Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 182



“Jadi ini penjara bawah tanah yang dimaksud lembar misinya.”


Zerowolf berujar saat mereka menghampiri sebuah reruntuhan berlubang dan berbentuk mendekati trapesium, bedanya terdapat lonjongan tidak simetris di antara sisinya. Dinding terbuat dari papan kayu dan sudah terdampingi oleh lumut serta tangkai kayu, seakan menyatu.


Sebuah raungan monster sudah mulai menyambut mereka berdua yang hampir selangkah untuk memasuki dungeon tersebut, lokasi di mana keberadaan troll berada jika di dekat ibu kota. Tentu saja, Yudai tahu troll tidak meraung seperti itu.


“Ayo!” Zerowolf melesat masuk setelah mengambil satu panah dari quiver-nya.


Tanpa berkata apapun lagi, Yudai mengikuti langkah Zerowolf. Secara berhati-hati, ia seakan mengikutinya seperti memata-matai, waspada jika ada kemunculan monster secara tiba-tiba, semenjak dungeon tersebut minim penerangan, sama seperti gua laba-laba es yang sebelumnya ia kunjungi bersama Sans.


Zerowolf, saking bersemangatnya, berlari sampai suara entakan kakinya cukup nyaring hingga mengundang suara raungan cukup banyak, apalagi saat menemui dua belokan kurang lebih 300 meter di hadapannya. Berbagai bayangan berbentuk bundar muncul di langit-langit, hingga memicu Yudai mengerem langkahnya dan mengambil panah dari quiver.


Ketika siluet itu mendekat cepat, terungkap sebuah makhluk berbentuk bola dengan kepakan sayap bertulang seperti kelelawar dan bermata satu hampir memenuhi badan bola.


“Siapa suruh kamu berhenti.”


Zerowolf meluncurkan panahnya mengarah tepat pada mata makhluk tersebut. Tetapi, kepakan sayap justru menangkis tembakannya sampai panah itu patah.


“Floateye, ya?” Yudai mengetahui makhluk berwarna biru itu.


Floateye itu melesat dan membuka mulut menunjukkan taring tajamnya. Mengarah pada Zerowolf yang masih tercengang, lamban dalam mengambil panah dari quiver.


Yudai menggunakan dua panahnya dalam meluncurkan tembakan. Ia melepas tarikan kedua panah beserta tali busur seraya meluncurkannya.


Ujung tajam kedua panah itu mengenai punggung bagian kiri floateye itu, memuncratkan sedikit darah. Gerakan makhluk itu mulai oleng dan kepakan sayapnya mendadak melambat. Ia kemudian roboh ke lantai dungeon itu dan menggerak-gerakkan tubuh dan sayap sampai tidak dapat terbang akibat nyeri, seperti ikan kehabisan air untuk bernapas.


Zerowolf tanpa ragu menembakkan serangan terakhir tepat pada mata floateye. Begitu panah itu mengena, darah kembali terciprat dan floateye itu berhenti bergerak.


“Biar kutebak, taringnya beracun seperti milik ular?”


Yudai menjawab, “Kamu tahu. Ya, ayahku pernah berhadapan dengan floateye. Kalau troll, belum. Makhluk sejenis ini bahkan ada yang lebih berbahaya.”


“Ngeri juga. Tapi setidaknya kelihatannya kita tidak akan menemu—Oh here we go again.”


Setidaknya sepuluh floateye mulai bermunculan di hadapan, tampak seperti mata bersayap. Mereka melesat cukup cepat sambil membuka taringnya.


Zerowolf terlebih dahulu berlari dan menggunakan dinding dungeon sebelah kiri di dekatnya sebagai tumpuan kaki kanannya untuk melompat. Sambil mengumpulkan momentum pada tumit kanan, ia kembali menarik tali busur dan panah terlebih dahulu.


Begitu ia melepaskan kaki pada dinding dan melayang di udara, ia melepas tarikan panah memicu tembakan. Tembakan pertamanya mengenai bagian atas kepala, memicu salah satu floateye roboh ke lantai seketika.


