
“Cherie, aku tidak gila.”
Memasuki hari kelima musim panas, Neu telah mencatat segala detail yang ia lihat dalam mimpinya semenjak ia mengunjungi sebuah tavern terpencil di pantai ibu kota. Semua tulisannya tertata rapi menjelaskan secara singkat detail sebuah tempat di tavern tersebut.
Ia mengetes pembicaraannya di hadapan Cherie, yang sayang tidak melakukan apapun selain tidur di mejanya. Ia menghela napas, menguji intonasi saat berbicara, dan memilih kata-kata tepat agar kalimatnya semeyakinkan mungkin, dapat terpercaya.
Segala ketidakkukuhan di dalam hatinya membuat bimbang, memikirkan ia mengatakannya pada teman-teman, terutama Sans, Beatrice, dan Yudai. Terpikir respon tidak percaya dan langsung mengelak begitu saja.
Ia membuang napasnya sekali lagi dan mencoba kembali untuk mengungkapkan segala yang ia lihat dalam mimpi. Segala kebimbangan telah keluar selesai ia mengungkapkannya lancang.
Ia mengangguk kembali, memastikan kebimbangannya telah tersapu dari benaknya dan embusan angin semu menghiasinya. Dipungutnya Cherie menggunakan telapak tangan kiri dan diletakkannya pada bahu kiri. Ia berpaling menuju pintu keluar dan membukanya.
Saat ia mencapai tangga, dilihatnya Sans, Yudai, dan Beatrice menaiki tangga menuju pintu keluar gedung asrama. Ia langsung mempercepat langkah dalam menuruni tangga memasuki lounge room.
Sayangnya, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menyahut, mereka bertiga sudah terlihat keluar dari gedung asrama. Hanya dirinya yang berada di tengah-tengah lounge room. Perapian masih berkobar, terlebih jendela menunjukkan sudah mencapai batas dalam memancarkan warna oranye di balik warna hitam.
Ia tidak peduli dengan itu, tidak ingin repot-repot memanggil yang lain, terutama Zerowolf, Riri, dan Katherine, dari kamar masing-masing. Sudah terlintas keinginan untuk mengatakan segalanya pada Sans, Beatrice, dan Yudai terlebih dahulu. Sementara Tay, ia pikir rival bebuyutannya akan terlebih dahulu skeptikal, terlebih ia tidak tahu Tay sedang berada di mana.
Maka, ia berlari menaiki tangga, ingin menyusul Sans, Beatrice, dan Yudai. Ia memutuskan untuk mengintai secara diam-diam.
***
“Profesor Duke? Tunggu!”
Sans memergoki Duke telah menutup pintu ruang pribadinya secara rapat, tergesa-gesa dalam meninggalnya. Ia mengubah langkah jalan menjadi sedikit berlari menghampiri mentornya itu.
“Oh, ternyata kalian. Ma-maaf aku tidak bisa berbicara sekarang. Saya harus menghadiri urusan penting.”
Beatrice menebak, “Soal Royal Table itu kan?”
“Po-pokoknya bukan urusan kalian. Sekarang permisi—”
Yudai memotong permintaan Duke, “Kenapa Anda selalu menjawab bukan urusan kami? Selalu saja kami bertanya soal Royal Table, Anda terus mengelak.”
Duke seperti membeku mendengar pernyataan dari Yudai. Kedua kakinya seakan menjadi patung.
“Ternyata benar dugaanku,” Yudai memastikan.
“Memang benar.” Duke menoleh sejenak. “Pihak royal guard bilang mereka sudah menemukan markasnya. Semalam, mereka ke sana. Sekarang, giliran saya, meski saya tahu pihak kerajaan dan akademi tidak akan mengizinkannya. Kalian tidak perlu ikut, terlalu berbahaya.”
Beatrice tetap menolak, “Kami tetap ingin bertemu dengan Sierra.”
“Makanya, biar kami yang menangkapnya. Biar saya saja yang ke sana,” Duke bersikukuh.
“Saya tahu di mana lokasi markasnya!”
Suara Neu di belakang membuat mereka menoleh, tertegun bahwa ia telah berdiri mendengarkan semuanya. Mereka terdiam sejenak membiarkan Neu menghampiri.
Ia mengangkat catatannya dan membuka halaman di mana ia menulis segalanya dari dalam mimpi. “Berkat mimpi yang sering saya alami selama lima hari terakhir ini, saya bisa memastikan di mana tempat persembunyian, atau bisa dibilang markas besar Royal Table.”
