
“Sudah beberapa kali kuingatkan hantu itu hanya perbuatan onar!”
“Itu bukan sekadar perbuatan onar orang! Berdasarkan kabar angin penduduk sekitar, hantu itu sudah ada dari dulu! Masih saja kamu tidak percaya?”
Percakapan antara kedua wanita seakan menjadi sambutan ketika menapakkan kaki pada anak tangga terakhir menuju lantai kedua penginapan. Hanya ada jalan lurus beserta dinding bertempelkan enam belas pintu, cukup banyak dalam ukuran penginapan biasa.
Lampu dinding berupa lilin di balik bentuk permata tertempel di setiap sisi kiri pintu, dinding porselen putih seperti berkilau, dan lantai berkarpet merah. Koridor di lantai dua antara setiap pintu kamar memberikan kesan lebih mewah dan berkelas.
Sempat terkesan dengan suasana fisik lantai dua penginapan, Sans, Yudai, dan Katherine sampai tercengang ketika semakin kerasnya perselisihan verbal antara kedua wanita di depan mereka.
Yudai menunjuk salah satu wanita itu, kurus berambut pirang lurus panjang, “Hei, itu kan … wanita yang pernah membeli vyness caviar kita, Sans.”
“Masa?” Sans terheran mengingat kembali.
“Ah, yang penting aku masih punya uang banyak untuk menginap sekali lagi. Semua hal di sini benar-benar luar biasa.” Wanita berambut pirang itu membuang muka dengan angkuh.
“Luar biasa menakutkan!” Sang teman, wanita berambut cokelat tua bee hive, menyindir.
“Ah, penakut sekali. Seakan-akan kamu takut jadi korban penjahilan, bukan?”
“Aku sudah lelah dengan leluconmu! Benar-benar tidak masuk akal.”
“Lelucon? Sudah kubilang, hantu itu tidak ada!”
“Aku lelah mengahadapi semua masalah di sini, Tinsdale! Aku mau pulang saja! Terserah kalau kamu ingin berkencan dengan hantu itu!”
Sans, Yudai, dan Katherine menyingkir ketika wanita berambut cokelat tua bee hive itu berlalu, seakan-akan menjadi gerbang yang terbuka lebar.
“Baik, pergi saja. Yang jelas, aku masih bisa menikmati segala kemewahan di penginapan ini. Dan juga … aku bisa bebas berkeliling di kota! Aku ingin ke kastel kerajaan juga!” sindir Tinsdale.
Tanpa ragu lagi, Yudai pun menghampiri Tinsdale, mencengangkan Sans dan Katherine yang masih terdiam menyaksikan wanita berambut cokelat tua bee hive telah menuruni tangga.
“Ka-kamu … jangan dekat-dekat!” bentak Tinsdale.
“Whoa, whoa, tenang. Aku ingin bertanya tentang hantu—”
Tinsdale mendorong dada Yudai. “Pergilah! Aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang miskin sepertimu!”
Seakan sebuah kilat menyambar pikiran Sans, ia tidak percaya sikap wanita yang pernah menjadi pembeli vyness caviar di Festival Melzronta benar-benar kasar. Ia hanya terdiam meratapi Tinsdale melangkah cepat menuju tangga lantai tiga.
Katherine menatap seragam Akademi Lorelei yang tengah ia kenakan, “Di-dia … baru berkata … murid Akademi Lorelei … orang miskin?”
Yudai menggosok belakang kepalanya terheran. “Apa dia lupa kalau aku dan Sans pernah melayaninya vyness caviar?”
Sans berkomentar, “Itu tidak penting sekarang. Tadi dia bilang kalau dia tidak percaya ada hantu di penginapan ini.”
Kembali menatap tangga, seorang wanita berambut hijau dan berbando krem telah menaiki tangga dan tercengang ketika menatap Sans, Yudai, dan Katherine berada di lantai kedua. Dari pakaian hitam dan celemek putih, mereka menyimpulkan ia adalah salah satu pelayan penginapan.
“Permisi, apa kalian tamu penginapan ini?” Pelayan itu memastikan.
“Uh … sebenarnya—” Sans mencoba untuk menjawab.
