
Seluruh murid berbondong-bondong turun dari kapal masing-masing, tidak sabar ingin melakukan bootcamp. Terlebih dahulu jembatan dan pasir putih turut mereka lewati. Setidaknya gerbang berbentuk dua pilar kuning keemasan telah berada di depan mata.
Akan tetapi, setidaknya 11 orang, termasuk di antaranya lima orang profesor sesuai dengan job bertipe sihir. Seluruh murid terheran menatap ada satu profesor lagi yang juga ikut berdiri di hadapan mereka.
Di antara masing-masing profesor, terdapat setidaknya lima orang murid tahun kedua. Beberapa dari murid tahun pertama ber-job tipe sihir mengenalinya, bahkan ada yang bingung pula mengapa mereka harus ikut ke dalam bootcamp.
Neu mengenali dua dari profesor yang telah hadir tersebut, bahkan sampai menunjuk sambil menjelaskan pada Sans. “Profesor Danson dan Profesor Hunt. Tentu saja, Profesor Danson merupakan profesor pengampu job song mage. Profesor Hunt itu pengampu job mage attacker. Aku belum pernah melihat keempat profesor lainnya.”
Sierra bergumam bereaksi menatap profesor pengampu priest yang biasa ia temui, “Profesor Woodyatt.”
Profesor Hunt menyambut seluruh murid, “Selamat datang di kota Vaniar, lokasi di mana kalian akan melakukan bootcamp khusus job tipe sihir. Di hadapan saya telah berdiri seluruh murid tahun pertama ber-job tipe sihir. Di samping saya, ada beberapa profesor yang kalian mungkin belum temui dan kenal sama sekali.
Hunt terlebih dahulu mengenalkan dirinya sebagai pengampu bootcamp job mage tipe attacker, seperti yang telah kebanyakan setiap murid ketahui. Ia juga menjadi ketua bootcamp job tipe sihir.
Satu per satu, profesor lainnya mulai memperkenalkan diri, mulai dari posisi paling kiri. Pria berkepala botak dan berkacamata, rambut putih hanya berada di sisi kiri dan kanan bagian atas ecakan membentuk tiga per empat cincin, berkeriput dan bertubuh lebih pendek daripada kebanyakan murid. Ia memperkenalkan diri sebagai Woodyatt, profesor pengampu job priest.
“Kalian telah bersusah payah berjuang selama ini, saya ingin melihat bagaimana kalian berlatih dan bertarung selama ini.”
Selanjutnya, seorang wanita berambut cokelat muda panjang mencapai dada, beralis melengkung ke bawah, bermata biru, dan berbibir merah muda. Ia menjadi buah bibir bagi beberapa murid.
Salah satu murid laki-laki memuji, “Profesor Snowdon memang cantik seperti biasanya.”
“Ah, kuharap aku bisa jadi sepertinya,” ucap salah satu murid perempuan.
“Wanita itu jadi profesor pengampu mage tipe support. Aaah … andai saja aku jadi muridnya kelak.
Snowdon mengutarakan, “Kalian akan menjadi petualang yang hebat. Kalian akan bekerja lebih keras daripada di kelas saat bootcamp, kerja keras itu akan segera dimulai.”
Seorang pria berkumis dan jenggot tipis, kulit putih mulus, serta rambut keriting berdiri mendapat giliran, memperkenalkan diri sebagai Berry, profesor pengampu job mage tipe defender.
“Di sini, kalian akan mendapat pelatihan lebih keras daripada saat di kelas dan menjalankan misi. Saya harapkan yang terbaik dari kalian semua.”
Terakhir, giliran Danson, sebagai profesor pengampu song mage, yakni memiliki satu-satunya murid, Beatrice, sebagai sang mentor.
“Kalian semua terlihat hebat telah tiba di sini, dalam beberapa hari ke depan, kalian akan menghadapi tantangan yang lebih hebat daripada sebelumnya di Akademi Lorelei.”
“Di samping masing-masing dari kami adalah murid tahun kedua yang mendapat peringkat teratas di setiap job,” Hunt memperkenalkan keempat murid tahun kedua di hadapan seluruh murid tahun pertama. “Mereka akan membantu kami dalam mengajari kalian selama bootcamp.”
