnya bersuara dan bergerak dalam tidur, mengubah posisi menjadi ke samping. Ia menghela napas sejenak, menandakan kelegaan.


Ia akhirnya kembali melangkah menuju pintu kamar tersebut dan membukanya perlahan. Ia mengintip seakan sedang mengintai, seluruh lentera di sekitar penginapan telah mati, setidaknya lantai dan tembok masih dapat terlihat.


Ia bergeser melewati pintu dan menutupnya, mengusahakan tidak memicu suara. Begitu melewati selasar penuh dengan pintu kamar, ia sampai menoleh ke setiap arah memastikan tidak ada satupun orang di sekitar atau mengikutinya. Sangat pelan melangkah membuat hatinya merinding, memicu tetesan keluar pada leher.


Kemudian, ia mendapati tangga menuju lantai dasar. Pintu keluar berada di depan mata dan hanya tinggal beberapa langkah. Satu per satu anak tangga ia injak sangat pelan sambil menyentuh susuran tangga.


Begitu melewati anak tangga terakhir, ruang depan, yakni tavern, sungguh sunyi, hanya embusan angin beserta suara burung hantu dan jangkrik turut mengiringi irama. Perapian telah mati seakan mematikan penerangan, setidaknya deretan kursi dan meja cukup terlihat seakan membentuk garis dan celah.


Yudai sedikit mempercepat langkah tanpa memicu suara dari injakan kaki ataupun gumaman, melewati celah beberapa kursi dan meja tavern menuju pintu. Ia menghela napas mempertimbangkan peluang sambil memegang knob pintu.


Begitu memutar knob pintu keluar penginapan tersebut, ia dapat bernapas lega. Pintu pun terbuka, udara dingin menusuk dapat ia rasakan. Ia pun keluar dari penginapan secara perlahan sebelum menutup pintu kembali.


Ketika ia lolos dari penginapan hanya untuk menyelinap, sebuah ingatan kembali terkilas. Ingatan itu adalah saat ia menyelinap bersama Sans, Beatrice, Tay, dan Neu untuk mencari Sierra. Bulu kuduknya semakin berdiri ketika ia menelan ludah.


Benar-benar berbeda, kali ini ia menyelinap seorang diri, melanggar jam malam, apalagi selama berkegiatan di luar akademi. Setidaknya, hanya tinggal satu langkah lagi untuk memulai mencari petunjuk keberadaan kedua orangtuanya, yaitu keluar dari Silvarion.


***


Berjalan dan bersembunyi di sudut sebuah bangunan, satu-satunya pilihan saat menyelinap selama bootcamp berlangsung.


Hanya tinggal beberapa langkah, sebuah gerbang keluar masih terbuka cukup lebar, berarti sebuah kesempatan untuk keluar dari kota selama tengah malam sudah pasti didapat. Hampir mudah untuk melanggar aturan seperti ini, itu yang dipikirkan Yudai.


“Hai, kau!”


Yudai sampai menghentikan langkah dan secara refleks mengambil panah dan memasangkannya pada busur, sebuah reaksi terburuk yang dapat dibayangkan ketika bertemu seseorang saat larut malam, apalagi saat ketahuan.


Sungguh, ia benar-benar terancam. Sosok dari sumber suara itu berada di kanannya. Tangan dan kakinya gemetar membuatnya tidak fokus dalam membidik demi melindungi diri.


Ia tahu rencananya telah menjadi kacau.