
“WHOA!!” jerit Sans mendadak kakinya tergelincir hingga tubuhnya mendarat ke lantai, tepat setelah bangkit dari tempat duduk. Buku miliknya juga ikut terempas menuju lantai.
Kelas sejarah telah berakhir. Hampir seluruh murid yang juga baru berdiri dari bangku masing-masing menoleh, terpicu oleh bunyi entakkan lantai.
“Astaga!” gumam Beatrice mendekatkan kedua tangan pada mulut menyaksikan Sans terbaring di lantai.
“Sans!” Yudai berlutut menemui Sans. “Kamu tidak apa-apa, kan?”
“Ah. Kenapa lantainya jadi licin begini?” Sans bangkit berkat bantuan uluran tangan Yudai.
Neu memperhatikan beberapa murid yang menyaksikan cekikikan memperhatikan kecerobohan Sans sebagai murid bermantel putih. Dia menggelengkan kepala sambil menghela napas.
“Pasti mereka yang melakukannya,” tebak Neu, “hei! Kalian yang menjahilinya, ya?”
Seluruh murid yang tersisa di hadapan mereka berbalik dan berlalu begitu saja, meninggalkan kelas tanpa perlu menjawab pertanyaan Neu.
“Pasti sihir pembuat licin, salah satu sihir tidak berguna kecuali untuk menjahili seseorang,” Neu menyindir, “aku takkan pernah belajar sihir murahan seperti itu.”
“Kenapa? Padahal kalau itu untuk merugikan musuh bisa berguna, kan?” tanggap Yudai.
Neu tetap menolak, “Bisa dianggap kalau sihir pembuat licin itu hal paling picik yang pernah kudengar.”
Yudai melirik pada Duke yang tengah menumpuk lembaran kertas di meja terdepan menghadap bangku murid, tanpa sedikit pun menoleh pada kejadian yang menimpa Sans.
“Cepatlah, tidak enak kalau kita berlama-lama di sini terus,” Neu mengajak keluar dari kelas.
“Oh ya, Sans, maaf aku tidak bisa menemanimu latihan hari ini. Profesor Dolce besok mau berangkat untuk urusan di luar, jadi beliau mengadakan kelas setelah ini,” ucap Yudai.
“Hah? Baru kali ini aku mendengar kelas dimajukan,” balas Beatrice.
“Bisa terjadi, apa boleh buat, kan?” Neu mengingatkan.
Sans menghela napas. “Tidak apa-apa. Kalian pergi duluan saja ke kelas masing-masing. Aku bisa berlatih sendiri, atau bahkan menyelesaikan pekerjaan dari quest board.”
“Kalau kamu mau mengambil pekerjaan dari quest board, sebaiknya aku bolos—” Beatrice memberi usul.
“Jangan!” larang Neu. “Kamu satu-satunya murid song mage! Kamu tahu instruktur kelas song mage pasti akan kecewa begitu kamu bolos.”
“Profesor,” koreksi Yudai.
“Terserah, kuanggap profesor pengampu setiap kelas itu instruktur.” Neu menghela napas kembali.
“Tidak apa-apa,” Sans melerai sebelum pamit, “nanti kita bertemu lagi nanti sore di asrama.”
Tidak seperti sebelumnya, mungkin kali ini, Sans harus berlatih sendiri, tanpa ditemani oleh salah satu dari ketiga teman dekatnya. Sebagai salah satu murid bermantel putih, murid tanpa job, di Akademi Lorelei, Sans sama sekali tidak punya pilihan selain berlatih seorang diri di luar kegiatan kelas.
“Jujur saja, aku semakin khawatir dengan Sans dengan keadaannya sebagai murid bermantel putih. Dia harus menjadi lebih kuat, atau tidak dia bisa dikeluarkan dari akademi,” ucap Neu.
“Dia sudah berkembang!” bantah Beatrice. “Aku melihatnya sendiri saat tugas di Labirin Oslork. Dia melawan seorang pria aneh itu, dengan bantuanku dan Sierra. Jangan heran kalau dia membuat kejutan, bukan hanya pada profesor dan murid-murid lain, tetapi juga kita.”
“Aku setuju.” Yudai mengangguk sebelum pamit. “Sebaiknya aku ke kelas duluan.”
“Oh benar, sampai jumpa nanti siang di kantin,” pamit Neu.
“Fokuskan pandangan kalian ketika menembak! Jika kalian tidak fokus, tembakan kalian akan meleset!” bentak Dolce pada seluruh murid archer tahun pertama.
