
Suara ketukan pintu sontak memicu Sans keluar dari mimpi. Begitu bangkit dari tidurnya, ia menoleh pada pintu kamar. Begitu pula pada jendela, bagian yang tak tertutup tirai hanya menunjukkan warna hitam.
Ia sebelumnya memutuskan untuk tidur lebih awal daripada biasanya. Ketika malam mulai menyingsing, ia sudah berbaring di tempat tidur dan tanpa ia sadari, ia sudah berada di dalam mimpi. Tidak heran, ia sudah tidak mengantuk.
Ia sendiri bertanya-tanya semenjak Duke memintanya untuk keluar dari asrama menjelang fajar. Secara teknis, ia tidak mampu mengukur kapan fajar sedikit lagi tiba saat langit masih hitam dan semua orang masih terlelap.
Ia menapakkan kaki pada lantai kamar dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu. Seperti dugaannya, Duke lah yang mengetuk pintu.
“Profesor? Kukira—”
Duke mendekatkan telunjuk pada bibirnya sebelum berbisik. “Kamu tidak ingin ada yang bangun menjelang fajar, bukan?”
“Lho? Profesor Duke,” sapa Yudai baru saja bangun.
“Yudai!” Duke mendiamkannya, sama seperti saat ia lakukan pada Sans.
Yudai hanya menyeringai, menyimpulkan sendiri mengapa Duke mendatangi Sans secara langsung.
“Ayo.”
“Apa?” balas Sans pada Duke.
“Tentu saja kita akan ke ruangan itu. Kamu tidak perlu membawa kantungmu. Pakai saja gauntlet-mu. Cepatlah, tapi pelan.”
Sans sama sekali tidak mengerti kalimat terakhir yang dikatakan Duke. Akan tetapi, ia menyaksikan profesornya itu mulai berbalik dan melangkah pelan. Maka, ia mengikutinya setelah terburu-buru mengambil gauntlet dari meja dan memasangnya. Tentu saja, ia menutup pintu kamarnya secara perlahan.
***
Melewati selasar menuju gedung perpustakaan, apalagi menyaksikan nyala obor di dinding mengiringi jalannya, Sans masih bertanya-tanya dalam hati mengapa Duke menjemput dirinya di gedung asrama alih-alih menunggu di gedung ruang pribadi profesor.
Saat tiba di hadapan pintu gedung perpustakaan yang tertutup lebar, Duke mengambil sebuah kunci dari saku celana dan memasukannya pada lubang pintu. Begitu ia berhasil memutar kunci itu, pintu pun terbuka.
Sans melongo tidak menyangka Duke memiliki kunci gedung perpustakaan. Selagi mereka kembali berjalan dan melewati tangga yang seakan menempel pada dinding mengelilingi setiap ruangan pada lantai perpustakaan membentuk bundar, ia mengurungkan niat untuk bertanya tentang kunci tersebut.
Selesai melewati anak tangga yang cukup banyak, mereka akhirnya tiba di lantai keenam gedung perpustakaan. Hanya sebuah pintu di hadapan tangga tertutup rapat dan dinding batu-bata bercat putih. Berbeda jauh daripada lima lantai sebelumnya di mana rak buku mendominasi dinding beserta sudut dan tengah ruangan.
Duke berbelok kanan, mengabaikan pintu itu begitu saja.
“Profesor Duke! Itu pintu lorong terlarang.”
“Kita tidak akan masuk ke sana.” Duke menoleh pada dinding batu-bata yang tampak longgar tidak seperti biasanya. “Kita akan masuk ke ruangan ini.”
Duke menekan salah satu batu-bata yang sengaja tak terpasang dan bersatu menjadi dinding. Lama-kelamaan, dinding itu seakan terbelah menjadi dua, mengungkapkan sebuah ruangan kecil, kira-kira berpanjang dan lebar 2 meter, cukup sempit daripada yang Sans harapkan ketika mendekatinya.
Hanya dinding yang tak berwarna, lantai tak berkeramik. Terdapat pula beberapa kantung dan beberapa botol labu begitu nyaman menyandar pada dinding.
