Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 199



Berbagai bangkai monster berserakan di sebuah padang rumput. Darah segar masih seperti mengalir mencemari warna tanah dan rumput. Salah satu di antaranya adalah seekor tikus pasir hitam raksasa bergerigi tajam seperti pisang, cukup untuk membelah kulit dan daging manusia.


Leher tikus itu telah terbelah, memicu genangan darah mengalir di pasir. Dua orang pemuda itu mendengus meratapi tikus pasir raksasa mematikan itu sebagai monster terganas di antara semua monster yang mereka hadapi saat itu.


“Dengan ini, sudah cukup,” ujar seorang pemuda berkulit sawo matang dan bermantel cokelat bertudung, “kita sudah siap untuk langkah selanjutnya.”


Seorang pemuda berambut hitam berponi depan belah dua itu menjawab, “Kuharap begitu, Sans. Apa kamu yakin? Kita baru saja mengalahkan beberapa monster kelas kakap seperti ini. Kraken itu jauh lebih berbahaya daripada ini.”


Sans mendengus angkuh, seperti tidak memiliki ekspresi pada wajahnya. “Hanya beberapa katamu, Nine? Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu? Kamu yang membuatku seperti ini?”


“Ya. Benar. Kita adalah korban dari masyarakat. Kita, alchemist adalah sampah masyarakat bagi para motherfucker itu.”


Sans berpaling dari mayat sebuah imp yang telah terbelah lehernya itu. Disaksikannya wajah makhluk berwarna putih kini tercemar oleh darah beserta tubuh putih bersisik abu yang penuh daging berwarna cokelat. Ia mengingat ada yang mengatakan tubuh imp mendekati sosok setan karena memiliki sayap bertulang serupa.


Pemuda bertudung itu menaruh kembali belatinya di selongsong pada pinggang celananya.


“Kamu benar. Lagi-lagi aku harus setuju denganmu. Masyarakat kerajaan Anagarde seperti tidak menganggap alchemist itu ada, benar-benar tidak ada. Pantas menjadi murid di Akademi Lorelei adalah kesalahan besar.”


Nine dapat memahami perasaan Sans. Mereka memang tidak menyangka akan mengambil jalan terlarang bagi murid Akademi Lorelei, menjadi seorang alchemist. Saat pertama kali mengambil jalan itu, mereka belum tahu akan konsekuensi besar yang menanti.


Sans masih memiliki tujuan sebagai alchemist, itu yang Nine pikirkan. Ia ingin melakukan apapun untuk membantu temannya itu.


Sans membuyarkan renungan Nine, “Kamu sendiri bilang kamu ingin membuktikan alchemist tidak seperti yang orang kira? Benar, tidak akan mudah.”


“Aku sendiri sudah berjanji padamu.”


***


Desa Highwind sama sekali tidak berubah daripada sebelumnya. Kondisi setiap bangunan di desa itu penuh noda, kumuh, lusuh, dan penuh goresan. Tanah pun entah seperti berlumpur atau kering. Tidak ada satupun tanaman yang mampu bertahan. Semuanya terlihat kering.


Peluh pun membasahi kulit semenjak mereka pergi berlatih dan berburu. Semakin banyak peluh membasahi seluruh pakaian saat memasuki kembali desa Highwind.


Begitu mereka menghampiri sebuah rumahnya yang sudah lapuk dan tidak terawat sama sekali, seorang gadis berambut biru pendek membuka pintu dan mendekati. Sans terkejut temannya itu sudah berada di dalam rumahnya.


“Bagaimana latihannya?” sambut gadis itu.


Nine menjawab tegas, “Kenapa kamu masuk tanpa izin?”


Sans mengangkat tangan. “Tidak apa-apa. Sudah biasa. Dia yang selama ini menjaga rumahku selama aku pergi.”


“Kamu tidak pernah bilang itu sebelumnya,” tegur Nine heran.


Sans menarik napas sejenak. Ia melirik kembali sang gadis yang mulai masam menganggapi sapaan Nine.


“Mery. Aku sudah siap. Maksudku ... kami sudah siap.”


“Kamu … akan kembali ke Aiswalt?” tebak Mery.


Sans mengangguk, “Besok, aku dan Nine akan meninggalkan benua Grindelr sekali lagi. Kamu tahu apa tujuanku.”


