Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 75



Dolce tertegun ketika mendapati Sans mengerahkan seluruh tenaganya dalam mendorong tangkisan belatinya. Benar-benar berbeda, sangat berbeda kemampuan sesuai dugaannya.


“Maju, Sans!” jerit Yudai.


“Berjuanglah!” lanjut Beatrice.


“HAAAAA!!” jerit Sans kembali mendorong belatinya pada tangkisan Dolce.


“Uh!” Dolce justru mendorong ayunan belati Sans hanya menggunakan satu tangan, tenaganya pun lebih besar hingga dorongannya membuat Sans lengah.


Memanfaatkan saat lengah, Dolce berhasil menggores pipi kiri Sans dengan ayunan belatinya.


Sans memalingkan wajah ketika nyeri menambah determinasinya, meski darah mulai menetes keluar dari goresan pada pipi kiri. Genggaman pada belati hitamnya itu kembali dia ayunkan menggunakan tenaga sebanyak mungkin.


“Sans!” jerit Yudai menyaksikan luka gores pada pipi kiri Sans.


Neu bergumam, “Ayo, Sans. Kamu bisa mengalahkan Dolce.”


Duke, sebagai bagian dari penonton, memasang wajah datar, menyaksikan Dolce tidak menahan diri dalam menguji Sans.


“HAAAA!!” jerit Sans sekali lagi mengayunkan belatinya, mengunci bahu kanan Dolce sebagai target.


Akan tetapi, Dolce bergeser menghindarinya dengan mudah. Dia mengunci target dalam melampiaskan tenaga dalam mendorong belatinya.


“Ah!” jerit Sans ketika dia lengah menyaksikan Dolce berhasil mencapai target tanpa sempat untuk menghindar atau menangkis.


Bahu kanannya akhirnya tergores, bahkan melewati mantel putihnya, terutama ketika mata tajam belati Dolce menembus kulit. Nyeri pun memicu dirinya menjatuhkan belati ke lantai.


“Uh!” jerit Sans menggenggam luka pada bahu kanannya. Darah pun mulai merembes keluar hingga mencemar warna putih mantelnya.


Beberapa dari murid lain turut berkomentar, “Nah, serangannya akan terhambat jika bahu kanannya terluka.”


“Tamat riwayatnya. Begitulah seharusnya murid mantel putih itu gagal.”


Beatrice dan Yudai tertegun ketika menatap Sans menjatuhkan belatinya ke lantai. Mereka menyimpulkan tangan kanan Sans tidak dapat menggenggam belati lebih kuat daripada sebelumnya karena rasa sakit mencolok.


“Ga-gawat!” gumam Yudai.


Mendengar omongan murid lain, Sans merespon sambil menggambil belati dari lantai menggunakan tangan kiri, “Ma-masih belum. A-aku masih bisa bertarung.”


“A-apa?” Murid lain pun tertegun.


“Biasanya murid bermantel putih langsung menyerah dalam tiga atau empat menit, tapi kali ini dia ….”


“Benar-benar gila. Apa dia mau bunuh diri melawan Dolce?”


“Dia itu … orang macam apa?”


Duke melebarkan senyuman begitu mendengar komentar dari murid lain terhadap Sans. Dia memang sudah mengetahui potensi terpendam murid bermantel putih itu. Baginya, Sans merupakan orang yang akan terus berjuang, meski ada halangan yang membuatnya goyah.


Zerowolf ikut berkomentar, “Ja-jangan-jangan dia … menggunakan belati menggunakan tangan kiri.”


“Bo-bodoh!” gumam Tay. “Padahal aku tidak pernah melihat dia, apalagi mengajarinya menggunakan senjata dengan tangan kiri. Aku saja tidak biasa menggunakan tangan kiri dalam mengayunkan pedang.”


Darah dari luka gores dalam bahu kanan Sans menetes cukup banyak pada lantai. Meski begitu, Sans menguatkan genggaman tangan kiri pada belatinya, mengambil ancang-ancang untuk kembali melaju.


Dolce pun juga menggenggam belatinya menggunakan tangan kanan cukup erat, bersiap untuk menghadang serangan Sans. Pernyataan dari dalam benaknya tidak salah, Sans sudah menjadi murid yang pantang menyerah.


“HAAAAAAA!!” jerit Sans kembali berlari mengayunkan tangan kirinya yang telah menggenggam belati hitam.


Meski segala usaha terbaiknya, setiap ayunan belati Sans meleset, tidak mengena apapun, bahkan sampai belati Dolce gagal menangkis. Berkali-kali dia mengayunkan belati menuju segala arah, tidak satu pun bagian tubuh Dolce dapat terkena.


