Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 39



“Mock battle kali ini saya bagi jadi dua ronde. Ronde pertama, pertarungan menggunakan tangan kosong, sama seperti aptitude test bagian akhir. Bedanya, seseorang yang menjatuhkan sang lawan terlebih dahulu menang. Ronde kedua, pertarungan tembak-menembak, alih-alih menggunakan panah biasa, kita gunakan panah berkepala tumpul. Siapapun yang tembakan berhasil mengenai sang lawan terlebih dahulu menang.”


Mengetahui dari ucapan Dolce bahwa ronde pertama adalah pertarungan fisik tanpa senjata, Yudai kembali merasakan ketegangan bertambah mendominasi tubuh dan pikiran. Sudah lama dia tidak bertarung tanpa menggunakan busur dan panah semenjak aptitude test bagian akhir.


Target untuk melawan Dolce benar-benar terwujud. Kegembiraan mendampingi ketegangan, melawan salah satu profesor terbaik Akademi Lorelei.


Dolce mulai mengambil posisi, menempatkan kaki kiri di posisi terdepan. Kepalan kedua tangan juga mulai terangkat, dengan tangan kiri berada di posisi terdepan.


“Eh?” Yudai melongo menatap Dolce sudah bersiap untuk bertarung.


Diliriknya seluruh ruangan kelas khusus archer, sama sekali tidak ada ring khusus bertarung satu lawan satu. Deretan papan tembakan jauh di sebelah kiri dan rak khusus quiver serta busur di dekat pintu keluar menjadi hal menonjol pada ruangan tersebut.


“Kenapa bingung begitu? Mock battle ronde pertama sudah dimulai dari tadi.” Dolce menyadarkan Yudai.


“E-Eh!” Yudai kewalahan hingga mengguncangkan tubuhnya, hampir kehilangan keseimbangan dalam berdiri. “Kenapa tidak bilang! Kalau sudah dimulai, harusnya Anda melakukan serangan. Atau setidaknya saya yang menyerang duluan. Atau setidaknya pindah ke ruangan bertarung.”


“Baik, kubiarkan kamu menyerang duluan.”


Yudai meniru posisi dengan mengepalkan kedua tangan dan mengedepankan tangan kiri terlebih dahulu. Tenaganya dia kumpulkan terlebih dahulu dari otak menuju kepalan tangan.


Mengingat dirinya pernah menang dalam melawan salah satu profesor selama aptitude test bagian akhir, Yudai kembali menggunakan strategi pertarungan yang sama seperti waktu itu. Pertama, mulai berlari mengempaskan kepalan tangan sebagai pukulan.


Seperti dugaan, Dolce bergeser menghindari serangan tersebut. Yudai pun berbalik kembali mengempaskan pukulan, kali ini menggunakan kedua tangan  Setiap kepalan tangan dia empaskan sekuat tenaga.


Tidak peduli secepat apapun Yudai mengayunkan kepalan tangan sebagai bentuk pukulan, Dolce tetap menghindar, bergeser dan merunduk.


Yudai terengah-engah ketika strateginya tidak berhasil, tidak seperti waktu aptitude test. Dia mengempaskan pukulan secepat dan sekuat mungkin demi mencapai anggota tubuh Dolce.


Dolce menangkis kepalan tangan kiri Yudai hanya menggunakan telapak tangan kanan. Dia mengempaskan kepalan tangan kanan menuju bahu Yudai sebagai sasaran empuk.


Yudai menangkis pukulan Dolce hanya menggunakan lengan kiri. Akan tetapi, hal yang tidak dia harapkan bahwa Dolce kembali menggunakan kepalan tangan kiri untuk menghantam perutnya.


“Ah!” jerit Yudai bergerak mundur begitu perutnya terkena pukulan Dolce.


Dolce pun kembali berada di dalam posisi awal, mengepalkan kedua tangan sambil memasang posisi kuda-kuda. Dia mengangguk seraya kembali menantang Yudai untuk kembali memukulnya.


Yudai kembali memelesatkan larinya sambil menjerit dan mengedepankan kepalan tangan kanan sekuat tenaga. 


“AAAAA!!”


Dolce pun kembali bergeser tepat sebelum membiarkan kepalan tangan Yudai mengenai tubuhnya. Dia memanfaatkan kesempatan untuk menarik tangan kiri muridnya itu seraya mencegah hindaran.


Dolce mendorong tangan kirinya pada dada Yudai seraya menumbangkannya menuju lantai.


Yudai kehilangan keseimbangan setelah dorongan tangan kiri Dolce menumbangkannya. “AAAH!”


Ketika menyadari dirinya telah menjadi pertama yang terjatuh ke lantai, dalam posisi berbaring, Yudai kalah dalam mock battle ronde pertama. Napasnya juga terengah-engah setelah menghabiskan tenaga cukup banyak.


