
Entah sudah berapa kali mereka menaiki kapal berlayar putih dan sama sekali tidak megah meninggalkan pelabuhan ibu kota, masih saja terasa seperti pertama kali. Pasalnya, mereka hanya menumpang ke dalam kapal kargo. Apalagi kalau bukan field trip akademi dan tidak dalam pengawasan profesor pembimbing, Yudai dan timnya dapat lebih menikmati embusan angin sampai menggelitik kulit.
Rombongan camar turut mengiringi langit biru cerah, terbang mengikuti arah angin, hampir tepat seperti arah kapal tersebut. Teriknya matahari juga menandakan cuaca begitu cerah, meski hawa panas mulai bercampur di udara.
Tujuan mereka adalah ujung utara benua Aiswalt, daerah yang sama sekali mereka belum kunjungi. Riri, sebagai ketua saja belum tahu banyak tentang hal itu. Yang jelas, tempat tersebut menjadi lokasi awal dimulainya misi kelas S pertama mereka.
Mereka tahu tidak punya banyak waktu, apalagi hanya sepuluh hari sebelum liburan berakhir. Terlebih, membutuhkan kurang lebih empat hari untuk mencapai tujuan tersebut melalui lautan. Untuk bolak-balik saja membutuhkan waktu kurang lebih delapan hari total. Berarti, mereka hanya memiliki waktu dua hari satu malam untuk menyelesaikan misi tersebut, waktu yang sangat sedikit.
Hanya untuk berjaga-jaga, sebelum meninggalkan ibu kota, mereka telah meminta surat izin dan menyerahkannya pada Arsius, kepala akademi. Hal ini mereka lakukan jika mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan misi tersebut. Mereka dapat tertinggal beberapa hari untuk memulai tahun terakhir di akademi sebagai murid.
Lebih cepat dari perkiraan, kapal yang mereka tumpangi ternyata tiba tengah malam. Langit masih terlihat gelap gulita, angin dingin lembut turut menyambut kedatangan di ujung utara benua Aiswalt.
Menapakkan kaki di pasir setelah melewati plank kayu dari kapal, Yudai menrangkul Beatrice yang menggiggil kedinginan. “Apa kamu tidak apa-apa?”
“Aku ... hanya kaget,” jawab Beatrice dengan suara lembut sambil menggapai tasnya, sama seperti Yudai yang membawa busur dan panah.
“Sebaiknya ktia cari tempat untuk bermalam dulu. Ayo, kita harus mulai menyelesaikan misi besok pagi,” ujar Riri tegas dan berwibawa. Ranselnya yang paling besar mengingat dirinya adalah ketua.
Zerowolf, Katherine, dan Blue mengikuti Riri sambil menggendong barang masing-masing. Odeya dengan santai mengikuti sambil cekikikan. amiliar naga kuningnya terbang di sekitar kepalanya, sesekali mengepakkan sayapnya dengan riang.
Tidak lama setelah itu, kapal yang telah mereka tumpangi itu segera bergerak. Jangkar pun terangkat oleh setidaknya tiga orang kru kapal. Kapal itu akhirnya bergerak dan perlahan meninggalkan tepi pantai itu.
Zerowolf mengeluh selagi menyaksikan kapal itu seakan menghilang dari pandangan, “Kenapa tidak biarkan kita tidur saja sekalian di kapal?” Ia kembali menguap, membuka mulut membiarkan udara masuk.
“Fu fu, tidak ramai kalau hanya tidur saja,” sahut Odeya sambil tertawa.
“Mana kota terdekatnya?” tanggap Bleu. “Harusnya kita tiba di dermaga yang ada kotanya.”
“Soal itu ... tidak ada kota di utara Aiswalt,” Riri mengingatkan.
Semuanya melongo menganggapi jawaban Riri. Yudai dan Beatrice sampai melirik-lirik sekitar pantai tersebut. Hutan bakau hampir berjajar seperti menutupi antara pasir putih dan tanah cokelat subur. Dedaunan pada setiap pohon bakau bergoyang seperti mengikuti irama angin lembut.