Yudai mengambil setidaknya tiga buah panah sebagai “amunisi” depan di antara tali busur dan tangan. Ia menarik tiga panah itu bersama-sama. Satu per satu jari ia lepaskan untuk menembakkan satu per satu panah.


Begitu mendarat kembali di lantai menghadap kanan, Zerowolf mendapati salah satu floateye mendekatinya dari samping kiri. Secara refleks, ia mengambil panah dari quiver dan menusuk tepat pada bagian atas kepala floateye.


Zerowolf langsung melompat ke belakang menghadang gerombolan floateye, kali ini ia bersama Yudai kembali memasang panah pada busur, kembali menembak. Beberapa tembakan tertangkis oleh sayap atau justru meleset karena kecepatan floateye.


Saat tersisa lima floateye, kecepatan mereka yang melebihi ekspektasi hingga terlalu dekat memaksa Yudai dan Zerowolf mundur. Sambil menatap ke belakang dan mengambil panah, sungguh sulit untuk melakukannya bersamaan, apalagi mereka harus tetap melaju untuk mengalahkan troll.


Salah satu floateye justru menembakkan sinar merah dari matanya, menuju Yudai dan Zerowolf yang berdekatan. Begitu mereka melirik, mereka langsung memisahkan diri seperti sobekan kertas.


“Hah! Apa kamu bercanda!”


Terpicu oleh tembakan itu, Zerowolf menggeretakkan gigi dan nekad berbalik menembakkan panahnya menuju setiap floateye yang ada. Salah satu floateye terkena tembakan panahnya tepat pada mata, sementara sisa empatnya tetap melayang dan satu per satu menembakkan sinar dari mata.


“AAAAH!!” Zerowolf seperti terempas saat sinar itu hampir mengenai kakinya.


Yudai berbalik dan dengan cepat menembak kembali. Satu per satu panah ia keluarkan dan luncurkan. Ia menggeretakkan gigi begitu dua tembakan pertamanya meleset ketika floateye incarannya seakan menghadang. Tembakan ketiganya justru mengena tepat pada mata berkat refleks sayap lambat.


Zerowolf kembali bangkit dan mengempaskan tembakannya kembali, menempatkan kaki kiri di depan sebagai tumpuan berdiri. Ia menembakkan panah pada salah satu floateye di hadapannya yang meluncur membuka taring.


Panahnya justru menembus tenggorokan sampai floateye itu melayang oleng kehabisan napas sampai terbanting ke lantai.


“HAAAA!!” jerit Yudai menembakkan panahnya.


Sambil menyingkir menghindari pendekatan floateye dan sinar yang keluar dari mata satu itu, kali ini dua lawan dua. Secara bersamaan, tembakan mereka mencapai target masing-masing sampai kedua floateye itu bertubrukan dan terbanting ke lantai seketika.


“Akhirnya,” ucap Zerowolf meratapi kumpulan bangkai floateye.


“Ayo! Kita tidak punya banyak waktu!” sahut Yudai berlari.


“Hei!”


“Seperti biasa, sebelum floateye lainnya muncul lagi!”


Zerowolf membuang napas dan mulai melesat menyamai kecepatan Yudai untuk berjalan lurus, mengeksplorasi lebih dalam dungeon. “Baiklah.”


***


Tay menggeretakkan gigi menatap Conti mengelus-elus mata pedangnya, perlahan tanpa perlu merobek kulit bagian luar jari-jemari.


“Kalian tahu, terutama kamu, bangsat.” Conti menghadapkan tatapannya pada Tay. “Gara-gara dirimu, aku mendapat pengurangan nilai bootcamp yang banyak.”


Tay menyeringai hingga cekikikan, memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menghadapi Conti, sambil merasakan sedikit embusan angin bercampur panas terik dari matahari.


“Kenapa menyalahkanku? Coba renungkan siapa pelaku sebenarnya di balik pengurangan nilaimu. Kudengar kamu juga dikeluarkan dari kelas khusus pemenang Festival Melzronta stage keempat.”


