Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 192



Mencapai anak tangga terakhir, Sans dan teman-temannya beserta Duke dan Eldia menghentikan langkah, mendekati sebuah pertigaan. Di hadapan mereka sudah terdapat dinding bercat putih dan dua jalan berbeda.


Yudai dan Zerowolf melirik kembali pada tangga menuju dapur tavern, cukup banyak anak tangga yang harus mereka lalui jika dibandingkan dengan setiap tangga di kastel akademi.


Zerowolf mengomentari lantai bawah tanah tavern itu, “Ada tidak bangunan berlantai bawah tanah seperti ini? Yang pernah kita kunjungi?”


Riri menjawab melongo, “Kurasa tidak.”


Duke mendekati dinding di hadapannya, melirik pada kedua jalan berbeda secara bergantian. Ia bermondar-mandir mengintip di balik jalan tersebut.


Riri ikut melangkah dan berkomentar kembali, “Kurasa tidak ada pilihan lagi. Kita berpencar saja.”


Tay membuang muka sambil mendesis. “Masuk akal sekali. Dua jalan berbeda, lalu ktia bagi menjadi dua kelompok. Agar tidak repot saat menghadapi musuh, begitu?”


Riri terdiam mendengar sindirian Tay. Ingin mendesis sampai membuka mulut melampiaskannya, ia tahu sebagai pemimpin, ia tidak boleh mudah naik darah, sama seperti tanggapannya terhadap tingkah Yudai dan Zerowolf.


Ia menyetujui Tay, “Ya. Kita bagi kelompok seperti biasa saja. Aku, Zerowolf, Katherine, Ruka, Lana, Sandee ambil jalan kiri. Sisanya, Sans, Yudai, Beatrice, Tay, Neu ambil jalan kanan.”


Eldia menambah, “Aku ikut ambil jalan kiri.”


“E-Eldia?” ucap Beatrice.


“Berarti—” Duke menyimpulkan, “Saya ikut Sans saja.”


Zerowolf membuka suara, merendahkan hatinya, “Ya, kurasa ini perpisahan, untuk sementara. Mungkin kita akan bertemu lagi di tengah-tengah markas atau di sini, atau kembali di akademi, setelah salah satu dari kita menangkap Sierra.”


Beatrice mengangguk. “Semoga kita semua selamat.”


“Ayo kita pergi!” sahut Yudai.


“Kalau begitu sampai jumpa!” Zerowolf mendahului mengambil jalan kiri.


“Hei! Zerowolf!” Riri tercengang mendapati Zerowolf mendahuluinya, maka ia mengikutinya.


“Pokoknya, jangan ma-ti,” Ruka menyusul pamit menambah sarkasme pada akhir kata begitu mengikuti Lana, Sandee, Katherine, dan Eldia.


Menatap kelompok Riri sudah seakan lenyap tertelan oleh jalan tersebut, Sans, Beatrice, dan Yudai menarik napas dalam-dalam seraya memenangkan diri dari kata terakhir Ruka. Mereka menoleh pada Duke yang sudah di hadapan mereka.


“Kita juga harus bergegas,” bujuk Duke mengambil alih sebagai pemimpin.


***


Menghadapi jalan cukup berliku-liku, memicu Sans dan teman-temannya beberapa kali berbelok. Terkadang, mereka juga mengambil satu pilihan antara dua jalan yang mereka hampiri.


Dinding berwarna porselen mendekati perak berkilauan seperti menyilaukan mata, terutama Tay yang sering sekali mengedip. Bersih tanpa garis noda satu pun, markas Royal Table dapat dikatakan cukup rajin dalam membersihkannya apapun caranya.


Setiap kali mereka menghampiri ruangan tak berpintu


Lama-kelamaan, jalan di hadapan mereka sudah mulai melebar, seperti bergerak sendiri. Sudah mulai leluasa dalam berbondong-bondong untuk tetap bersama.


Beatrice menghentikan langkah. Sebuah suara pada lantai bermunculan sampai mendengungkan telinganya. Sampai-sampai ia melirik ke belakang, yaitu sebuah pertigaan yang semula mereka lewati.


“Ada apa, Beatrice?” Neu menjadi orang pertama yang memperhatikannya.


“Ba-barusan … ada suara. D-di … belakang.”


Neu memiringkan tubuhnya, ikut melirik ke belakang. Tidak ada satu pun benda hidup tampak, apalagi kulit di balik suatu benda atau di balik sudut dinding.


“Mungkin hanya perasaanmu. Ayo.” Neu sampai mengenggam lengan Beatrice dan menariknya pelan.