Dolce pun menghindar, bahkan mundur, menyaksikan Sans berusaha sebaik mungkin meski harus berakhir asal mengayunkan belati. Dia menguatkan genggaman belatinya, bersiap untuk menangkis.


Setiap serangan Sans dapat terhindar bagi Dolce karena sangat tidak beraturan arahnya, hampir tanpa harus menangkis sama sekali.


Akan tetapi, Dolce lengah ketika Sans berhasil mencapai celah yang tidak terjaga, bahkan dengan tangkisan belati sekalipun. Lengan kiri! Lengan kirinya terkena mata belati Sans!


Seluruh murid yang menjadi penonton melongo. Sangat mustahil bagi mereka mencapai lengan kiri Dolce hanya menggunakan genggaman tangan kiri pada belati. Benar-benar tidak ada yang menyangka bahwa murid bermantel putih seperti Sans dapat melukai Dolce selama ujian duel berlangsung.


“Sans berhasil?” gumam Beatrice.


Meski demikian, kedalaman goresan tersebut sangat dangkal. Nyeri pun tidak secara signifikan berpengaruh bagi Dolce, meski darah mulai menetes keluar hingga mengotori bagian mantel dan bajunya.


Dolce lebih menambah tenaga pada genggaman belatinya. Tanpa peringatan apapun, dia mengempaskan serangan tersebut.


Sans pun ikut mengempaskan belati demi menangkis serangan belati Dolce. Namun, karena tidak terbiasa menggunakan tangan kiri, ayunannya meleset, tidak kena mata belati milik Dolce.


Justru, Dolce tepat mengunci pada bahu kiri Sans. Tepat setelah itu, dia kembali meluncurkan empasan belatinya.


Meski usaha terbaik untuk menangkis, Sans tertegun ketika Dolce kali ini berhasil lagi. Lengan kirinya tertusuk mengeluarkan darah, memicu nyeri lebih dahsyat hingga menjatuhkan belatinya,


“AAAAAAAAAAA!!” jerit Sans kesakitan hingga berlutut.


“Sa-Sans!” jerit Beatrice dan Yudai.


“Ti-tidak,” ucap Neu.


Sans berusaha mengambil kembali dan menggenggam gagang belati, menggunakan tangan kiri. Rasa sakit pada lengan kiri justru memicu dirinya untuk menjatuhkan kembali ke lantai.


Dia terdesak, benar-benar terdesak. Dia tidak mau kalah lagi. Dia tidak mau dianggap pecundang lagi, apalagi di hadapan seluruh penonton, apalagi di hadapan teman dekatnya. Ujian akhir semester merupakan ajang untuk membuktikan dirinya.


Sayang sekali, dia menggeretakkan giginya, mengetahui kondisinya sudah tidak lagi bisa untuk menyerang. Sama sekali belum ada suara bahwa waktu duel telah berakhir, membuat dirinya frustrasi terpaksa harus memilih satu-satunya pilihan menghadapi kenyataan pahit..


“A-aku … menyerah,” ucap Sans lantang.


“A-ah!” jerit Yudai. “Tidak!”


Tay mengomentari, “Kondisinya seperti itu, sudah tidak lagi ada peluang bagi dirinya untuk kembali menyerang.”


“Be-berarti Dolce menang? Dan Sans tidak lulus?” Beatrice mendekatkan jari pada bibirnya. “Ti-tidak mungkin!”


Duke menutup mata sambil mengomentari tumbangnya Sans, “Memang tidak mudah berkembang dengan cepat, apalagi mengalahkan seorang alumni sepanjang masa. Setelah langsung kalah pada pertarungan pertama, tidak mungkin dia akan menang dengan mudah dan cepat.”


Komentar pun juga turut berdatangan dari beberapa murid.


“Dia benar-benar memaksakan diri.”


“Percuma saja. Mau berusaha sesusah mungkin, dia tetap murid bermantel putih.”


“Sama sekali tidak harapan.”


“Akhirnya, dia tidak lulus juga.”


“Memang dari awal sebaiknya dia kalah saja.”


Yudai menggeretakkan giginya begitu mendengar berbagai komentar negatif terhadap Sans. Tidak tahan lagi, dia menginjakkan kaki pada lantai ring untuk mendekati teman dekatnya itu.


“Sans!”


“Yu-Yudai!” Neu langsung tercengang atas aksi Yudai.


Yudai melihat darah semakin menodai mantel Sans begitu berlutut. “Kamu tidak apa-apa, kan?”


“A-aku kalah.” Itu hanyalah kalimat yang terbayang bagi Sans untuk menjawab pertanyaan seperti itu.