
“Aku pulang.”
Kalimat pertama yang terucap dari bibir Beatrice memicu bulu kuduk teman-temannya merinding. Sebenarnya, rumah Beatrice berada di Beltopia. Menganggap ibu kota kerajaan Anagarde sebagai kampung halaman sungguh asing.
Yudai menjadi satu-satunya yang memahami perasaan Beatrice. Ia menganggap Beatrice telah menjadikan kota itu, lebih tepatnya Akademi Lorelei, sebagai rumah kedua, sama seperti dirinya.
Pasir putih dan kesibukan setiap kru kapal dan nahkodanya yang sudah mulai sepi ketika langit sudah memancarkan warna jingga menandakan jam malam akan segera dimulai, jam malam sesuai kebijakan baru akademi. Semenjak mereka baru saja tiba kembali, jam malam itu tidak berlaku untuk mereka.
Meninggalkan pantai dan menyeberangi jalan bebatuan, jalan masuk menuju ibu kota, atmosfer langsung seperti menampar ingatan. Kerinduan akan keramaian kota pada sore hari, apalagi jika melewati alun-alun yang terdirikan berbagai penduduk bercengkerama, seperti meledakkan perasaan.
“Sudah sekitar dua minggu,” Lana berkomentar, “tetap saja rindu jadi seperti terobati.”
“Bagiku biasa saja.” Ruka melirik sekeliling, memperhatikan tidak ada satupun yang berubah situasinya. “Kita hanya tinggal menyeberangi hutan kecil dan jembatan menuju halaman depan akademi, dan kehidupan seperti biasa kembali lagi. Melelahkan.”
Beatrice melebarkan bibirnya dapat kembali lagi ke ibu kota. Ia girang akan kembali lagi untuk menggapai tujuannya, kembali ke Akademi Lorelei sebagai langkah pertama untuk kembali melihat dunia luar. Namun, ia juga memperhatikan Neu masih tidak ada. Mungkin jika Neu kembali dengan selamat, mungkin hal itu akan menjadi sebuah keajaiban. Sayangnya, keberadaan Neu sama sekali tidak diketahui.
Selesai menyusuri hutan kecil, jembatan, dan halaman depan kastel. Kelima royal guard pendamping, termasuk Irons dan Tatro menghentikan langkah saat seluruh murid telah berdiri di hadapan gerbang utama. Pihak murid pun berbalik tercengang menatapi kelima royal guard itu memutuskan untuk tidak masuk lewat akademi.
Tatro membuka suara, “Dengar. Ka-kami … ingin berterima kasih pada kalian semua. Kami tidak menyangka kalian adalah calon petualang yang hebat. Begitu kalian lulus dari akademi, kami percaya, masa depan kalian cerah.”
Irons menyindir perkataan Tatro, “Kalau bicara jangan setengah-setengah.”
Riri pun mendekati kelima royal guard itu. “Kami juga ingin berterima kasih. Kalian sudah membantu kami selama perjalanan. Kita semua menyelamatkan Beatrice dan membawanya kembali ke sini. Jujur saja, aku ingin bertemu kalian kembali setelah ini.”
Zerowolf juga menambah, “Aku harap aku bisa melihat kalian berlatih. Tapi sayangnya kita justru tidak boleh masuk ke area kerajaan.”
“Aku dan Sans pernah masuk ke sana, hanya saja royal guard menyuruh kami pergi,” keluh Yudai.
Tatro sedikit tertawa dan berdehem. “Kalau ada waktu luang, nanti kami akan lihat kalian berlatih. Untuk sekarang, tampaknya kami akan kembali sibuk sebagai royal guard, meski pangkat kami belum memperbolehkan kami melayani raja secara langsung. Ya, kami awalnya meremehkan kalian hanya karena status.”
Ruka sinis menganggapi, “Sudah, apa kalian mau langsung kembali? Sudah sore lho.”
“Tatro,” panggil Irons membujuknya untuk segera hengkang.
Tatro mengangguk dan mulai berbalik sebelum berbelok berkeliling bersama keempat rekannya. “Nah, nanti kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa.”
Pihak murid juga ikut pamit, Katherine dan Lana sampai melambaikan tangan menyaksikan kelima royal guard pendamping itu berbelok mengitari kastel untuk menuju pintu masuk tepat menuju kerajaan.
Sandee menghela napas. “Dasar. Lain kali mereka harus lebih sopan pada saat pertama kali bertemu.”
