Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 25



“Pada bab-bab sebelumnya, kita telah membahas sejarah Kerajaan Volheml, Kerajaan Vanadic, dan Kerajaan Vinegard. Ketiga kerajaan tersebut menjadi cikal bakal antar latar belakang pembentukan Kerajaan Anagarde,” Duke mulai menjelaskan materi bab kelima buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei.


Cukup banyak murid di kelas memperhatikan suara penjelasan jernih tanpa cela dari Duke. Gaya penjelasannya sama sekali tidak memaksa apalagi tidak sekadar mencari perhatian. Pembahasan menarik membuat hampir seluruh murid di kelas membayangkan dan mereka ulang sejarah di dalam benak.


“Ketiga kerajaan tersebut menjadi latar terbentuknya Kerajaan Anagarde. Kalian sudah membaca bab lima, kan? Sebelum saya mulai menjelaskan, saya ingin meminta pada kalian terlebih dahulu. Jelaskan mengapa ketiga kerajaan yang telah disebutkan sebelumnya berakhir menjadi satu-satunya kerajaan!”


Neu, terbayang akan jawaban karena sudah membaca lebih rinci, mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak sabar ingin menyampaikan.


Duke menggeleng. “Mungkin selain Neu saja, dia sudah sering menjawab akhir-akhir ini.”


Yudai berkomentar “Dia ada benarnya juga, Neu. Aku juga ingin menjelaskan sejarah yang sering diceritakan kakekku.”


“Saya pilih saja orangnya.” Duke mulai berpaling dari mejanya dan mulai mengacungkan telunjuk pada barisan murid terdepan. Telunjuknya dia gerakkan secara horizontal masih memutuskan.


Ketegangan bagi beberapa murid mulai memuncak, terutama bagi yang mereka belum sempat membaca bab kelima dari buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei.


“Aku ingin—” Gerakan telunjuk Duke terhenti pada Sans. “—murid bermantel putih ini menjelaskannya.”


“Eh?” Sans tercengang ketika diriya yang terpilih untuk menjelaskan.


“Silakan. Aku ingin kamu membuktikan bahwa dirimu bukan sekadar murid bermantel putih di Akademi Lorelei.”


“Uh ….” Sans terbata-bata dalam memikirkan kembali hasil bacaannya. Sekilas dia kembali memperhatikan dua halaman bab kelima buku tersebut. “Ya. Ketiga kerajaan tersebut masing-masing terletak di setiap benua. Kerajaan Volheml di Anagarde, Kerajaan Vanadic di Grindeir dan Kerajaan Vinegard di Riswein. Ketiga kerajaan ini … um … melakukan perang berskala besar hingga saling menghancurkan, alam, masyarakat, dan situasi kota berubah begitu cepat akibat perang tersebut. Karena Aiswalt mengalami kerusakan yang tidak terlalu parah, didirikanlah Kerajaan Anagarde di sana.”


“Terima kasih, Sans, tapi saya rasa pada penjelasan terakhir, kamu kurang begitu mendetail tentang mengapa Kerajaan Anagarde terbentuk di Aiswalt, sebagai pusat dunia,” komentar Duke.


“Padahal aku ingin bercerita tentang itu!” gumam Yudai.


“Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masing-masing benua telah memiliki sebuah kerajaan. Kerajaan Volheml di Anagarde, Kerajaan Vanadic di Grindeir dan Kerajaan Vinegard di Riswein,” Duke mulai menjelaskan. “Ketiga kerajaan tersebut telah melakukan perang berskala besar, seluruh pasukan mereka kerahkan sekuat tenaga, baik menggunakan pedang, panah, dan sihir. Mereka juga membangun beberapa kastil dan benteng sebagai pos pasukan dalam peperangan. Namun, perang tersebut menyebabkan kerusakan berskala besar bagi ketiga benua, banyak korban tewas, terutama rakyat jelata, dan yang paling parah kerusakan alam di beberapa daerah di masing-masing benua, inilah mengapa terjadi perubahan iklim.


“Benua Grindelr yang mengalami kerusakan sangat parah. Banyak korban berjatuhan, terutama orang-orang di dalam kerajaan itu sendiri. Karena rakyat Kerajaan Vanadic tidak sebanyak Kerajaan Volheml dan Kerajaan Vinegard, hampir mustahil untuk merestorasi kerajaan kembali seperti semula.


