Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 173



Keputusan Clancy untuk mengumpulkan seluruh murid kelas khusus yang diampunya di hutan perbatasan antara jembatan menuju akademi dan ibu kota pada pagi hari cukup jeli. Belum ada awan kelabu di langit biru cerah, cuaca sempurna untuk melakukan kegiatan praktik kelompok.


Clancy sudah berdiri di hadapan murid yang telah berbaris sesuai kelompok masing-masing. Ia menatap setiap murid telah menyiapkan senjata, tidak sabar ingin segera melakukan mock battle.


Masih ada unsur kebencian bagi murid-murid lain terhadap Sans. Saat melihat wajahnya saja, ingin sekali mereka sampai mengalahkan kelompoknya, apalagi menghajarnya sampai ia tidak berdaya dan menangis seperti bayi.


Melirik air muka setiap murid lain yang melirik sinis Sans, Yudai mendengus jengkel.


Riri, Zerowolf, dan Katherine juga memperhatikan mayoritas murid masih memendam kebencian terhadap Sans sebagai seorang alchemist. Mereka juga sampai mencuri dengar dari murid yang ingin sekali menghajar tim Sans, Yudai, dan Beatrice sampai sehancur-hancurnya, agar mental mereka hancur dalam ujian akhir semester mendatang.


Zerowolf berkomentar, “Kejam juga mereka. Sampai begitu ingin Sans dikeluarkan dari akademi.”


Clancy menyambut semangat seluruh murid, “Baiklah, kalian sungguh bersemangat. Kita langsung saja. Saya pilih—” Ia mengacungkan telunjuk dan menggerakkannya untuk memilih tim. “Tim Sans dan … Tim Conti.”


Tim Conti. Yudai melirik ketiga anggota tim itu, semuanya murid swordsman laki-laki. Terlebih, ketiga anggotanya sebelumnya merupakan teman Tay dan pernah merundung dirinya dan Sans sebelum upacara penerimaan murid.


Conti dan kedua rekan timnya menyeringai menyaksikan Sans, Beatrice, dan Yudai. Memperhatikan ketiganya, terutama Sans, mereka ingin memanfaatkan momen tersebut untuk menonjolkan diri demi menghancurkan Sans di depan seluruh murid kelas khusus itu.


“Tim Conti dan tim Sans, silakan kemari. Sementara yang lainnya harap mundur demi keamanan kalian.”


Tim Sans dan Tim Conti mulai saling berhadapan di hadapan seluruh murid kelas khusus tersebut, sama seperti waktu mock battle saat bootcamp sebelumnya. Clancy juga mennyingkir dan berdiri di antara murid-murid lain.


Salah satu rekan tim Conti tersenyum lebar sambil berkata, “Conti, ingat, kamu gagal mengalahkan Tay saat mock battle di bootcamp. Ini kesempatan bagus untuk menebusnya.”


Satu rekannya lagi juga melanjutkan, “Apalagi itu, lawan kita adalah si alchemist. Dia secara teknis lemah. Kita buat dia sampai dikeluarkan, itu yang semua orang mau.”


Conti mengangguk. “Mereka juga temannya Tay, si brengsek itu. Kita kalahkan dan permalukan mereka dulu. Ayo!”


Ketiga anggota tim Conti menggenggam pedang erat dan menghadapkannya ke depan Kaki kiri juga mereka ke depankan untuk memasang posisi bersiaga.


“Pastikan kalian mempraktikkan apa yang telah saya ajarkan pada minggu pertama kelas khusus, apa kelebihan dan kekurangan masing-masing job,” Clancy berpesan, “lalu, bagi yang lainnya, karena kalian menonton mock battle ini, kalian harus melihat tim manakah yang bagus dan kenapa mereka bisa bagus dalam bertarung, lalu ambil yang bagusnya dan terapkan dalam pertarungan kalian di masa depan. Coba mengerti setiap orang, lihatlah bagaimana kelebihannya, pelajari, kalau mereka tidak bagus dalam bertarung, pahami mengapa mereka tidak bagus, pastikan juga tidak membuat kesalahan yang sama.


“Untuk tim Conti dan tim Sans, waktu kalian hanya lima menit.”


Riri memperhatikan Sans, Yudai, dan Beatrice mulai membentuk formasi awal pertarungan. Sans berada di posisi terdepan menggenggam belati dan telah menggunakan gauntlet. Yudai dan Beatrice berada di posisi belakang masing-masing sebagai penyerang jarak jauh dan support.


Zerowolf juga melirik pada Yudai, berharap agar rival bebuyutannya itu dapat mengalahkan tim Conti yang sudah sombong, tidak seperti murid-murid lainnya yang berharap tim Sans kalah.


