
Mengendap-endap, hal pertama bagi Sans, Beatrice, dan Yudai saat keluar dari gedung asrama. Memastikan tidak ada siapapun melewati setiap jalan di hadapan mereka. Sudut dinding menjadi tempat persembunyian saat mengawasi sebuah situasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Melihat jalan di hadapan tidak terdapat siapapun, mereka mengangguk sebelum melanjutkan langkah. Setiap langkah perlahan tanpa suara sambil memastikan sekeliling tidak ada siapapun.
Melewati selasar hingga menuruni tangga, sejauh ini tidak ada siapapun di depan mata. Misi untuk menyimpan rahasia sejauh ini aman.
Hampir mencapai pintu utama, mereka berpikir semua sudah aman. Beatrice pun tengah menggapai perlahan gagang pintu itu.
“Ah, kalian kenapa melangkah seperti itu?”
Terpicu! Sebuah sumber suara dari belakang sontak membekukan mereka bertiga. Perlahan menoleh pada sumber suara itu.
“Ri-Riri?” ucap Sans dan Yudai bersamaan.
Riri, melangkah seperti biasa seakan tidak terjadi apapun, menuruni tangga untuk menghampiri mereka bertiga. Sama sekali tidak curiga, masih bertingkah polos sambil sedikit melongo.
“Kenapa harus diam-diam begitu?”
Aura gelap menyelimuti Sans, Beatrice, dan Yudai saking kewalahan dalam merangkai kata-kata untuk menjawab. Sudah tidak mungkin berkata jujur pada Riri, apalagi sampai menghadapinya.
Riri secara polos mulai menebak, “Kalian pasti ingin—”
Mereka bertiga menelan ludah mendapati Riri akan menyimpulkan hal aneh yang menjadi alasan untuk melangkah dalam diam.
“—melakukan latihan rahasia, ya?”
“Hah?” Sans dan Beatrice tambah melongo.
“Ah!” Yudai menjawab tebakan Riri, “benar sekali, Riri! Kami sering sekali mengadakan latihan rahasia. Sering sekali saat waktu jeda dan luang. Bersama juga Tay, Neu, dan Sierra!”
“Yu-Yudai!” Sans menganggapi.
“Hmmm.” Riri menambah, “berlatih untuk bersiap misi kelas B, ya? Kurasa sebaiknya kalian bertingkah seperti biasa saja. Justru, kalau kalian seperti tadi, orang-orang, terutama saat semester baru, akan curiga dan menguntit lho.”
“A-a-ah, begitu rupanya.” Yudai menyeringai. “La-lalu, kamu sedang apa di sini?”
Riri mengosok punggung kepalanya. “A-aku … hanya ingin melihat situasi kastel akademi. Habisnya membosankan hanya berlatih, mengambil misi, dan berdiam diri di kamar. Oke, kalau kalian mau latihan, silakan. Jangan tunda-tunda lagi.”
“I-iya,” jawab Sans, Beatrice, dan Yudai bersamaan.
Cukup tenang mereka bertiga berbalik sehabis mendapat usul dari Riri. Beatrice terlebih dahulu menarik gagang pintu seraya membukanya. Butiran salju turun dari langit membentuk hujan kecil tengah kembali membuat tumpukan di tanah. Suhu pun masih cukup dingin seperti biasa, tidak heran mereka juga memakai pakaian musim dingin seperti baju hangat.
Mereka bertiga bertingkah seperti biasa ketika keluar dari kastel akademi, mengiringi taman halaman yang semakin bersalju di bawah langit berawan seperti permen kapas putih. Cuaca masih cukup bagus semenjak sang surya seperti menyembunyikan sebagian besar cahayanya di balik awan.
Sebuah pohon di sudut timur laut menjadi tempat penghentian tepat menghadap pagar pembatas. Sebuah tempat rahasia bagi mereka saat ini. Di antara akar pohon itu, sarang bayi phoenix masih tetap utuh. Bayi phoenix yang mereka ambil dari gunung berapi juga baru saja membuka mata.
“Ah!” Beatrice berlutut menghadapi bayi phoenix. “Kamu pasti lapar, kan? Sebentar, aku ambilkan makan untukmu.”
“Makan?” ulang Yudai menyaksikan Beatrice kembali bangkit dan mulai berlari. “Benar juga, sebaiknya kita beli roti di kedai, lalu bagikan sebagian pada bayi phoenix ini.”