“Benua Riswein mengalami perubahan iklim yang lebih parah dibanding kedua benua lainnya. Akibat peperangan berskala besar, bagian selatan Benua Riswein berubah menjadi lahan gersang dan tandus serta terdapat beberapa rawa beracun hingga hampir mustahil ditinggali banyak orang.


“Benua Aiswalt berubah tidak selalu signifikan, perubahan iklim dan jumlah korban tewas tidak separah kedua benua sebelumnya. Justru, perubahan yang terjadi adalah salah satu kastil perbatasannya dijadikan sebuah tempat ujian. Hampir seluruh roh prajurit dan ksatria yang mati ada di sana. Baik dari roh, fenomena, dan kutukan tersegel di dalam kastil tersebut.”


Seluruh murid terpana hingga membayangkan setiap detail penjelasan Duke hingga menggambarkan di dalam benak dan menghayati. Kebanyakan dari mereka menyampaikan simpati dalam hati pada benua Grindelr yang mengalami kerusakan paling parah.


“Karena begitu banyak kerusakan terjadi, ketiga kerajaan akhirnya memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dan mengadakan sebuah pertemuan. Pertemuan ketiga kerajaan tersebut membuahkan sebuah kesepakatan berbentuk perjanjian. Kesepakatan tersebut meliputi pembubaran dan penyatuan ketiga kerajaan menjadi sebuah kerajaan yang terletak di Aiswalt. Berdasarkan dampak dari perang, kata “And” dan “Garden” diambil menjadi nama sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Anagarde.”


Duke kemudian meneruskan dengan subbab beberapa tahun pertama berdirinya Kerajaan Anagarde, mengungkapkan cukup sulit untuk meraih kepercayaan masyarakat Grindelr dan Riswein karena dianggap terlalu menguntungkan Aiswalt. Solusinya merupakan kunjungan kerajaan pada setiap daerah di kedua benua tersebut, memang tidak mudah untuk langsung meyakinkan semua orang.


Beruntung, meski terjadi beberapa insiden di tempat tertentu, seperti percobaan pembunuhan sang raja dan ujaran kebencian, setiap kunjungan berlangsung dengan lancar hingga seluruh daerah mempercayakan kekuasaan Kerajaan Anagarde sebagai satu-satunya kerajaan di dunia.


Terlarut pada penjelasan Duke membuat semua murid tidak menyadari waktu sama sekali. Mereka baru tersadar ketika Duke menyudahi pertemuan kelas sejarah kali ini.


“Sebelum kalian pergi, saya punya pengumuman dari Profesor Arsius.”


Ujaran dari Duke tepat setelah berakhirnya pelajaran menghentikan setiap murid untuk bangkit dan kembali menempati bangku masing-masing.


“Minggu depan, kalian akan pergi ke Benua Riswein—" lanjut Duke, “—untuk bertamasya!!”


Jeritan sorak-sorai setiap murid turut menyambut sebuah kabar gembira dari Arsius yang disampaikan oleh Duke. Jerih payah dan rasa penat dari segala kelas teori dan latihan akhirnya terbayar sudah, sebuah hal untuk bersenang-senang bersama.


Sans, Yudai, dan Neu turut menyambut kegembiraan itu bersama. Beatrice hanya terdiam ketika dirinya harus kembali ke Riswein sebagai salah satu aktivitas di sekolah.


“Baik, harap tenang,” pinta Duke.


Seisi kelas menghentikan kegembiraan melalui jeritan dan sorakan, kembali terdiam untuk memperhatikan pengumuman lain dari Duke.


“Saya tahu kalian senang akan bertamasya bersama menuju Riswein, untuk melepas segala kebosanan dan kelelahan ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di akademi. Profesor Arsius juga akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok masing-masing beranggotakan tiga orang. Pembagian kelompok akan diumumkan sebelum kita berangkat dari akademi. Kalian mengerti?”


“Mengerti.”


“Baik, begitu saja yang dapat saya sampaikan. Kalian boleh meninggalkan kelas, selamat siang.”


Hampir seluruh seisi kelas berdiri sambil kembali mengutarakan kegembiraan berupa jeritan dan sorakan. Beberapa dari mereka bahkan mulai berkumpul dan saling berbincang tentang kegirangan kegiatan tamasya benua Riswein, bahkan mereka memiliki rencana untuk mengunjungi beberapa tempat.