Ruka mengangguk. “Benar. Kamu mengejek Sans bertubi-tubi dan memprovokasi agar dia dihukum seberat-beratnya.”


Tay setuju. “Ya, kalau dipikir-pikir lagi, semuanya gara-gara dirimu.”


“K-kamu!!” Terpicu oleh ejekan picik Tay, urat nadi menonjol pada kulit lengan kanan Conti. Ia melirik tajam ketiga teman dekatnya. “Biar aku yang membunuh Tay seorang diri. Kalian … bunuh si ***** itu!”


Ketiga teman dekat Conti langsung mengangkat kaki dan merapatkannya pada tanah mengambil posisi kuda-kuda, menghadapkan pedang miring pada badan.


“Bitch!!” jerit salah satu teman Conti terpicu tantangan Ruka.


Ketiganya langsung melesat menghadapi Ruka dan mengayunkan pedangnya.


Conti menjerit pada Tay, “Fokus padaku, Tay! Akan kubuat kamu menangis sebelum mati!”


Tay membuang ludah, menunggu Conti berlari mengayunkan pedangnya menggunakan dua tangan. Pada ia amati ekspresi Conti, mata melotot, gigi bergeretak sampai bersuara nyaring, dan alis melebar.


“Mati!!” jerit Conti ingin menusukkan pedangnya, kali ini dada kiri Tay ia kunci sebagai target.


Tay cukup tenang bergeser dan menghadap ke kanan, membiarkan serangan Conti meleset, tidak kena bagian tubuhnya sama sekali.


Conti menggeretakkan giginya lagi, hampir tersandung dan justru berbelok menghadap Tay. Diayunkannya pedang sekali lagi secara vertikal. Tenaganya bersumber dari bara amarah, seakan ia dikuasai oleh api.


Tay cukup tenang dalam menganalisis pola serangan dari musuh bebuyutannya itu. Sambil mundur, ia mengikuti arah ayunan pedang Conti dan membalasnya menggunakan tangkisan pedang. Seperti ringan dalam menggerakkan genggaman pedang, ia bahkan menyimpan tenaga demi bertahan.


Begitu kaki kirinya mencapai semak belukar, ia mendorongkan tubrukan pedangnya. Ia menggeretakkan gigi menghadapi kekuatan dorongan genggaman pedang Conti.


Pedangnya terpental, suara tubrukan kedua pedang nyaring. Tay masih dapat mengarahkan pedangnya dan mendekatkan gagang pada bagian iga kanan. Conti pun terdorong, kakinya seperti meluncur ke belakang sebelum mengerem.


Terpicu oleh serangannya yang tertangkis. Seluruh kulit pada wajah memerah memanas, energi dari amarah ia kerahkan saat ia sekali lagi berlari mengayunkan kedua tangan ke belakang.


“ENYAHLAH!!”


Ia mendorong pedangnya secara horizontal, mengunci perut Tay sebagai target tebasannya. Ia menjerit melampiaskan amarah dan frustrasinya.


Tay, cukup sigap, menangis dengan memiringkan pedangnya. Berkali-kali Conti mengayunkan pedang, bunyi tangkisan pun semakin keras pula.


Ia mundur ke belakang mengambil ancang-ancang. Pedangnya ia dorong sambil meluncur ke depan, sekali lagi mengincar dada kiri Tay sebagai target tusukan.


Saat Conti mendekatinya, Tay meluncurkan sayatan pedangnya.


“AAAAH!! ****!!” jerit Conti mendapati pipi kirinya tersayat meneteskan darah.


Tay tanpa peduli menebaskan pedangnya sekali lagi.


Conti langsung terenyak menatap Tay kembali beraksi, maka ia langsung berbalik dan membanting dorongan pedangnya ke atas untuk menangkis.


Refleksnya terlambat hingga memicu pedang terlucuti dan terempas ke dalam semak belukar.


“AAAAAAAA!!” jerit Conti panik.