Seluruh murid tahun pertama bertepuk tangan dan bersorak pada keempat murid tahun kedua yang telah hadir sebagai murid nomor satu di setiap job tipe sihir.
“Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, bootcamp ini akan lebih sulit daripada kelas, ujian, hingga bahkan misi-misi yang kalian jalankan sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum kita memasuki Vaniar, kalian akan menghadapi placement test sebagai evaluasi.”
Seluruh murid terkejut akan pengumuman tersebut. Sama sekali tidak ada yang menyangka bootcamp akan berawal dari sebuah evaluasi. Kebanyakan dari mereka menganggap bootcamp hanya sekadar pelatihan sebelum ujian akhir dengan penilaian tinggi.
“Placement test?”
“Benar,” ujar Hunt, “kalian di sini akan dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan hasil placement test. Saat kami memanggil nama kalian, silakan maju menghadap kami dan tunjukkan sihir kalian.
“Kalian punya waktu sembilan puluh detik untuk menunjukkan kemampuan kalian. Setelah itu, kami akan memberi nilai A sampai C. Nilai itu akan menjadi kelompok kalian selama bootcamp berlangsung.
“Seperti yang kalian tahu, A adalah nilai tertinggi, alhasil, kelompok A akan mendapat keuntungan lebih, dan paling bawah adalah C.”
Mendengar pengumuman tersebut, mendapat nilai C merupakan awal dari mimpi buruk bagi seluruh murid. Jika hal itu terjadi, kesempatan untuk mendapat surat pengeluaran murid semakin besar.
Sans sungguh terkejut, sangat terkejut. Ia mengingat perkataan bahwa bootcamp menjadi faktor terbesar dalam penilaian akhir semester kedua. Masuk kelompok nilai C saja dapat menyebabkannya dikeluarkan dari akademi.
Ia bahkan tidak sempat berlatih sihir mage. Ia hanya tahu sihir sebagai skill alchemist. Seperti yang ia tahu, alchemist merupakan job terlarang di akademi. Jika ia menunjukkan skill tersebut, itu sama saja seperti menandatangani surat pengunduran diri.
“Sans.” Neu mulai masam.
Dansonn mengangkat tangannya, “Izinkan saya untuk terlebih dahulu memanggil murid saya yang telah lulus dua aptitude test pada awal semester pertama. Dia adalah satu-satunya murid song mage semester ini. Beatrice, silakan maju.”
Seluruh pandangan tertuju pada Beatrice yang tertegun namanya terpanggil paling pertama, termasuk kelima profesor dan keempat asisten. Tubuhnya berguncang mendapati dirinya akan menjadi paling pertama dalam menunjukkan kemampuannya, terutama sebagai song mage. Maka, standarnya cukup tinggi.
Ia melewati deretan para murid untuk menghadap langsung pada kelima profesor pengampu bootcamp dan keempat asisten sebagai juri. Song sphere sudah berada di genggamannya, bersiap untuk bernyanyi.
Kehadirannya mengundang bisik-bisik di kalangan murid lainnya, terutama dalam menilai kemampuan, menduga bahwa ia pasti memiliki kemampuan hebat. Kecantikan juga menjadi topik utama di kalangan laki-laki, banyak dari mereka ingin menemui dan mengajaknya kencan.
“Beatrice, song mage, waktumu dimulai dari sekarang,” Hunt memberi aba-aba.
Beatrice mengucapkan judul lagu yang ia akan nyanyikan, “Angelic Sphere.”
Sebuah gelombang berbentuk bundar bermunculan di sekitar para profesor dan asistennya, sebagai target nyanyiannya. Gelombang itu seakan memindai tubuh masing-masing.
Song sphere milik Beatrice mulai memancarkan alunan musik secara otomatis, suara instrumen seperti bermain dengan sendirinya. Pada saat yang sama, sebuah sphere berbentuk bola mengelilingi masing-masing dari mereka.
Seluruh murid lainnya mulai berfokus pada nyanyian Beatrice. Ekspektasi mereka sangat tinggi semenjak ia merupakan satu-satunya murid yang lulus dua dari tiga bagian aptitude test.
Oh dear the angels from the sky
I can't defend myself all alone, feel like I'm still not strong enough
Surround me and us with the circle of love
The circle that shows us what it feels like when everyone with us
I'm not all alone, in this battlefield
As long I'm with you, you can protect me
When the magic comes through, we're all protected with the circle of love
Angelic sphere, shine all the light around us
Shine all around us...