Duke berbalik mengambil catatan tersebut. Setiap kata di dalam semacam bentuk seperti diagram atau desain memicunya membelalak. Akurat, sangat akurat menurutnya dalam mendeskripsikan lokasi markas tersebut.
“A-apa kamu serius?” Duke bertanya pada Neu.
“Saya dikurung di sana berhari-hari, dan saya lolos ke sini.”
“I-ini tempat yang sama di mana Royal Guard sedang menyelidiki. Tapi meski begitu, kalian masih tidak boleh—"
“Hei, seharusnya kalian tidak berada di sini!” sahut seorang royal guard berzirah yang tiba-tiba memasuki selasar ruang pribadi.
Royal guard itu merujuk pada Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu. Sudah sewajarnya bahwa murid-murid tidak diperbolehkan untuk berada di selasar ruang profesor pada malam hari, tentunya membingungkan Duke.
“Apa yang Anda maksud?” Duke mengelak. “Bukannya selama libur jam malam sudah tidak lagi berlaku?”
“Anda tidak tahu? Royal Table masih menjadi ancaman, maka—"
“Maaf,” Neu kemudian berbisik, “Cherie, ini saatnya.”
Cherie pun langsung terbangun dan melayang di udara, Ia membuka mulut dan menjerit menimbulkan suara bergema tinggi bersama dengan sebongkah cahaya pelangi bersumber dari tanduknya.
Royal guard itu melotot tidak berkutik menatap silaunya cahaya pelangi tersebut, mulutnya juga terhenti di tengah-tengah kalimat. Lama-kelamaan, ia sudah tidak bergerak, seakan menjadi patung.
“E-e-eh??” sahut Yudai.
“A-apa yang baru saja kamu lakukan?” sahut Duke. “La-lalu dia menjadi patung?”
Neu mendapati Cherie kembali ke bahu kirinya, kembali terlelap. “Tenang saja, ia masih hidup. Matanya masih bergerak, dan napasnya masih berembus. Hanya berlaku selama beberapa menit mungkin.”
“Ja-jadi … itu kekuatan Cherie selama ini?” sahut Beatrice girang.
Yudai mendekati royal guard tersebut, melihat lebih dekat. Memang benar, kedua bola mata masih bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa menggerakkan tubuh. Embusan napas juga masih terembus dari mulut.
“Baiklah, kalau itu yang kalian mau,” ucap Duke, “kalian boleh ikut. Kita akan menyusul royal guard lainnya di sana.”
“Kami sebaiknya panggil teman-teman yang lain dulu,” sambung Sans.
***
Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu pun segera bergegas dengan kembali ke asrama dan memanggil seluruh teman dekat mereka di asrama. Meski susah memasuki jam malam, mereka turut antusias mendengar bahwa lokasi markas Royal Table sudah terungkap. Sayangnya, sejauh ini hanya pihak royal guard, kerajaan, dan akademi yang tahu.
Riri, Zerowolf, Katherine, Tay, dan Ruka lah yang mereka panggil. Kelimanya mengikuti Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu agar keluar dari kastel akademi dan berkumpul di depan gerbang, tepatnya di jembatan perbatasan antara hutan utara kota dan akademi.
Zerowolf terlebih dahulu melakukan lunges secara lateral demi mempersiapkan diri, memicu Riri dan Yudai melongo menyaksikannya.
“Apa itu benar-benar perlu?” ucap Riri.
“Kita akan melawan Royal Table! Jadi harus bersiap-siap dari awal, pemanasan!” Zerowolf langsung percaya diri.
Katherine hanya berdiam diri menyaksikan Yudai di hadapannya. Lagi-lagi, ia mundur satu langkah, mengikat keraguannya di dalam hati. Ia berpikir lagi-lagi ia menjalankan petualangan atau misi bersama Yudai. Kali ini, dengan jumlah teman yang banyak. Tay, Neu, Ruka, dan Zerowolf ikut bergabung.
“Tavern yang tadi lokasinya?” Tay membuang muka. “Kurasa tidak ada yang janggal dari tavern itu. Itu hanya mimpimu saja.”
“Aku ingat betul itu tempatnya!” Neu bersikukuh.
Akan tetapi, di balik mereka, tepatnya di ujung jembatan dan di hadapan gerbang kastel, setidaknya dua orang mengintip di balik pilar jembatan, masing-masing. Begitu mereka menoleh ke arah kiri dan kanan masing-masing, mereka langsung tercengang.
“Sa-Sandee?”
“La-Lana?”