“Ya, benar, kami tamu,” potong Yudai.
“Yudai!” sahut Sans tercengang.
***
“Kami baru membuka penginapan ini selama satu bulan, satu bulan. Sebenarnya sudah menjadi impian kedua pemiliknya untuk membuka penginapan mewah di sini setelah pensiun sebagai petualang. Kami dulunya murid Akademi Lorelei, sama seperti kalian,” ujar sang pelayan.
Sans mengangguk. “Pantas saja kami merasa tidak pernah melihat bangunan baru ini. Kami jarang ke area barat kota.”
Sang pelayan membelai rambut hijaunya sambil melanjutkan, “Kami mendapat banyak tamu saat Festival Melzronta dimulai. Sayang sekali, begitu hantu itu muncul di sini, mereka merasa menginap di sini tidak aman. Kalau masalah hantu ini terus terjadi, kami terpaksa harus menutup penginapan ini.
“Memasang permintaan misi di quest board menjadi pilihan terakhir kami. Sudah dua kali kami memasang misi itu, tapi yang mengambilnya gagal.”
Yudai menginterupsi, “Tunggu, bukannya waktu itu Festival Melzronta sedang berlangsung? Seluruh kota sedang dalam euforia bazaar.”
“Ya, kami bahkan rela memasang lembar permintaan, meski kami tahu akan jarang sekali orang yang mengambil misi. Setidaknya kami beruntung, tapi … setelah dua upaya gagal, tingkat misi terpaksa kami naikkan.”
“Jadi begitu penyebab permintaan kalian jadi misi kelas B,” gumam Sans.
“Uh, maaf telah menganggu.” Yudai membungkukkan badan dan menundukkan kepala seraya hormat.
“Tidak apa-apa. Karena sangat kebetulan kalian adalah tamu penginapan ini. Kalau kalian butuh bantuan saya lagi, naiklah ke lantai tiga, yaitu ballroom.”
Pelayan berambut hijau itu kini menaiki tangga menuju lantai tiga. Setelah itu, Yudai memberi isyarat mengayunkan jari agar Sans dan Katherine berbalik untuk berunding.
Yudai merekap segala yang terjadi di lantai dua, “Pertama, saat kita masuk lantai ini, Tinsdale dan temannya yang kita tidak tahu namanya—”
Katherine memotong, “A-anu … ka-kamu tahu darimana na-nama perempuan itu?”
“Aku mendengar dengan saksama, Katherine. Ya, dia sama sekali tidak percaya hantu. Menurutnya hantu di sini hanya perbuatan iseng seseorang.”
Sans mengemukakan pendapat, “Tapi ini yang aneh, kalau hantu itu hanya perbuatan iseng seseorang, mengapa orang yang mengambil misi ini gagal? Kenapa mereka gagal menangkap pelakunya?”
“Dua alibi sempurna, sangat sempurna. Aku penasaran bagaimana kebenaran hantu itu.”
Sebuah bisikan mulai terdengar, menguncangkan mereka sampai berhenti berunding. “Keluar ….”
Katherine terlebih dahulu gemetaran. Ia melirik sekitar, tidak ada siapapun secara fisik selain mereka. Bulu kuduknya mengencang, napasnya juga mulai menegang.
“Ka-ka-ka-kalian dengar itu?”
***
Satu cawan emas berisi anggur merah dan dua gelas air. Kedua jenis menu itu telah Lazar antar dan taruh di atas meja.
Menikmati jeda di antara pertanyaan, atau bisa dikatakan sebagai interogasi, Killam meneguk secangkir anggur merah itu. Dalam satu teguk, ia seakan mengisap cairan merah itu tanpa ragu dan terganggu.
Riri dan Beatrice melongo tidak menyangka Killam mampu menghabiskan secawan anggur merah tanpa jeda. Mereka terpikir anggur merah pasti terasa membakar ketika masuk ke dalam kerongkongan.
“Sampai mana tadi kita?” Killam mencoba untuk mengingat.
“Uh … soal satu-satunya tamu selain Anda?” tebak Riri.