Dolce memberi nasihat, “Kamu terlalu banyak menggunakan energimu dari awal penyerangan. Pantas saja kamu kalah.”


Ronde kedua mock battle, itu yang akan dihadapi keduanya. Yudai melongo ketika Dolce berbalik menggenggam dua busur dan dua quiver berisi masing-masing setidaknya lima panah berkepala tumpul.


“Saya lupa bilang.” Dolce menyerahkan satu busur dan quiver berisi lima panah berkepala tumpul itu pada Yudai sebelum berbalik sedikit menjauhi Yudai. “Kita punya masing-masing lima panah berkepala tumpul. Bukan hanya siapapun yang berhasil tertembak duluan, tetapi juga yang kehabisan panah terlebih dahulu dia yang kalah.”


Ketika Yudai telah memasang quiver di punggungnya, diambilnya salah satu panah berkepala tumpul itu. Bentuk kepala pana itu berbentuk bundar alih-alih segitiga berujung lancip.


Belum selesai melihat bentuk kepala panah itu, Yudai tercengang ketika menoleh bahwa Dolce telah menembakkan salah satu panah terlebih dahulu mengarahnya.


Beruntung, Yudai langsung bergeser karena refleks, panah pertama Dolce terbaring pada lantai.


“Hei! Aku belum siap!” tegur Yudai.


“Dalam pertarungan sungguhan, musuh tidak akan memberi aba-aba sama sekali. Antara cepat dan lambat, semuanya hanya menentukan siapa yang akan bertahan,” Dolce menasihati.


Yudai membuang napas sejenak sebelum menempatkan ekor panah pada tali busur. Ketika menyaksikan Dolce juga melakukan hal yang sama dan membidik, Yudai langsung melesat memanfaatkan luas ruangan tanpa halangan properti selain papan target tembakan.


Dolce juga berlari mengikutinya sambil tetap membidik, melewati garis putih pembatas penembak papan target. Digenggamnya kuat tali busur dan ekor panah secara bersamaan seraya mengumpulkan tenaga sesuai fokus.


Yudai menembakkan panah pertamanya. Ditarik dan dilepaskannya ekor panah dan tali busur secara bersamaan. Tembakannya jauh meleset ketika Dolce tetap berlari mengikuti arahnya.


Dengan cepat, Dolce mengambil panah berkepala tumpul lagi dari quiver. Ditempatkannya ekor panah pada tali busur sebelum ditarik mengempaskan tenaga, membidik arah lari 


Begitu tembakan kedua Yudai meluncur, Dolce lagi-lagi berhasil bergeser menuju arah yang berlawanan sambil mempertahankan genggaman pada ekor panah dan tali busur. Bidikannya juga tetap fokus mencari celah dan memanfaatkan kesempatan.


Begitu melakukan tembakan ketiga, Yudai telah mencapai deretan papan target tembakan di samping kirinya. Dilihatnya juga Dolce lagi-lagi secara gesit bergeser menghindari tembakan Yudai, seakan-akan secepat seekor cheetah dan sefokus mata seekor elang.


Tanpa ragu lagi, sambil berlari menuju samping kanan, Yudai kembali menembakkan panahnya. Lagi-lagi Dolce berhasil berbalik ketika panah tersebut hampir mengenai bahunya dan jatuh ke atas lantai.


Begitu Yudai mengambil panah kembali, dia tercengang menyadari panah tersebut adalah panah terakhir. Kena atau meleset merupakan penentu kemenangan.


Memanfaatkan lawannya yang terdistraksi oleh pikiran, Dolce akhirnya menembakkan panahnya. Panah tersebut meluncur sebelum membiarkan Yudai menoleh padanya.


Yudai terlambat bereaksi ketika menatap panah itu hampir mencapai dirinya. Panah tersebut akhirnya mengenai bagian dada hingga membuatnya tambah tertegun. Dia kalah, kalah telak.


Dolce mengakhiri mock battle tersebut. “Kurasa kamu sendiri tahu mengapa kamu harus kalah. Kamu boleh jadi salah satu murid terbaik di kelas, job archer, tapi hanya mengandalkan kekuatanmu yang begitu saja tidak cukup.”


“Profesor!” Yudai menurunkan genggaman busur dan panah terakhirnya. “Tolonglah, izinkanlah aku bertarung sekali lagi!”


“Hasilnya akan sama saja, Yudai. Bahkan kamu juga tahu kalau kamu belum mampu, tidak perlu lagi ada kesempatan kedua.”


“Profesor!!”


Dolce berpaling dari pandangan Yudai. “Bereskan semuanya.”


Yudai terdiam menatap Dolce melangkah menuju pintu keluar, tepat sebelum meletakkan kembali busur dan quiver-nya ke dalam rak. Dia berlutut merenungi bahwa dia belum apa-apa, apalagi jika dibandingkan dengan Dolce, profesor, lebih tepat, instruktur job archer.