“Kukira kita akan ke lorong terlarang,” tanggap Sans saat mereka memasuki ruangan itu.
Dinding itu akhirnya menutup dengan sendirinya begitu mereka telah menginjak lantai ruangan tersebut. Cukup mirip dengan beberapa labirin atau ruang rahasia lainnya, ia sangat tidak menyangka.
Duke kemudian mengambil sesuatu dari salah satu kantung itu. Begitu berbalik, ia menunjukkan sebuah jam pasir. Sisi atas dan bawah terbuat dari kayu bercat cokelat terang. Kaca yang cukup cembung pada tabung gelas menunjukkan pasir di bagian bawah tabung cukup banyak.
“Duduklah,” sambut Duke sambil memutarbalikkan tabung pada jam pasir itu.
Keduanya mulai duduk saling berhadapan di tengah-tengah ruangan itu. Cukup gelap sampai hampir tidak dapat saling menatap dalam berbicara, baik dalam kontak mata atau menatap bibir.
Sans beralih pandangan pada jam pasir tersebut. Dapat ia lihat sedikit demi sedikit pasir dari tabung atas mulai melewati tabung sempit ke tabung bawah secara teratur. Ia menyimpulkan jam pasir yang digunakan itu untuk mengukur waktu kapan mereka harus segera keluar sebelum fajar menyingsing secara penuh.
“Kalau kita benaran belajar alchemist di lorong terlarang di sebelah.” Duke menganggukkan kepala pada dinding di belakang Sans. “kita takkan bisa melakukan proses transmutasi dan penyeimbangan mana.”
“Eh Ja-jadi?”
“Benar. Kita tidak akan bisa menggunakan sihir selama di lorong terlarang. Pembelajaran alchemist kita takkan berjalan lancar kalau kamu ingin sungguh belajar di sana. Lagipula, di lorong terlarang sudah terpasang sebuah unsur antisihir, bisa dibilang juga anti-mana. Lalu biasanya juga ada pengurus yang berjaga di depan pintu pada siang hari, itulah mengapa kamu tidak melihatnya sekarang.
“Di lorong terlarang, kita juga tidak bisa berisik sembarangan. Memang ini hal yang wajar mengingat kita berada di gedung perpustakaan. Tapi secara spesifik, saya tidak tahu mengapa.”
“Profesor, sebenarnya … Anda diberi kunci gedung perpustakaan juga?” Sans akhirnya mengajukan pertanyaan yang mulai terbenam di otaknya.
“Ini.” Duke mengunjukkan sebuah kunci berwarna perunggu bersih mengilat. “Saya membuatnya sendiri, menggunakan transmutasi, penguatan struktur bentuk, dan sintesis. Membuat kunci menggunakan alchemist bisa dibilang tahap mahir, butuh hal kompleks yang harus dipikirkan.”
“Lebih baik kita langsung ke topik utama saja.” Duke tidak ingin membuang waktu lagi. “Sebelumnya, kamu sering sekali mencampurkan dua atau lebih bahan untuk membuat ramuan hingga gauntlet yang sedang kamu pakai saat ini. Hal itu dinamakan sintesis.
“Bisa dibilang proses sintesis merupakan penggabungan dua dan atau lebih dari empat bahan atau material menjadi sebuah barang jadi. Ya, kamu juga sebenarnya sudah sering melakukannya saat membuat ramuan dari awal. Tapi … kali ini kita akan berfokus pada barang lain.”
“Maksud Anda?” Sans melongo mendengar penjelasan bertele-tele Duke.
“Intinya, kamu bisa membuat barang lain seperti senjata dan lain-lain. Selanjutnya, kamu juga akan belajar sintentiser.”
Sintesis dan sintentiser, dua kata yang mirip, sangat mirip bagi Sans. Sampai-sampai benaknya melamunkan definisi kedua kata itu tidak jauh berbeda, yakni mencampurkan dua bahan atau lebih.
Duke kembali menjelaskan, “Kali ini, sintentiser bisa didefinisikan sebagai penyelarasan atau pemurnian bahan selama pembuatan barang, termasuk proses sintesis. Hal ini dilakukan agar peluang keberhasilan dalam proses meningkat.”
