
Bosan hanya berdiam diri di kamar asrama selama waktu bebas tanpa ada kelas, Tay memutuskan untuk meninggalkan kastil akademi. Ini mungkin kali pertama dirinya keluar menuju kota tanpa ada teman yang menemani, kecuali hanya untuk mengambil misi dari quest board. Padahal, ketika sebelum aptitude test, salah satu mantan teman karibnya sering mengajak untuk bercengkrama di tempat manapun, terutama di alun-alun dan kedai roti.
Tay sebenarnya tidak ingin mengambil misi apapun dari quest board, malas, itu alasan dari dalam lubuk hatinya. Ia hanya ingin mengelilingi kota tanpa terganggu oleh urusan misi di quest board, pikiran sehabis mengikuti setiap kelas pada hari itu, dan apalagi Neu, teman sekamarnya sendiri.
Tay mengambil pedang yang tersandar di dinding dekat tempat tidurnya. Ditaruhnya pedang itu pada punggung, hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu jika ada masalah.
Ketika ia keluar dari kamarnya, tangga menuju lantai bawah, yaitu ruang utama gedung asrama menjadi tujuan awal untuk keluar dari kastil akademi. Tepat setelah mengambil anak tangga terakhir dan menginjakkan kaki pada lantai, kepalanya beralih menatap Alexandria yang juga telah tiba sehabis menuruni tangga melewati pintu masuk gedung asrama.
Kehadiran Alexandria membuat seluruh murid yang sedang bercengkerama di ruang depan gedung asrama menghentikan aktivitas masing-masing. Keramaian yang terpicu oleh suara obrolan asyik seakan terhenti ketika seluruh murid menoleh pada professor perempuan terkenal sadis itu.
Tay juga menghentikan langkah, terutama ketika Alexandria menghampiri dirinya. Seluruh murid berpusat fokus pada pertemuan antara keduanya.
“Tanpa perlu saya panggil keras-keras, kebetulan kamu baru saja menuruni tangga dari kamar,” Alexandria mulai angkuh, “kamu tahu mengapa saya mencari kamu?”
“Profesor—”
Alexandria menghentikan bahkan sebelum Tay bersuara untuk membela diri, “Saya mendapat laporan bahwa kamu telah menghancurkan emblem akademi di salah satu kelas. Emblem itu sangat penting bagi nama baik akademi, setiap ruangan kelas wajib memilikinya. Saya tidak punya pilihan lain selain memintamu mengganti emblem itu.”
Tay justru membela diri, “Hanya laporan? Ini omong kosong!”
“Saya tidak butuh bukti lain. Saya mendapat kesaksian dari seseorang kalau kamu menghajar seseorang, lalu kamu merusak emblem di kelas itu. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri.”
Tay mengingat kembali ketika di kelas, tidak ingat kapan waktunya, satu-satunya yang berada di dalam benaknya hanya ketika seseorang menghina dirinya dengan nama ejekan, seperti “swordsman tolol”, “penyendiri tidak punya teman”, dan “orang asing yang tidak punya otak dan hati”. Ia sampai kehilangan kesabaran begitu mendengar nama ejekan ketiga, maka dihajarlah sang korban tersebut sampai terdorong ke dinding, menjatuhkan emblem yang terpampang di dinding ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
“Mendengar aduan dari murid lain membuatmu benar-benar *****, apalagi dalam membuat keputusan. Dengar baik-baik, swordsman penyendiri, itu salah satu julukan dari teman sekelasmu, kamu temui blacksmith kami yang terpercaya, di dekat monumen kebanggaan kota di timur kota. Minta beliau buat kembali emblem sebagai pengganti.”
“La-lalu bagaimana dengan uangnya?”
“Uangnya ditanggung saja oleh dirimu, karena kamu, swordsman penyendiri *****, adalah orang yang merusak emblem itu. Harus ada konsekuensi atas perbuatanmu sendiri.”