Hampir seluruh murid kesulitan untuk memfokuskan pandangan ketika menembakkan panah pada bundaran di tengah papan jauh di hadapan mereka. Tidak sedikit tembakan pula yang mendarat lantai, alih-alih menancap pada bundaran manapun di masing-masing papan.
Ketika Dolce beralih pandangan, ia menyaksikan perkembangan Yudai dalam menerapkan tembakan panahnya. Ia melebarkan bibir ketika posisi salah satu muridnya itu telah mencapai standar.
Dapat terlihat setidaknya lima panah menancap di bundaran pusat papan target di jauh di hadapannya. Oleh karena itu, Yudai telah menjadi salah satu murid job archer terbaik baginya.
Dolce melontarkan pujian begitu menghampirinya, “Bagus, Yudai! Tetaplah seperti itu!” Dia kemudian menyahut pada murid-murid lain. “Semuanya, lihatlah Yudai! Dia telah fokus dan menembak dengan posisi tepat. Lihat cara dia menembak, lihat cara dia berdiri, lihat cara dia fokus!”
Hampir seluruh murid menoleh pada Yudai. Genggaman tangan kanan pada ekor panah dan tali busur, posisi kedua kakinya, dan kepala tetap fokus sesuai pandangan menjadi fokus.
Yudai melepas tali busur dan ekor panah setelah menarik keduanya sekuat tenaga. Tembakannya sekali lagi mencapai pusat bundaran target, seakan menambah tumpukan tak beraturan menjadi enam.
Beberapa murid berdecak kagum menatap tembakan hampir sempurna oleh Yudai. Topik pembicaraan pun bergeser dari cara memanah yang tepat hingga keberhasilan Yudai mengesankan Dolce, salah satu profesor terhebat di Akademi Lorelei, apalagi terkenal sebagai alumni terhebat sepanjang masa.
Beberapa justru terdiam, menyisipkan iri dengki terhadap Yudai. Pola pikir bahwa suatu hari nanti performa Yudai akan menurun tertanam kuat, cukup kuat. Mereka hanya membelalak terhadap Yudai dan seluruh hasil tembakannya.
“Baiklah, sudah cukup untuk hari ini. Jangan lupa untuk terus berlatih di manapun kalian berada! Kalian bisa berlatih di taman depan akademi atau hutan dekat kota!” Dolce mengakhiri pertemuan kali ini. “Saya ingin melihat perkembangan kalian semua minggu depan.”
“Kerja bagus, semua!” seru salah satu murid archer ketika semuanya meletakkan busur dan quiver berisi panah milik akademi kembali pada rak di dekat pintu.
Yudai menjadi satu-satunya murid yang terdiam menyaksikan seluruh murid lain meninggalkan kelas. Menatap Dolce masih berada di dalam kelas bersamanya, ini saatnya untuk mengutarakan keinginan sejak lama.
“Profesor Dolce,” panggil Yudai menghampirinya.
Dolce berbalik menghadap Yudai. “Oh. Yudai. Ada apa?”
“Anu … mungkin permintaan saya ini cukup aneh, benar-benar aneh. Tapi—”
“Apa kamu yakin permintaanmu aneh?”
“Uh, saya harus akui, Anda adalah profesor yang hebat, bahkan dalam pertarungan menggunakan tangan kosong juga patut diacungi jempol. Tidak heran, banyak yang ketakutan begitu harus menghadapi Anda saat aptitude test bagian akhir, termasuk temanku, Sans.
“Namun, setelah berpikir secara matang dan berani, saya ingin melawan Anda, dalam pertarungan.”
Dolce tertegun ketika mendengar tantangan dari Yudai. Baginya, inilah pertama kali seorang murid mengajukan tantangan di luar aptitude test.
“Apa kamu yakin?”
“Saya ingin melawan Anda, Profesor. Saya serius.”
“Baiklah.” Dolce mengangguk. “Namun, pertarungan antara kita adalah mock battle.”
“Mock battle?”
“Anggap saja ini simulasi pertarungan sesungguhnya. Meski begitu, saya takkan membuatnya mudah untukmu.”
Yudai menelan ludah, ketegangan mulai merasuki tubuh dan pikirannya ketika telah melakukan keputusan yang mungkin akan dibilang konyol. Sisi positifnya, di balik ketegangan ada seberkah semangat membara.
“Baiklah!” Yudai menubrukkan kedua kepalan tangan.