Zerowolf kembali menggoda, “Apa? Jangan-jangan kamu ini … menjadikan mereka sebagai panutan?”
Sandee memalingkan wajah. “Jangan bercanda! Mereka tidak cocok menjadi panutanku. Aku tetap ingin menjadi royal guard yang lebih berwibawa, lebih patuh pada peraturan, dan juga … bekerja keras untuk naik pangkat!”
“Nah, naik pangkatnya seperti apa? Mau cara bersih atau kotor?”
“Tentu saja cara bersih!”
Riri pun terlebih dahulu mendorong pintu utama akademi. “Nah, kita kembali seperti biasa.”
Saat pintu terbuka lebar, seluruh murid yang masih bercengkerama di ruang depan akademi langsung menoleh pada mereka, terutama pandangan tertuju pada Beatrice yang baru saja kembali setelah sekian lama.
Sans dan Yudai tertegun, sudah kurang lebih dua minggu mereka tidak berada di akademi untuk menjalankan misi khusus dari Hunt, mereka dan seluruh temannya sudah mendapat pusat perhatian.
“Astaga, Beatrice!” sahut berbagai murid perempuan yang menghampiri, mulai dari samping, dari dekat pintu menuju aula, hingga yang menuruni tangga.
“E-eh? Ada apa ini?” sahut Zerowolf.
Katherine sampai tertegun dan kewalahan mendapati kerumunan murid menghampiri dirinya dan seluruh temannya. Ketegangan kembali memenuhi hatinya, sampai-sampai pipinya memerah tidak mampu menahan malu.
“T-tunggu, kenapa semuanya? Padahal kita baru saja kembali,” sahut Sandee.
Tay membuang muka kembali. “Tidak ada yang perlu dirayakan kan saat murid kembali setelah waktu yang lama.”
Satu per satu murid perempuan menanyakan pada Beatrice, terutama tentang kondisinya. Seperti kerumunan murid yang ingin menghampiri profesor idolanya, satu per satu pertanyaan terbendung dan menjadi satu, suara pun bercampur tidak beraturan.
“Stop!” sahut Riri tegas. “Satu per satu! Ada apa kalian sampai berkumpul menghampiri kami semua? Dan benar, orang yang kalian incar, Beatrice, baru saja kembali semenjak bootcamp berakhir.”
Salah satu murid perempuan itu menjawab secara berani, “Syukurlah. Kami dengar teman kalian yang satu ini—” ia menunjuk Beatrice, “—diculik oleh keluarganya sendiri. Lalu kami dengar dia dipaksa menikah dengan Earth.”
Salah satu murid laki-laki melanjutkan, “Kami kaget Earth terlibat dengan keluarga Beatrice sampai menculik segala. Saat kami dengar Earth ditangkap dan masuk penjara, kami tidak percaya, sangat tidak percaya.”
Semuanya terdiam mendengar kabar tersebut. Earth telah masuk penjara karena terlibat melakukan penculikan. Tidak ada satupun yang menyangka Earth telah kembali digiring ke ibu kota.
“Dia akan disidang besok. Kemungkinan besar dia akan dikeluarkan karena tindakannya."
Dikeluarkan. Akademi Lorelei sudah menganggap serius sebuah tindakan kriminal seperti itu. Tidak heran, akademi dan kerajaan memang terintegrasi. Tidak ada satupun yang ingin menyaksikan muridnya telah melakukan tindakan yang tidak mengindahkan nama baik, apalagi saat masalah Royal Table masih berlangsung.
***
“Ah! Kembali ke rumah!” Zerowolf menyahut sebagai reaksi ia kembali menapakkan kaki di gedung asrama, terutama setelah menuruni tangga menuju lounge room yang telah ramai dengan murid-murid bercengkerama.
Sekali lagi, murid-murid lain di sekitar mereka menoleh pada Beatrice, seakan ia menjadi pusat perhatian. Berkat kabar angin bahwa Earth akan menjalani sidang, ia menjadi bahan buah bibir.
Sans memperhatikan beberapa murid laki-laki justru jengkel sampai menyipitkan mata pada Beatrice. Ia menebak mereka adalah entah teman dekat atau penggemar Earth yang sudah menjadi panutan berwibawa. Tidak diragukan lagi, Earth memang murid ber-job knight yang hebat.
