Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 57



Relevasi yang benar-benar tidak terduga, sangat tidak terduga, berujung pada pertarungan “untuk saling membunuh” antara Tay dan Neu. Tentu saja Sans dan Beatrice yang terdiam menyaksikan hal tersebut tidak ingin salah satu dari teman mereka terbunuh.


Beatrice juga melongo ketika mendengar tujuan Sans ke gunung berapi benar-benar sama persis seperti tujuannya, mengambil air mata phoenix. Dia pun teringat bahwa Sierra lupa meminta botol dari Neu yang tengah sibuk melayani Tay.


Mengesampingkan tujuan tersebut, pandangannya kembali terfokus pada pertarungan Tay dan Neu. Neu mengeluarkan batang hijau merambat meluncur dari lengannya setelah sempat mengucapkan mantra tersebut. Beruntung, lehernya tidak menjadi korban tebasan pedang Tay.


Batang merambat tersebut mengikat kedua tangan Tay dengan erat, begitu pula dengan bagian perut dan kedua kaki. Saking eratnya, pedang pada genggaman Tay pun terjatuh pada tanah setelah terhenti gerakannya, tepat di hadapan kedua kaki Neu.


“AAAAAAH!” jerit Tay.


“Swordsman arogan seperti itu takkan sanggup menjadi swordsman yang hebat, apalagi yang terbaik. Bahkan, sudah terbukti kalau kamu tidak mungkin mengalahkanku.”


“Le-lepaskan ….” Bagian tangan, perut, dan kedua kaki Tay terasa tercekik mencari udara dan gerakan. “Sa-sakit.”


“Sakit katamu? Itu tidak sepadan dengan rasa sakit teman-temanmu yang kamu tinggalkan begitu saja.” Neu mengangkat telapak tangan kanan tepat mengarah pada wajah Tay. “Menderitalah.”


“Neu! Hentikan!” Beatrice menghampiri Neu dari belakang. “Sudah cukup!”


Neu tertegun ketika tangan kanannya diturunkan paksa oleh ayunan tangan Beatrice. Terlebih, sihir batang merambatnya lama kelamaan menghilang dari tubuh Tay.


Tay berlutut menarik napas cukup cepat demi mengalihkan rasa sakit pada bagian tubuh yang sempat terikat oleh sihir batang merambat Neu.


“Jangan ganggu aku, Beatrice. Dia yang mengincarku!”


Beatrice membalas, “Kurasa aku tahu mengapa mereka kemari juga. Maafkan aku. Maafkan.” Sans menjadi fokus tatapannya. “Sans, aku benar-benar tidak tahu apa tujuanmu kemari waktu itu. Saat Yudai berujar phoenix dan meminta botol darimu, aku tahu, kamu juga ingin mengincar air mata phoenix. Tu-tujuan kita sama.”


Tay perlahan bangkit. “Ke-kenapa? Kenapa kamu tidak mengatakannya! Kenapa!”


Neu juga tidak kalah melongo, kedua tangannya dia turunkan. Tidak dapat disangka bahwa Sans dan Yudai benar-benar mengajak Tay, meski telah berbuat hal buruk.


Neu memang tahu alasan sebenarnya, Yudai masih marah padanya.


Beatrice menjawab sambil termenung, “Ma-maafkan aku, aku juga tidak sempat bertanya. Ini salahku karena terlalu ceroboh berkata tidak bisa. Kalau aku tahu hal ini, aku bisa saja mengajakmu, Sans, dan juga Yudai.”


“Bukan. Ini salahku,” Sans mengakui. “Aku tidak pernah bilang apa tujuan ekspedisi ke gunung berapi bersama Yudai.”


“Sans,” ucap Neu.


Sans menatap Neu. “Neu, kamu benar. Aku terlalu plin-plan, setelah mendengar kata Profesor Alexandria, aku sempat mempertanyakan apakah aku layak di Akademi Lorelei. Sekarang, aku takkan lagi lari, sembunyi, atau sedih dalam menghadapi apapun. Aku akan terus maju untuk menjadi lebih kuat, demi bertahan di akademi.”


Neu melebarkan senyuman optimis. “Itu baru Sans yang kukenal. Tujuanmu kuat untuk masuk ke Akademi Lorelei. Aku yakin ibumu akan sembuh.”


***


Selama perkelahian Tay dan Neu masih terjadi, Yudai menambah kecepatan larinya ketika mengejar phoenix. Botol kecil bertutup gabus masih dipegangnya cukup erat.


Sierra mulai terengah-engah dan heran menyaksikan Yudai tanpa lelah mengejar phoenix tersebut. Terlebih, dia sama sekali tidak menggenggam botol kecil yang sama persis, sesuatu yang baru saja diingat ketika menyaksikan Yudai menyusul.


Keduanya sama sekali tidak tahu cara agar phoenix dapat mendekat, satu-satunya hal penting yang terlewatkan agar dengan mudah mengambil butiran air mata burung tersebut. Satu-satunya yang mereka lakukan hanya mengejar dan mendekat dengan cara apapun kecuali menyakiti, apalagi membunuh.