“Dasar!” sahut Sandee dan Lana menghampiri Zerowolf bersama Ruka. “Bukannya aku juga ini anggota timmu, Zerowolf! Kamu justru menggantikan aku dengan Riri!”


Lana juga berkata, “Kamu juga, Riri …. Jangan tinggalkan aku sendirian bersama Ruka dong!”


Ruka menempatkan kedua tangan di belakang kepala, kedua lengannya seakan membentuk segitiga. “Ya, kalau aku sekelompok dengan Sandee, aku tidak keberatan. Kelihatannya sudah nyaman bersama Zerowolf dan Katherine.”


Ruka kemudian melirik pada Conti yang telah menyeringai menatap Sans.


“Ya, lagipula Conti juga kena pengurangan 15 poin karena mencoba membunuh Tay dari belakang.”


“Me-membunuh?” Lana dan Katherine tercengang.


“Ya, lebih tepatnya menebas dari belakang, tapi kelihatannya dia mencoba untuk membunuh Tay.”


Zerowolf bergumam masih menatap Yudai dan Sans. “Yudai, Sans, apakah kalian akan menang melawan mereka?”


Clancy mulai memberi aba-aba. “Mock battle pertama, Tim Sans melawan Tim Conti dimu—”


Ketiga anggota tim Conti justru mengangkat kaki dan melesat mengayunkan pedang. Bertubi-tubi, ketiganya mengincar Sans sebagai juru kunci. Aksi mereka turut mengundang kekagetan semuanya, terutama Sans yang tidak sempat berkutik menghadapinya.


Ingin sekali mengayunkan belati, kecepatan ayunan ketiga anggota itu tidak dapat ia hindari. Sans mendapati belatinya terpental oleh salah satu pedang dan badannya terkena mata pedang tersebut, membuatnya terpental ke belakang.


“A-apa?” ucap Riri.


Sans meringis mendapati kemejanya terdapat satu sobekan akibat sayatan pedang. Darah pun sedikit menetes dari luka pada dada tengah, meskipun menggeretakkan gigi menahan sakit, luka tersebut hanya menembus bagian luar kulit. Ia mengepalkan tangan kanan pada tanah untuk membantu bangkit kembali.


“A-aku tidak salah lihat, kan?” Lana ingin memastikan.


Yudai menjerit, “Curang sekali mereka menyerang sebelum aba-aba!!”


Sans perlahan bangkit kembali setelah mengambil belatinya yang terpental di samping kanannya. Ia memastikan masih bisa bertarung.


Beatrice langsung menggenggam song sphere dengan erat dan mulai menyebutkan judul lagu. “Give Us Strength.”


Yudai mulai mengambil panah dari quiver dan memasangkannya pada tali busur. Begitu ia mulai mengambil posisi kuda-kuda, gelombang bundar muncul melingkari dirinya sebagai penambah efek dari nyanyian Beatrice. Ia juga melihat gelombang itu mulai melingkari Sans sebelum menghilang.


“Oke!” sahut Yudai.


Sans mulai mengambil posisi, mendorong genggaman belatinya ke belakang sebagai ancang-ancang.


Conti menyeringai, “Masih bisa berdiri ya? Baiklah.” Ia mengangguk kepada kedua rekannya.


Ketiganya mulai berpencar, apalagi setelah menatap Beatrice sebagai anggota tim Sans yang tidak menyerang. Kedua rekan Conti berbelok dan melesat menggenggam pedang.


Conti berlari langsung menghadapi Sans seorang diri. Ayunan pedangnya ia tebaskan dari kanan sambil menjerit.


Meski ukuran belatinya jauh lebih kecil daripada pedang Conti, Sans berusaha sekuat tenaga menangkis setiap tebasan pedang tersebut. Setiap gerakan genggaman belatinya sedikit demi sedikit terdorong setiap kali ia bertahan,


Yudai menembakkan panahnya pada salah satu rekan Conti. Satu demi satu panah ia ambil dari quiver, pasang pada tali busur, dan melepaskannya untuk meluncurkan tembakan.


Tembakan Yudai pada seorang rekan Conti yang berlari di sebelah kiri hadapannya pun entah menghindar dengan cara melompat, bergeser, dan menangkis menggunakan pedang. Sekuat tenaga, Yudai tetap bersikukuh untuk menjadikan murid itu sebagai target, apalagi mengingat dirinya sudah mendapat tambahan kekuatan dari nyanyian Beatrice.


