Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 153



Pertarungan kedua. Giliran Sandee yang maju. Ia telah menggenggam halberd-nya seraya bersiap. Dipandangnya lawannya, Tatro, yang tengah memutar tombak hanya mengunakan satu tangan, entah hanya untuk pamer atau sama-sama bersiap.


Melihat wajah Tatro, Sandee sampai menggeretakkan gigi, apalagi menatap juluran bibir ke atas. Ia menatap upaya sang lawan untuk merayu sebagai sebuah penghinaan, penghiaan harga dirinya sebagai seorang perempuan. Memang benar sangat jarang murid perempuan seperti dirinya memilih job royal guard.


“Kalahkan si perempuan royal guard jadi-jadian itu!” sahut salah satu teman Tatro, membenarkan dugaan Sandee. “Patahkan semangatnya sebelum ia bergabung dengan kita, apalagi lulus!”


“Buktikan royal guard hanya untuk laki-laki kuat seperti kita!”


Lana menganggapi ejekan para royal guard itu. “Aaaah … misoginis sekali.”


Zerowolf justru menyindir, “Heh, kamu dengar kata mereka? Apa kamu ingin menyerah begitu saja? Membiarkan kita semua diperbudak?”


Sandee kembali menggeretakkan gigi. “Lebih baik kamu diam dan saksikan saja! Aku tidak sudi kalah pada royal guard ingusan itu, apalagi menyerah.”


“Kamu bilang aku ini ingusan ya? Beraninya dirimu.” Tatro mengangkat tombaknya, mengarahkan mata tombak tajamnya pada Sandee seakan bersiap untuk “menembak”. “Siapapun yang kalah, dia yang ingusan.”


Sandee ikut mengangkat halberd-nya. “Kita lihat saja nanti.”


Seorang kru yang mengengahi pertarungan itu memberi aba-aba, tangannya ia turunkan cukup kencang sebelum berjalan mundur. “Mulai!”


Sandee dan Tatro mulai mengambil momentum untuk melesat, mengedepankan senjata masing-masing, bersiap untuk menyerang.


***


“Perempuan sepertimu ingin menjadi royal guard?”


“Jangan bercanda! Royal guard itu untuk laki-laki yang lebih gagah! Perempuan sepertimu lebih baik mengerjakan tugas rumah saja.”


“Hanya karena dirimu melihat royal guard berkunjung dan melindungi kota dari penjahat, bukan berarti kamu harus menjadi seperti mereka, bukan?”


Sering sekali Sandee mendengar ocehan dari teman laki-lakinya sejak kecil tentang cita-citanya. Mimpinya, bagi mereka mustahil untuk terwujud hanya karena ia seorang perempuan. Berbagai stereotipe royal guard sudah mendarah daging pada pola pikir kebanyakan orang.


Sandee pun sempat berpikir ulang untuk menjadi royal guard. Semakin ia memikirkan ujaran dari teman-temannya itu, semakin terluka hatinya pula. Akan tetapi, ia tahu menjadi seorang royal guard merupakan peluangnya untuk mengangkat martabat keluarganya yang biasa-biasa saja.


Ia tetap bersikukuh untuk mendaftarkan diri ke Akademi Lorelei demi menjadi royal guard, meski banyak rintangan yang akan menantinya. Ia juga bahkan berjanji pada keluarganya bahwa ia akan menjadi royal guard dalam empat tahun.


***


Terpicu oleh masa lalunya sendiri, Sandee mengeratkan genggaman halberd-nya memicu momentum tenaganya meledak saat bergerak. Seakan sedang menggunakan pedang, ia menubrukkan mata halberd nan tipis pada bagian tajam kepala tombak milik Tatro.


Tatro pun membalas dalam menangkis serangan sekaligus mengayunkan tombaknya. Ia ingin sekali mendorong lurus tombaknya, akan tetapi, serangannya selalu bertubrukkan dengan halberd milik Sandee. Ia pun menyadari, lawannya itu tidak bisa ia anggap remeh.


“Kamu lumayan juga. Tapi bisakah kamu bertahan lama melawan aku yang lebih berpengalaman ini?” sindir Tatro.


“Hebat juga,” ucap Yudai, “aku belum pernah melihatnya bertarung sama sekali.”


“Paling tidak aku hanya ingat saat kita sedang mencari Sierra,” komentar Sans, “caranya dalam mengendalikan halberd-nya sungguh menakjubkan.”