“A-apa yang kamu lakukan di sini?” Lana berbisik panik.
“Tidak ada? Kelihatannya kamu sedang mengintip!”
“Uh—” Sandee memalingkan wajah, menyangkal, “—aku kebetulan hanya lewat.”
“Hanya lewat? Masa?”
Zerowolf langsung menoleh saat keduanya terlihat dari rambut, kening, dan genggaman tangan pada dua pilar jembatan. Tanpa menahan malu, ia melambaikan tangan dan menyapa.
“Hei! Lana dan Sandee!”
Sahutan Zerowolf bukan hanya memicu getaran tubuh Lana dan Sandee sampai menelan ludah. Riri, Katherine, Tay, dan Ruka ikut menoleh pada pilar jembatan itu.
“Ah!” Beatrice ikut menyapa, “Lana dan Sandee, lama tidak berjumpa!”
Lana justru melambaikan tangan dan secara lantang menyambut sapaan Beatrice, “Halo, semuanya! Kalian sedang apa—”
“Bodoh!” Sandee menampar tangan Lana ke bawah. “Kita tidak usah tahu apa urusan mereka. Lagipula, mereka akan melanggar jam malam lagi?”
Zerowolf menggeleng dan menyindir, “Oh, lalu, kenapa kalian ada di sini? Mengintip kita? Atau jangan-jangan kalian ingin ikut kami dalam sebuah misi penting?”
“Te-tentu saja tidak!” Sandee memalingkan wajah lagi. “Misi penting apanya? Kalian hanya melanggar jam malam tahu!”
“Selamat malam!” Duke telah melintasi gerbang kastel akademi menghampiri semuanya. Sandee dan Lana turut kaget mendapati seorang profesor ikut dalam misi tersebut.
Mereka berdua tertegun mengingat Duke, sebagai seorang profesor, memang tidak seharusnya mendorong murid-muridnya untuk melanggar jam malam, apalagi untuk ikut mendampingi.
“Sepertinya sudah semua berkumpul.”
Duke mengacungkan jarinya menunjuk setiap murid yang berada di hadapannya. Mulutnya bergerak menghitung dalam suara pelan, memastikan semuanya sudah lengkap.
“Tu-tunggu!!” Sandee menginjak-injakkan kakinya. “A-aku dan Lana tidak—”
“Kita ke tavern itu, untuk menyerbu markas Royal Table.” Sayang sekali, Duke tidak menggubris komentar Sandee.
“He-hei!!” sahut Sandee lagi.
Duke mendahului ke-11 murid seakan ia menjadi ketua dari anggota sebuah tim. Ia mulai berjalan melintasi jembatan menuju hutan utara ibu kota. Seluruh murid, terutama laki-laki, sekejap menambah kecepatan agar mengimbangi Duke.
“He-hei maksudnya apa ini?” sahut Sandee ikut mengikuti langkah Duke.
Beatrice merendahkan kecepatannya agar dapat berbicara pada Sandee dan Lana. “Kalian tidak tahu? Kita akan menangkap Sierra juga. A-aku … juga ingin tahu kenapa Sierra melakukannya? Kenapa Sierra mengkhianati kita.”
Sandee terenyah mendengar penjelasan Beatrice yang bernada rendah saat mengatakan Sierra. Sebuah lamunan entah mengapa terputar kembali di dalam otaknya, terutama saat ia bersama Sierra sebelumnya.
Sebagai teman sekamar, Sierra sering sekali berpakaian elegan jika tidak memakai seragam akademi, apalagi saat akan tidur. Itu yang sering sekali Sandee lihat. Senyuman Sierra saat menyambutnya kembali ke kamar, sebagai teman sekamar, terpancar kembali.
Selalu ingin tahu apa yang Sandee lakukan dan peduli terhadap keadaan. Itulah keeleganan Sierra dalam menonjolkan pertemanan, selalu menjadi nomor satu katanya.
Sayang sekali, ia tahu semua perlakuan teman sekamar itu adalah palsu, semuanya palsu. Ia menggeretakkan gigi mengingat kenyataan tersebut. Sierra sudah mengkhianati dirinya, seluruh temannya, dan juga Akademi Lorelei.
Mengingat perkataan Tay tepat setelah terungkapnya identitas Sierra ingin sekali ia bantah. Ia ingin menganggapnya semua itu kebohongan. Hatinya teriris perih begitu saja.
Ia mengangkat kepalanya kembali. “Baik, kita akan menangkap Sierra!”