Menyaksikan rekannya telah terdesak oleh tembakan Yudai, rekan Conti satu lagi muncul dari sebelah kanan Sans, mengagetkannya yang masih mencoba untuk bertahan melawan Conti dan terdesak. Begitu ia menoleh ke kanan, rekan Conti itu meluncurkan tikaman menggunakan genggaman kedua tangan.


"AH!" jerit Riri dan Zerowolf tercengang menyaksikan hal itu.


Darah segar pun keluar dari goresan akibat tikaman ujung pedang pada dada sisi kanan Sans. Rasa sakit menggelegar langsung memicu pikirannya, memang, sesuai aturan, tikaman pedang tidak dalam, hanya sekitar satu sentimeter dari ujung pedang menembus mantel putih dan epidermis.


“Sans!” jerit Yudai.


Beatrice sampai tercengang hingga ia melewatkan nada dan lirik pada lagunya. Tetapi, Yudai meliriknya, memperingatkan agar tidak berhenti bernyanyi.


“Kenapa tidak berhenti!” jerit Zerowolf, apalagi saat ia melirik pada Clancy. “Jelas-jelas dia melukai Sans.”


Riri mengingatkan, “Profesor Clancy tidak mengatakan agar tidak melukai, apalagi membahayakan. Setidaknya, kalau sampai membahayakan, pasti beliau akan menghentikannya. Sama seperti saat bootcamp.”


“Cih!” sahut Yudai saat Conti dan satu rekannya yang telah mengalahkan Sans kembali melangkah perlahan.


“Berikutnya, kita serang si song mage itu saja,” usul Conti.


Mendengar rencana Conti selanjutnya, Yudai langsung menoleh pada Beatrice di belakangnya. “Beatrice!”


Rekan Conti yang menjadi targetnya memanfaatkan momentum tersebut. Ia mendekati Yudai dan langsung perut bagian kirinya.


Yudai mendapati salah satu incarannya telah menyerang dirinya dan ia mendapat goresan luka pada perut bagian kiri. Darah pun keluar seiring nyeri mulai meledak di otaknya. Ia tidak pernah menerima tebasan pedang sesakit ini. Sungguh sakit hingga ia juga ikut tumbang.


Beatrice menghentikan nyanyiannya dan menghela napas menyaksikan Yudai ikut tumbang di hadapannya. “Ah!”


Hampir seluruh murid pun mulai berbincang akan tumbangnya tim Sans melawan tim Conti. Peristiwa itu menurut mereka membuktikan bahwa ketiga murid kontroversial itu hanya mampu berkata-kata dan melanggar peraturan, tetapi tidak dapat membuktikan diri melalui kemampuan bertarung.


Beberapa dari mereka justru menertawakan tim Sans karena telah menjadi tim payah, seakan perjuangan mereka sebagai tim hanya keberuntungan belaka selama ini, apalagi jika mengingat kemampuan bertarung.


Beatrice mundur ketika ketiga anggota tim Conti mulai mendekatinya. Ditatapnya ketiga pedang yang mengarah padanya, ia tidak tahu bagaimana harus bertahan. Terlebih, ia sama sekali tidak diajarkan lagu untuk menyerang, mengingat statusnya sebagai song mage tipe defender dan support.


“Kasihan sekali dirimu. Dua rekan timmu yang melindungimu sudah tumbang. Hanya tinggal menyaksikan dirimu tumbang untuk memastikan kemenangan kami,” ucap Conti.


Beatrice menggelengkan kepala. Napasnya mulai berhiperventilasi, saat ia lebih banyak mengeluarkan napas. Takut, sangat takut, seluruh tubuhnya bergemetar saat menyaksikan Conti mulai mengayunkan pedang mengarah padanya.


“Sudah berakhir,” ucap salah satu penonton.


Riri tercengang ketika mata pedang Conti meluncur mengarah pada leher. Ia menjerit memperingatkan, “Hentikan!!”


“Bolt, ecm morf ah kopn,” Sans membisikkan mantra meski ia masih terbaring menahan nyerinya. Ia menunjukkan telunjuk kanannya pada Conti dan menjentikkannya bersama dengan jempol dan jari tengah.


Sebuah kilatan petir menjalar dari telunjuk Sans dan meluncur. Kilatan cahaya putih kecil hampir tak berbentuk nan tajam di udara itu mencapai punggung Conti dan menyambarnya hebat.


“AAAAAAAARRRGH!!” Conti menjerit bereaksi kilatan kecil itu seakan menusuk hingga ke tulang dan organnya.


