Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 43



Sierra mengangkat kedua tangan dan terlebih dahulu menghadapkannya pada bagian dada. Ia menarik napas untuk membuang keraguan dan menggantinya dengan fokus dari tubuh dan pikiran.


Perlahan, Sierra melafalkan mantra untuk menggunakan Heal II, “Refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo.”


Kedua tangan Sierra mengeluarkan cahaya putih. Tidak seperti saat ia menggunakan Heal I, jangkauan cahaya putih dari pelafalan mantra Heal II-nya menjangkau lebih luas lagi. Lebih dari setengah dari luka bakar pada bagian dada Profesor seakan menjadi target cahaya putih tersebut.


Kali ini, luka bakar tersebut menutup lebih cepat, dari warna merah hangus berproses menjadi warna kulit. Cahaya putih dari Heal II oleh Sierra membantu proses rekonstruksi dermis dan epidermis.


Hunt terdiam menatap Sierra mampu menggunakan Heal II pada sang profesor yang mengalami luka bakar tersebut. Dalam hati, ia mengingat ketika pertama kali bertemu saat hari pertama kelas dimulai.


Dari murid yang datang terlambat dan mengenakan pakaian bebas berupa gaun di kelas saat hari pertama bertransformasi menjadi salah satu murid tahun pertama yang patut diperhitungkan, terutama job priest. Ia mengingat keputusan profesor pengampu kelas job priest memanggil perempuan itu untuk membantu menyembuhkan luka bakar parah. Memang, Sierra adalah salah satu yang terbaik.


Sierra memindahkan kedua tangannya pada bagian lengan kanan profesor tersebut terlebih dahulu. Dilafalkan kembali mantra Heal II sebelum mengeluarkan cahaya putih seraya menutup luka, membantu pembentukan dermis dan epidermis menjadi warna kulit.


Dengan sigap, Sierra menyembuhkan sisa luka di bagian lengan kiri dan kedua kaki profesor tersebut. Cukup cepat dibandingkan ketika menggunakan Heal I pada Sans waktu di Labirin Oslork dan Remedy I pada merpati putih ketika di kelas sebelumnya.


Semua luka pada profesor yang tetap terbaring itu telah tertutupi kembali oleh lapisan dermis dan epidermis berkat bantuan Heal II Sierra. Ia berupaya untuk bangkit kembali begitu rasa sakit sudah tidak terasa.


Hunt menahan bagian atas dada profesor itu. “Istirahatlah dulu. Sebaiknya jangan banyak bergerak.”


“Apa dia sudah benar-benar baikan?” Sierra ingin memastikan.


“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya dia beristirahat dulu di tempat tidur sampai besok agar luka tidak mudah terbentuk kembali.”


“Setidaknya dia sudah baik-baik saja.”


“Sierra, terima kasih banyak. Beruntung kamu sudah mengetahui Heal II.”


“Saya baru saja mempraktikkannya. Ini pertama kali aku menggunakannya. Mungkin dari pelafalan mantra, dia dapat selamat.”


“Sierra—”


“Profesor Hunt, sekarang saya mengerti apa yang Anda katakan saat hari pertama, saat Anda menegur saya karena terlambat dan mengenakan gaun alih-alih seragam. Seragam ini, terutama jubah hijau, merupakan sebuah representasi murid Akademi Lorelei. Jubah ini merupakan representasi dari murid job priest. Dapat saya katakan kalau hijau mewakili kemurnian, kemurnian yang selalu ingin dicapai oleh priest.”


“Kamu masih memikirkannya, ya?” Hunt sama sekali tidak menyangka. “Kamu boleh mengenakan baju bebas ketika waktu bebas di akademi, ke mana pun kamu berada. Saat kamu menghadiri kelas, kamu tetap harus mengenakan seragam. Ketika saya melihat kamu mengenakan pakaian bebas saat tamasya di Silvarion, saya akui kamu cantik dan elegan, seakan kamu adalah seorang dewi, meski berlawanan dari warna priest biasanya.”


“Saya biasanya mengenakan pakaian yang cukup gelap. Saya kurang suka pakaian yang cenderung cerah. Mungkin hal itu membedakan saya daripada priest kebanyakan.”


“Sierra, saya akan senang hati meminta bantuanmu lagi jika ada sesuatu yang gawat. Terima kasih banyak. Kamu boleh pergi.”