“Aku ke kamar duluan saja.” Tay segera memisahkan diri untuk menaiki tangga.
Lana sampai bersimpati. “Kasihan sekali. Dia pasti kesepian sudah lama semenjak Neu menghilang. Lebih tepatnya diculik Royal Table.”
“Sayangnya kita tidak tahu di mana keberadaannya,” tanggap Sandee.
Zerowolf mengangguk setuju. “Benar. Kita tinggal bilang saja kalau pelakunya sudah ketahuan. Lalu … dia justru menghilang begitu saja. Kita juga tidak tahu keberadaannya.”
Sandee memalingkan wajah sejenak, masih terpikir teman sekamarnya selama ini adalah seorang pengkhianat. Katherine memperhatikannya, ingin sekali mengutarakan isi pikirannya, tetapi ia tekan dalam hati, ragu bahwa ia akan menyinggung.
Beatrice juga merasa iba, tidak tega melaporkan Sierra pada pihak akademi, terutama Arsius selaku kepala akademi. Ia tidak mau sampai berkhianat pada temannya sendiri meski menganggapnya seorang penjahat.
Riri membuka suara, “Untuk sekarang kita istirahat dulu. Kita semua lelah dengan semuanya. Besok kita coba laporkan semuanya pada Profesor Arsius. Lagipula dalam kurang lebih dua minggu, kita juga akan mengikuti ujian akhir semester.”
Ujian akhir semester. Mereka benar-benar lupa. Ujian akhir semester pada semester ini akan menentukan masa depan mereka di akademi, apakah mereka berhak tinggal. Jika mereka gagal memenuhi kriteria nilai kelulusan, mereka akan dikeluarkan. Mengingatnya saja sudah cukup ngeri.
Apalagi Yudai yang menatap Sans. Sahabatnya yang berstatus murid tanpa job dan bermantel putih itu juga dalam zona berbahaya. Pada saat yang sama, ia juga yakin Sans dapat bertahan karena perkembangannya. Bahkan Dolce saja takjub dengan Sans hingga rela meluluskannya.
Beatrice menggeretakkan gigi karena ia tertinggal banyak sekali materi selagi ia berada di Beltopia sebagai korban penculikan. Ia tidak tahu harus mulai belajar dari mana, apalagi statusnya sebagai song mage lebih tinggi daripada murid-murid lain.
Terlebih lagi, Neu masih menghilang. Mereka khawatir ia tidak akan sempat mengikuti ujian dan berakhir dikeluarkan. Itulah kenapa mereka harus mencari keberadaan Neu.
Suara entakkan kaki cukup banyak pada tangga menuju lounge room sontak membongkar lamunan mereka. Seluruh murid yang masih bercengkerama menghentikan seluruh aktivitas dan menoleh pada kerumunan royal guard.
“Astaga! Itu Profesor Alexandria!”
“Apa yang dia lakukan bersama para royal guard itu?”
“A-apa-apaan ini?”
Sans langsung tertegun saat menatap di antara barisan para royal guard dan Alexandria. Menatap sosok yang menundukkan kepalanya itu, ia langsung tertegun, gemetar. Situasi terburuk yang pernah ia bayangkan sudah terjadi di hadapannya.
“Sans.” Sosok itu adalah Duke yang telah mengangkat kepalanya. “Maafkan saya.”
“Apa?” Riri menoleh pada Sans, tidak kalah kaget.
“Ja-jangan-jangan.” Yudai juga sudah tahu situasi tersebut. Ia melirik Sans, sahabatnya, yang dalam bahaya, apalagi di hadapan Alexandria dan para royal guard.
“A-apa maksudnya ini, Sans? Apa yang Profesor Duke bicarakan?” Mata Beatrice mulai berkaca-kaca.
Berbagai murid di sekitar lounge room mulai mengalihkan percakapan dan menunjuk Sans. Topik bahwa Sans sebagai murid mantel putih dan dihampiri oleh Alexandria dan para royal guard seakan membenarkan stereotipe murid tanpa job tidak akan bertahan lama dan akan dalam masalah. Mereka bisa menebak mengapa Sans menjadi incaran Alexandria, tetapi mereka juga bertanya-tanya mengapa baru saat ini.
“Sans, akhirnya kamu kembali juga setelah mendapat surat izin dari Profesor Hunt untuk sebuah misi.” Alexandria sampai berkacak pinggang. “Selama kamu sedang di luar kota bersama teman-temanmu, saya sudah mendapat informasi dari Profesor Duke.”