Beatrice menundukkan kepala ketika berdiri, menyadari kemungkinan dia akan kembali ke kampung halaman, bertemu keluarganya kembali setelah sekian lama melarikan diri dari rumah. Bisa terbayang bagaimana reaksi seluruh keluarganya ketika bertemu kembali di suatu tempat di benua Riswein.


“Beatrice?” Neu menoleh pada Beatrice.


Sans dan Yudai juga mengalihkan kegirangan untuk berkunjung ke benua Riswein, sebagai bagian untuk menjelajahi dunia luar, dengan menoleh pada Beatrice. Napas mereka hela sejenak ketika menatap tatapan mata Beatrice seperti menurun.


“Eh?” Beatrice terbuyarkan, mengangkat kepala dan menoleh pada ketiga teman dekatnya. Seisi kelas telah hanya menyisakan deretan meja dan bangku duduk.


“Kamu memikirkan sesuatu?”


Beatrice menggeleng. “Tidak, aku justru lega. Kita akan bertamasya. Terkadang aku juga lelah dengan kegiatan belajar mengajar, apalagi mempelajari teori-teori.”


Duke kembali menghampiri mereka. “Kalau begitu, manfaatkan tamasya ini untuk bersenang-senang.”


“Eh?” ucap keempatnya tercengang ketika Duke bergabung ke dalam pembicaraan mereka.


“Jujur saja, menjelajahi dunia sebagai murid akademi merupakan bagian dari latihan. Kalian mungkin bisa menerapkan hasil latihan kalian di kelas suatu saat di sana. Ini kesempatan kalian untuk menjelajahi Riswein, sekalian bersenang-senang. Semoga kalian menikmatinya.” Itulah perkataan Duke sebelum meninggalkan kelas.


“Bersakit-sakit dahulu lalu bersenang-senang,” Neu mengungkapkan sebuah perumpamaan. “Ya, kita masih harus puas dengan proses latihan, sambil menunggu tamasya dimulai.”


“I-iya. A-aku harus ke kelas song mage sebelum profesor menegurku lagi. Sampai jumpa!” Beatrice terlebih dahulu pamit.


“Aku juga ke kelas mage duluan. Sampai nanti di kantin,” Neu juga ikut pamit.


Yudai menoleh pada Sans sambil menepuk pundaknya. “Oh ya, Sans. Aku … sudah menghabiskan hampir semua uang yang tersisa.”


“Ah. Pasti karena saat Festival Malam Walpurgis itu, kan?” tebak Sans.


“Sebenarnya bukan hanya itu. Aku juga harus beli panah dan sling bag untuk mulai bertualang membawa barang yang berguna, terutama ramuan untuk berjaga-jaga. Tentunya bukan ramuan hijau dari Nacht, aku masih tidak tahu apa kegunaannya.”


Sans mulai melangkah keluar dari kelas sambil berbicara pada Yudai, “Aku belum baca sampai kegunaan masing-masing ramuan. Sial, aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, meski kita sudah mengunjungi Festival Malam Walpurgis.”


“Apa karena kamu khawatir kamu akan dikeluarkan?” tebak Yudai.


“Bukan.” Sans menggeleng. “Karena aku terlalu menonjol sebagai murid bermantel putih. Semakin banyak murid bermantel putih memutuskan untuk keluar dari akademi, jadi aku justru berpikir orang berpikir aku punya nyali, aku nekad—”


“Oke, oke, oke.” Yudai mengangkat tangan memotong, “aku mengerti. Aku mengerti. Mau bagaimana lagi, orang bisa berpikir semaunya, orang bisa menilai dari luarnya, tapi dari dalam mereka tidak tahu bagaimana.”


“Itu yang selalu dikatakan kakekmu?”


“Terutama nenekku. Nah, kita ke alun-alun, mengambil pekerjaan di quest board, dan mendapat uang untuk hari ini. Besok kita latihan bersama. Ayo.”


“I-iya.” Sans mengakhiri percakapan ketika mengikuti langkah Yudai.


***


Dalam seminggu terakhir, kelas khusus job-job tertentu ditambah jadwalnya menjelang dimulainya tamasya ke Benua Riswein. Jika biasanya kelas khusus job tertentu diadakan sekali seminggu, kali ini bertambah menjadi dua atau tiga kali, demi mempersiapkan setiap murid menghadapi kemungkinan bahaya selama tamasya.