“Dengan hati, Profesor.”


Sierra menundukkan kepala seraya memberi hormat pada Hunt dan profesor yang masih terbaring di tempat tidur tersebut. Perempuan itu berbalik dan melewati pintu untuk keluar dari ruangan.


***


“Sierra!”


Hampir seluruh murid job priest tahun pertama menghampiri ketika Sierra tiba di halaman depan gedung asrama. Perempuan itu tertegun ketika seluruh teman satu job ingin mengemukakan cukup banyak pertanyaan, seakan banyak orang menjadi pewawancara.


“Bagaimana kondisinya sekarang?”


“Kamu benar-benar hebat! Tak kusangka kamu sampai dipanggil untuk membantu.”


“Sierra, lain kali tolong ajari kami ya. Kami masih belum mampu menggunakan dan melafalkan mantra dengan benar.”


Sierra menjawab sebagian besar dari pertanyaan itu, mengungkapkan bahwa ia berhasil menyembuhkan seorang profesor yang mengalami luka bakar parah itu. Seluruh sesama murid job priest tahun pertama berdecak kagum, terkesan dengan kemampuannya di atas rata-rata.


Begitu seluruh pertanyaan telah terjawab, seluruh murid job priest tahun pertama membubarkan diri, entah kembali memasuki gedung asrama atau beralih menuju tujuan masing-masing, baik itu perpustakaan, kantin, atau halaman depan kastil akademi.


“Anu ….” Ada satu pengecualian, seorang perempuan berambut cokelat kemerahan panjang dan bermata hijau masih berdiri di hadapannya.


“Ada apa?” Sierra menanyai perempuan itu.


“Aku kagum denganmu, Sierra. Kamu hebat sampai mampu menyembuhkan luka bakar yang katanya cukup parah itu. Kamu juga sudah mempelajari Heal II bahkan sebelum diajarkan oleh profesor.”


“Ti-tidak juga, aku juga masih belajar, sama sepertimu.” Sierra mengenali perempuan itu sebagai sesama murid tahun pertama ber-job priest.


“A-anu, kalau kamu belum tahu, namaku Katherine,” perempuan itu dengan malu memperkenalkan diri, terlihat dari palingan bola mata terhadap Sierra dan wajahnya yang memerah.


“Katherine,” Sierra mengulang nama perempuan di hadapannya itu.


“Ma-maaf kalau aku menyinggungmu, hanya saja—”


“Tidak, tidak. Aku hanya senang berkenalan denganmu. Sama seperti yang lain, kalau kamu ingin meminta bantuanku untuk belajar, panggil saja. Aku akan dengan senang hati.”


“Te-terima kasih banyak.” Katherine kini memandang tepat pada bola mata hitam Sierra. Ia juga tertegun ketika mendapati dirinya memiliki badan lebih tinggi daripada Sierra, kurang lebih sebelas sentimeter lebih tinggi.


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa.” Katherine menundukkan wajah sebelum melontarkan pertanyaan cukup canggung baginnya. “Kamu mau masuk masuk ke asrama?”


“Kalau kamu?”


“Aku ingin ke kedai roti, makan roti sambil meminum teh di sana. Kalau kamu ingin beristirahat, aku takkan mengganggumu.”


“Ti-tidak, tidak masalah. Mau bersama ke kedai roti?”


“Tentu saja.”


“Sebentar ya, aku ganti baju dulu.”


Tepat setelah Sierra memasuki pintu masuk gedung asrama, Katherine berbalik dan tertegun. Yudai sudah berada di hadapannya tanpa kata-kata.


Yudai yang telah berperalatan busur dan quiver di hadapannya itu bergeser sebelum berjalan meninggalkannya. Tanpa perlu mengucapkan maaf atau permisi, hanya menggunakan gestur mengangguk untuk menyapa, semenjak ia tidak mengenali Katherine sebagai teman sekelas ketika mengikuti kelas umum.


Katherine berbalik menatap Yudai yang telah berbelok meninggalkan halaman gedung asrama. Wajahnya memerah, semakin memerah dibanding ketika bertemu Sierra. Terpikir pula suatu saat nanti ia akan bertemu kembali dengan Yudai untuk berkenalan lebih dekat.