Sans menebak dengan asumsi, “Pantas saja mirip. Jadi, sintesis dan sintentiser itu saling berkaitan?”
“Bisa dibilang begitu.” Duke kemudian menatap jam pasirnya yang masih mengalir hingga tabung bawah terisi seperempatnya. “Untuk hari ini, sampai jam pasirnya selesai mengalir, saya coba jelaskan sebaik dan sesingkat mungkin kedua proses itu. Kemudian, selama tiga hari ke depan, kamu akan mempraktikkan kedua proses itu.
“Saya akan mengungkapkan barang apa yang harus kamu pada sebelum sesi ini berakhir. Sisanya, kamu bisa baca lagi Buku Dasar Alchemist untuk memahami lebih lanjut. Juga, bahannya kamu bisa cari sendiri. Tapi ya … jam malam dipercepat sampai sebelum matahari terbenam, kamu bisa memakai bahan di salah satu kantung ini. Akan lebih baik kamu mencari bahan sendiri.”
“Baik, Profesor.” Sans mengangguk.
***
“Yudai, murid tahun pertama, ber-job archer.” Seorang pengawas perempuan berambut cokelat keriting diikat ke atas dan berkacamata mendekatkan kepalanya agar dapat melihat lebih dekat. “Kamu yang mendapat posisi pertama di Festival Melzronta? Kategori individu, ya?”
Yudai sampai terdiam saat pengawas tersebut menekan meja sambil menatapnya tajam. Ia menelan ludah, berharap agar tidak mendapat pertanyaan seperti “mengapa baru sekarang berkunjung?” atau “apa kamu pemalas sampai lupa berkunjung?”. Kaki kirinya juga sampai mengetuk lantai beberapa kali, pertanda bahwa ia tidak bisa menunggu untuk memasuki lorong terlarang.
Terbayang kalau Neu yang mendapat akses memasuki ruangan di lantai enam gedung perpustakaan itu, ia tahu mage dengan nilai tertinggi di kalangan murid tahun pertama itu akan sangat gembira mengekplorasi setiap rak dan membaca setiap buku. Sayangnya, ia bukan seperti Neu yang rajin membaca setiap hal. Ia hanya berminat pada sebuah hal yang akhir-akhir ini menganggunya.
Pengawas itu akhirnya melepas tali tambang tebal pembatas pada sebuah lorong di hadapannya. “Selamat datang di lorong terlarang. Kamu bisa masuk kapan saja. Tapi ingat, kamu tidak boleh membawa salah satu buku dari sana, kecuali jika ada surat izin. Kalau butuh bbantuan, saya akan dengan senang hati melayani.”
Yudai mulai menapakkan kaki melewati pintu menuju lorong tersebut. Sambil berpaling ke belakang, dapat ia lihat sebuah gerbang menuju selasar lantai enam gedung dan meja pengawas di sebelah kirinya. Saat ia mengambil langkah pertama pada lantai putih di lorong itu, ia sangat takjub.
Sangat berbeda daripada ruangan di lantai lain dalam gedung, jika ruangan lain berbentuk seperti bujursangkar atau persegi panjang, lorong terlarang tersebut berbentuk lingkaran, terihat dari langit-langit yang berbentuk seperti oval dan bergambar langit malam berbintang. Mungkin saja ia akan mengetahui sebuah rahasia tersembunyi. Apalagi dinding yang didominasi oleh warna gelap dan jendela dekat atap sebagai penerangan memancarkan sinar
Terdapat deretan lima rak buku di hadapannya. Terlebih dahulu ia berkeliling melihat-lihat setiap judul buku. Berdasarkan kata-kata pada setiap judul, ia sampai melongo, seperti mendayung-dayung di lautan kata, secara harfiah. Beberapa sampul buku juga berkilau hingga memanjakan matanya sejenak.
Pada akhirnya, sebuah buku berjudul Sejarah Tak Terungkap dari Kerajaan Anargarde beserta subjudul Sama Sekali Belum Tertulis di Buku Sejarah Manapun!. Sampulnya yang berwarna hitam berserta tinta tulisan berwarna emas mampu memicu sebuah kilas balik saat hari terakhir bootcamp di Silvarion. Perkataan sosok bertopeng berzirah merah dari Royal Table dan bernama Spade kembali memutar di otaknya.