Serangan Sans hanya menggunakan jentikan jari berkilatan cahaya mencengangkan seluruh murid, bahkan Clancy juga sampai menghela napas. Sebuah kemampuan tidak terduga dari Sans. Meski dia hanya sebagai murid bermantel putih bersenjata belati, tidak ada satupun yang mengira Sans akan menggunakan skill seperti itu, mengundang kesimpulan bagi beberapa murid.


Sans menjentikkan jari berkali-kali pada Conti, menggelegarkan kilatan cahaya kecil sampai memicu musuhnya tumbang.


Beatrice yang melongo hanya menyaksikan Conti tumbang di hadapannya. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia lihat, Sans telah menggunakan skill yang tidak terduga.


Hal itu juga sama bagi Yudai. Ia langsung menyimpulkan skill itu merupakan skill khusus alchemist, lengkap dengan mantra.


“A-apa?” jerit sebagian besar penonton.


“Jangan-jangan—” Zerowolf sudah menyimpulkan apa yang terjadi selanjutnya.


“CURANG!!” bentakan salah satu murid laki-laki memicu gelombang protes, apalagi ia sudah mengayunkan kepalan tangannya.


“Apa-apaan itu!”


“Itu skill alchemist!!”


“Tidak tahu malu! Sudah ketahuan oleh Profesor Alexandria, masih berani saja dia menunjukkan dirinya sebagai alchemist!”


“Keterlaluan!”


Beatrice dan Yudai tercengang menyaksikan gelombang protes murid lain. Mereka sudah menduganya, tetapi protes tersebut tidak sekencang apa yang mereka saksikan, apalagi di hadapan Clancy sebagai profesor pengampu.


Conti bangkit dari berbaring setelah meski nyeri akibat serangan bolt snap dari Sans. Clancy-lah jadi orang pertama baginya untuk ditegur.


“Profesor Clancy, saya harap saya sopan untuk memberitahu Anda.


Ia menunjuk menggunakan telunjuk. “Sans, lawan saya, telah menggunakan skill alchemist. Padahal dia seharusnya menggunakan belati untuk bertarung. Kita semua tahu alchemist adalah job ilegal, tidak ada alasan untuk memperbolehkannya dia bebas menggunakan skill ini! Dia juga sudah ketahuan menjadi alchemist!”


Ruka menggelengkan kepala menyaksikan kelakar Conti. Hampir sama persis seperti saat melawan Tay. Ia tidak ragu ingin menjatuhkan lawannya dengan cara mengintimidasi.


Sans hanya diam, bahkan setelah bangkit kembali sampai berada di posisi berdiri, ia hanya melirik Conti. Ia memutuskan untuk menunjukkan skill alchemist untuk melindungi Beatrice, meski harus menginterupsi pertarungannya melawan tim Conti.


“Sans! Katakan sesuatu!” Termakan dengan provokasi Conti, gilirannya membentak Conti dan seluruh murid, “Apa yang kalian bicarakan!! Dari awal, tidak ada aturan spesifik Sans tidak bisa menggunakan skill alchemist!”


“Benar!” Riri membela Yudai, menghentikan seluruh hinaan dan omelan murid-murid lain, semua tatapan tertuju pada dirinya. Bahkan Yudai dan Beatrice juga tidak menyangka Riri berani bersuara. “Profesor Clancy tidak pernah bilang sama sekali tentang itu. Kita hanya butuh menunjukkan kemampuan terbaik!”


“Tapi itu tidak ada alasan!” jerit salah satu murid lagi. “Harusnya dia bertarung menggunakan skill belatinya!”


“Benar! Benar! Sans curang!”


Conti kembali memprovokasi, “Nah! Semuanya setuju! Profesor Clancy, lebih baik mereka bertiga, terutama Sans, dikeluarkan dari kelas khusus ini daripada bikin malu! Kalau bisa kurangi nilai mereka saja sekalian, dan skors!”


“Ya! Keluarkan mereka! Hukum! Hukum! Hukum!!”


Yudai dan Beatrice sama sekali tidak tahu ingin berkata apa lagi, menyaksikan mereka menjadi korban akibat perbuatan Sans telah menunjukkan skill alchemist di hadapan semua orang, apalagi saat praktik mock battle di kelas khusus.


Sans pun menghela napas, ia merasa telah menyeret kedua teman dekatnya akibat dirinya menjadi seorang alchemist. Semua murid kelas khusus itu sudah membela Conti agar dia dan kedua temannya mendapat hukuman apapun bentuknya.


Riri, Zerowolf, dan Katherine juga tidak dapat melakukan apapun untuk membela Sans. Mereka kalah jumlah melawan hampir seluruh murid kelas khusus. Lana dan Sandee juga sudah menduga hal ini akan terjadi.