Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 126



“Bagi yang ikut tipe sihir, harap berbaris di hadapan saya!”


Suara Hunt menjadi salah satu pemicu keramaian di halaman asrama. Seluruh murid tahun pertama telah berbondong-bondong keluar dari kastel akademi demi persiapan untuk mengikuti bootcamp.


Tidak heran, barisan-barisan khusus job tipe fisik menjadi padat akan murid tahun pertama semenjak mayoritas job di job system menggunakan tipe serangan fisik. Agar tidak membingungkan para profesor pengampu, mereka membagi barisan sesuai dengan job masing-masing.


Bagi murid job tipe fisik, tidak sedikit yang mengeluh bahwa mereka lagi-lagi akan ke Silvarion. Mereka berharap agar tidak kembali mencicipi hidangan khas di sana yang menjijikan itu. 


Murid job tipe sihir sebenarnya cukup beruntung semenjak mereka akan berlatih di kota Vaniar, kota khusus penyihir yang terletak di pesisir timur laut benua Aiswalt, sebuah destinasi baru yang akan mereka jelajahi.


Hampir seluruh murid juga mengalihkan perhatian pada masing-masing satu murid tahun kedua yang terbaik dari setiap job. Cukup tercengang ketika mendengar bahwa masing-masing aka menjadi asisten dalam pelatihan saat pengumuman yang lalu.


Salah satu dari mereka adalah Earth, “tunangan” Beatrice yang menyandang sebagai asisten untuk pelatihan job knight. Melihat laki-laki itu sudah ingin membuat Neu menahan muntah, apalagi Tay.


Tay justru dapat merasa sedikit lega ketika Earth tidak perlu ikut campur dalam pelatihan khusus swordsman. Menatapnya juga sudah membuatnya ingin berkata kasar atas apa yang terjadi saat hari terakhir Festival Melzronta.


Sebelum setiap tipe job berbasis tipe serangan berpisah, Arsius kembali menghampiri seluruh murid tahun pertama, ikut berdiri di sekitar barisan profesor yang akan menjadi instruktur bootcamp bersama para asisten.


Arsius memulai pidatonya ketika seluruh murid tahun pertama bungkam, “Hari ini akan menjadi hal penting dalam hidup kalian. Kalian akan menghadapi salah satu latihan terkeras dalam hidup kalian, dan ini adalah awal dari pelajaran dengan standar tinggi. Patut kalian ingat, perjalanan kalian masih panjang setelah melalui bootcamp.


“Manfaatkan bootcamp ini sebagai momen perkembangan terpenting kalian sebelum menghadapi beberapa tantangan berikutnya, terutama ujian akhir semester, ujian yang akan menentukan nasib kalian di Akademi Lorelei. 


“Semoga berhasil bagi kalian semua. Saya harap kalian mendapat manfaat dari hasil kerja keras dalam bootcamp.”


Setelah Arsius mengakhiri percakapan, setiap profesor pengampu job tertentu dan asistennya memanggil satu per satu nama dari kelompoknya, memastikan seluruh murid telah hadir untuk mengikuti bootcamp.


Neu memperhatikan barisan sampingnya bahwa beberapa murid seperti dirinya sudah mulai akrab dengan familiar pendamping. Betapa patuhnya makhluk familiar layaknya hewan peliharaan, demi memperkuat diri dalam pertarungan.


Sementara dirinya, familiar miliknya – Cherie, peri bertanduk seperti unicorn dan berpupil mata seperti rosario – hanya tertidur di lehernya. Ia sama sekali belum mengetahui kekuatan asli dari familiarnya sendiri, apalagi berkomunikasi dengannya.


Sungguh jengkel bagi Neu terus menyaksikan Cherie tidak melakukan apapun selain tidur. Terakhir kali ia menyaksikan familiarnya itu terbangun untuk melakukan sesuatu adalah saat misi bersama Tay, Sierra, Zerowolf, dan Lana. Sayangnya, familiar itu berakhir tidak melakukan apapun.


Ia sangat menyesal mendapat familiar seperti Cherie semenjak Tay sering berkata tidak memiliki kegunaan. Cukup beruntung, ia tidak harus bersama Tay selama bootcamp.


Ia menghela napas menatap Cherie sekali lagi, berharap agar bootcamp agar menjadi kesempatan untuk melihat kekuatan Cherie sesungguhnya agar dapat berguna.