Odeya menyeringai tenang sambil mengelus familiar naga kuning di pundaknya. Pada saat yang sama, ia tetap menggenggam tongkat sihirnya menggunakan tangan kanan, menikmati sambutan angin pada kulitnya.
Bleu mulai menghunuskan pedangnya dan menghadapkannya ke depan. Cukup erat sampai telapak tangannya berkeringat. Familiarnya, sosok peri berambut biru panjang juga sampai keluar dari bajunya.
Zerowolf melongo menatap familiar milik Bleu itu. “Bl-Bl-Bleu? Ja-jadi selama ini kamu punya familiar juga?”
Bleu membuang ludah. “Bukan urusanmu. Ada suara jejak langkah kaki.”
“Ta-tapi ... kita tidak mendengarnya,” tanggap Beatrice.
“Dia—” Bleu menganggukkan kepala pada familiar yang terbang di depannya. “—memberitahuku ada orang di hadapan sana.”
“Ah, jadi itu kekuatan familiarmu, Bleu, fu fu—” Odeya tertawa kecil. “—baru kali ini aku melihatnya secara langsung.”
Riri ikut melongo sambil mendesah. “Ternyata Odeya sudah tahu.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi?” tambah Yudai suram. “Kalau begitu kita bisa mengalahkan musuh lebih mudah.”
Beatrice dan Katherine membuka mulut menatap dua sosok. Sosok tersebut masih seakan tertutupi oleh bayangan hitam. Begitu samar sampai mereka menggeretakkan gigi.
Yudai dan Zerowolf mengambil panah dan memasangkannya pada tali busur, mulai membidik kedua sosok itu. Mereka menelan ludah saat lambat laun siluet itu seakan memudar mengungkap tubuh dan wajah.
Riri merentangkan tangan kanannya, menyuruh anggota timnya untuk berhenti menyergap. Salah satu sosok itu menampakkan dirinya sampai membuat dirinya menghela napas.
“Oh, ternyata kalian,” sapa salah satu sosok itu.
Sosok tersebut adalah seorang pria berambut pirang panjang bergulung tiga di setiap sisi. Jubah dan kemeja biru ala bangsawan terlihat berkilau meski di tempat gelap. Dari wajahnya, apalagi melihat perawakan tinggi, berisi, dan wajah antara cokelat dan putih saja Riri sudah mengenali. Matanya berwarna hijau zamrud, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Ia menyambut dengan ekspresi bersahabat.
“Pro-Pro-Profesor Rivera?” Riri menebak nama sosok itu dengan nada terkejut.
“Pro-Profesor Rivera!!” sahut Yudai, Beatrice, dan Zerowolf bersamaan juga tak percaya.
Rivera menyambut mereka sambil menundukkan kepala sedikit. Ia juga sampai membungkukkan badan. Sampai-sampai Yudai dan Zerowolf menurunkan posisi busur mereka agar berhenti membidik.
Satu lagi sosok juga menampakkan diri. Ia adalah seorang pemuda berambut hitam belah depan pinggir kiri, berukuran pendek, dan berjubah putih sampai wol domba. Beatrice melongo menatap pakaian yang dikenakan pemuda itu.
Pemuda itu terlihat sebagai seorang pendeta. Matanya berwarna cokelat tua dan bibirnya tebal.
“Ternyata kalian,” lanjut Rivera, “kalian ... temannya Tay, bukan? Pemuda alis melengkung dan perempuan berambut brunette.” Ia menunjuk Yudai dan Beatrice. Butuh kurang lebih sepuluh detik, ia tertegun menatap penampilan Beatrice. “Lho, kalau tidak salah, kamu waktu itu memakai topi putih. Tidak salah lagi.”
“Oh! Ya!” sahut Yudai. “Kami temannya Tay!” jawab Yudai riang.