So we can fight all along with you...
Oh angelic sphere...
Seluruh murid sampai terdiam tanpa kata-kata menatap kekuatan dari nyanyian Beatrice terhadap seluruh profesor dan asisten di hadapannya. Neu juga sampai menghela napas menatapnya masih memiliki semangat meski apa yang terjadi saat hari terakhir Festival Melzronta.
Seluruh profesor bertepuk tangan seraya kagum terhadap suara indah Beatrice beserta kekuatan yang mampu menghiasi mereka berupa sphere pelindung dari serangan sihir. Danson lebih sedikit meriah dalam bereaksi.
“Itu lagu Angelic Sphere, lagu yang baru saja saya ajari padamu,” tanggapnya.
Hunt mengangguk, “Saya rasa tidak usah diragukan lagi, bukan? Bagaimana, Snowdon, Berry, dan Woodyatt?”
Snowdon menganggapi, “Anda memiliki suara yang mengagumkan dan kekuatan yang indah.”
Woodyatt menyetujui, “Pantas saja Danson memiliki murid sehebat kamu.”
Berry mengungkapkan, “Tanpa ragu lagi, kamu akan dapat nilai A dalam placement test ini. Bagaimana yang lain?”
Keempat profesor lainnya tanpa ragu menyetujui pendapat Berry. Semuanya sepakat dengan mengangkat tangan kanan bahwa Beatrice pantas masuk kelompok A.
“Selamat, Beatrice,” ucap Hunt, “silakan mulai membentuk barisan di sebelah kiri hadapanmu.”
Seluruh murid lainnya heboh menyaksikan Beatrice telah mendapat nilai A dalam placement test. Seperti biasa, standar penilaian placement test bootcamp cukup tinggi, pasti untuk mengesankan kelima profesor di hadapan mereka benar-benar sulit.
“Saat kami satu per satu memanggil nama kalian, mulai dari Woodyatt, Snowdon, saya, dan Berry, lalu kembali lagi, sesuai dengan job muridnya. Terakhir, murid-murid bermantel putih tanpa job akan menunjukkan kemampuannya.”
Mendengar pengumuman tersebut, banyak murid menyeringai terhadap murid bermantel putih seperti Sans. Banyak percakapan yang membahas bahwa sudah dipastikan murid tanpa job akan masuk kelompok C sebagai awal dari kegagalan di semester kedua.
Neu menggerutu mencuri dengar beberapa murid meremehkan Sans sebagai murid bermantel putih. Pada saat yang sama, ia juga cukup khawatir tentang hal itu. Pada dasarnya, Sans sama sekali tidak pernah memberitahu bahwa ia pernah atau ingin belajar sihir, bahkan sama sekali tidak mengetahui sihir pertamanya.
Satu per satu murid sesuai urutan panggilan nama oleh keempat profesor pengampu job mulai menunjukkan kebolehan di hadapan semuanya. Mereka melakukan sebaik mungkin dalam membaca mantra, baik itu berupa sihir penyerangan, pertahanan, atau penyembuh.
Tidak sedikit yang terbata-bata dan membiarkan ketegangan menguasai hingga gagal dalam menggunakan sihir. Beberapa dari mereka memanfaatkan sisa waktu dengan baik demi menunjukkan hal terbaik masing-masing sebagai kesempatan kedua.
Murid yang berdiri di hadapan para profesor dan asistennya pun lambat laun semakin berkurang. Semakin banyak yang sudah berbaris sudah sesuai dengan kelompok bootcamp-nya. Barisan kelompok B cukup panjang, barisan kelompok A juga tidak sedikit.
Beberapa murid terterjang kesuraman ketika mendapati dirinya mendapat posisi di kelompok C dan terpaksa berbaris di sana. Kemuraman akan kenyataan bahwa mereka selangkah lagi untuk mendapat tiket pulang telah di depan mata.
Setidaknya, Sierra dan Neu mampu menunjukkan kebolehan mereka di hadapan kelima profesor dan masing-masing asisten. Sierra memamerkan mantra Heal III, mantra yang baru-baru ini ia pelajari sendiri, dengan Woodyatt sebagai target. Sementara Neu menggunakan Aerial Blades hingga kedua pohon targetnya terbelah secara sempurna.