Phoenix pun berbalik arah dan kembali terbang, mengagetkan Yudai yang hampir saja mendekatinya. Burung tersebut kembali mengepakkan sayap berapi tersebut demi menambah kecepatan terbang.


Yudai pun berbalik ketika menghampiri tepi dari tanah tebing yang dia injak, hampir saja kehilangan keseimbangan saat menggerakan kedua tangan sebagai kontrol.


“Phoenix-nya!” jerit Yudai menyaksikan phoenix tersebut semakin menjauhi sekitar gunung berapi tersebut cukup cepat dari dugaannya.


Sierra juga terdiam menyaksikan phoenix tersebut seakan menjerit dan menggepakkan sayapnya menuju langit lebih tinggi dibanding puncak gunung berapi tersebut.


Penampakan phoenix tersebut juga menjadi pandangan Sans, Beatrice, Tay, dan Neu tepat setelah mereka berdamai. Jeritan phoenix turut meluncur menuju telinga bersama dengan bara api menyelimuti sayap.


“Phoenix-nya!” jerit Neu mengeluarkan botol kecil dari kantungnya menggunakan tangan kanan.


Dia mengangkat tangan kiri mengarah pada phoenix tersebut. Diucapkannya perlahan mantra untuk menjebak dan menangkap burung tersebut.


“Neu!” jerit Beatrice menurunkan paksa tangan kiri, memegangnya erat-erat.


“Lepaskan! Lepaskan aku!”


“Kamu akan melukainya!”


“Kamu membuat phoenix-nya kabur!!”


“Jangan melukainya!”


Sans dan Tay hanya terdiam menyaksikan phoenix tersebut telah seakan lenyap dari pandangan mereka, seakan memasuki langit biru cerah penuh awan. Ekspedisi mereka untuk mendapat air mata phoenix akhirnya berujung sia-sia.


Sans menggeretakkan gigi sambil memalingkan wajah, langkah pertama untuk mengumpulkan obat penyakit sang ibu telah gagal total.


Beatrice pun berlutut, wajahnya mulai berlinang air mata. Tekanan atas tuntutan dari Oya dan Teruna semakin membesar begitu gagal mendapat air mata phoenix. Konsekuensi atas kegagalan tersebut terpicu ketika terpikirkan konsekuensinya, dia harus kembali ke rumah dan keluar dari Akademi Lorelei.


Neu langsung menatap Beatrice. “Ma-maaf. Maafkan aku.”


“Beatrice,” panggil Sans menghela napas.


Tangan Beatrice juga ikut gemetar, bereaksi atas tekanan dari tuntutan Oya demi kesembuhan sang ayah. Hal yang menjadi pemicu utama hatinya hancur adalah kondisi sang ayah.


Sang ayah telah membantu dirinya melarikan diri dari rumah keluarga bangsawan yang sudah bagaikan neraka. Jika hal itu tidak terjadi, tidak mungkin Beatrice masuk ke Akademi Lorelei dan menjadi song mage.


Upaya untuk membalas budi telah gagal dalam upaya pertama. Terlebih, dia sama sekali tidak tahu kondisi ayahnya saat itu di rumah. Dia takut, sangat takut kehilangan ayahnya, sebagai salah satu dari pihak keluarga yang mendukung dirinya, selain Teruna.


“Sans, maafkan aku. Aku seharusnya mengajakmu, aku seharusnya menjawab ya. Kita takkan bertengkar, Tay dan Neu takkan berkelahi, jika kita pergi bersama-sama.” Beatrice mulai berbicara di balik isak tangisnya. “A-ayahku, ayahku terkena penyakit yang sulit disembuhkan.”


Yudai dan Sierra juga baru saja kembali, menyaksikan Beatrice berlutut dalam kesenduan. Mereka berdua mempercepat langkah untuk menemui Beatrice.


“Astaga, Beatrice!” sahut Yudai.


Tay mengabari Sierra dan Yudai. “Phoenix-nya kabur.”


Yudai berlutut menepuk kedua pundak Beatrice. “Apa yang terjadi?”


Beatrice mengulang, “A-ayahku sakit keras. Pe-penyakitnya sulit di-disembuhkan.” Dia menatap kembali pada Sans dan Yudai setelah menggerakkan kedua tangan menjauh dari wajah. “Maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan ini pada kalian juga. Se-sebenarnya saat aku terpisah dari kalian waktu di Silvarion, pe-pelayan keluargaku, Oya, mengancam untuk menjemput paksa untuk pulang. Di-dia memintaku untuk mendapat air mata phoenix.


“Sa-saat kita kembali dari Silvarion, pelayan pribadiku, Teruna, menjelaskan mengapa Oya menyuruhku agar mendapat air mata phoenix. Ayahku sakit keras. Sekarang, aku tidak tahu bagaimana kondisi ayahku.”


