
“Oke, Neu, Katherine—” Beatrice sudah berdiri membelakangi perapian di lounge room pada pagi buta. “—dan juga Yudai dan Zerowolf.”
Ruangan itu masih sangat sunyi, tidak ada siapapun selain dirinya dan keempat teman yang telah disebutkan sebelumnya. Zerowolf dan Yudai melongo saat duduk bersama Katherine dan Neu di sofa, hanya untuk menyaksikan Beatrice.
Katherine mendapati pahanya berdempet dengan paha Yudai. Gesekan roknya dan celana Yudai seperti kedua kulit bersentuhan. Sebuah sensasi menggelitik sampai mengalir ke ubun-ubun. Ia menelan ludah berkali-kali, ingin menahan wajah sayunya dengan menatap ke bawah.
“Oke, aku sudah merevisi laguku. Eh, sebenarnya membuat lagu kedua, berdasarkan komentar Neu dan Katherine—”
Zerowolf berbisik pada Yudai, “Kenapa kita juga harus ikut?”
“Mungkin karena kita baru saja bangun dan ingin mencari inspirasi bersama—” jawab Yudai.
“Oh ya, Sans mana omong-omong?” tanya Beatrice.
Yudai berbalik pandangan pada Beatrice. “Begitu aku sudah bangun, dia sudah pergi. Mungkin untuk mencari inspirasi skill originalnya.”
“Tak apa. Baik.” Beatrice mengipaskan pipi menggunakan kedua tangan. “Jadi, ini lagu yang kubuat untuk skill originalku nanti.”
Beatrice menutup mata dan mengangkat kedua tangannya seperti mengangkat angin. Ia mulai membuka mulut dan bernyanyi.
Ooooh…
Are you really hurt?
Are you really in pain?
Inside and outside?
Let me sing a song
Not only to entertain you
Not only to lift you
But to heal you from the pain
The pain inside and outside
By the grace of mana
Let me spread the wings of magic
The magic through this song
So you don’t have to be in pain
There your enemy hurt you again
Through weapons and words
Manipulating your mental strength
It’s okay, I’ll heal and make you stronger
Yudai bertepuk tangan pelan, masih melongo. Ia berpikir lagu original Beatrice yang baru ia dengar sangat berbeda daripada skill song mage kebanyakan. Biasanya ia bisa mengingat lirik lagu skill song mage saat Beatrice menyanyikannya, kali ini ia cukup kebingungan.
“Apa … yang … baru … saja … kudengar?” Zerowolf sengaja menambah jeda setiap kata sebagai respon lagu Beatrice.
“Uh ….” Beatrice merasa deg-degan, matanya melirik keluyuran. “Apa masih jelek?”
Neu bangkit dari duduknya dan menjawab, “Sebenarnya ini lebih bagus daripada lagu kemarin.”
Beatrice membuka mulut lebar, kegembiraan mulai menyinari wajahnya. Sebuah perkembangan bahwa lagunya sudah lebih baik. Hawa panas dari perapian juga turut membara menyambut dari belakang.
“Lebih bagus … sedikit.”
Euforia Beatrice terpecah belah mendengar komentar Neu. Senyumannya seketika menjulur ke bawah. Ia membuang napas, mendesah.
“Sebenarnya ini terinspirasi dari masalah-masalah kita akhir-akhir ini. Sesuai saranmu—”
Neu memotong alasan Beatrice, “Masih belum terlalu dalam, secara emosional.”
Katherine langsung melemas saat ia tidak mampu menahan geli dari kedekatan pahanya dan paha Yudai. Wajahnya memerah total. Kepalanya seperti mengeluarkan uap.
Tingkah laku Katherine mengagetkan Yudai terlebih dahulu. Begitu menoleh, ia menyaksikan tubuh Katherine bergoyang lemas.
Mata Katherine memburam saking memikirkan kedekatannya dengan Yudai. Kepalanya ikut bergoyang dari kiri ke kanan. Ia tidak mampu berpikir jernih karena malu, sangat malu.
“Katherine, kamu kenapa?” Neu bertanya ketika semuanya memperhatikan murid priest perempuan itu.
Katherine lagi-lagi diam, otaknya masih terasa tersetrum.