“Neu! Neu! Neu!”


Panggilan Hunt, selaku pengampu untuk murid mage tipe attacker, tiga kali membuatnya buyar. “Ah! Ha-hadir!”


Belum sempat bernapas lega, perasaannya kembali tertusuk ketika menatap Beatrice terlebih dahulu meninggalkan area halaman kastel akademi bersama Danson. Masalah yang belum terselesaikan kembali menghantuinya, yaitu insiden saat pesta dansa hari terakhir Festival Melzronta.


Setidaknya, cukup beruntung, Earth menjadi asisten profesor pengampu untuk bootcamp knight. Mereka tidak perlu berurusan dengan tunangan Beatrice itu lagi.


Dua buah masalah yang belum terselesaikan membuat Neu pusing, seperti kalah sebelum bertanding.


Berbicara tentang Tay, murid swordsman yang paling dibenci itu tidak kaget hampir seluruh murid satu job dengannya menatap sinis. Ia sama sekali tidak memedulikan aura kebencian di sekitarnya. Pada dasarnya, ia memiliki prinsip “tidak untuk berteman”, melainkan “ingin menjadi lebih kuat”.


Bahkan, keempat mantan temannya juga ikut berbisik-bisik di belakangnya, seakan mempersiapkan untuk menusukkan pisau dari belakang. Sangat iri menatapnya lebih berkembang, apalagi memiliki sekelompok teman yang lebih baik, terutama Sans si murid bermantel putih.


Beralih ke Yudai. Ia cukup gemetar menunggu namanya terpanggil. Semenjak ia berkumpul bersama murid job archer, ia memiliki banyak pikiran menumpuk. Tertekan dan gembira pada saat yang bersamaan.


Ini adalah kali ketiganya menuju Silvarion. Jantungnya berdegup menandakan kegirangan untuk lebih berkembang sebagai archer. Pada saat yang sama, hal itu menjadi satu langkah lebih dekat menuju tujuannya.


Sementara Sierra … ia berdiam diri menyaksikan Woodyatt, profesor pengampu bootcamp khusus priest, beserta asistennya, murid priest tahun kedua peringkat teratas, menjelaskan dalam pidato masing-masing.


Alih-alih memperhatikan dan merenungi perkataan kedua instruktur, ia justru merenungi dirinya sebagai mata-mata yang bertujuan untuk mencari rahasia Akademi Lorelei. Jika ia tidak mengikuti bootcamp tersebut, sebuah kesempatan tepat berada di depan mata selagi mayoritas dari profesor dan staf akademi sibuk di luar.


Masalah lain, sebagai murid priest peringkat teratas di kalangan murid tahun pertama, tidak akan mudah mencari waktu luang untuk menyendiri. Murid-murid priest lain, terutama Katherine, pasti akan menemuinya untuk meminta saran dan bantuan dalam pembelajaran.


Mengikuti bootcamp dan menyendiri diam-diam memang tidak akan mudah. Ia harus mencari kesempatan di dalam kesempitan.


Lamunannya seketika terputus ketika Arsius mempersilakan murid job priest agar mulai berjalan, menyusul Beatrice dan Danson. Mereka tetap berada di dalam barisan ketika melewati halaman depan kastel menuju gerbang utama akademi.


Kelompok murid job mage pun menyusul, dari tipe support, defender, dan terakhir attacker. Neu pun melirik kelompok job tipe fisik, terutama Yudai yang melirik-lirik. Lalu ia juga melirik ke belakang, belum ada tanda-tanda murid bermantel putih seperti Sans.


Yudai juga sama sekali belum melihat kehadiran Sans, begitu pula murid bermantel putih lainnya. Sejak awal, ia tidak sabar menunggu keputusan Sans semenjak ia belum diberitahu sama sekali. Ia berharap sahabatnya itu dapat bergabung dengan bootcamp tipe fisik.


Menyaksikan barisan-barisan murid kategori job tipe fisik, ia melihat mayoritas dari kenalannya akan singgah di Silvarion, sama seperti dirinya. Tay, Zerowolf, Riri, Lana, Ruka, dan Sandee. Ia memiliki niat agar mereka semua berkumpul untuk berlatih bersama saat waktu luang.


Jika memikirkan Zerowolf, tentu saja ….


“Yudai!” Tepat di belakangnya, Zerowolf memanggil, “Aku akan menantangmu dalam mock battle sekali lagi!!”