“Tentu saja, Kakak!” sahut Lana. “Itu berkat aku sering berlatih dengannya saat waktu luang. Sering sekali kulihat, kemampuannya ber-halberd-nya itu sungguh anggun.”


Ruka membalas sinis, “Kamu bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana maksud dari anggun-nya pergerakan Sandee, bukan?”


Sandee kembali melesat mendekati Tatro, ia luncurkan genggaman halberd-nya sekali lagi, segala penjuru ia targetkan. Seperti menusuk menggunakan pisau, ia cukup cekatan dalam mendorong genggaman halberd-nya.


Tatro justru bergerak cukup cepat, seakan ia dapat melihat arah ujung halberd Sandee menembus bagian tubuhnya. Berurutan, dari pipi, leher, lengan, hingga pinggang. Ia bergeser dan mengerem sambil berbelok menghadap sisi kiri lawannya itu.


Sandee sampai tercengang hingga ia menangkis serangan balasan Tatro. Ujung kedua senjata pun tertubrukan. Akan tetapi, responnya dalam bertahan cukup lambat dalam menandingi kecepatan ayunan tombak itu.


Tatro pun akhirnya mendekat, membuatnya tercengang hingga bagian belakang kaki kirinya tersandung. Ujung tombaknya juga mencapai bagian dada Sandee, sampai mengiris lapisan kemeja.


“Uh!” Sandee terburu-buru mundur dan menutupi irisan horizontal pada kemeja putihnya, hampir mengenai kancing. Ia sudah tahu pasti royal guard akan terfokus pada bagian tersebut, terutama Tatro.


“Kenapa?” Tatro memprovokasi, “kamu sampai malu kalau bagian itumu akan terlihat? Mau menyerah karena malu?”


Sandee menggeretakkan giginya lagi. “Aku tidak sudi menyerah pada royal guard rendahan sepertimu!”


Sandee kembali memasang posisi kuda-kuda, kaki kiri di belakang menyiapkan momentum untuk kembali meluncur. Genggaman halberd-nya menguat, terpicu oleh provokasi Tatro, apalagi setelah mendengar satu lagi.


“Tidak sudi? Sungguh, kamu bahkan tidak ingin menunjukkan belahan dadamu. Kalau kamu menyerah, kalian akan menjadi budak kami sepenuhnya selama perjalanan.”


Amarah pun mendidih, sekali lagi, ia melompat dan mengangkat halberd-nya ke atas seakan ia menggunakan pedang seperti Tay tadi. Begitu ia menapakan kaki kembali ke geladak, ujung halberd-nya lagi-lagi kembali mengenai tombak milik Tatro. Mata tajam masing-masing senjata saling bertubrukan beberapa kali, bunyi pun sampai melesat nyaring pada telinga penonton.


Sandee tetap menggeretakkan gigi, menjadikan amarah sebagai sumber tenaga dalam menyerang.  Ia sampai menjerit berusaha untuk menembus setiap celah pada Tatro.


Setiap kali ia ingin menerobos pertahanan lawannya, sering kali serangannya tertangkis tombak atau justru meleset. Gerakan Tatro jadi lebih cepat daripada dirinya, konsentrasinya seakan meleleh akibat amarah di dalam benaknya.


Lengah, dagunya terkena bagian tongkat tombak milik Tatro. Hampir saja bagian ujung mengenai kulit, hampir. Bagian kayu tombak itu juga menggesek tulang hidungnya.


Tak hanya terlempar hingga bokongnya terbanting pada geladak menuju posisi duduk, nyeri juga menggelegar pada bagian tulang hidung, memicu mengalirnya darah. Telunjuk kirinya ia dekatkan pada luka itu seraya menahan nyeri.


“Ini kesempatanmu untuk menyerah daripada babak belur.” Lagi-lagi Tatro melakukan provokasinya.


Sandee tetap tersinggung atas provokasi royal guard itu. Ia tidak mau dianggap rendah oleh sekelompok royal guard yang memusuhi dirinya dan teman-temannya. Kalau ia menyerah, ia akan mengecewakan seluruh teman-temannya yang tengah menjalani misi ke Beltopia untuk menjenguk Beatrice. Ia tentu tidak sudi menjadi budak para royal guard itu.


Jangan menyerang karena kamu benci! Seranglah karena kamu ingin menang!


Peringatan dari Alexandria waktu bootcamp memicunya untuk melepaskan amarah itu. Menutup mata, ia membiarkan angin laut syahdu memadamkan api di dalam dirinya.