Sans bergumam, “Memang bisa bayi phoenix makan roti?”
“Ah! Ketemu!” Beatrice telah menggali tanah bersalju di bawah sebuah dinding pagar tidak begitu jauh tanpa takut mengotori pakaiannya.
Seekor cacing berlendir itu menggeliat di jepitan jempol dan telunjuk Beatrice, seakan panik ingin meloloskan diri.
“Wow. Itu dia!” seru Yudai. “Tidak heran sebagai gadis bangsawan, kamu ingin melihat dunia luar. Jiwa petualangmu tinggi sekali.”
Sans tetap saja tidak dapat berkata-kata, mempertanyakan apakah Beatrice benar-benar gadis asal keluarga bangsawan. Jika mengingat-ingat lagi, biasanya perempuan bangsawan akan melakukan apapun untuk terhindar dari pekerjaan tipikal laki-laki. Tidak heran Oya ingin membawa gadis itu keluar dari Akademi Lorelei.
Dia menutup mata mendalami perenungannya. Bukan hanya keadaan Beatrice, tetapi juga dirinya. Begitu kembali membuka mata, dilihatnya bayi phoenix itu. Mungkin tidak mendapat air mata phoenix kemarin merupakan hal tidak mengenakkan, tetapi merawat bayi phoenix hingga dewasa bukanlah ide buruk. Dia mungkin akan mendapat air mata phoenix setelah mendapat sebuah faktor tertentu.
“Bilang aaaaa.” Beatrice mendekatkan cacing itu pada paruh bayi phoenix setelah berlutut.
Bayi phoenix itu pun mulai melahap cacing itu, menikmati pemberian dari Beatrice.
“Bagaimana, enak, kan?” tanya Beatrice.
Sans keluar dari perenungannya. “Berarti besok ya? Oya akan kembali ke kota ini.”
Beatrice mengangguk. “Benar. Untunglah kemarin aku dapat air mata phoenix.” Dia kembali bangkit. “Sans, maafkan aku. Aku—”
“Tidak apa.” Sans memastikan Beatrice akan baik-baik saja. “Setidaknya kita bisa merawat bayi phoenix. Kita bisa dapat air matanya lagi saat sebuah faktor memungkinkanku untuk melakukannya.”
Yudai membela keputusan Sans. “Benar. Kita akan merawatnya sampai dia dewasa, begitu kita dapat air mata itu, kita bebaskan dia di gunung berapi itu.”
“Begitu rupanya.” Beatrice kembali melirik pada sang bayi phoenix setelah kembali berlutut. “Sepertinya bayi phoenix ini juga akan senang.”
Yudai menepuk kedua kepalan tangannya. “Nah. Berhubung kita sedang di sini. Kita berlatih saja, seperti yang Riri tadi bilang.”
Sans mengangkat tangan. “Uh, sebenarnya, aku harus berlatih dengan Profesor Duke lagi hari ini.”
“Aku juga masih harus berlatih dengan Profesor Danson untuk menguasai lagu baru,” tambah Beatrice.
“Baik, baik,” tanggap Yudai.
***
Sans meletakkan konsentrasinya dan seluruh energi saat menatap botol labu dikelilingi oleh lima bahan untuk ramuan penyembuh luka. Pada saat yang sama, dapat terbayangkan hasil akhir dari ramuan itu, cairan merah, seperti saat ia dapatkan dari Nacht ketika penyerangan perompak di kapal.
Telapak tangan kanannya menghadap botol itu seakan sedang menyihir menggabungkan seluruh esens dari kelima bahan dan mengubahnya menjadi cairan merah. Ia memusatkan energinya mulai dari sedikit hingga secara progresif menjadi banyak.
Kali ini, sebuah ledakan kecil memancarkan cahaya menyilaukan mata, menyambar garis lingkaran berserta setiap bahan. Ledakan bagai kilat tersebut mengangkat dan medenkonstruksi setiap bahan menuju dalam botol labu di pusat lingkaran.
“Upaya kedua hari ini kamu berhasil,” bujuk Duke di sampingnya.
“I-iya.”
“Sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tapi untuk memastikannya, upaya pertama dalam pelatihan sebelumnya harus berhasil. Imajinasimu, energimu, dan konsentrasimu, sudah cukup stabil. Butuh waktu lagi untuk melancarkannya.”