Hasilnya, seluruh profesor kagum atas pencapaian mereka berdua. Alhasil, kelompok A sudah berada di genggaman, mereka bergabung dengan barisan Beatrice.
Neu menatap Beatrice jauh di posisi terdepan dalam barisan kelompok A. Lagi-lagi ia merasa harus berhadapan hal tersulit bagi dirinya, satu kelompok dengan teman masa kecilnya itu. Ia sama sekali belum membicarakan langsung masalah perkelahian antara dirinya dan Earth.
Beatrice melirik pada Neu yang menjadi salah satu anggota kelompok di bagian belakang barisannya. Merasa bersalah ketika memikirkan kembali ia yang menyuruh Neu menciumnya di hadapan Earth saat pesta dansa berlangsung. Setiap kali ia memiliki kesempatan untuk membicarakannya dengan Neu, ia selalu menghindar. Keraguan kembali menggerogotinya, ia kembali ketakutan, Neu masih belum ingin berbicara dengannya.
Sementara Katherine …. Ia terbata-bata dalam mengucapkan mantra. Saat detik-detik terakhir, ia berhasil mengucapkan mantra Heal II pada Snowdon. Pada akhirnya, kelima profesor itu menempatkannya di kelompok B.
Lambat laun, semakin banyak murid lain telah menempati posisi di kelompok tertentu berdasarkan penilaian placement test oleh kelima profesor. Sans akhirnya menghela napas ketika murid ber-job terakhir telah mendapatkan penilaian dan kelompoknya.
Murid tanpa job dan bermantel putih mendapat giliran terakhir. Seperti dugaan, banyak murid turut menertawakannya, mencoba untuk membuat mereka kalah sebelum memulai menunjukkan kebolehan.
“Sans, silakan maju,” perintah Hunt.
Beatrice, Neu, Sierra, dan Katherine memperhatikan Sans mulai menghadapi kelima profesor dan empat orang asisten. Cemas dan ragu, itulah yang terasa bagi mereka berempat.
Seperti yang mereka ketahui, Sans merupakan pengguna belati dari awal masuk Akademi Lorelei. Pengguna belati memasuki bootcamp job tipe sihir merupakan gagasan yang di luar dugaan, apalagi sebagai murid tanpa job.
Sans akhirnya menarik napas dan mulai mengangkat tangan.
***
Placement test khusus murid job tipe fisik di hadapan gerbang masuk Silvarion akhirnya telah berakhir. Setiap murid telah menunjukkan kemampuan masing-masing di hadapan kelima profesor pengampu job tersebut dan kelima asisten.
Kelima profesor tersebut telah menempatkan setiap murid ke dalam kelompok berdasarkan nilai placement test. Seluruh murid telah berbaris rapi memanjang berdasarkan kelompok masing-masing.
Yudai, Zerowolf, dan Riri berhasil mendapatkan tempat di kelompok A setelah memuaskan kelima profesor.
Melihat Yudai tepat di hadapannya, Zerowolf belum dapat puas hanya berhasil mendapat tempat di kelompok A. Ia akan lebih puas ketika ia mendengar bahwa usahanya dalam placement test dapat mengalahkan Yudai. Jiwa kompetitifnya masih saja memanas, apalagi ia tidak sabar ingin mengalahkan rival bebuyutannya itu.
“Sans, bagaimana denganmu?” Yudai bergumam, cukup resah memikirkan Sans telah menghadapi proses yang sama sebelum dimulainya bootcamp.
“A-aku … di kelompok B? La-lalu … Kakak tidak ada?” Itulah reaksi Lana saat menghadapi kenyataan saat itu.
Sandee, yang juga menempati posisi di kelompok B, menggeleng khusyuk menyaksikan tingkah Lana.
“Y-yang benar saja? Aku di kelompok B?” Tay mengepalkan tangan kirinya, frustrasi dengan hasil yang ia peroleh setelah menghadapi placement test.
Ruka membuang muka, tidak peduli dengan keluhan beberapa teman satu kelompoknya, yaitu kelompok C. Secara sinis, ia tidak percaya akan omongan orang berupa rumor atau kenyataan saat itu.
Akhirnya, bootcamp akan segera dimulai!