“Ta-tapi aku benaran dengar sebuah suara. Langkah kaki?” Beatrice terengah-engah saat berbicara sambil terpaksa mengikuti irama langkah Neu.


Beatrice dan Neu menghentikan langkah saat Sans, Yudai, Tay, dan Duke bersandar di tepi dinding di hadapan kanan mereka. Duke berada di posisi terdepan mengintai belokan tersebut.


Yudai mendesis meletakkan telunjuk kanan pada mulut, memperingatkan Beatrice dan Neu untuk diam atau setidaknya berbisik.


Sans berbisik, “Ada dua orang royal guard yang berdiri di jalan itu.”


“Rupanya tidak mungkin,” ucap Duke berbalik menatap kelima muridnya, “kita ambil jalan lain saja. Belok kanan di sini tidak mungkin kita akan lolos tanpa ketahuan. Tampaknya kita harus mengikuti ingatanmu, Neu.”


Neu ikut mengintip di balik tepi dinding tersebut. Terlihat jalan lurus lebar dengan ruang kosong berbentuk segienam di tengah-tengah. Itulah tempat di mana tiga orang pasukan Royal Table berseragam zirah baja merah gelap telah berdiri, menggerakkan kepala mengawasi, jika perlu mondar-mandir.


“Kukira itu patung,” Yudai menambah informasi yang tidak perlu.


“Kalau begitu, Cherie—” Neu mengusap kepala familiar-nya seraya membujuknya.


Peri berambut pelangi dan bertanduk ungu itu bangkit dan mengepakkan sayapnya perlahan, melayang menghadap wajah Yudai. Baru saja bangun dari tidurnya, ia mengangkat kedua tangan dan membuka mulut membiarkan udara keluar dari kantuknya.


Neu kembali melirik di balik sisi dinding, menunjuk pada ruang segienam, terutama ketiga royal guard. “Gunakan kekuatanmu pada mereka, bekukan mereka.”


Cherie melesat berbelok dan mengepakkan sayapnya, meluncur seperti sebuah roket. Begitu ia mencapai ruang luas berbentuk segienam di tengah-tengah jalan itu, ketiga pasukan Royal Table itu tertegun dan meliriknya.


“A-apa ini?”


“Lucu sekali.”


“Tu-tunggu, dia penyusup!”


Cherie menjerit menjerit menimbulkan suara bergema tinggi bersama dengan sebongkah cahaya pelangi bersumber dari tanduknya. Ketiga pasukan Royal Table itu tercengang dan ingin berbalik, tetapi tidak berkutik dan seakan berubah menjadi patung. Salah satu di antaranya masih sudah mengangkat kaki kiri.


“Bagus!” ucap Neu mendapati Cherie kembali ke bahunya.


“Itu kekuatan familiar-mu?” terka Tay, “untung saja Profesor Baron menghentikan mock battle kita.”


“Kamu tahu aku akan menang,” sindir Neu.


Duke mulai berbelok, kali ini ia juga berlari. Tanpa peringatan atau perintah, ia secara terang-terangan berlari tanpa memedulikan tiga royal guard yang mematung.


“Pro-Profesor Duke!” sahut Sans menyusulnya bersama Beatrice dan Yudai.


Neu dan Tay mengekor di posisi terbelakang, berlari cukup kencang untuk menyusul. Akan tetapi, Tay menoleh pada ketiga pasukan Royal Table dan menghunuskan pedangnya.


Begitu Neu berhenti dan menoleh ke belakang, Tay menebas tulang selangka ketiga pasukan Royal Table tersebut, memicu cipratan darah dan tubuh mematung itu roboh ke lantai.


“Apa yang kamu lakukan!!” jerit Neu.


Tay mengembalikan pedang ke selongsongnya, meratapi ketiga Royal Table itu sudah menjadi mayat segar. Mata masih terbuka lebar dan sudah tidak bergerak lagi secara permanen.


“Itu lebih baik,” komentar Tay.


***


Sekelompok pasukan Royal Table terbirit-birit mengejar kelompok Riri. Sebisa mungkin, Riri dan teman-temannya, juga Eldia, mengencangkan langkah kaki sekuat tenaga terpicu oleh panik.


“Sudah kubilang jangan keras-keras!!” jerit Riri menunjuk Zerowolf.


“Sudah kubilang aku tidak sengaja!” balas Zerowolf.


Mereka berbelok kiri saat menghadapi pertigaan, sebuah refleks memandu mereka untuk bertindak seperti itu. Peluh bercucuran cukup banyak akibat kepanikan itu, terutama jika detak jantung dan napas sudah tidak lagi tersinkronisasi, terutama bagi Katherine yang telah melambat.


“Ka-Katherine!” sahut Riri tercengang.