“A-aku … aku ingin ikut. Aku ingin membantu—”


Nine tegas menolak, “Tidak perlu. Ini terlalu berbahaya bagimu, apalagi kamu hanya seorang perempuan biasa. Aku bahkan tidak pernah melihatmu menggunakan senjata atau bertarung.”


“A-aku akan belajar.”


Nine mendesah mendengar keputusan gamblang Mery. Ia menggeleng. Kemudian, ia melirik Sans, memberi tatapan sinis.


Sans menatap ke arah langit, memalingkan wajah dari Nine. Langit pun tengah memancarkan warna oranye kehitaman, seperti gambaran hatinya saat ini. Keputusan bimbang untuk meninggalkan benua Grindelr sekali lagi. Selama dua tahun terakhir, ia tidak pernah sekalipun mengangkat kaki dari benua yang telah menjadi kampung halamannya itu.


Ia teringat kembali setiap kenangan menyedihkan selama berada di Akademi Lorelei. Ia tahu, kehidupannya selama di Akademi Lorelei berakhir sia-sia. Sama sekali tidak mencapai tahap untuk menyembuhkan ibunya. Memang, ia sudah menjadi alchemist, tetapi konsekuensinya terlalu banyak sebagai murid Akademi Lorelei.


Pada saat yang sama, terbayang kembali ketika ia menenggelamkan sang ibu di mata air kehidupan. Dapat tergambar ekspresi sang ibu yang datar dengan mata tertutup, seperti menerima takdir.


Saat ini, ibunya masih berada di dalam mata air kehidupan. Ia yakin tiga tahun setelah itu, ibunya masih dalam keadaan tidak sadar di dalam dasar mata air itu.


Sans ingin sekali mencoba kembali untuk mencapai tujuan itu, membuat obat untuk penyakit sang ibu. Pada saat yang sama, ia melirik kembali ke belakang. Terbayang segala rintangan yang menanti, terutama perkataan semua orang terhadapnya sebagai alchemist. Ia takut terluka kembali setelah ia keluar dari Akademi Lorelei.


“Sans?” Mery memanggil.


Sans kembali melirik ke depan, terutama Mery. “Aku takut kamu akan terluka. Mungkin, Nine benar. Aku juga bahkan tidak tahu apakah kamu bisa ikut bertarung. Kamu juga tidak pernah melihat kami berlatih, bukan?


“Oleh karena itu, kamu di sini saja. Tetaplah di sini. Tidak apa-apa. Aku tahu kamu khawatir denganku.”


Mery mendesah. Ia merasa tidak enak permintaannya untuk membantu Sans menggapai tujuannya tertolak. Ingin sekali ia berperan dalam berkontribusi untuk menyembuhkan ibu Sans. Terlebih, ia dari awal menjadi saksi kepergian Sans ke Akademi Lorelei.


“Sebaiknya kita tidur lebih awal saja. Besok akan menjadi perjalanan panjang,” bujuk Nine.


Sans mengangguk. Ia kemudian melirik Mery dan menggeleng, memberinya sebuah sinyal.


Mery, masih sendu, turut meninggalkan keduanya.


Melihat Mery berlalu begitu saja, Sans menghela napas.


“Apa … aku terlalu keras padanya?”


“Kamu masih terlalu baik padanya. Pada akhirnya, kamu juga harus lebih keras pada orang lain.”


***


Terbaring di tempat tidur yang biasanya dipakai ibunya, hanya terbuat dari bambu yang sudah kecokelatan, kehilangan warna hijaunya. Setiap malam Sans tidur di situ, ia membayangkan penderitaan sang ibu. Terkadang ia meneteskan air mata jika terpikir lagi, itu pun ia sadari tepat sebelum terlelap.


Langit-langit yang sudah terkelupas dan mulai berjatuhan setiap bulannya. Memang, ia tidak terpikir untuk memperbaiki rumah menggunakan uangnya selama tiga tahun terakhir. Ia hanya mementingkan pelatihan dan misi untuk memperkuat diri. Terlebih, keadaan desa Highwind sama sekali tidak berubah. Tidak ada perubahan berarti.