Mereka juga butuh apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini! Apa yang sebenarnya tidak ditulis di buku sejarah kalian! Buku sejarah kerajaan Anagarde!
Atas pertimbangan tersebut, Yudai mengambil buku yang cukup tebal itu. Sambil berbelok menuju tempat duduk yang hanya memiliki tiga bangku bermeja di sudut tersebut, ia merenungi begitu banyak masalah terjadi semenjak bootcamp berakhir. Bukan hanya kedatangan Royal Table yang bertekad untuk mengekspos rahasia tergelap akademi.
Beatrice tiba-tiba saja kembali ke Beltopia bersama sang ibu,tanpa ada pertanda apapun. Padahal Yudai ingat kalau song mage itu sama sekali tidak ingin kembali ke rumah sama sekali, apalagi hanya untuk menjenguk sang ayah. Perubahan yang terlalu tiba-tiba, sangat mendadak. Ia tahu Beatrice sangat ingin tetap berada di Akademi Lorelei.
Ditambah lagi, Neu sama sekali belum kembali semenjak bootcamp berakhir. Sierra dan Katherine, yang juga mengikuti bootcamp khusus job tipe sihir di Vaniar, bersama dengan Beatrice dan Sans, tidak tahu apa-apa.
Lebih buruk lagi, pihak akademi bertekad untuk menemukan seorang mata-mata dari Royal Table yang ternyata berada di dalamnya. Akibat hal itu, aturan jam malam mulai lebih ketat dari biasanya, memicunya tidak dapat leluasa dalam menjalankan misi mulai saat itu.
Cukup dengan perenungan tersebut, ia meletakkan buku tebal itu di atas meja. Kursi di hadapannya ia duduki sebelum membuka sampul hitam bertinta emas itu.
Mulai dari daftar isi, cukup banyak deretan topik telah berderet secara vertikal. Tulisan pada bab itu tentu membuat pembacanya sulit untuk menentukan topik manakah yang ingin dibaca dan dicari lebih jelas.
Yudai melotot melihat dua topik sekaligus bab yang menarik perhatiannya, Insiden Alchemist dan Sejarah Berdirinya Akademi Lorelei. Ia memalingkan pandangan pada sekitar lorong, memastikan tidak ada siapapun yang mengawasi atau sekadar bersantai sambil membaca. Sunyi, tidak ada siapapun semenjak ia berada di lorong terlarang, sebuah keuntungan tersendiri karena memiiki akses masuk.
Maka, ia membolak-balikkan halaman menuju bab Insiden Alchemist. Rasa penasarannya memicu dirinya untuk mulai membaca Semenjak ia juga pernah menyaksikan dari memory shard waktu menjalankan misi membasmi hantu di sebuah penginapan mewah, ia ingin tahu kebenaran tentang hal itu, apalagi sama sekali tidak tertulis di buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei.
Begitu ia memulai dari paragraf pertama dari bab tersebut, ia sampai membuka mulut lebar mendapati gaya bahasa cukup sukar dimengerti. Seperti beban berat masuk ke dalam otaknya, ia sampai menyentuh keningnya. Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei justru lebih ringan dan mudah dipahami daripada ini.
Sangat lambat untuk memahaminya, Yudai memastikan setiap kalimat, kata, dan frasa pada beberapa halaman pertama. Penjelasan latar belakang alchemist seakan membuatnya berkeliling berkali-kali tanpa tujuan berarti.
Baru saja melewati lima halaman, kantuk pun mulai menyerang. Sama sekali tidak tertahankan setelah tersesat dalam rangkaian kata pada buku Sejarah Tak Terungkap dari Kerajaan Anargarde, ia akhirnya menubrukkan kepala pada buku tersebut. Pandangannya pun menghitam.
Kalau dia adalah Neu, pasti buku itu dapat ia pahami lebih dalam. Sayangnya, ia bukan orang seperti itu.