“Ba-baik,” Tay menjawab dengan nada rendah terhadap sindiran Alexandria.
***
Melewati alun-alun kota, Tay menggerutu pelan mengutarakan kekesalannya. Ia berpikir bukan salahnya karena telah memicu pertengkaran, apalagi sampai menghancurkan salah satu emblem kebanggaan Akademi Lorelei.
Jika tahu siapa sang pelapor yang tega menyampaikan hal ini pada salah satu profesor, terutama Alexandria, pasti ia akan menghajarnya dengan pukulan. Jika perlu, menggunakan pedang untuk memenggal kepalanya saja sekalian.
Meninggalkan alun-alun tersebut, Tay terkilas seseorang di dalam benaknya. Neu! Musuh bebuyutan sekaligus “teman” sekamarnya langsung berada di dalam bayangan ketika memikirkan identitas pelapor. Pasti Neu, itu yang ia pikir.
Setelah hukuman berakhir, Tay tidak akan segan menghajar Neu begitu tiba di kamar asrama, siapapun yang tiba duluan, tidak ada pilihan lain selain mendorong pukulan tepat pada wajah. Jika masih kurang, tebasan pedang akan menjadi alternatif.
Menatap monumen berupa tugu berbentuk seperti lilin kecuali berujung lancip dan didampingi oleh dua patung ksatria, semuanya berwarna putih, bangunan berpapan simbol dua palu membentuk silang menjadi lokasi seorang blacksmith.
Tay pun memasuki bangunan tersebut setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Lantai batu masing-masing berbentuk persegi panjang seakan membentuk pusat lingkaran di tengah-tengah ruangan. Dinding kayu jati juga menjadi perhatian. Yang terpenting bagi seorang blacksmith adalah palu, besi, dan meja tempa berbentuk lingkaran di pusat ruangan tersebut.
Seorang blacksmith berjenggot putih tebal itu menyambut Tay sambil bangkit sejenak menerapkan waktu jeda, “Mantel biru tua. Kamu pasti dari Akademi Lorelei, kan?”
“Benar, Tuan.”
“Biar kutebak, kamu meminta untuk membuatkan kembali emblem Akademi Lorelei, bukan?”
“Da-darimana Anda tahu?”
“Sering terjadi. Murid yang merusak sebuah emblem akademi sering disuruh kemari untuk meminta ganti rugi, yaitu meminta saya membuatkannya kembali dengan uang sendiri. Saya bisa menyelesaikannya dalam dua hari.”
Terpaksa ia menyerahkan semua uangnya pada sang blacksmkth sebagai hukuman dari Alexandria. Blacksmith tersebut mengangguk dan mulai mempersilakannya pergi agar dapat memulai pekerjaan itu.
Keluar dari bangunan blacksmith tersebut, lima orang bandit telah berdiri di hadapan pintu. Kebanyakan dari mereka berompi lengan pendek tanpa dikancing, tanpa berbaju pula, bertelanjang badan, hanya mengenakan celana.
“Kamu dari Akademi Lorelei, kan? Hah?” salah satu bandit yang berdiri di tengah, Tay menyimpulkan bandit itu sebagai pemimpin, menaikkan nada bicaranya. “Kamu tidak pantas berada di sini! Kamu bahkan lebih mampu menjadi murid Akademi Lorelei daripada membantu kami, orang miskin!”
Tay sama sekali tidak tahu bahwa akan ada sekelompok gelandangan di sekitar monumen penting kota tersebut. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Satu-satunya reaksi hanyalah pergi menjauh.
Bahkan sebelum mengambil langkah untuk meninggalkan sekitar monumen tersebut, salah satu bandit dengan sigap menarik gagang pedang dari punggungnya. Tay berbalik tercengang ketika pedangnya telah diambil.
“Hei! Kembalikan!” pinta Tay geram.