Ia hanya bertelanjang dada saking panasnya di dalam rumah itu. Sedikit keringat mengalir di dadanya, memicunya untuk mengusap untuk menyapunya. Wajar, musim panas, desa Highwind biasanya akan panas udaranya.


Akan tetapi, setiap kali ia memejam mata, alih-alih terlelap, justru terbayang kembali pikiran akan kegagalan dan kekecewaan. Ia sudah muak dengan berbagai kekecewaan yang ia alami, apalagi menuju kesakitan.


Pintu terbuka memicu Sans terbangun dari posisi berbaring. Merasa seperti tikus kembali menyusup ke dalam rumah, ia menekan dada seraya menahan kaget. Saat pintu itu semakin tergeser, terungkaplah Mery yang menapakkan kaki.


“A-apa aku mengagetkanmu?”


“Oh. Tidak.”


“Tidak bisa tidur?”


Sans kembali mendesah, menatap langit-langit. Kemudian, ia melirik kembali teman perempuan yang berambut biru pendek itu. Dapat ia lihat ekspresinya ikut masam.


“Hei, aku tahu ini pertama kalinya kamu akan keluar dari Grindelr lagi. Apalagi sudah dua tahun setelah kamu keluar dari Akademi Lorelei.”


“Mudah untuk bilang jangan memikirkannya kembali. Sangat mudah. Tapi luka dalam hati … tidak dapat diperbaiki semudah itu. Bukan dengan kata-kata. Bukan pula dengan dendam. Aku takut, sangat takut.”


Mery duduk di sampingnya, mulai mengusapkan telunjuk pada kulit bahu Sans. Seperti memijat, sentuhan itu sedikit menggelikan, tetapi ia tidak menghiraukan.


“Aku senang kamu masih menunjukkan kalau kamu tetaplah manusia biasa. Biasanya kamu setelah berlatih … bagaimana cara mengatakannya? Dingin. Hampir tidak berperasaan. Kamu hanya tegas.”


“Itulah kenapa aku melarangmu untuk ikut. Aku takut kamu akan bernasib sama sepertiku."


"Bernasib sama?” Mery melongo. “Aku bahkan tidak akan menjadi murid Akademi Lorelei. Aku justru khawatir denganmu, Sans.”


Mery kini memindahkan tangannya. Ia kini beralih pada dada Sans untuk mulai memeluk.


Seperti sebelumnya, Sans hanya diam, membiarkan sentuhan Mery meresap pada kulitnya, memicu sensasi lebih menggelikan dan menyejukkan. Lama kelamaan, sensasi itu seakan berubah menjadi sebuah hasrat tidak tertahankan.


Sans pun berbalik, membiarkan Mery melepaskan pelukannya. Mery pun mulai mendekatkan kepala hingga dua bibir saling bersentuhan. Ciuman antara dua bibir turut memicu percikan perasaan. Lama kelamaan, ciuman itu semakin cepat.


Tak lama, Mery mendorong halus Sans sampai berbaring di tempat tidur. Ia mulai mendesah sambil melucuti. Ciuman tersebut semakin mengeras dengan keduanya berguling perlahan di tempat tidur bambu.


***


Sans telah memakai seluruh pakaiannya, termasuk tudung cokelat yang kini menjadi ciri khas, sebelum membuka kembali pintu pada pagi buta. Ia menoleh ke belakang. Terlihat Mery hanya berselimut kecil hingga mencapai paha atas, terlihat kulit mulusnya meski berada di tengah-tengah gurun.


Ia mendesah menatap Mery yang masih terlelap. Ia tahu, semalam merupakan hal yang menyenangkan. Hal menyenangkan itu mungkin telah ia lakukan pertama dan terakhir kali bersama Mery. Memang, terasa tidak mengenakkan harus meninggalkan gadis yang telah menjadi teman dekat itu selama di kampung halaman.


Tidak seperti sebelumnya, ia hanya membawa belati yang sudah terpasang pada bagian pinggang kanan celana. Kedua gauntlet telah ia pakai, sebagai sebuah warisan dari Duke, selaku pembimbingnya.


Tanpa menoleh kembali ke belakang, ia mengangkat kaki dari rumahnya dan menutup pintu rapat. Ia kembali memasang ekspresi datar ketika Nine telah berada di hadapannya.


“Lama sekali.”


“Maaf,” ucap Sans menundukkan kepala, “aku tidak tidur nyenyak semalam.”