“Hei! Apa yang kamu lakukan!” ucap Tatro, “kamu akan menyerah?”


Sandee menempatkan tangan kiri pada lantai sebagai tumpuan untuk bangkit kembali. Genggaman halberd-nya kembali mengerat. Tidak ada lagi amarah, hanya konsentrasi mengalir syahdu pada benaknya, seperti aliran sungai.


“Begitu.” Tatro kembali menantang.


Sandee kembali melesat, kali ini menggunakan dua tangan dalam menggenggam halberd-nya. Begitu mendekati Tatro, ia menubrukkan halberd-nya pada tombak lawannya itu berkali-kali. Ia perlahan mengimbangi kecepatan ayunan tombak hingga memicu bunyi saat bertubrukan, sampai menggesekkan halberd-nya ke atas mata tombak hingga mengempas kendali lawannya itu.


Tatro melongo sejenak, tidak percaya lawannya telah berkutik dalam sekejap membalas serangan. Ia segera membuyarkan reaksinya dan kembali mengayunkan tombaknya dan menubruknya pada halberd milik Sandee.


Kedua petarung itu sungguh membara dalam mengayunkan senjata masing-masing. Hal ini memicu Tatro berputar dan melesatkan dorongan tombaknya.


Sandee pun menyingkir begitu mata tombak milik Tatro meluncur menuju bagian bahu kirinya. Cukup cepat dalam bergeser dan kembali menapakkan kedua kaki pada lantai hingga memicunya untuk melancarkan balasan.


Mereka kembali menubrukkan senjata masing-masing. Mata tombak dan halberd kembali bertubruk kencang. Akan tetapi, kedua lawan menggunakan tenaga demi mendorong senjata dan menggeretakkan gigi.


Tatro menghela napas, merasakan sesuatu yang membuatnya melotot. Sebuah nyeri telah membuyarkan konsentrasi dan tenaga.


Sandee telah menendang selangkangannya!


“Uh!” jerit Tatro hingga melepaskan tombaknya dan ambruk ke lantai akibat nyeri hebat itu.


“Ti-tidak mungkin!” Zerowolf sampai tercengang tidak percaya. “Ma-masa memang hanya karena menendang bagian itu-nya sih! Ini bukan pertarungan halberd melawan tombak yang kuharapkan! Ini bukan pertarungan yang kuharapkan!!”


Tatro sampai berguling-guling di lantai menyentuh selangkangannya menahan nyeri hebat itu.


“Ta-Tatro!!” jerit rekannya.


Tatro menepuk lantai geladak dua kali, menandakan bahwa ia telah takluk.


“Pemenangnya, Sandee!” seru sang kru.


Sandee mengusap keningnya yang penuh tetesan peluh. “Sekarang terbukti kalau aku bukan sekadar anak ingusan yang ingin menjadi royal guard.”


“Hebat,” ucap Yudai melihat kemenangan Sandee.


“AAAAH!! Ini tidak seru!!” jerit Zerowolf menepuk pinggangnya. “Benar-benar konyol! Dia kalah hanya karena itu-nya ditendang!!”


Ruka membalas sinis lagi, “Apapun caranya, sungguh, bukan laki-laki sekali dirinya.”


“Jangan menambah komentar seperti itu!!” sahut Zerowolf menekan pipi Ruka.


Sans menghela napas menatap Sandee telah memenangkan pertarungan kedua. Kini, semua tergantung kemampuan dirinya dalam pertarungan ketiga. Ia menjadi juru kunci dalam kemenangan antara murid akademi dan para royal guard.


Ia harus menang, hanya itu. Hanya itu yang dapat menyelamatkan dirinya dan teman-temannya dari perbudakan para royal guard selama perjalanan berlangsung.


Ia menarik napas, menatap dua orang royal guard menuruni tangga demi menggiring Tatro. Pada saat yang sama, Sandee juga telah menaiki tangga dan menghampiri.


“Tadi itu hebat, Sandee!!” Lana memuji. “Kamu bisa mengalahkan royal guard sehebat mereka.”


“Ya, hanya menendang itu. Mungkin kamu beruntung kemejamu tidak sobek sampai menunjukkan—”


Belum selesai Zerowolf berbicara, ujung halberd milik Sandee sudah hampir menyentuh kulit lehernya.


“Jangan bicara atau kutusuk lehermu dengan halberd-ku.”


Giliran Riri yang menyahut, “Kalian ini, hentikan!”