Lazar menambah, “Ada dua orang wanita yang menginap. Salah satu dari mereka bilang dia tidak percaya adanya hantu, sama sekali.”
“Tidak percaya?” ulang Beatrice.
“Mau bagaimana lagi? Meski temannya berkali-kali bilang hantu itu nyata, dia bahkan rela membayar lebih untuk tetap menginap. Setidaknya pemilik penginapan ini sangat bahagia dapat memanfaatkan kekayaan dua orang itu. Benar-benar kaya. Bahkan rela menaikkan sedikit biaya menginap, tapi wanita itu tampaknya tidak peduli.”
Riri menundukkan kepala sambil mendekatkan telunjuk pada dagu, tepat mengikuti gaya Yudai. “Kalau aku jadi satu-satunya orang yang menginap dan harganya, pasti aku akan pindah atau pulang saja. Wanita itu benar-benar aneh, apa dia pikir kekayaannya takkan habis?”
“Ya, sebenarnya di ballroom, di lantai tiga—” jawab Lazar.
Beatrice mengangkat tangan. “A-anu … Tuan Killam? Apa uang Anda masih cukup untuk menginap di sini?”
“AAAAAAAAAAH!!”
Sebuah jeritan menghentian sebuah “interogasi”, memicu Riri untuk lepas dari lamunan demi membuat teori terhadap misteri hantu penginapan. Begitu ia bangkit dari duduk dan bergegas, Beatrice menoleh dan tercengang hingga ia mengikutinya.
“Tu-tunggu, kalian tidak akan minum air pesanan kalian?” sahut Lazar.
Kembali ke lobi penginapan tersebut, sang pemilik laki-laki berkacamata berdasar di meaja resepsi dan menggerakkan kedua kaki sambil gemetar. Beralih pada posisi duduk, ia mengacungkan telunjuk dan menggeretakkan gigi.
“Ha-ha-ha-ha-ha-han-hantu!!”
Terpicu dengan ucapan sang pemilik, Beatrice mulai terengah-engah, memikirkan rupa hantu tersebut membuatnya tegang dan mundur satu langkah.
“A-apa yang terjadi? Saat hantu itu muncul?” tanya Riri.
“Hiii!!” jerit Beatrice ngeri.
“Kita butuh lebih banyak petunjuk dan alibi.”
***
“Akhirnya … aku bisa mendekatimu sepuasnya, sayang.”
Kelima musisi sangat tidak senang melihat Tinsdale berada di dekat mereka. Sebuah bencana pasti mereka harapkan ketika wanita kurus berambut pirang itu memasuki ruangan berlantai kayu dan berdinding perak bermotif emas.
Target utama Tinsdale adalah seorang pria berambut merah menutupi dahi dan berparas tanpa noda. Sambil mengelilingi, ia kerap menyentuh bagian tubuh pria itu, terutama bagian dagu dan dada.
“He-hentikan, wanita bodoh!”
Sang pelayan berambut hijau bahkan hanya diam meratapi nasib sang penghibur. Setiap kali ia ingin menghampiri, pasti Tinsdale akan melotot dan mendesis seperti ular. Posesif, seakan sang penghibur hanya milik seorang diri.
Menyaksikan dari puncak anak tangga, Sans, Yudai, dan Katherine benar-benar melongo meyaksikan tingkah Tinsdale terhadap salah satu musisi.
Sebagai seorang gadis, bagi Katherine, membayangkan dirinya melakukan hal yang sama memicu sebuah kegalauan. Ia takut jika dirinya bernafsu sampai memeluk Yudai sambil meraba-raba seluruh tubuh, bahkan memasukkan tangan ke dalam pakaian demi kenikmatan tersediri, bara kemarahan akan menjadi akibatnya.
Penyangkalan dan hasrat menjadi dua hal berkecamuk di dalam pikiran Katherine. Apalagi jika ia dapat merayu Yudai menggunakan kata-kata.
“Kenapa, Katherine?” Yudai memotong lamunannya.
“AAAAA … Ti-tidak ada! A-aku tidak membayangkan apapun! Ma-maafkan aku! Maafkan aku!”
“Eh? Kenapa mendadak minta maaf?”
“Sepertinya mereka sibuk,” ucap Sans.