Lana memancarkan senyuman pada Sandee, semangatnya telah kembali. Ia juga memasangkan determinasi ke dalam otaknya. Terlebih saat ia menatap Sans, berbagai kilas balik bermunculan di dalam benaknya.
Mulai dari saat ujian akhir semester pertama, ia terkesima menonton kegigihan Sans melawan Dolce menggunakan belati. Pada awalnya, ia sama sekali tidak peduli dengan murid bermantel putih dan tanpa job, seperti perkataan banyak orang. Akan tetapi, pertahanan Sans terhadap Dolce yang terdengar mustahil untuk dikalahkan bahkan oleh murid tanpa job sekalipun.
Meski hampir seluruh murid berkomentar lebih baik Sans kalah melawan Dolce, kalah telak, tidak disangka-sangka, Sans mampu bertahan lebih dari yang mereka perkirakan. Cukup lama bagi standar murid bermantel putih. Bahkan Dolce juga kagum dan mengungkapkan Sans lulus ujian akhir semester karena perkembangan pesat.
Itulah saat Lana ingin menganggap Sans sebagai seorang “kakak”. Setiap hari, ia terus melamun ingin terus mendekatinya. Setiap kali ia menatap Sans, pasti ia mengubah wajahnya menjadi berseri-seri.
Itupun berubah saat terungkapnya Sans sebagai seorang alchemist oleh Alexandria. Selama dua minggu menjelang berakhirnya semester kedua, ia memutuskan untuk menjauh dari Sans, sama seperti murid-murid lain.
Akan tetapi, saat ia menatap skill original Sans, ia kembali tercengang dalam dua hal. Pertama, Sans mampu membuat skill original jika dibandingkan dengan dua murid tanpa job lainnya. Kedua, ia tahu itu adalah skill alchemist.
Menatap Sans kembali di hadapannya membuatnya tersenyum. Ia lega dapat kembali bekerja sama dengan Sans, sama seperti saat menyelamatkan Beatrice.
***
“Hei. Terbuka lebar.”
Zerowolf menunjuk pintu tavern di tepi terpencil pantai ibu kota tidak tertutup sama sekali. Heran, cukup heran, pasti ada keajaiban atau entah kenapa seseorang lupa menutupnya saat tutup.
“Bodoh sekali,” sindir Ruka.
Saat menggerakkan leher dan kepala ke depan, Yudai mendapati ruangan depan tavern itu sudah gelap, tidak ada lentera menyala membara menerangi. Ia dapat memastikannya.
Neu berbalik menatap lautan sudah membentuk gelombang cukup besar dan berulang-ulang sebagai ombak. Angin malam sepoi-sepoi juga cukup akrab seakan sedang bernyanyi.
“Tidak salah lagi. Ini dia, tavern di mana aku beristirahat setelah lolos dari markas Royal Table.”
“Kita sudah tahu,” tanggap Tay dingin.
Riri mendekati Yudai yang berdiri di hadapan pintu itu, menatap sekeliling ruangan depan tavern. Seluruh meja dan kursi sudah tertata rapi tanpa noda tak bersisa, seakan masuk ke dalam sisi meja.
“Pasti ada sesuatu.”
“Apa?” tanya Yudai.
“Tidak mungkin karyawan tavern atau mungkin anggota Royal Table meninggalkan ruangan ini begitu saja, apalagi dengan pintu terbuka.”
Sans ikut menyimpulkan, “Mungkin ada royal guard lainnya yang masuk dan menyelidiki.”
“Tapi di mana mereka? Aku tidak melihat mereka sama sekali?” Yudai menganggapi ikut melihat sekeliling.
Duke mengangguk memahami, sebelum memanggil seluruh muridnya. “Jadi, kita harus bagaimana sekarang?”
Zerowolf mengacungkan tangannya. “Tentu saja kita terobos!”
Sandee mengangguk. “Kita coba kamu masuk duluan, lalu memastikan apakah ada perangkap atau tidak.”
“Oh, tumben kamu setuju.”
Sandee memalingkan wajah membuang napas keras lagi, memalingkan wajahnya dari seringai Zerowolf. “A-aku hanya ingin kamu duluan saja.”
“Whoa!” sahut Beatrice menginterupsi diskusi, menunjuk satu lagi orang yang menghampiri, seseorang yang familier, Rambut cokelat tua pendek dengan sisi kiri dicukur gundul menjadi ciri khas orang itu.
Yudai merupakan orang pertama yang mengingat identitas gadis itu. “E-E-Eldia?”