“Sudah kuputuskan!” Zerowolf berdiri seperti buru-buru, mengagetkan Neu lagi. “Yudai, kita bertanding! Kita akan menjalankan misi bersama-sama!”
Yudai ikut berdiri. Entah mengapa ia merespon seperti itu. Saat ia sedang mengumpulkan inspirasi untuk skill originalnya dengan berlatih sendiri, berburu, dan berkeliling sekitar halaman depan kastel akademi. Mengambil misi sambil memikirkan skill originalnya sama sekali tidak ia pikirkan.
“Tapi kan … hanya dua hari lagi sebelum kalian harus menunjukkan skill original sendiri—”
“Bisa sambil mencari inspirasi juga kan?” Zerowolf membantah Neu. “Ayo, Yudai! Atau kamu akan kupanggil pengecut!”
Terpicu oleh ancaman Zerowolf, Yudai tentu saja berlari mengikuti Zerowolf menaiki tangga. Tentu saja ke kamar masing-masing untuk mengambil panah dan quiver.
Beatrice memperhatikan Yudai hanya diam saat merespon tantangan dari Zerowolf. Menurutnya, terjadi perubahan dari Yudai yang selalu ceria, bersemangat, dan kadang-kadang konyol menjadi serius dan cukup dewasa. Mungkin karena masalah Sans ketahuan menjadi alchemist memicu Yudai menjadi seperti itu.
Memperhatikan Sans sudah mencari inspirasi dari pagi buta untuk membuat skill original, apalagi Yudai yang menerima tantangan menyelesaikan misi bersama Zerowolf demi hal sama, bara semangatnya juga ikut terbakar. Ingin sekali menulis lagi lagunya untuk skill original.
“Katherine?” Neu menegur dan menghampiri murid priest yang baru saja keluar dari pusingnya. “Kita lanjutkan buat skill original. Kita buat kalimat mantranya.”
“Y-y-ya!” sahut Katherine bangkit.
***
Quest board masih berjajakan begitu banyak lembaran misi di alun-alun, mengingat menjelang musim panas, permintaan misi pun menjadi lebih banyak. Terlihat ada yang sampai menumpuk dua lembar di beberapa sisi.
Wajar jika kebanyakan murid Akademi Lorelei mengincar misi selama musim panas demi uang tambahan, begitu pula dengan petualang-petulang lainnya, termasuk alumni. Misinya juga bervariasi dari misi kelas A sampai misi kelas D.
Beberapa misi kelas A memiliki upah dengan jumlah uang menggiurkan, paling tinggi 100 ribu vial, uang yang sangat banyak. Baru kali ini Yudai dan Zerowolf melihat upah misi sebesar itu, apalagi untuk misi kelas A.
“Kira-kira paling tinggi segitu untuk misi kelas A?” gumam Yudai.
“Ini dia!” sahut Zerowolf mengambil salah satu misi kelas B. “Mengambil ingus dari troll!”
Meski begitu, Yudai memberanikan diri untuk menyetujuinya.
“Baiklah! Kita ambil misi ini!” sahut Zerowolf.
Yudai menghela napas, memikirkan bagaimana cara mengalahkan troll sebagai archer, apalagi untuk mengambil ingus dari hidung. Mungkin terdengar menjijikan, tetapi ia optimis bahwa segala misi pasti ada tujuannya, maka ingus troll juga menjadi bahan pentng untuk sesuatu.
***
Katherine masih sibuk membaca salah satu buku mantra penyihir sebagai inspirasi, bahkan meski sudah bertumpuk buku di samping buku yang ia baca. Memilih kantin sebagai tempat untuk meneruskan proses pembuatan skill mungkin ide cemerlang semenjak hanya akan ramai saat makan siang.
Kenyataannya, kebanyakan murid tahun pertama ber-job bertipe sihir, baik mage dan priest, memilih kantin untuk mulai menentukan kalimat mantra sambil membaca kembali materi bahasa Conlang. Lagi-lagi ia kewalahan mendapati cukup banyak murid menempati setiap meja.
Ia kembali menatap Neu di hadapannya. Ia memandang salah satu murid terpintar itu menulis dan mengucapkan kalimat mantra buatannya. Berkali-kali merevisi saat kalimat itu tidak enak terdengar dan terucap.