“Gawat!” lanjut Eldia.


Ruka mengerem langkahnya, ia belokkan kaki kanan untuk menghentikan lari. Begitu berbalik, ia menghunuskan pedang menyaksikan Katherine sudah terdekati oleh barisan terdepan pasukan Royal Table.


Ia mengangkat kaki kanannya terlebih dahulu seperti pose balet. Begitu mengangkat pedangnya ke atas, ia mengucapkan, “Blood Light Dance.”


Melewati celah di kiri Katherine, hampir saja Ruka menubruk dinding saat mulai berputar. Ia mengempaskan pedangnya mengikuti gerakan berputar mencapai pada bagian torso setiap zirah baja merah gelap. Hanya memicu goresan cukup menyentakkan seluruh pasukan Royal Table.


Melihat Ruka beraksi, Sandee ikut menghunuskan halberd-nya, bersama dengan Lana yang mengangkat pedang dari selongsong punggungnya. Mereka menempatkan kaki kanan di depan untuk mengambil ancang-ancang.


“Siap menunjukkan skill original kita?” sahut Sandee.


“Tentu saja. Aku tidak sabar menggunakannya.” Lana ikut mengangkat perisainya sambil tersenyum.


Sandee dan Lana melesat mendorong senjata mereka, bergabung di antara kerumunan pasukan Royal Table tersebut, mengempaskan tenaga menuju ayunan senjata.


“Halberd Scream!!” jerit Sandee melambung inggi mengangkat halberd-nya. Ia melaju memanfaatkan momentum lompatannya ke depan. Begitu ia mendaratkan kedua kaki, ia menusukkan halberd-nya pada salah satu pasukan Royal Table di barisan terdepan.


“Sacred Slash!” Giliran Lana untuk meluncurkan badannya dan menusukkan puncak pedang pada satu lagi pasukan Royal Table di barisan terdepan.


Tidak berpengaruh banyak semenjak serangan pedang ketiga gadis itu mencapai bagian torso armor baja, hanya memicu goresan. Setidaknya, satu per satu, dalam jumlah sedikit, pasukan Royal Table tersebut mulai tumbang, entah terkena bagian kulit oleh senjata atau armor bajanya tidak mampu menampung lebih banyak goresan.


Ruka, Sandee, dan Lana terdesak ketika menghadapi beberapa empasan pedang sekaligus. Lana pun menggerakkan perisainya demi menangkis serangan tanpa mengayunkan pedangnya. Ruka dan Sandee menggeretakkan gigi mendapati refleks mereka melamban.


“Apa boleh buat!” sahut Riri mengepalkan tangan ber-knuckles-nya dan mengayunkannya dari belakang ke depan, menggunakan chakra agar memperkuatnya selagi ia menggunakan skill.  “Far Rapid Fist!”


Riri melancarkan pukulannya berkali-kali, berkat chakra yang mengalir kencang di tubuhnya, kekuatan jarak jauh dari pukulannya menghantam tepat pada kepala masing-masing pasukan Royal Table.


Katherine mendengus terpicu oleh inisiatif Riri untuk menyerang. Ia mengangkat tongkatnya dan merapalkan mantra untuk skill-nya, “sparkel eht siqlo fur eht akuma!”


Sebongkah cahaya putih bersinar memicu kilatan. Serangannya juga mengenai salah satu pasukan Royal Table yang tengah menghantam Sandee saat ia hampir melepas halberd-nya, seperti tersandung.


Berkat Riri dan Katherine melancarkan serangan mereka, jumlah pasukan Royal Guard cukup banyak yang bertumbangan, memudahkan Lana, Sandee, dan Ruka menyerang musuh-musuh terakhir mereka.


“Akhirnya!” Sandee menatap kumpulan tumbangnya pasukan Royal Guard menumpuk seperti gunungan.


Eldia memuji kelimanya, “Kalian hebat sekali rupanya.”


Zerowolf mengangkat tangan mendengus kesal. “Tu-tunggu dulu! Kenapa aku tidak dibiarkan menyerang juga!!”


Sandee menyindir mendahuluinya begitu berbalik kembali berjalan, “Itu karena ulahmu yang mengundang mereka kemari, sebuah karma.”


Ruka ikut mendengus. “Terlalu keras dalam terkejut. Itu akibatnya.”


Kelompok Riri pun melanjutkan perjalanan menyusuri markas Royal Table, masih perlahan dalam melangkah. Sama seperti kelompok Sans, ketika mendatangi satu per satu ruangan tak berpintu, jalan buntu beserta beberapa meja mereka temukan.


