
Dua orang royal guard mendorong pintu jeruji besi ke sisi. Sans dan Duke bangkit dari duduk mereka menatapi keduanya sudah tiba dan menunggu. Saatnya untuk menghadapi persidangan.
Seperti dugaan mereka, salah satu dari royal guard itu mengatakan, “Sans dan Duke. Hakim, juri, dan pihak kerajaan sudah siap untuk menemui kalian.”
Sans dan Duke keluar dari jeruji besi tersebut, didampingi oleh royal guard di depan dan di belakang, memastikan mereka tidak dapat melarikan diri.
Sans terus membuang napas memikirkan Alexandria menjadi entah salah satu juri atau tamu istimewa di samping pihak kerajaan. Masa depannya sebagai murid Akademi Lorelei bergantung pada kedua belah pihak. Ia tahu, apapun hasil dari sidang itu, reputasinya akan anjlok bukan hanya sebagai murid bermantel putih, tetapi juga nama baiknya akan tercemar.
Duke berbisik pada Sans. “Hadapi saja. Kita bisa menghadapinya bersama.”
***
Tidak ada satupun wajah berseri-seri ketika Yudai memasuki sebuah ruangan kelas. Seluruh perhatian tertuju padanya. Mata menyipit, membuang muka, bibir melengkung ke bawah, dan pipi mengerut, sambutan itu membuat Yudai menghela napas tidak nyaman.
Kelas khusus murid-murid dari 15 kelompok yang berhasil menghasilkan 1000 vial selama Festival Melzronta stage keempat sudah akan dimulai. Tanpa memandang tingkatan kelas masing-masing, semua murid di ruangan itu telah duduk di hadapan meja sesuai dengan kelompok waktu itu.
Yudai menempati salah satu meja di barisan terdepan, tepatnya di barisan tengah di antara dua meja lain. Ia dapat menyaksikan Zerowolf, Sandee, dan Katherine yang duduk di meja kirinya. Zerowolf dan Sandee masih tidak bersuara dalam menyambut, melainkan fokus pada meja. Riri, Lana, dan Ruka di meja kanannya hanya menatap ke depan, yakni meja khusus untuk profesor pengampu kelas khusus itu.
Berat hati, Yudai mulai duduk. Sebuah beban dan tekanan menguras otak akibat tindakannya di lounge room kemarin. Ia dicap sebagai seorang pembohong besar.
Giliran Beatrice yang memasuki kelas tersebut. Seperti dugaannya, banyak murid berbisik-bisik. Perdebatan Beatrice baik sebagai korban penculikan atau biang kerok penyebab Earth dikeluarkan dari akademi dan masuk penjara juga mencemar reputasi dan kredibilitasnya sebagai seorang murid song mage. Padahal awalnya ia dipuja-puja karena telah berhasil lulus dua bagian dari aptitude test. Sangat disayangkan, murid-murid yang telah menggemari Earth sudah tidak dapat menerima gadis itu sebagai sesama murid akademi.
Beatrice pun duduk di samping Yudai, sudah tahu keduanya terus menjadi pusat perhatian selama dua hari terakhir. Terlebih, mereka hanya kekurangan satu anggota kelompok yang seharusnya juga dapat menikmati hadiah itu, Sans.
Sans sedang menghadapi sidang, sidang untuk menentukan takdirnya sebagai murid Akademi Lorelei. Tidak hanya itu, Sans, bersama dengan Duke, juga dicurigai sebagai mata-mata Royal Table.
Keduanya sudah yakin Sans tidak mungkin menjadi mata-mata Royal Table. Mereka berdua telah dekat, sangat dekat sebagai teman. Contohnya saja, saat mereka pergi ke gunung berapi untuk mendapat air mata phoenix bersama, merawat bayi phoenix, hingga menjadi kelompok saat Festival Melzronta stage keempat.
Beatrice melirik Yudai yang menundukkan kepala, malu akibat reputasinya telah tercemar sebagai teman Sans.
“Maafkan aku,” Yudai bersuara pelan.
Beatrice cukup tercengang setelah ia memalingkan wajah dari Yudai untuk fokus ke depan.
“Aku tahu, aku sudah berbohong padamu, pada kalian semua, tentang Sans,” Yudai melanjutkan bicaranya, “aku bisa berkata kalian tidak boleh sampai tahu. Kalau kamu dipercaya untuk menyimpan sebuah rahasia, apa yang akan kamu lakukan?”