Tidak ada hal yang menarik di ballroom, mereka bertiga berbalik dan kembali menuruni tangga. Sama sekali ikut tidak menahan diri menyaksikan tingkah tidak senonoh itu, memaksa untuk bertanya salah satu dari musisi tidak akan berhasil selama Tinsdale sedang berada di sana.
“Kelima musisi itu sama sekali tidak menyukai Tinsdale. Jadi, alasan kenapa Tinsdale tetap menginap di penginapan ini adalah dia, pria berambut merah itu. Pantas saja dia rela membayar mahal setiap malam,” komentar Yudai, “nah, kita lapor pada Riri dan Beatrice, lalu mulai diskusi.”
Sebuah genggaman menarik lengan kiri Katherine ketika Sans dan Yudai mulai menuruni tangga. Tarikan itu turut menghentikan langkah kakinya. Setiap kali ia ingin menapakkan kaki pada anak tangga pertama, tarikan itu tidak ingin membiarkannya.
Katherine menoleh ke belakang, menuju sumber dari tarikan itu. Napasnya mulai terengah-engah, Kepalanya juga mulai seakan terbebani, telapak tangan kanannya juga mulai basah, dan kedua kaki berguncang.
Tubuh termasuk pakaian lebih gelap seperti abu dan rambut berwarna seperti emas. Ciri khas sumber dari tarikan itu cocok denan deskripsi sang pemilik terhadap hantu.
Katherine hanya bisa menelan ludah memendam kengeriannya.
“Perampas!”
Katherine mendapati hantu itu semakin mendekati dirinya. Perlahan, ia mundur sambil menarik napas cepat melalui mulut. Ia menghentikan langkah ketika dinding dekat tangga mulai menjadi sandaran
“Sudah berkali-kali kubilang tinggalkan tanah ini!” Hantu itu mengangkat tangan kirinya. “Kehadiran kalian telah menganggu, kalian akan membayarnya! Dimulai dengan dirimu!”
Hantu itu kini mengayunkan tangan, mengempaskan tenaga untuk membentuk sebuah serangan berupa tamparan. Katherine hanya dapat memalingkan wajah ke kiri dan meutup mata, tidak dapat berbuat apapun selain menerimanya.
“Katherine?”
Sebuah sentuhan pada bahu dari kanannya, mengejutkan dirinya, memicu untuk menoleh. Ketakutan pun seakan mereda menatap sumber dari suara panggilan.
“Kau baik-baik saja?” Orang itu adalah Yudai.
“Ha-ha-ha-ha ….” Wajah Katherine seakan menghitam. Matanya berbinar-binar seiring tubuhnya kembali gemetar. “Hantu! Aku melihatnya!”
“Eh? Ka-kamu melihatnya?” Yudai tertegun. “Hantu? Di-di mana?”
Saat Katherine menoleh, hantu itu sudah tidak ada, sama sekali tidak ada. Penampakan hantu itu seakan menghilang tanpa sisa.
“Ta-tadi … di sini. Me-mengerikan sekali!!”
“Sudah.” Yudai menepuk bahu Katherine. “Syukurlah kamu tidak apa-apa.”
Badai ketakutan di benak Katherine seakan mereka ketika sentuhan Yudai sekali lagi menenangkannya. Kelegaan bercampur malu, terlihat dari pipinya yang sedikit memerah.
Seorang pahlawan. Ia membayangkan Yudai sebagai seorang archer yang menyelamatkan dirinya dari kumpulan penculik atau kepungan binatang buas karena keajaiban di dalam sebuah cerita. Tapi sayangnya, dalam kehidupan nyata, tidak akan terjadi semudah itu.
***
“Eh? Ja-jadi wanita yang bernama Tinsdale sama sekali tidak percaya dengan hantu?” tutur Beatrice.
Selesai bertanya pada setiap tamu dan pelayan penginapan tersebut, kelimanya berkumpul di halaman depan penginapan tersebut. Senja sudah menyingsing seiring jalan mulai cukup sepi lalu lintas jalan.
“Jadi teman dari seorang mantan royal guard bernama Killam pernah tinggal di sini? Maksudku tanah yang sebelum menjadi penginapan ini?” ucap Sans.