Pemuda di samping Rivera itu menghampiri bertanya sambil penasaran, “Senior, apa ... Anda mengenali mereka?”
“Ah!” Odeya mengacungkan jarinya. “Kalau tidak salah, Anda Profesor Rivera. Saya ingat Anda mengumumkan telah keluar dari Akademi Lorelei saat upacara perpisahan murid tahun akhir. Tahun lalu kalau tidak salah, bukan? Dan tak kusangka kita akan bertemu seperti ini.”
“Nah. Sambil kita berbincang, sudahkah kalian makan?” tawar Rivera sambil tersenyum.
***
Api unggun telah membara di tepi pantai berkat tumpukan kayu bakar yang cukup melimpah. Setidaknya, api sampai memuncak kurang lebih 50 meter, cukup besar. Apalagi hawa dingin seakan bergeser menuju kehangatan.
Yudai, Riri, Zerowolf, dan Bleu harus rela tidak menikmati kenikmatan itu untuk sementara. Mereka harus menginjakkan kaki di pesisir pantai untuk mencari ikan. Jika perlu berenang sampai ke dasar laut.
Hanya Riri yang rela sampai berenang dan menyelam demi mencari ikan. Ia mengandalkan chakranya untuk menghangatkan diri sambil berada di dalam hawa dingin akibat air laut bercampur udara malam.
Yudai dan Zerowolf masih mengandalkan anak panah sebagai “alat pancing”, seperti orang zaman dulu menurut mereka. Begitu mereka memasukkan anak panah ke genangan air, nihil hasilnya. Jika ada, rumput laut kerap mereka dapatkan.
Bleu mengandalkan familiar perinya untuk melacak suara ikan dalam genangan air laut. Hanya berkeliling di atasnya tanpa menyentuh sama sekali air itu, familiarnya itu mendekatkan pendengarannya untuk mendengar suara di dasar laut, memastikan adanya tanda kehidupan.
Ketiga anggota tim perempuan tengah menghadap api unggun, membiarkan kehangatan menemani. Rivera dan pemuda yang menjadi rekannya itu juga turut mendampingi.
Kecepatan angin lembut sudah terasa melambat, masih tetap menggelitik kulit. Daun di puncak pohon bakau masih sedikit meriang.
Kelimanya hanya berdiam diri, tidak ada satupun yang memulai percakapan. Beatrice dan Katherine sering sekali menoleh pada seluruh anggota laki-laki timnya yang masih “berburu” di tepi pantai atau lautan. Ingin sekali mereka bertanya pada Rivera, tapi kata-kata dalam hati seakan terblokir saat mencapai kerongkongan secara harfiah.
Sang pemuda di samping Rivera mulai membuka suara, “Jadi ... kalian murid tahun berapa di Akademi Lorelei sekarang?”
Beatrice dan Katherine terenyak menatapi pemuda berambut pendek dan berponi depan kiri bertanya terlebih dahulu. Beatrice sampai menelan ludah menganggapi hal ini. Katherine justru memalingkan wajah dan kembali menatap Yudai, berharap ia dapat berbicara lantang.
“Ah.” Odeya mencuri kesempatan. “tahun ini aku murid tahun ketiga, Bleu menjadi murid tahun kedua. Beatrice, Yudai, Riri, Zerowolf, dan Katherine akan menjadi murid tahun terakhir.”
Odeya turut mengelus-elus familiar naga kuningnya yang tengah terlelap di bahunya. Menatap hal itu, Beatrice menjadi teringat sebuah hal.
“Mirip sekali dengan Cherie milik Neu,” ucap Beatrice, “aku merindukannya.”
“Omong-omong,” Rivera memperkenalkan pemuda yang duduk di sampingnya, “saya lupa memperkenalkan asisten saya setelah keluar dari Akademi Lorelei. Dia Louis. Dia lulus tahun lalu, jadi saya memungutnya sebagai asisten meski job-nya berbeda.”