Meski berat untuk mengubah pikiran menjadi suara untuk berbicara pada Yudai, Beatrice mampu menjawabnya, “Aku akan menyimpan rahasia itu baik-baik?”
Yudai mengangguk. “Itu yang telah kulakukan. Sans dan Duke percaya padaku. Aku tahu rahasia mereka, aku harus merahasiakannya dari yang lain, darimu, dari kalian semua. Itulah kenapa aku selama ini menyembunyikannya, menyembunyikan kebenaran kalau Sans dan Duke adalah alchemist. Aku tidak mungkin membongkarnya sebelum Sans tertangkap. Aku benar-benar terdesak, aku terpaksa melakukannya saat ditanya semuanya, terutama Tay.”
Yudai menurunkan kepalanya, menggabungkan kepalan kedua tangan dan meletakkannya pada meja. Dari gestur itu, Beatrice dapat memahami sangat berat untuk mengungkapkan rahasia tersebut, tidak semudah seperti yang terlihat saat menjawab pertanyaan Tay.
“Yudai—”
“Selamat pagi, semua,” Clancy menyapa dan memasuki kelas, melewati beberapa bangku kelompok murid menuju mejanya.
Keramaian dari bisik-bisik seketika terhenti. Seluruh murid mulai menatap Clancy yang telah berbalik dan menyentuh mejanya. Beberapa dari murid juga terpana oleh kecantikan profesor itu.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat. Kalian adalah kelompok-kelompok terpilih yang berhak mengikuti kelas khusus ini. Sebelumnya, kalian sudah berhasil menjual produk sampai mendapat 1000 vial selama Festival Melzronta stage keempat. Kalian harus bangga pada diri kalian sendiri.”
Bangga. Yudai sama sekali tidak dapat bergabung ke dalam euforia kelas tersebut. Terasa kurang tanpa Sans di sampingnya. Terlebih, Sans sudah sama-sama bersusah payah untuk melakukan tugas itu bersama dirinya dan Beatrice. Seharusnya ia merasa senang karena sudah lama menanti-nantikan kelas khusus tersebut.
“Saya jelaskan apa yang akan kalian lakukan, khususnya untuk murid tahun pertama dan kedua,” Clancy menjelaskan sambil berjalan berkeliling di lorong depan, menghadapi murid-murid di barisan terdepan, “Pada minggu pertama, tepatnya mulai sekarang, kalian akan mendapat materi pelajaran yang mungkin kalian akan dapatkan hanya di kelas ini. Saya akan menjelaskan secara spesifik hal-hal yang kalian mungkin tidak tahu tentang setiap job di sini. Pastinya untuk yang pernah mendapat materi ini dua tahun sebelumnya, kalian mungkin akan mendapat pengetahuan tambahan sesuai perkembangan zaman.
“Lalu, minggu depan, sebelum kalian menjalani ujian akhir semester, kalian akan melakukan praktik. Kalian akan mempraktikkan untuk membentuk strategi dalam pertarungan dengan menerapkan materi yang saya ajarkan.
“Untuk sekarang, mari kita mulai dengan penjelasan spesifik tentang job swordsman.”
Cara berjalan Clancy dapat dikatakan anggun, dari cara melirik seluruh muridnya sampai membalikkan badan. Tidak ada gerakan bahu yang tidak perlu saat ia kembali ke mejanya.
***
“Sidang untuk terdakwa profesor Akademi Lorelei Duke dan murid Akademi Lorelei Sans, atas tuduhan menjadi mata-mata Royal Table dan melakukan praktik alchemist di dalam akademi.”
Sans dan Duke menelan ludah menatapi sang hakim di hadapan mereka, bersama dengan rombongan juri dan tamu kerajaan di dua sisi. Sesuai dugaan mereka, Alexandria telah duduk di antara rombongan tamu kerajaan, membuat bulu kuduk semakin merinding.
Sans menghela napas saat akhirnya ia menghadapi sidang, sebuah hal yang akan menentukan nasibnya pada masa depan. Menatap Alexandria sebagai salah satu yang menentukannya, ia sudah putus asa. Ia berpikir setiap kali ia berargumen, pasti Alexandria lah yang akan meresponnya, pasti benar. Ia hanya seorang murid, Duke hanyalah profesor magang yang baru bekerja selama setahun terakhir, sementara Alexandria merupakan profesor senior.