Semangat Neu seperti angin lembut merasuki kulit bagian luar Katherine, seperti aura. Ia menelan ludah dan mengambil kembali pena bulu dari botol tinta menggunakan tangan kanan. Tangan kirinya kembali memutarbalikkan halaman buku untuk memastikan kalimat dan translasi sempurna.
“Oke.” Neu memastikan mantranya sudah dapat terucap benar dan tepat secara tata bahasa. “Kurasa aku dapat mantranya.”
Katherine kembali menegakkan kepalanya, terpicu Neu sudah selesai cukup cepat dalam menentukan kalimat mantra.
“Ada apa?” Neu terheran.
“Ti-tidak apa.” Jawaban basa-basi lagi, pikir Katherine. Instingnya seakan melarang untuk bertanya lebih lanjut. Ia takut Neu akan tersinggung atau dirinya justru malah terganggu suasana hatinya untuk membuat mantra sebagai skill original.
Neu menegakkan kepalanya dan menutup mata. Saat ia membuang napas, ia berbicara, “Mungkin kamu jadi begini karena tidak ada Sierra?”
Katherine menelan ludah. Munculnya nama Sierra dalam pendengarannya. Berkat Neu mengingatkannya pada Sierra, berbagai kilas balik terputar kembali di benaknya, terutama ketika mengikuti kelas khusus job priest.
Sering sekali Sierra membantu Katherine kala ia kesulitan dalam mengikuti kelas, baik dalam mendengarkan penyampaian materi dari Woodyatt, profesor pengampu job priest, dan juga praktik. Begitu baik sampai rela membantunya sampai bisa. Sierra menjadi satu-satunya teman terdekat yang ia bisa andalkan. Sayang sekali, semua hanya topeng. Sierra sudah menjadi musuh.
Ia menghela napas lagi, mengingat cerita Tay bukanlah sebuah kebohongan. Ia ingat betul bagaimana reaksinya setelah tahu Sierra adalah mata-mata Royal Table. Ia sampai meneteskan air mata dan merengek menyangkal kenyataan itu.
Perkataan Tay akhirnya terbukti saat Neu tiba-tiba muncul kembali dan menyatakan Sierra adalah mata-mata Royal Table. Saat itulah ia sepenuhnya percaya kata-kata Tay, meski harus mengikuti interogasi.
Neu kembali menjelaskan, membuyarkan perenungannya, “Semenjak aku lolos dari Sierra, lolos dari markas Royal Table, aku sudah memutuskan. Aku akan lebih serius belajar di akademi, mengejar ketinggalan. Oleh karena itu, aku sudah serius memikirkan dalam pembuatan mantra sebagai skill original.”
“A-anu—” Katherine lagi-lagi ragu dalam mengutarakan pendapatnya.
Neu sampai menganggukkan kepala, ingin sekali mendengar perkataan Katherine.
“—ka-karena tidak ada Sierra … akhir-akhir ini … aku merasa kemampuanku menurun. Ka-kalau begini terus—” Katherine memandang halaman buku, begitu banyak kalimat yang ia tidak pahami. “—a-aku bisa tidak lulus dan dikeluarkan.”
Neu menutup salah satu bukunya, mendesah mendengar kalimat Katherine.
“Hanya tinggal dua hari lagi sebelum menunjukkan skill original buatan kita. Lalu … aku tidak percaya kamu baru mengungkapkannya sekarang.”
“Ha-habisnya … Sierra sudah … menjadi mata-mata Royal Table. La-lalu semua murid di kelas khusus priest, diam dan serius memandangku. Setiap kali aku … berbaur dengan mereka, atau aku menghampiri, a-aku … malah diabaikan. Mereka juga menatap serius padaku. A-aku jadi takut.”
Neu mengangguk, menyadari bahwa setelah kedatangannya kembali, Katherine menjadi salah satu murid yang dicurigai murid-murid lain. Tidak heran seluruh murid berpaling darinya. Tidak ada teman selain Sierra.
“Ka-kalau tidak ada Sierra di sampingku, a-aku tidak akan bisa sampai sebaik ini. A-aku … mungkin akan kembali ke kampung halaman.”