Ketiga gadis itu kembali melirik pemuda berambut pendek dan berponi depan kiri. Mereka sampai tidak percaya wajah pria itu yang mulus dan putih seperti bersinar tidak seperti seorang pemuda yang telah lulus dari Akademi Lorelei. Sebaliknya, mereka menganggap pemuda itu masih sebagai seorang murid.
Rivera kembali membuka suara. “Kalian ini juga mengincar misi kelas S itu?”
Beatrice menjawab sambil girang, “Benar. Kami ingin mencoba untuk menyelesaikan misi kelas S sebelum kembali masuk ke akademi,” ia memalingkan wajah sambil bergumam, “sebenarnya ... kami tahu misi kelas S itu sangat sulit dan hampir mustahil diselesaikan.”
“Itu idenya Yudai dan Zerowolf,” tambah Odeya, “setidaknya upah untuk menyelesaikan misinya sangat tinggi. Jadi kalau berhasil, kita bisa mulai bertualang sepuasnya setelah lulus.”
Rivera menggeleng. Pria itu melirik pada Yudai dan Zerowolf yang saling berargumen dan bahkan suara mereka terdengar sangat nyaring. Ia sudah tahu keduanya menjadi murid yang terheboh karena persaingan.
“Jadi ingat saat Tay dan Neu menang pasangan terheboh saat Festival Melzronta.” Rivera membandingkan kedua momen itu. “Kembali ke misi kelas S. Apa kalian tahu kalau kalian bisa saja mati saat menjalankan misi itu?”
Katherine mendengar ludah begitu mendengar lontaran kalimat itu. Ia sudah tahu beberapa misi kelas A yang ia kerjakan bersama teman-temannya sudah cukup berbahaya. Misi kelas S jauh lebih parah dari itu, bahkan peluang kematiannya sangat tinggi.
Louis menepuk pundak Rivera. “Senior, sepertinya Anda terlalu berlebihan. Meski benar, tapi sepertinya—”
“Ti-ti-tidak apa-apa!” sahut Beatrice menyembunyikan ketegangannya. “Justru ini tujuan kami untuk menjadi lebih kuat sebelum lulus dari Akademi Lorelei! Yudai dan Zerowolf juga bilang begitu."
“Riri kan sudah bilang, kalau misi kelas S sangat berbahaya, kita akan pulang,” tambah Odeya.
“Perasaan dia tidak pernah bilang begitu,” tanggap Beatrice.
Rivera menghela napas. “Kalian tahu peluang untuk menyelesaikan misi kelas S itu kecil. Tidak hanya misi itu mematikan, memicu banyak korban, banyak juga yang memutuskan untuk menyerah begitu saja. Makanya, misi kelas S itu sangat menakutkan.”
Katherine melirik ke belakang, menatap Yudai dan Zerowolf membawakan masing-masing empat ekor ikan berwarna merah dan hitam seperti sandwich yang telah tertusuk seperti sate menggunakan panah masing-masing. Mereka juga masih berargumen siapa yang sebenarnya menang.
“Wah! Ikannya besar juga!” sahut Beatrice.
“Tangkapan yang besar,” puji Odeya turut menghentikan adu argumen Yudai dan Zerowolf.
“Tentu saja lebih besar punyaku!” sahut Zerowolf. “Meski kita imbang dalam jumlah, aku yang menang dalam ukuran!”
Yudai mendesah menganggapi tingkah Zerowolf. Padahal ia mendengar dengan jernih bahwa rival bebuyutannya itu mengajaknya beradu siapa yang paling banyak menangkap ikan.
“Jadi ... mereka sudah bilang menjalankan misi kelas S adalah ide kalian berdua,” tanggap Rivera.
Yudai menjawab secara optimis, “Benar sekali! Bukan sekadar hadiahnya, tapi tantangannya itu. Ini akan menjadi tantangan terbesar sebelum kami lulus.”