“Baik, tanpa perlu lagi—”
“Tunggu!” Arsius mendobrak masuk ke dalam ruang sidang, menghampiri Sans dan Duke yang sudah dilingkari oleh bangku sidang. Bangku belakang seperti biasa dikosongkan.
“Arsius,” sapa sang hakim, “Sebagai kepala Akademi Lorelei, saya memahami Anda tertarik untuk menghadiri sidang ini. Bisakah Anda duduk di tempat—"
“Tidak!” Arsius mempertegas, “Saya tidak mau hanya menyaksikan dan berdiam diri. Saya hanya ingin berkata kalian salah orang jika mau menuduh mereka berdua, Profesor Duke, seorang profesor magang; dan Sans, seorang murid tahun pertama bermantel putih. Seperti yang kita tahu, biasanya murid bermantel putih dikeluarkan karena entah menjadi alchemist atau memiliki nilai di bawah standar.
“Biasanya saya tidak dapat menghadiri setiap sidang murid bermantel putih semenjak saya menjabat sebagai kepala akademi lima tahun lalu. Sidang ini benar-benar menarik, kalian menuduh kedua terdakwa sebagai mata-mata Royal Table, organsisasi separatis yang mengancam kedamaian seluruh kerajaan Anagarde. Saya ingin memastikan, kalian, seluruh juri dan tamu dari pihak kerajaan, mendengarkan pembelaan dengan saksama.”
“Baiklah.” Sang hakim menangguk. “Duke, Sans, apa kalian membantah kalian adalah seorang alchemist?”
Duke menjawab, mengangkat kepalanya, “Tidak.”
Sans sungguh tidak menyangka Duke akan berkata jujur tentang identitas mereka. Berbohong memang merupakan cara untuk melindungi diri agar kenyataan tidak terbongkar. Kejujuran memang merusak sebuah hal yang mereka bangun secara baik. Tidak dapat ia bantah, kejujuran dapat mengandung sebuah konsekuensi.
“Apakah kalian tahu sebenarnya alchemist adalah job terlarang di Akademi Lorelei? Bukan Akademi Lorelei saja, tetapi juga seluruh kerajaan Anagarde.”
Duke kembali menjawab, “Ya. Kami tahu, tapi—”
Sang hakim memotong, “Jika kalian tahu, seharusnya tidak ada alasan kalian menjadi seorang alchemist. Kalian sungguh tidak tahu malu.”
Semuanya melongo, pihak juri melihat satu sama lain.
“Tujuan? Apa maksud dari tujuan itu?” tanya seorang tamu wanita berambut pirang pendek dari pihak kerajaan.
“Tujuannya—”
“Stop,” Ia memotong jawaban Duke, “saya, maksud saya, kami, ya, kami ingin mendengarnya langsung dari Sans. Sans adalah murid yang menulis tujuan itu saat pendaftaran berlangsung. Jadi, alangkah baiknya kami mendengar semuanya dari Sans langsung.”
“Benar.” Sang hakim setuju. “Apa tujuanmu sampai kamu rela mengambil job alchemist setelah aptitude test berakhir?”
Sans menelan ludah saat mendengar permintaan itu langsung dari sang hakim. Keringatnya mulai bercucuran di telapak tangan, ketegangan ingin sekali membiarkannya diam dan terbata-bata.
Ia menjawab, meski sedikit terputus-putus, “Um … saya … Ibu saya sakit, sakit sangat parah. Beliau … um … tubuhnya lumpuh, tidak berdaya sama sekali. Beliau juga lupa pada saya sendiri. Sebelum saya kemari, saya menenggelamkannya ke dalam mata air kehidupan. Saya tahu dari teman saya, Akademi Lorelei menjadi cara untuk menggapai tujuan itu, belajar untuk mencari tahu obat untuk ibu saya. Saya ingin menyembuhkan ibu saya.”
Sang hakim menganggapi, “Saya apresiasi jawabanmu, Sans. Tapi kami di sini tidak untuk memberimu simpati. Akademi Lorelei bukanlah sebuah tempat di mana kamu dapat dikasihani. Akademi Lorelei bukanlah tempat untuk mendapat amal.”
Duke menjawab, “Anda dengar tujuannya. Anda dengar apa tujuannya. Kalian hanya—”
“Cukup.” Sang hakim mengangkat tangan. “Kalian pasti hanya akan menjelaskan cerita yang sudah kalian siapkan waktu di penjara. Kalian tahu, kalian juga menjadi tersangka mata-mata Royal Table.”