Air mata menetes pada pipi Katherine. Ia menutup mata sambil menghadap ke lantai. Kegugupannya kini memicu gertakan pada seluruh tubuh, sama sekali tidak tertahankan.
“Ma-maafkan aku. A-aku … hanya menjadi beban bagimu. Be-begitu kamu mengajakku untuk belajar bahasa Conlang bersama, hanya untuk membuat mantra, skill original … aku … sangat tidak enak.”
“Whoa. Tidak apa-apa.” Neu mengangkat kedua tangannya. “Jangan bersedih.”
Katherine menggunakan kepalan tangan untuk menghapus air mata, seperti kucing memukul lembut wajahnya sendiri. Gertakan pada tubuhnya masih mendominasi.
“Karena aku sudah selesai menentukan kalimat mantranya, aku bantu kamu memahami bahasa Conlang,” Neu menawarkan, “aku mengerti. Saat aku tahu Sierra adalah mata-matanya, aku sendiri kaget, sangat kaget dan terkhianati. Dia mencoba untuk membunuhku. Kalau begitu, aku akan membantumu.”
“Ba-baik.”
“Nah.” Neu mengambil salah satu buku dari Katherine. “Ini dia, aku ajari kamu bagaimana tata bahasanya ya.”
***
“Haaa!”
Tay melaju dan meluncurkan ayunan pedangnya secara horizontal. Ia melompat dan menggorok seekor beruang berdiri di hadapannya.
Cipratan darah merembes keluar seperti hujan dari garis potongan leher beruang. Beruang itu meraung sampai kehabisan napas dan roboh ke tanah berumput. Darah keluar pun mulai menggenang.
“Masih belum.” Neu menggeleng. “Masih biasa sebagai skill original.”
Ruka menghampiri bangkai beruang tersebut. Bulu hitam beserta seukuran tingginya kira-kira. Ia berlutut meratapi kedua mata hewan malang itu masih terbuka lebar, begitu pula mulut yang menonjolkan gerigi.
“Entah mengapa aku suka dengan hujan darah dari tersayatnya leher.” Ruka menyentuh kedua mata beruang itu seraya menutupnya. “Anggap saja penderitaan yang nikmat.”
“Heh. Daripada menikmati bangkai, lebih baik kamu berlatih dan buat skill originalmu sendiri!” sindir Tay.
“Tanpa diberitahu saja aku sudah tahu. Sama seperti katamu.”
Ruka menusuk lebih dalam leher beruang itu dan semakin banyak darah terciprat. Ia kemudian mengarahkan mata pedangnya pada bulu dekat sayatan leher.
“Mungkin dagingnya bisa jadi makanan saja,” ujar Ruka lagi sambil mulai mencukur bulu pada bangkai beruang.
“Wah … wah ….”
Suara tidak asing menggeretakkan mereka berdua, memicu untuk menoleh. Tay langsung mengangkat pedangnya dan mendapati ketiga orang menghampiri.
“Conti. Sudah kuduga,” sambut Tay.
“Hah? Apa mau kalian?” Ruka secara datar ikut menyapa. “Tidakkah kalian lihat aku sedang sibuk menguliti bangkai beruang ini.”
Conti dan ketiga teman dekatnya cukup santai menghampiri keduanya. Bibir melonjong ke atas menjadi perhatian Ruka, senyuman sinis dan menyindir, apalagi menonjolkan gigi.
“Kalian masih enak-enaknya menikmati semua ini,” sindir Conti, “kalian juga menjadi teman dekat si alchemist bangsat yang tidak punya malu dan tempat di sini, di Akademi Lorelei. Kalian justru enak sekali bisa menikmati penderitaan orang.”
Ruka bangkit dari jongkoknya dan menjatuhkan bulu beruang begitu saja. Beberapa helai tersebar berantakan di sekitar bangkai itu. Ia juga menggenggam pedang erat, menempatkan kaki kanan di depan.
“Apa mau kalian?”
“Cepat katakan saja,” tanggap Tay angkuh, tidak peduli, bahkan menatap wajah Conti dan teman-temannya saja sudah memicu naiknya asam lambung.
“Kami ingin kalian semua mati. Mati saja,” ujar Conti, “dari si alchemist goblok yang entah ke mana, dan teman-temannya juga. Kalian berdua bisa jadi korban pertama.”