Mereka terhenti di hadapan sebuah pintu besi hitam berpagar perak di tengahnya. Sangat besar hingga mencapai tinggi langit-langit.


“Tentu saja kita harus menerobos masuk.” Zerowolf mendorong pintu itu hingga terbuka, mengagetkan semuanya.


Pintu tersebut terdorong terbuka lebar, mengungkapkan sebuah lorong cukup lebar sampai dinding di hadapan mereka jauh di depan mata. Jalan di antara dinding juga berlebar kurang lebih sama seperti jalan yang mereka lalui sebelumnya.


Memasuki lorong itu, banyak pintu di sisi kiri dan kanan saling berhadapan. Dinding juga berwarna putih perak, kurang lebih sama seperti mayoritas dinding markas Royal Table. Pintu-pintu tersebut menjadi pusat perhatian mereka.


Terlebih dahulu, mereka menatap pintu pertama di dinding sisi kanan. Terdapat jendela berbentuk bundar di bagian atas pintu tersebut, menunjukkan sebuah ruangan serba putih. Terdapat tempat tidur di ujung ruangan, toilet jongkok di sebelah kanan, sofa dan sebuah lukisan abstrak di sebelah kiri.


“A-apa ini?” ucap Sandee tercengang.


“Kalau dari kelihatannya—” Eldia menyentuh jendela tersebut yang terbuat dari kaca, “—ini mungkin sebuah kurungan.”


“Penjara!” sahut Zerowolf memukul telapak tangan kirinya, “Ini seperti yang Neu bilang waktu itu. Penjara di markas Royal Table. Jadi ini penampakannya.”


Katherine memisahkan diri dari kelompoknya, melirik-lirik dinding dan perlahan mendekati pintu, empat pintu pertama ia lewati dan lihat masih kosong. Saat melewati barisan pintu ketiga, begitu melirik ke kanan, sebuah tubrukan di jendela cukup lantang meledakkan pandangannya sampai hatinya terenyak.


“A-a-astaga!!” jerit Katherine ngeri hingga mundur satu langkah menubruk dinding dekat pintu di sampingnya, pintu ketiga di dinding kiri..


Jeritan Katherine memicu yang lain untuk menghampirinya di hadapan pintu ketiga di dinding sisi kanan lorong. Saat mereka menatapi jendela bundar itu, sosok familier, seorang pria berambut cokelat muda pendek tegak ke atas dan berjenggot tipis.


“Ta-Ta-Tatro!” Riri mengenali orang itu.


Dari gerak mulutnya, Tatro menjerit sambil mendobrak pintu. Akan tetapi, suara dari gerak bibirnya seakan teredam oleh pintu.


“Apa? Apa maksudnya?” tanya Lana panik.


Zerowolf beralih menuju pintu keempat. Di balik pintu tersebut, persis seperti tiga ruang pertama yang ia lihat, tetapi kali ini, seorang royal guard pria berambut cokelat muda pendek, beralis tebal melengkung, dan berlengan besar tengah terbaring di kasur. Dari ciri khas seperti itu, ia mengenali royal guard tersebut.


“Irons! Irons!” sahut Zerowolf menampar jendela bundar pada pintu itu. “Teman-teman, Royal guard yang kemari selama ini dikurung di si—”


Saat ia menoleh ke kanan, sebuah cahaya membutakannya. Seluruh tubuhnya mendadak seperti terhantam sesuatu sampai tulang dan otot hingga kehilangan kendali, gendang telinga terasa meledak, dan jantung seperti memukul keluar dada. Sekilas, ia menatap Riri, Katherine, Sandee, Ruka, dan Lana tergeletak terbaring di lantai. Tubuhnya juga ikut roboh akibat nyeri hebat di sekujup tubuh.


Tidak ingin menutup mata, ia melirik Eldia telah berlutut di hadapannya, telah berkacak pinggang secara santai. Ia langsung tahu.


“Ke-kenapa … Eldia?”


Menatap Zerowolf sudah menutup mata hingga tidak sadarkan diri, Eldia berputar melihat-lihat seluruh anggota kelompoknya, tergeletak pingsan begitu saja.


“Bagus sekali kalian menyadarinya.”


“Nona Spade’s Apprentice!” Dua orang pasukan Royal Table mendobrak masuk.


“Kalian terlambat,” sindir Eldia, “lebih lambat daripada pasukan yang telah mereka kalahkan itu. Untung saja, aku menyuruh Diamond’s Apprentice untuk mengawasi kami dan menyembuhkan segerombolan pasukan lainnya seperti kalian.”


Eldia meninggalkan keenam anggota “kelompok”-nya begitu saja di lantai, mendahului kedua orang pasukan tersebut.