Giliran Arsius yang membantah, “Saya bisa pastikan tujuan Sans tidak ada kaitannya dengan mata-mata Royal Table.”
Lagi-lagi semuanya terenyak. Alexandria lah yang paling menghela napas mendapat Arsius berani menentang seorang hakim.
“Saya bisa tahu, tujuannya mulia, sangat mulia. Saya tahu betul bagaimana penyakit itu. Penyakit itu sangat langka. Saya sampai membaca berkali-kali bahwa penyakit itu hanya bisa disembuhkan dengan sebuah obat. Obat yang hanya bisa dibuat oleh seorang alchemist. Sungguh sulit untuk membuat obat itu saya dengar.”
Alexandria mengajukan pertanyaan, “Tapi kenapa? Saya dengar Sans menghilang saat bootcamp khusus job tipe sihir di Vaniar. Bisa saja sebagai mata-mata Royal Table, dia dan Duke telah merencanakan sesuatu. Saya menjadi saksi menjelang hari terakhir bootcamp di Silvarion. Royal Table menghampiri saya, rekan profesor saya, dan juga seluruh murid tahun pertama ber-job tipe fisik. Dia pasti menjadi bagian dari rencana Royal Table saat itu.”
“Duke sudah memberitahu saya untuk membiarkan Sans mengikuti bootcamp sesuai pilihannya seperti murid-murid bermantel putih lainnya. Begitu Sans sudah membuat keputusannya untuk mengikuti bootcamp untuk job tipe sihir, saya memberitahu Hunt. Sans akan dilatih khusus oleh Duke.”
“Tapi itu sama sekali tidak melepas alasan kenapa Sans menjadi mata-mata Royal Table!” Alexandria bersikukuh. “Lihatlah. Dia adalah seorang alchemist. Duke juga seorang alchemist. Saya yakin alchemist adalah job yang berbahaya bagi kita semua, bagi Akademi Lorelei, bagi kerajaan Anagarde juga.”
Arsius mulai memutari kursi yang diduduki oleh Sans dan Duke, kembali menjelaskan, “Saya tekankan. Apa mungkin dengan tujuan mulia seperti itu, Sans berani menentang kita semua? Dari wajahnya, saya bisa bilang, dia sangat kaget mendengar dia diduga sebagai mata-mata Royal Table.”
“Tentu saja, mau bersalah atau tidak, pasti dia akan kaget.”
“Alexandria.” Arsius menunjuknya sambil menghentikan tapakan kakinya. “Kita ini masih belum tahu apakah alchemist memiliki kaitannya dengan Royal Table. Bagi saya, Anda terlalu sembarangan menyimpulkan.” Kemudian, ia membela Sans dan Duke lagi. “Bagi yang bertanya kenapa harus menjadi alchemist daripada berusaha untuk berjuang di Akademi Lorelei? saya paham perasaan kalian. Kebanyakan murid bermantel putih yang dikeluarkan saya dengar memilih menjadi alchemist karena keputusasaan. Saya bisa menatap dari mata Sans, hanya dari matanya, dia bersungguh-sungguh ingin menyembuhkan ibunya.
“Hanya menjadi alchemist satu-satunya jalan untuk menggapai tujuannya. Saya yakin Duke juga sudah bersusah payah sebagai profesornya mengajarkan ilmu alchemist. Tidak ada job manapun yang akan mampu, terutama mage atau priest, membuat obat penyakit langka itu. Sans mungkin sudah tahu, ini takdirnya, takdir untuk menjadi seorang alchemist, suka atau tidak.”
Alexandria mendengus mendengar penjelasan yang ia anggap tidak penting dari Arsius, selaku kepala akademi. Ia hanya ingin melihat Sans dan Duke mendapat hukuman, yaitu dikeluarkan dari akademi.
“Arsius, silakan dekati meja saya,” bujuk sang hakim.
Arsius tanpa ragu menepati perintah sang hakim. “Ya?”
“Anda kan kepala Akademi Lorelei,” sang hakim berbisik, “seharusnya Anda tahu alchemist tidak diperbolehkan di akademi. Anda tahu murid-murid yang mempelajari alchemist dapat menjadi bahaya bagi kita semua, memang seharusnya mereka berdua ini dikeluarkan.”