Sahutan Zerowolf turut memicu perhatian seluruh murid lainnya. Mereka sampai tidak bisa berkata-kata untuk bereaksi terhadap kehebohan Zerowolf.


Baron menjadi satu-satunya yang dapat memecah kehebohan itu. “Kamu!” Ia mengacungkan telunjuk mengarahkan pada Zerowolf. “Tidak ada waktu untuk mengadakan mock battle, mengerti? Jadwal kita benar-benar penuh! Sangat penuh! Jadi tidak ada mock battle di luar jadwal, apalagi saat istirahat! Mengerti?”


***


Satu per satu kelompok berdasarkan kategori job masing-masing murid telah tiba di dermaga setelah melintasi ibu kota. Tanpa perlu aba-aba lagi, profesor pengampu dan sang asisten menuntun mereka pada masing-masing kapal.


Seperti biasa, setiap kapal berisi kelompok job. Kecuali bagi Beatrice yang merupakan song mage, ia dan profesor pengampunya, Danson, bergabung dengan kelompok priest, di mana akan satu kapal bersama Sierra dan Katherine.


Diikuti oleh para mage yang akan menaiki satu kapal berbeda, tidak memandang apakah mereka attacker, support, atau defender. Neu hanya seorang diri dari kelompok pertemanannya melirik-lirik, berpikir ia hanya akan berbicara dengan teman satu job-nya. Sosialisasi seperti di kelas mage tersebut tidaklah sama dengan kelompok pertemanannya, hanya membahas seputar sihir.


Sisanya, satu per satu tipe job tipe fisik memasuki kapal-kapal berbeda berdasarkan arahan dari masing-masing profesor. Begitu semuanya telah menjadi penumpang kapal sesuai masing-masing job, kru dari setiap kapal mengangkat jangkar untuk bersiap berangkat.


Kapal-kapal itu akhirnya meninggalkan area dermaga dan mulai berpisah menuju dua arah yang berbeda berdasarkan kategori tipe serangan job.


Beatrice, Yudai, Neu, Tay, Sierra, Zerowolf, Katherine, Riri, Lana, Sandee, dan Ruka mulai berfokus dalam menghadapi bootcamp masing-masing, tatapan wajah mereka seakan berkata mari kita mulai.


***


“Lihatlah mereka, sudah akrab dengan Familiar.”


Neu menggelengkan kepala menyaksikan beberapa murid mage tengah bercakap-cakap dengan familiar pendamping masing-masing, baik berupa pixie, fuzzball, makhluk siluet, dan bahkan unicorn. Mereka seakan menyuruh familiar masing-masing untuk memamerkan kemampuannya di geladak kapal, selama tidak sampai dahsyat ukurannya.


Sementara Neu … ia menoleh pada Cherie, familiarnya, yang masih tertidur di bahu kirinya. Sudah berkali-kali ia menepuk kepala familiarnya agar bangun, tetap saja tidak berhasil semudah itu.


Jengkel sekali, apalagi iri terhadap beberapa murid yang telah memamerkan kekuatan familiar masing-masing. Sekali lagi, dirinya terjebak dengan Cherie, si pixie tukang tidur, sambil belum mengetahui kekuatannya.


Sebuah sentuhan di bahu kiri seakan menghentikan kobaran api di benak Neu, mengagetkannya sampai ia menoleh. Sosok tidak asing turut mengagetkannya, sebuah kenyataan yang tidak ia kira.


“Lho … lho … Sans? Ka-kamu … bukannya kamu—” Neu heran ketika melihat salah satu murid bermantel putih itu.


“Ya.” Sans mengangguk. “Ini aku.”


“Ta-tapi … bukannya senjatamu belati?”


Kemunculan Sans turut mengundang tatapan dan percakapan sinis di antara kalangan murid mage. Berbagai pertanyaan kasar terlontar, begitu pula dengan nada meremehkan.


“Berhati-hatilah, Sans. Sebagai murid tanpa job, kamu sudah diremehkan, apalagi kamu juga belum menguasai sihir. Kalau kamu gagal dalam bootcamp, kemungkinan besar kamu dikeluarkan.”


“Aku tahu, tapi menurutku, dengan tujuan untuk menyembuhkan ibuku, aku ingin belajar sihir.”