“Oleh karena itu, kamu dan Profesor Duke ditangkap sebagai tersangka utama mata-mata dari Royal Table, dan yang paling penting, kalian juga telah melanggar satu lagi aturan di akademi ini.
“Sans, kamu selama ini telah mempelajari alchemist dari Profesor Duke,”
Seluruh temannya langsung melongo tidak percaya. Sans telah mempelajari alchemist selama ini. Tidak ada satu pun yang menyangka bahwa Sans, setelah tidak lulus aptitude test dan menjadi murid tanpa job, telah melakukan sesuatu yang ilegal, melanggar larangan dari Alexandria, salah satu profesor yang paling ditakuti dan dibenci.
“S-Sans? Ka-kamu?” ucap Zerowolf.
“Alchemist?” lanjut Riri.
“Ti-tidak mungkin ….” Beatrice tidak ingin percaya, apalagi setelah ia kehilangan Sierra sebagai temannya. Ia tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa kedua temannya adalah pengkhianat.
Alexandria memberi perintah pada dua royal guar**d di barisan terdepan. “Bawa dia.”
Dua royal guard itu menarik kedua tangan Sans dan seakan mengikatnya agar tidak bisa lolos. Mereka berbalik dan menggiring Sans masuk ke dalam barisan para royal guard.
Sans melirik ke belakang, napasnya ia buang, mendesah. Rahasia terbesarnya telah terbongkar di hadapan seluruh temannya. Ia yakin temannya bukan hanya terkejut, tetapi juga kecewa telah mengetahui dirinya mengambil jalan pintas untuk bertahan di Akademi Lorelei sebagai murid bermantel putih.
Terlebih lagi, bisik-bisik dapat ia dengar selagi ia digiring menuju tangga keluar dari gedung asrama. Berbagai stereotipe dan desas-desus seakan menjadi benar.
“Tuhkan. Dia pasti akan dikeluarkan.”
“Akhirnya dia tertangkap juga.”
“Sudah kuduga ada sesuatu di balik perkembangannya. Tidak mungkin murid bermantel putih seperti dia dapat berkembang di sini.”
Sans kembali menatap ke depan, pandangannya seperti sebuah lensa yang telah terpecah berkeping-keping, sama seperti mimpinya untuk tetap berada di Akademi Lorelei dan lulus. Ia hanya bisa pasrah dan menundukkan kepala.
Melihat Sans meninggalkan gedung asrama di antara kerumunan royal guard bersama Alexandria dan Duke, seluruh temannya masih terdiam tidak percaya sama sekali.
“Ka-Ka-Kakak ….” Lana sampai berlutut di lantai. “Se-selama ini—"
“Di-dia … berani mengabaikan larangan Profesor Alexandria.” Zerowolf meringis tidak ingin menerima. “Kenapa? Kenapa? Dia juga seorang mata-mata Royal Table!”
Riri membantah, “Aku yakin dia bukan orang yang seperti itu!”
Bantahan Riri memicu Zerowolf mengangkat kepalanya kembali.
“Mana mungkin Sans yang sudah mati-matian bekerja keras sebagai murid bermantel putih adalah mata-mata. Aku percaya dia bukan pelakunya juga. Aku percaya dia tidak terlibat seperti Sierra. Tapi … menjadi alchemist, a-a-aku … masih tidak percaya. Dia berani melanggar aturan yang dapat membuatnya dikeluarkan.”
Yudai kembali memalingkan wajah, ia mendesis meratapi nasib Sans sebagai murid Akademi Lorelei sedang dalam bahaya. Ia juga hanya satu-satunya yang tahu Sans adalah alchemist.
“Bodoh sekali.” Sandee menyentuh keningnya. “Selama ini dia berkembang hanya karena menjadi alchemist. Sangatlah bodoh.”
Beatrice kembali menutup muka, tidak tahan ingin melampiaskan segalanya. Tangisannya pun meledak, ia kehilangan dua teman dekatnya.
“Beatrice.” Yudai sudah tidak tahu lagi bagaimana menenangkan Beatrice, apalagi bereaksi atas penangkapan Sans. Terlebih lagi, ia juga mendengar berbagai omongan murid lain yang sama sekali tidak bersimpati.
Semuanya telah menjadi bencana menjelang akhir semester.