Sans melirik royal guard yang akan menjadi lawannya, seorang pria berambut cokelat muda pendek, beralis tebal melengkung, berlengan besar, dan berbadan tinggi atletis. Dipandangnya tepat pada wajah, pria itu bisa dibilang dingin, sangat dingin dan kalem. Matanya seperti selalu melihat ke bawah.


Sans pun menelan ludah menatapi pria itu, apalagi saat menemui Tatro.


“Kenapa kamu lengah sampai selangkanganmu ditendang?”


Pertanyaan itu cukup menggetarkan Tatro sampai menelan ludah.


“A-a-aku … terlalu meremehkan murid gadis royal guard itu, Irons.”


“Memangnya dengan sombong seperti itu, pertahanan bagian bawahmu jadi lemah?”


Keempat royal guard  itu seperti tercekik mendengar pertanyaan dari Irons. Seakan-akan bongkahan es menubruk mereka dari atas hingga tidak berkutik.


Seorang kru kapal penengah pertarungan turut memanggil, “Dua orang yang akan bertarung terakhir harap ke bawah!”


Mayoritas dari teman Sans menelan ludah. Mereka sudah tahu, terdapat peluang besar Sans akan kalah melawan Irons, mengingat dirinya berstatus tanpa job dan bermantel putih. Yudai dan Riri menjadi dua orang yang yakin Sans dapat mengubah keadaan.


“Kamu pasti bisa, Sans.” Yudai menepuk pundaknya.


“Berjuanglah,” tambah Riri.


Sans hanya mengangguk sebelum menuruni tangga menuju lantai geladak bawah yang menjadi arena pertarungan. Ia mengambil belatinya dan menggenggamnya kuat, mengingat dirinya menjadi penentu terakhir. Ia sudah mengajukan diri dalam pertarungan terakhir, mau tidak mau, ia harus membuktikan dirinya benar-benar layak menjadi lebih kuat dan juga mematahkan ekspektasi sebagai murid bermantel putih. Ia sudah lebih berkembang selama ini, selama kurang lebih sepuluh bulan terakhir. Aptitude test, misi, pertarungan melawan Dolce selama ujian akhir semester, Festival Melzronta, field trip untuk membuat gauntlet, dan bootcamp. Semua ia sudah lewati.


“Oh ya.” Irons memanggil seorang kru yang juga mengawasi pertarungan dari bangku penonton. Ia pun meminta sesuatu.


Kru itu memberikan barang yang ia minta. Sampai-sampai, keempat rekannya juga ikut tertegun. Mulut terbuka lebar, seperti kilat menusuk bagian kepala.


“Kalian lihat saja.” Irons akhirnya menuruni tangga.


Saat di bagian bawah geladak kapal, Sans memperhatikan Irons telah menghentikan langkah begitu berada sedikit lebih dekat darinya, tatap muka.


Melihat bagian tangan kanan, sebuah belati. Tertegun, tapi bagi Sans, tidak ada waktu. Ia hanya harus fokus. Ia memundurkan genggaman belatinya.


“Tunggu,” Zerowolf berkomentar, “itu gauntlet, kan? Yang dipakai Sans? Aku belum pernah melihat dia memakainya.”


“Ya.” Sama sekali tidak menyangka, sampai tercengang Riri dan Yudai menjawab secara bersamaan.


“Tu-tunggu, itu yang dipegang royal guard itu belati?” tunjuk Lana.


“Belati!” Yudai seakan membeku. Ia langsung teringat saat ujian akhir semester lalu, saat Dolce menggunakan belati dalam melawan Sans. Seperti terulang lagi, kali ini di atas kapal alih-alih di sebuah ruangan di kastel akademi. Kepalan tangannya menguat, berharap agar Sans mampu mengalahkan Irons tidak seperti sebelumnya.


“Menanglah, Sans,” ujar Sierra.


Ruka hanya terdiam. Matanya sampai berbinar-binar menyaksikan Sans akan kembali bertarung melawan lawan yang kuat, lebih kuat, melebihi kemampuan. Wajahnya seakan berkata sangat, sangat menarik. Tidak seperti biasanya. Tay bahkan sampai meniup udara menatap gadis sinis itu.


Sans menghirup napas, ingin menenangkan diri sebelum bertarung. Ia akhirnya mengedepankan genggaman belatinya.


Ia mungkin tidak bisa mengalahkan Dolce waktu ujian akhir semester, mungkin ia dapat mengalahkan Irons kali ini.