Yudai mengingat kembali ketika Beatrice langsung memisahkan diri saat kelas sejarah pertama semenjak pulang dari Silvarion. Dia mengetahui alasan di balik hal tersebut, menyimpulkan Beatrice tampak seperti sakit karena tekanan tuntutan.


Sans mengungkapkan, “Aku juga mengincar air mata phoenix, itu adalah salah satu bahan obat untuk ibuku. Makanya aku juga melakukan ekspedisi bersama Yudai dan Tay demi mendapatkannya.”


“Sans ….” Beatrice terdiam.


Tay tidak dapat menyembunyikan kata hatinya. “Dasar. Kenapa baru sekarang kalian saling mengungkapkannya. Memang benar, ini semua takkan terjadi—”


Neu memperingatkan, “Hei, mulutmu ya! Yang sudah berlalu, ya sudah! Kita juga tidak tahu keduanya memiliki tujuan yang sama. Yang berlalu, sudahlah!”


“Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya.” Tay berlutut mengambil pedangnya.


“Sudah. Ayo kita pulang. Kita tidak mau kembali saat jam malam, kan?”


“Beatrice.” Yudai membantu Beatrice untuk berdiri.


Keenamnya menghela napas, misi mereka untuk mendapat air mata phoenix benar-benar gagal total.


***


Warna langit tengah melakukan sebuah transisi, dari oranye menuju hitam, ketika keenamnya telah tiba kembali di hadapan pintu masuk kastil akademi.


Hampir tidak ada satupun yang berbicara selama perjalanan demi menenangkan diri. Menghindari agar tidak terpicu oleh kesedihan atau kemarahan yang telah berlalu.


Memasuki ruang depan kastel akademi, masih cukup ramai oleh murid yang tengah bercengkerama menunggu matahari terbenam. Fokus perhatian tertuju pada Sans dan teman-temannya yang baru saja tiba.


Beatrice akhirnya membuka suara ketika berbalik menghadapi Sans dan yang lainnya, “Semuanya, aku akan menganggap kegagalan ini sebagai pembelajaran, pembelajaran agar kita bisa mencapai keberhasilan pada masa depan.”


Neu mengangguk setuju, “Ya. Harusnya begitu. Kegagalan akan membantu kita menemukan di mana letak kesalahannya. Aku akui, aku tidak sempat menemukan cara untuk mendapat air mata phoenix, apalagi ntuk memancingnya untuk mendekati kita.”


“Sama dengan kita,” ungkap Sans, “kita lupa membaca bagian itu.”


“Apa kita sudah selesai?” Tay lagi-lagi memotong. “Aku ke kamar saja. Buang-buang waktu untuk mendengar keluhan kalian.”


Menyaksikan Tay melewati tangga, Neu lagi-lagi menghela napas, betapa tidak sopannya “teman” sekamarnya itu. Masih tidak dapat dia sangka Sans dan Yudai mampu mengajak murid bermasalah tersebut.


“A-aku harus meninggalkan kalian juga. Ka-kalian ada yang ingin dibicarakan, kan? Sampai nanti, Beatrice.” Sierra juga ikut pamit, melangkah melewati tangga.


Neu sekali lagi menghela napas menatap Yudai. “Aku ingat saat kamu membantah perkataanku waktu di kantin. Aku akui, selama Sans tidak putus asa, dia masih punya harapan untuk bertahan di akademi. Aku bisa melihat determinasimu, Sans.


“Beatrice, setelah kamu menceritakan semuanya, aku sadar, kalian punya hal yang mirip, cukup mirip. Murung saat mendengar kabar buruk, tapi kalian punya determinasi. Begitu juga dengan Yudai, dia selalu semangat—”


Yudai memotong, “Tapi setidaknya aku tidak pernah menunjukkannya, kan?”


Neu mengabaikan perkataan Yudai, justru dia berkata, “Semuanya, Sans, Yudai, maafkan aku. Aku tidak berpikir panjang saat mengatakannya, aku hanya berkata jujur dari pikiranku. Aku telah menjadi brengsek, benar-benar brengsek. Maafkan.”


“Kalau sudah jujur, yang sudah berlalu, biarlah berlalu, sama seperti yang kamu katakan pada Tay. Aku lega, kita bisa bersama lagi, sebagai teman dekat,” balas Yudai.


“Kita jadikan ini juga sebagai pembelajaran. Kita tujuan masing-masing saat memasuki akademi ini. Perselisihan dan konflik akan membuat pertemanan kita semakin kuat, benar-benar kuat.”


Beatrice menggoyangkan tangan pada mulut yang terbuka lebar, menguapkan kantuk. “Aku ingin tidur. Aku lelah sehabis seharian kita ke gunung berapi.”


“Oh ya!” Yudai menubrukkan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kiri. “Besok, kita makan siang bersama di kantin seperti biasa. Aku juga merasa kehilangan ketika makan siang tidak bersama kalian akhir-akhir ini.”


“Sama denganku, makan siang tanpa didampingi Sans dan Yudai benar-benar berbeda, sangat berbeda. Sebelumnya, kita kembali ke asrama malam ini.”