Tay menatapnya tanpa ampun, alisnya mengeras. Ia langsung mengayunkan pedangnya kembali jeritannya.


Conti mengedip tidak berkutik mendapati mata pedang tajam Tay mencapai keningnya. Ia menelan ludah saat Tay lagi-lagi mengalahkannya.


“AAAH!!” jerit salah satu teman Conti terlempar bersama pedangnya ke tanah.


Ruka menatapi ketiga teman Conti yang sudah tidak berkutik lagi, hanya menyentuh tanah dan mendapati pedang sudah terpisah jauh.


“Satu perempuan, kalian tiga orang laki-laki. Masa kemampuan kalian begitu saja?” Ruka menyindir ketiga lawannya yang masih seperti bersujud.


Tay mengangkat pedangnya menjauh dari Conti dan menyimpannya kembali pada selongsong punggung. Ia berbalik membelakangi musuhnya itu.


“Menyedihkan sekali. Katanya mau membunuhku, tapi kemampuanmu hanya seperti orang mabuk tolol saja.” Ia melangkahi Conti yang masih terdiam. “Lebih baik simpan saja tenagamu untuk membuat skill original dan menunjukkannya saat ujian nanti. Kalau dipakai untuk membunuh, nanti malah capek sendiri.”


“Hei!” Ruka menyusul Tay. “Bagaimana dengan daging beruangnya?”


“Buat mereka saja. Anggap saja hadiah karena sudah kemari.”


“Sial!!” jerit Conti memukul tanah di dekatnya.


***


Sebuah ruangan berbentuk segidelapan tampak seperti arena beserta bekas runtuhan pintu telah Yudai dan Zerowolf tapaki. Saat mereka menginjak tengah ruangan itu, tiga buah siluet bermunculan.


Yudai dan Zerowolf langsung menyandar pada dinding di balik jalan menuju ruangan itu, sedikit menggerakkan kepala  Terlebih jarak antara dua dinding di jalan itu cukup lebar, bisa terlewati oleh sebuah raksasa.


“Tiga troll,” ucap Zerowolf.


Tubuh berbadan gempal berukuran raksasa, menyisakan 50 centimeter dari langit-langit besi. Tongkat besi  tergenggam di tangan. Mata agak sipit, dan tanpa rambut. Tidak heran dinding sekitar sudah seperti pecah dan penyok akibat pukulan tongkat besi.


“Kita hanya harus mengambil ingusnya kan?” bisik Yudai, “tapi ada tiga troll.”


“Tenang, memang serangan tongkat besi berbahaya, apalagi injakannya. Tapi kalau dilihat dari wajahnya … mereka itu dungu.” Zerowolf menilai dari wajah setiap troll, apalagi gigi tidak simetris ketika membuka mulut.


Yudai melihat dari kejauhan, terdapat kumpulan tengkorak dan tulang di sebelah kiri dan kanan ruangan. Ia menelan ludah, meratapi kumpulan manusia yang berupaya untuk mengalahkan troll berakhir menjadi korban.


“Tetap saja berbahaya. Jadi apa yang harus kita lakukan?” bisik Yudai, “satu salah langkah saja, kita bisa mati, apalagi terpukul oleh—”


Zerowolf mengambil panah dari quiver-nya dan mulai menargetkan tepat pada kepala salah satu troll. “Mudah, kita incar kepalanya, lalu kita ambil ingusnya dan cepat keluar dari sini.”


“Ta-tapi—”


Zerowolf langsung melesat memasuki ruangan segidelapan itu dan meluncurkan tembakan tepat pada kepala salah satu troll.


Sayang sekali, alih-alih mengenai tepat pada kening, panah tersebut tiba dan menusuk salah satu lubang hidung. Troll itu pun menjerit mengangkat kedua tangan, kesakitan.


Ketiga troll itu melirik pada Zerowolf yang tertegun mendapati tembakannya justru tidak sesuai harapan. Ia menelan ludah. Selain itu, salah satu dari mereka juga menatap Yudai yang masih mengintai.


“Oh tidak,” ucap Yudai.