“Apa tidak apa-apa pilihan kamu berisiko tinggi? Kamu bisa saja keluar dari akademi jika gagal.”


Neu kemudian memperhatikan seorang murid bermantel putih sama seperti Sans. Murid itu juga sudah menjadi bulan-bulanan murid job mage, cukup untuk menghancurkan pagar kepercayaan diri, apalagi nasibnya terancam sebagai murid akademi.


“Kejamnya.” Neu juga memperhatikan murid-murid di dekatnya juga menjadikan Sans sebagai sasaran empuk dalam bergosip. “Pasti murid tanpa job akan diperlakukan seperti ini di kapal.”


Sans merenungi nasibnya sebagai murid tanpa job di kalangan murid mage selama dalam perjalanan menuju kota Vaniar, hanya perlu memutar arah setelah jauh dari dermaga ibu kota.


Keputusannya untuk bergabung dengan murid job bertipe penyihir sudah menjadi keputusan yang tepat, semenjak ia sudah mulai mempelajari skill alchemist, beberapa di antaranya berupa sihir. Ia juga merenungi bahwa alchemist sebenarnya bukanlah penyihir, bukan juga sekadar petarung tipe fisik, melainkan lebih mengacu pada ilmuwan secara teknis.


Sebagai seorang murid job alchemist, ia tinggal mempelajari sihir dengan mengikuti bootcamp. Sebuah inisiatif sendiri tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Duke, hal ini karena ia sudah lebih mampu bertarung menggunakan belati.


Neu menepuk pundaknya. “Sebenarnya, bootcamp ini bukan hanya berlatih bersama sesama tipe serangan job. Akan ada kegiatan pelatihan khusus job tertentu, jadi aku akan berlatih bersama sesama murid mage tipe attacker. Aku tidak bisa banyak membantu. Tapi, saat luang, kalau butuh bantuanku dalam memahami sihir, kamu bisa menemuiku.


“Seperti yang kubilang sebelumnya, aku ingin kamu lulus bootcamp agar kamu tidak harus keluar dari akademi ini dengan tangan hampa. Aku ingin kita lulus dari akademi ini bersama-sama, semuanya, teman-teman kita—”


Ucapan Neu terhenti. Ia menundukkan kepala. Wajahnya masam. Tepat setelah berkata teman-teman kita, Beatrice menjadi orang pertama yang muncul di benaknya.


Ia merenungi kembali bagaimana pertemanannya dengan Beatrice. Setiap kilas balik ia mainkan di benaknya, seakan beralih dari kenyataan menuju kenangan. 


Neu dan Beatrice merupakan teman masa kecil. Beatrice merupakan satu-satunya perempuan di kalangan teman bermainnya. Ia pun jadi orang pertama yang akrab dengan Beatrice hingga bermain bersama di luar kampung halaman


Impian untuk melihat dunia luar bersama masih mereka genggam dengan erat sejak lama. Menjadi murid di Akademi Lorelei merupakan batu loncatan untuk mencapai impian itu bagi keduanya.


Sayang sekali, impian itu sempat sirna ketika mereka berdua harus terpisah karena perbedaan kelas masyarakat. Neu terpaksa tidak dapat menemui Beatrice dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya, Akademi Lorelei menjadi tempat pertemuan kembali bagi keduanya.


Neu sungguh tidak menyangka hubungan pertemanan dirinya dan Beatrice mulai merenggang semenjak insiden pesta dansa pada hari terakhir Festival Melzronta. Ia ingin sekali bertemu Beatrice dan berbicara sama seperti dulu. 


Berkali-kali ia mencoba untuk menemui Beatrice, menjauhi adalah satu-satunya jawaban. Sudah cukup lama ia tidak bersama Beatrice, apalagi menjalankan misi bersama.


“Neu?” Sans membuyarkan renungannya.


“Sans? Whoa, aku … bicara sampai mana tadi?”


Sans mengangkat kepalanya, menajamkan tatapan pada langit biru cerah. “Setelah bootcamp ini berakhir, setelah kita semua berhasil, langkah berikutnya harus kita tempuh, ujian akhir semester dan tahun kedua kita di akademi.”


Neu melebarkan bibirnya ketika menatap Sans. Baginya, Sans telah berubah dari murid tanpa job yang cukup ragu dalam melakukan hal karena prasangka murid lain menjadi lelaki yang teguh pendirian selama setahun terakhir.