Riri mengemukakan pendapat, “Satu-satunya pertanyaan yang masih belum terjawab, kenapa bisa pemilik penginapan ini sampai tidak tahu bahwa ada penampakan hantu ketika setiap penghuni tanah ini menempatinya? Aku dan Beatrice bertanya pada kedua pemiliknya, tapi mereka justru menjawab tidak tahu.”
Sans mulai mengatakan teorinya, “Apa mungkin … mereka juga tidak percaya hantu? Sama seperti Tinsdale?
“Aku … penasaran!” Beatrice bersikeras. “Apa yang terjadi pada tempat ini. Killam bilang saudara kembarnya pernah tinggal di sebuah rumah di sekitar sini, tepat di tanah ini.”
“Sehari sebelum saudara kembarnya menghilang—" Riri mulai berpikir. “—hantu itu sudah muncul.”
“Ah, kalau hanya iinggal menyimpulkan pelakunya, ini sudah bukan misi kelas B. Tapi karena yang mengambil misi ini sebelumnya gagal, ya, jadi misi kelas B,” gumam Yudai.
Katherine mengangkat tangan. “A-anu … a-a-aku … melihatnya …. Hantu itu.”
Sans, Beatrice, dan Riri terdiam sejenak, menoleh pada Katherine. Mereka menelan ludah begitu meratapi raut Katherine benar-benar serius ketika berkata benar-benar ada hantu.
“Di-dia menghilang … sa-saat Yudai menemuiku. Di-dia bilang … kalian akan membayarnya.”
“Kalian akan membayarnya?” ulang Riri. “Rumit juga.”
“AAAAAH!!” Yudai menepuk tangan pada kepalanya. “Aku jadi tidak mengerti lagi! IIni benar-benar membingungkan!”
Sans merekap segala hal yang telah mereka diskusikan, “Riri, Beatrice, tadi kalian bilang Killam telah menginap di sini untuk mengungkap penyebab hilangnya saudara kembarnya. Lalu … um … hal yang Lazar bilang benar, dua orang wanita telah menginap semenjak Festival Melzronta dimulai. Tapi salah satu dari mereka justru percaya kalau hantu merupakan perbuatan onar seseorang.
“Salah satu wanita itu rela menginap meski hantu itu muncul lagi karena … um … dia suka dengan seorang musisi di ballroom.”
“Musisi di ballroom! Itu orangnya yang sering dirayu Tinsdale!” lanjut Beatrice.
“Hantu, saudara kembar Killam, dan Tinsdale. Tiga petunjuk yang saling bertentangan. Mungkin kita harus coba tanya Killam lagi,” usul Riri begitu menyimpulkan tiga petunjuk.
“TOLOOONG!”
Sebuah jeritan menghentikan diskusi mereka. Sumber dari jeritan tersebut berasal dari dalam penginapan itu, tepatnya di ruang depan.
Terpicu oleh jeritan tersebut, Riri terlebih dahulu berlari kembali ke dalam penginapan. Cukup khawatir dengan keadaan pengiapan, apalagi belum ada petunjuk lain yang memadai, keempat rekannya mengikuti.
Bagi Katherine, jeritan itu merupakan awal dari reaksi terhadap teror sama seperti yang ia alami. Penampakan hantu, tatapan sangar, dan ancaman, ketiga hal itu pasti tengah terjadi.
Sang pemilik laki-laki berkulit cokelat dan berkacamata sampai berlutut di dekat meja resepsionis. Pada saat yang sama, Lazar dan Killam juga kembali memasuki dari taman halaman belakang, ikut tercengang.
“Di-dia … di-dia kembali!” jerit laki-laki berkacamata itu. “Ha-ha-hantu itu! Di-dia serius dengan ancamannya!”
Killam menganggapi, “A-apa? Di-dia bilang apa?”
“Di-dia … merasuki wanita itu! Wanita berambut pirang!”
“Hah?” jerit Riri dan Yudai bersamaan.
“Merasuki?” ulang Sans.
“Hi-hiiiii!!” jerit Beatrice dan Katherine.