Sans kembali melirik pada ramuan penyembuh luka yang berhasil ia buat dengan cara transmutasi. Mengingat kembali saat pertama kali melakukan transmutasi, kegagalan demi kegagalan kerap ia pelajari. Belajar dari kegagalan, itulah sebuah prinsip bagi Sans.
Mulai dari kegagalan saat aptitude test hingga sekarang, Sans menilai dirinya dapat beradaptasi sebaik mungkin selama ada kesempatan. Kesempatan untuk menjadi alchemist, sebuah job di luar job system Akademi Lorelei dan dianggap ilegal, masih terbuka untuk mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan sebuah tujuan utama.
“Oh ya, kalau dipikir lagi, semenjak kamu bisa kemari, kamu berhasil mendapat air mata phoenix itu, kan?”
Sans mengangguk. “Iya. Tapi … phoenix lebih memilih Beatrice. Namun, Beatrice tidak akan keluar dari akademi dan dipaksa pulang oleh pelayan keluarganya. Itu kabar baiknya.”
“Bagus. Bagus untuk Beatrice.”
Sans tidak mungkin berkata bahwa dirinya, Beatrice, dan Yudai memutuskan untuk memelihara bayi phoenix demi mendapat sebuah faktor tertentu pada Duke. Hal itu merupakan satu-satunya cara agar mendapat air mata phoenix lebih cepat tanpa harus mencarinya di gunung berapi lagi.
“Nanti, jika ada waktu luang, kamu bisa kembali ke gunung berapi itu lagi dan bertemu phoenix. Tapi seperti yang saya bisa sebelumnya, peluang itu kecil. Kamu mungkin tidak akan menemukan phoenix itu seperti yang kamu inginkan. Butuh waktu dan keberuntungan untuk mendapatkan air mata phoenix.
“Yang jelas, bagus kamu sudah perkuat tujuanmu untuk berada di akademi ini. Bagi saya, setelah melihat pertarunganmu melawan Dolce, kamu sudah mulai berkembang. Kamu lebih beruntung begitu saya mengetahui kamu tinggal di akademi ini saat libur. Kamu lebih banyak belajar daripada orang lain. Kuatkan lebih banyak tujuanmu, dengan begitu kamu akan mencapai keberhasilan itu.”
“Ba-baik. Saya akan melakukan yang terbaik,” ucap Sans.
Sans kembali termenung menatap ramuan yang baru saja ia buat itu. Butuh waktu untuk mengembangkan sebuah faktor tertentu bagi dirinya untuk mendapat air mata phoenix. Dengan begitu, peluang untuk membuat obat penyakit ibunya bertambah. Pada saat yang sama, dia harus secara perlahan terus belajar cara transmutasi setiap bahan untuk membuat benda baru.
“Sans, selanjutnya, saya ingin kamu membaca bab kombinasi barang di Buku Dasar Alchemist. Kamu akan mengetahui bahan apa saja yang menjadi sebuah barang tertentu jika dengan proses transmutasi. Setelah kamu semakin lancar dalam membuat ramuan penyembuh luka, saya ingin kamu membuat barang lain.”
“Ah, i-iya. Saya mengerti.”
“Bagus. Kita lanjutkan pelajarannya.”
***
Tiga hari, Oya telah memberi Beatrice waktu untuk mengambil air mata phoenix, telah berlalu. Akhirnya, penantian itu tiba.
Pelayan keluarga Beatrice itu telah berdiri di hadapan gerbang utama akademi, menunggu sebuah kepastian itu. Ia hanya berharap agar dapat membawa nyonya muda itu kembali ke kampung halaman.
Pintu pun terbuka, seperti terbelah menjadi dua, mengungkapkan Beatrice telah tiba di hadapannya, bersama dengan Sans dan Yudai.
“Ah!”
Oya melotot dan mengembus napas. Ia menoleh pada botol gabus berisi setetes air mata phoenix, hanya setetes, tidak penuh.
“Ka-kamu—”
Beatrice mengangguk. “Aku bersungguh-sungguh ingin tinggal di sini. Aku tidak ingin kembali menjalani takdir yang seharusnya kujalani. Aku tidak ingin menikah hanya melalui sebuah perjodohan. Aku di sini untuk meraih mimpiku, mimpiku yang sudah kuungkapkan, melihat dunia luar.