Bandit ketua itu pun merespon dengan memukul wajah Tay tepat di wajah, menjatuhkannya ke jalanan. Hal itu mengundang perhatian publik di sekitar itu. Tidak ada satupun yang berani menghentikan karena kekejaman para bandit terkenal itu.
Keempat dari lima bandit itu, kecuali yang telah mengambil pedang Tay, langsung menghampiri. Mulai menendang seluruh badan Tay, mulai dari badan hingga kaki.
Namun, Tay pun mampu bangkit dengan mengempaskan tenaga pada kaki untuk menendang sebagian dari bandit tersebut. Tiga dari empat bandit yang menyerangnya pun terjatuh tertegun dengan serangan balasan Tay.
Tay pun bangkit dan memukul salah satu bandit yang masih berdiri utuh. Diempasnya kepalan tangan kanan tepat pada dada tanpa memberikan kesempatan sama sekali untuk berkutik.
Sang bandit ketua pun terjatuh begitu terempas oleh pukulan Tay. Punggungnya mendarat terlebih dahulu di jalan.
Tay langsung melesat mengincar sang bandit yang mencuri pedangnya dan berada di dekat tugu monumen. Seperti dugaan, ketiga bandit yang bangkit kembali langsung menghadangnya tanpa ampun.
Tanpa perlu pemanasan lagi, Tay langsung menghantamkan pukulan pada satu per satu bandit tersebut. Memanfaatkan celah, dada, kepala, dan paha menjadi incaran pukulan fisik. Ketiga bandit tersebut terjatuh setelah terkena hantamannya.
Seorang bandit yang mencuri pedangnya pun berlari memutari tugu monumen, berharap dapat tiba di gerbang keluar kota. Namun, Tay dengan sigap melesat mendekatinya dan memukulnya di arah dada, menjatuhkan bandit tersebut pada lantai di dekat tugu monumen.
Diambilnya kembali pedangnya dengan erat, Tay berbalik menatap bandit ketua tersebut mulai bangkit dan menjerit melancarkan pukulan. Ia mengempaskan pedangnya mengarah pada ketua bandit tersebut.
Begitu sang ketua bandit menghindarinya, tebasan pedang Tay justru mengenai tugu monument berbentuk seperti lilin dan berujung lancip itu. Karena tenaga empasannya cukup kuat sambil melampiaskan emosi, muncul keretakan pada tugu monumen itu hingga lama-kelamaan pecah menjadi kepingan di lantai.
Tercengang karena tugu monumen telah hancur berkeping-keping, kelima bandit tersebut justru melarikan diri menuju gerbang keluar kota. Tay pun tercengang melihat dua hal itu sekaligus, ia tidak sengaja menghancurkan tugu monumen kota!
Tepat setelah ia meletakkan pedangnya kembali, berbagai penduduk kota yang menyaksikan pertarungan antara Tay dan kelima bandit itu berdatangan, apalagi melihat robohnya tugu monumen penting bagi masyarakat kota.
Tay tertegun ketika mendapati seluruh masyarakat yang menghampirinya mengerutkan wajah lebih dalam. Geretakan gigi, mata menyipit, dan aura api dapat ia rasakan dari sekumpulan masyarakat itu.
Salah satu dari mereka membentak, “Kamu yang menghancurkan monumen penting ini! Menggunakan pedang lagi!”
“Sini! Ganti rugi!”
Lagi-lagi, pertama, ia sudah secara tidak sengaja menghancurkan salah satu emblem akademi selama berkelahi di kelas. Kali ini, lebih buruk, ia tanpa sengaja menghancurkan tugu monumen penting kota selama bertarung melawan para bandit menggunakan pedang. Tay tidak menyangka ayunan pedang keras akibat naik darah dapat menebas tugu monumen hingga hancur.
Memanfaatkan celah ketika masyarakat kota mulai mengepung, Tay mulai berlari terbirit-birit, panik akan amukan massa.
“Tolol!” Salah satu reaksi massa meledak.
“Jangan lari!”
“Sini kamu! Sini!”