“Aku sudah tahu kamu berbohong.” Nine berbalik mengangguk. “Siap untuk pergi?”


“Satu hal lagi.”


***


Sebuah mulut gua mereka masuki di sebuah bukit bebatuan mengikuti aliran sungai di sekitar lebatnya pepohonan. Begitu tiba di gua tersebut, mereka melihat langit berubah menjadi biru bercampur oranye, pertanda fajar telah berakhir.


Memasuki gua tersebut dan meninggalkan terangnya pagi, cahaya berwarna biru terpancar dari aliran sungai di dalamnya. Rintikan air dari langit-langit turut berjatuhan memicu bunyi seperti gesekan pada tanah.


Jalan berliku-liku mereka lewati, semakin dalam pula gua itu mereka telusuri.


Saat jalan tersebut berakhir hingga di pusatnya, sebuah kolam berdiameter besar seperti bercahaya biru bening telah berada di depan mata. Air terjun yang mengalir deras menuju kolam itu turut memancarkan pancaran cahaya menuju dinding gua.


“Ini … air kehidupan? Mata air kehidupan?” Nine bertanya.


Sans berlutut dan memasukkan telapak tangan pada genangan air itu. Ia menatap di dasar air masih terdapat sang ibu yang masih terbaring. Mata tertutup, tubuh kaku seperti patung.


“Ibu … aku akan kembali ke Aiswalt. Sudah tiga tahun semenjak aku … menitipkan Ibu di dalam mata air kehidupan. Kali ini … aku ingin mengucapkan selamat tinggal sekali lagi, aku bersungguh-sungguh.


“Aku akan kembali setelah berhasil membuat obat untuk Ibu. Aku akan mengumpulkan ketiga bahan itu, bagaimana pun caranya. Aku … bukan lagi murid Akademi Lorelei. Aku adalah seorang alchemist, job yang terlarang di Anagarde.”


Nine hanya berdiri, meratapi genangan mata air kehidupan berdiameter besar itu memanjakan mata, sampai-sampai ia membuka sedikit mulutnya saking kagum. Ia pikir, selama ini ia belum pernah melihat sebuah keindahan semenakjubkan ini. Meskipun ia tahu tempat itu jarang orang lain kunjungi.


"Aku pergi dulu, Bu. Tunggulah, aku pasti kembali. Pasti. Aku juga akan menjadi lebih kuat. Tidak lemah seperti dulu.”


***


Perjalanan dari benua Grindelr menuju ibu kota di pesisir selatan benua Aiswalt hanya membutuhkan satu hingga dua hari. Cukup cepat bagi mereka untuk menempuh perjalanan itu.


Saat perjalanan berlangsung, Sans sampai merenungi saat ia menyelinap masuk ke dalam kapal demi menuju Akademi Lorelei. Lamunan itu terhenti saat ia terlelap malam hari.


Esok harinya, kapal pun tiba di dermaga. Sans dan Nine pun bangkit dari tidur dan segera mengangkat kaki dari dalam kapal.


Mereka berdua menapakkan kaki di pesisir pasir putih. Angin sepoi-sepoi lembut memandu harmoni keadaan pantai yang tengah menerima terik sinar matahari, burung camar berterbangan di langit biru cerah, nyaris tanpa awan.


“Akhirnya kembali juga ke sini,” ucap Sans


“Benar,” tanggap Nine yang kini berpakaian kemeja putih kancing terbuka, menonjolkan badan kotak-kotaknya, “kita ambil air mata phoenix itu dulu, lalu kita terapkan apa yang sudah kita latih sudah lama sekali, Sans.”


Sans menegakkan kepalanya, menatap gerbang. Kastel akademi juga terlihat dari kejauhan, memicu segala kenangan terkilas. Akan tetapi, ia menggelengkan kepala, ingin sekali fokus pada saat itu.


“Dua tahun aku tidak kemari. Ini saatnya untuk fokus.”


Benar, sudah dua tahun semenjak Sans meninggalkan ibu kota. Tetapi keadaan pantai ibu kota sama sekali tidak berubah, sibuk dan ramai. Ia secara angkuh melangkah tanpa memedulikan sekitar, terutama masyarakat ibu kota yang menoleh pada dirinya dan temannya itu.