“Ya, meski kami tahu misinya memang berisiko tinggi, tapi kami ingin mencobanya,” tambah Zerowolf percaya dir, “memang terdengar mustahil, dan kami sudah dengar banyak yang menyerah atau mati setelah mulai mengerjakannya. Tapi kami ingin mengalahkan kraken!”
Rivera mendesah mendengar pembelaan kedua rival bebuyutan itu. Ia menjulurkan bibir ke atas, ingin sekali menguji mereka berdua.
"Katakan mengapa kalian tidak akan mati saat mengerjakan misi itu,” pintanya.
Yudai dan Zerowolf kembali terdiam. Mereka menoleh pada satu sama lain, memikirkan bagaimana harus menjawab pertanyaan seperti itu.
Yudai sampai menelan ludah, sama sekali tidak memiliki ide untuk membentuk kalimat jawaban demi memuaskan Rivera. Seakan-akan ia sedang diuji, seperti saat ujian akhir semester di Akademi Lorelei.
Zerowolf memberanikan diri menjawab, “Kami mungkin sudah berpengalaman menjalankan sangat banyak misi kelas A selama dua tahun terakhir. Kami juga masih menjadi murid Akademi Lorelei. Lebih dari itu, kami setidaknya punya pengalaman yang mungkin tidak dimiliki murid-murid lain, begitu pula dengan kebanyakan petualang.
“Kami pernah berhadapan langsung dengan Royal Table. Kami tahu, pengalaman itu sangat menyakitkan. Profesor Duke tewas terbunuh saat itu. Lalu teman kami meninggalkan Akademi Lorelei setelah itu. Kami juga sempat menderita pada awal semester ketiga. Namun, buktinya kami terus maju. Jika kami terus menderita, kami tidak mungkin berdiri di hadapan Anda dan juga sepakat untuk mengambil misi kelas S.
“Karena pengalaman kami dengan Royal Table langsung, kami rasa kami memiliki keuntungan dalam mengerjakan misi kelas S. Bukan sekadar ingin pamer, ingin uang banyak, tapi kami yakin kami bisa melakukannya. Kami bisa saja melarikan diri seperti kebanyakan petualang yang tidak ingin mati saat mengerjakan misi. Itu tidak akan terjadi pada kami.”
Sungguh percaya diri. Beatrice dan Katherine tertegun mendengar jawaban panjang dan berani Zerowolf pada pertanyaan Rivera. Odeya kembali tertawa kecil dalam diam, tanpa menggerakkan bibir dan mengencangkan suaranya.
Yudai justru lebih mematung. Ia sedikit membuka mulut. Pada saat yang sama, ia mengangguk. Sama sekali tidak terbayang baginya akan melontarkan jawaban seberani itu.
Rivera tersenyum tipis saat mendengar jawaban Zerowolf. Ia melihat ada semangat dan tekad di balik kata-katanya. Ia menoleh pada Louis yang juga tampak terkesan dengan keberanian murid archer itu.
“Baik.” Rivera bangkit dari duduknya. “Louis, kita akan ikut menjalankan misi kelas S ini.”
Hal itu menandakan mantan profesor Akademi Lorelei itu yakin dengan jawaban Zerowolf. Ia menangkap inti dari kalimat itu bahwa timnya sudah siap untuk menjalankan misi kelas S meski masih berstatus murid.
Saat Riri telah kembali bersama Bleu membawa beberapa ikan tangkapan mereka, ia mencuri dengar keputusan Rivera untuk ikut misi itu. Ia menghela napas lega. Dirinya berharap dengan kehadiran mantan profesor itu, mereka bisa lebih aman dan berhasil.
“Aku menang kali ini.” Zerowolf menyeringai.
Meski sempat mendengus ringan, Yudai mengangguk dan cukup puas. Ia tahu Zerowolf ingin membantu timnya demi berhasil menyelesaikan misi kelas S.