“Itu hanya pendapat pribadimu,” sindir Arsius, “bagi saya, mereka ini berbeda, mereka memiliki sebuah tujuan, tujuan mengapa mereka harus menjadi seorang alchemist. Tolonglah. Biar saya yang bertanggung jawab. Dan saya yakin, mata-mata dari Royal Table masih berkeliaran, entah di dalam sini atau di luar. Mereka bukanlah mata-mata seperti yang kalian duga.”
“Cukup adil.” Sang hakim mengetuk palunya. “Siapapun yang mengatakan terdakwa bersalah karena menjadi mata-mata Royal Table, angkat tangan.”
Satu per satu, pihak juri dan tamu kerajaan mengangkat tangan, terutama Alexandria. Saat ia melirik, hanya kurang lebih 25% yang menyatakan Sans dan Duke bersalah.
“Tidak bersalah,” simpul sang hakim, “sekarang, siapapun yang merasa Sans dan Duke pantas dikeluarkan dari Akademi Lorelei karena menjadi alchemist, silakan angkat tangan.”
Kali ini, lebih banyak yang mengangkat tangan kanan. Alexandria mengangkat senyumannya. Baginya, aturan harus selalu ditegakkan, terutama untuk seorang murid yang menjadi alchemist. Terlalu berbahaya membiarkan mereka berkeliaran seenaknya di Akademi Lorelei.
“Baiklah.” Sang hakim ingin memastikan. “Siapapun yang merasa Sans dan Duke tidak pantas dikeluarkan?”
Mayoritas dari pihak tamu kerajaan satu per satu mengangkat tangan, terutama seorang wanita yang mengajukan pertanyaan. Sans dan Duke tercengang menatap cukup banyak pihak bersimpati pada tujuan mulia Sans, berkat pembelaan dari Arsius. Satu per satu dari pihak juri pun juga mulai mengangkat tangan, beberapa dari mereka berubah pikiran.
Arsius juga mengangkat tangan. Sebagai kepala akademi, ia juga merasa harus membuat keputusan untuk mengakhiri sidang itu. Sans dan Duke tertegun menatap mayoritas mengangkat tangan agar tidak mengeluarkan mereka sama sekali.
“Tu-tunggu dulu!” jerit Alexandria bangkit dari duduknya. “Saya keberatan! Mereka bisa mengancam seluruh kerajaan Anagarde kalau begini terus! Akademi Lorelei akan tercoreng mengingat mereka tidak dikeluarkan!”
Sang hakim memintanya untuk menutup mulut. “Keputusan sudah diambil, Alexandria. Anda tidak berhak protes.”
“Ini sungguh lelucon! Semuanya lelucon! Seharusnya mereka dikeluarkan!” Alexandria menapakkan kaki dari bangku tamu dan keluar dari sidang.
Sang hakim menyambut keputusan itu dan menyampaikan, “Sans dan Duke, kalian bebas dari tuduhan karena menjadi mata-mata Royal Table. Kalian juga berhak tinggal di Akademi Lorelei."
Duke bangkit dari duduknya dan memeluk Sans. Sans sampai kaget bukan hanya tidak percaya ia berhasil lolos dari hukuman, tetapi juga profesornya juga mengeratkan tubuhnya. Air matanya menetes cukup banyak, ia bisa kembali belajar seperti biasa.
***
Sebuah ruangan serba putih menjadi hal yang Neu lihat saat perlahan membuka mata, mengembalikan kesadarannya. Langit-langit warna putih seperti memancarkan cahaya di balik lentera bergelantungan. Ia menebak pasti lentera itu pasti dibuat menggunakan sihir.
Terlepas dari itu, ia melihat sekeliling. Tertegun ia berada di ruangan berbeda, terlebih ingatannya terpicu saat ia dibuat pingsan sebelum ia mencurigai Sierra. Setiap perabotan di ruangan itu semuanya serba putih. Tempat tidur yang ia duduki, sebuah toilet jongkok di samping kiri, sofa di samping kanan, dan sebuah lukisan abstrak di dinding kanan.
Ia melirik Cherie yang masih terbaring di samping kanannya, masih melongo familiar-nya belum melakukan apapun. Ia menapakkan kaki pada lantai dan bangkit dari tempat tidur, berbelok menuju sebuah pintu berjendela bundar. Menatap di balik jendela tersebut, terdapat sebuah pintu di hadapannya beserta lorong.
Ia mulai panik, menyadari ia tidak berada di dalam asrama Akademi Lorelei.
“Hei! Hei!!” Neu menjerit dan mendobrak pintu hanya menggunakan tangan tanpa ada hasil.