Terlebih dahulu, kelas khusus archer yang diampu oleh Dolce. Dolce telah mengajari teori memanah, posisi kuda-kuda, cara memegang busur dan panah dengan benar, dan cara menembakkan panah. Yudai, dianggap sebagai salah satu siswa teladan, memperhatikan setiap detail dari penjelasan Dolce secara antusias.


Sebelum mereka siap untuk mempraktikkan cara memanah, Dolce menyuruh seluruh murid job archer melakukan latihan fisik terlebih dahulu di taman halaman depan akademi. Latihan fisik meliputi pull-up di batang pohon, push up di tanah, dan membawa dua buah ember sambil berlari bolak-balik. Pull-up dan push up mereka harus melakukan sebanyak 100 kali, sedangkan berlari bolak-balik membawa dua buah ember sebanyak 30 kali.


Tentu kebanyakan murid job archer keberatan dengan latihan fisik yang diberikan Dolce. Tidak sedikit pula yang membicarakan latihan fisik berupa pull-up, push up, dan berlari membawa dua buah ember penuh air sama sekali tidak relevan dengan memanah. Tidak heran, kebanyakan dari mereka kesulitan, terutama dalam berlari membawa dua buah ember bolak-balik.


Wajar jika sedikit yang mampu melakukan latihan tersebut secara antusias, seperti Yudai yang membuat kagum Dolce. Pull-up, push up, dan berlari membawa dua buah ember penuh air dia lakukan cukup cepat.


Kini saatnya untuk mempraktikkan secara langsung seluruh materi pembelajaran dari Dolce, yaitu menembak sebuah target berupa papan lingkaran. Target utamanya adalah bagian pusat berupa bundaran di tengah papan tersebut.


Seluruh murid mulai mempraktikkan memegang busur dan panah seperti yang telah diajarkan. Tangan kanan membungkus tali busur dan punggung panah, sementara tangan kiri memegang kepala setengah lingkaran busur. Posisi kaki kiri di depan, badan membusung, dan kepala tegak lurus menghadap papan target tembakan dari kejauhan.


Mereka mulai menembakkan panah sesuai aba-aba dari Dolce. Tali busur dan ekor panah ditarik oleh tangan kanan sekuat tenaga sebelum meluncur menuju papan target tembakan. Beberapa dari anak panah hasil tembakan tersebut bahkan tidak mencapai papan tembakan, melainkan terjatuh ke lantai, beberapa pula bahkan meleset.


Setelah meluncurkan tembakan, Yudai menatap panah tembakannya mencapai bagian ujung papan tembakan, tidak mencapai bagian tengah sama sekali. Dia menghela napas sambil menggeleng tidak puas akan hasil tembakannya.


Dolce memperhatikan setiap murid job archer kesulitan untuk menembak panah hingga mencapai bagian pusat dari papan tembakan. Hanya setidaknya satu atau dua yang berhasil memanah tepat pada pusat papan tembakan.


Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di kelas job mage. Sebelum mempraktikkan menggunakan mantra, seorang profesor terlebih dahulu mengajari teori dan kegunaan setiap mantra pada murid-muridnya. Kemudian, dia mengajarkan cara menggoyangkan tongkat untuk menggunakan mantra.


Praktik secara langsung akhirnya dimulai. Murid-murid job mage diminta untuk mempraktikkan menggoyangkan tongkat sambil membaca mantra, menghadap target papan di depan masing-masing.


Seperti biasa, beberapa murid mage kesulitan untuk mengeluarkan efek sihir entah karena cara menggoyangkan tongkat atau pengucapan mantra yang salah, bahkan ada yang sampai terkena serangan sendiri tepat pada kepala, seperti ledakan.


Neu menjadi satu-satunya murid yang mampu menembakkan sihir es berbentuk kilat pada papan tembakan tersebut. Sihirnya esnya sampai menancap, membuat seluruh murid melongo, begitu juga dengan professor yang memberikan pujian.


Perkembangan suara Beatrice dalam bernyanyi juga ikut berkembang. Menyanyikan lagu Give us Strength pada seorang instruktur yang menebas sebuah dummy, dapat terasa nyanyiannya menambah kekuatan. Oleh karena itu, Beatrice mendapat pujian karena telah berkembang.


Meski mendapat masing-masing materi berbeda sesuai job, mereka juga sebisa mungkin mengamati Sans melatih menggunakan belati hitamnya. Mereka dapat mengatakan Sans telah berkembang jauh sebagai petarung berkat determinasinya.