“Ayah menyuruhku untuk belajar di sini sebelum mimpi itu terwujud, demi melindungi diriku sendiri. Tidak seperti saat aku berada di rumah, aku juga mendapat teman sebaya lebih dari yang kubayangkan, kebaikan dan kesetiaan. Berkat Sans dan Yudai, serta teman kecilku, Neu; juga Tay dan Sierra, dan yang lainnya juga … aku … aku tidak sendiri lagi.
“Berkat mereka, aku menjadi seperti sekarang, seperti di hadapanmu, Oya. Aku adalah song mage, bukan lagi gadis bangsawan yang terjebak oleh setiap larangan.”
Oya sama sekali tidak terkesan atas ucapan Beatrice. Upaya untuk mengantarnya kembali pulang gagal, akhirnya gagal. Tidak ada pilihan lain untuk mengancam.
“Baiklah. Serahkan air mata phoenix itu. Kamu sudah memutuskannya.”
Beatrice menyerahkan botol gabus berisi setetes air mata phoenix itu dengan rasa puas, lega mengetahui dirinya tidak akan pulang hanya karena sebuah kegagalan.
Oya berkata lagi, “Saya benci mengakuinya, tapi … kalian berdua sungguh berani waktu pertama kali bertemu, saat di alun-alun kota ini. Tapi saya tidak yakin apa kalian pantas untuk menjadi teman Beatrice, mengingat dia berbeda dari kalian.”
Yudai secara berani membela, “Kami tidak peduli. Beatrice tetap teman kami. Dia dapat membantu selagi dalam setiap pertarungan dan misi yang kami jalani.”
Sans mengangguk setuju. “Aku yakin, sama sepertinya, kami juga akan semakin kuat, jika kita terus berlatih bersama.”
Oya berbalik memalingkan wajah. “Baiklah. Sekarang, lakukan sesukamu, Beatrice.”
Pelayan keluarga Beatrice itu hanya melangkah pelan melewati tanah halaman bersalju itu. Kepalanya termenung menerima sebuah kekalahan. Kesempatan untuk membawa Beatrice kembali pada keluarganya, terutama sang ibunda, telah habis.
Sans, Beatrice, dan Yudai hanya terdiam menyaksikan Oya telah pergi, menjauh hingga seakan menghilang dari pandangan. Sebuah keberhasilan bahwa Beatrice sudah boleh tinggal di akademi dan bebas dari tuntutan kenalan keluarganya.
“Beatrice.” Sans menatapnya merautkan wajah.
Beatrice mengangkat kepalanya. “Terima kasih, Sans, Yudai.”
Yudai menyeringai ikut senang. “Yang penting, kamu tetap tinggal di sini. Kamu tetap menjadi murid Akademi Lorelei!”
Sans menjawab halus, “Aku lega. Kamu tidak harus pulang dengan pelayanmu itu.”
Beatrice akhirnya membuka mulut menonjolkan gigi, melebarkan senyumannya. Senyuman itu membuat dirinya seperti seorang malaikat suci di hadapan Sans dan Yudai, menonjolkan kecantikan tanpa noda.
“Ah! Benar! Kita belum memberi makan bayi phoenix itu!” Yudai mulai buyar seraya mengingatkan. “Ingat air mata phoenix tadi, jadi ingat bayi phoenix yang kita pelihara juga.”
“Tapi aku juga lapar. Aku ingin makan di kedai, menikmati roti segar,” keluh Beatrice, “untuk merayakan yang tadi.”
“Lebih baik beri makan bayi phoenix dulu. Kasihan dia sudah menunggu kita untuk memberi makan.”
Menatap Beatrice dan Yudai terlebih dahulu meninggalkan gerbang utama akademi menuju sebuah tempat rahasia, Sans merasa lebih lega dan bangga. Melihat Beatrice tetap berada di akademi telah menjadi kenyataan untuk sekarang.
Mengingat ucapan Beatrice tadi, ia berpikir memang tidak sendiri untuk berjuang mencapai sebuah tujuan. Semuanya di Akademi Lorelei berjuang keras untuk mencapai tujuan masing-masing. Pada saat yang sama, ia dan seluruh temannya, terutama Beatrice, Yudai, Neu, Tay, dan Sierra, akan saling membantu untuk menjadi lebih kuat dan siap untuk meraih mimpi masing-masing.
Perjuangan untuk meraih mimpi, yaitu menyembuhkan penyakit ibunya, masih terus berlanjut. Dimulai dari menunggu peluangnya untuk mendapat air mata phoenix, terutama mengembangkan sebuah faktor dari dalam dirinya.