Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 60



Hampir setiap hari, Sierra dan Tay “terpaksa” mengikuti Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu setiap kali ada waktu luang, terutama saat istirahat makan siang. Satu meja seakan sudah siap untuk mereka jadikan tempat makan begitu tiba di kantin.


Mereka juga menyelesaikan misi dari quest board bersama-sama sebagai tim. Bahkan lebih efisien dan lebih cepat untuk menyelesaikan permintaan demi mendapat uang.


Saat kelas umum juga, Sierra dan Tay mulai mengambil bangku tepat di belakang barisan terdepan, di mana Sans dan Yudai serta Beatrice dan Neu menempati bangku masing-masing. Hal ini karena permintaan Beatrice agar dapat berdiskusi bersama, terutama saat kelas sejarah.


Meski pertemanan tersebut menambah getaran kegembiraan bagi Beatrice dan Yudai, getaran bertekanan panas masih saja tertanam di antara Tay dan Neu. Wajar jika mereka tidak saling suka, apalagi mengingat mereka pernah berkelahi. Yudai melerai pertengkaran mulut kedua musuh bebuyutan tersebut dengan mengalihkan topik pembicaraan agar getaran kegembiraan tetap terjaga.


Sans juga merasa lega kelompok pertemanannya berangsur-angsur mulai berkembang, terutama ketika dia bercakap dengan Tay. Tay memang tidak kenal mengerem saat berbicara dan menyampaikan pendapat tentang dirinya, tetapi baginya kejujuran sudah menjadi langkah pertama untuk mengenal.


Sans terpikir jika Beatrice dan Yudai tidak ada di lingkaran pertemanannya saat ini, getaran kegembiraan pasti tidak akan meledak seperti saat ini, yang ada hanya ketegangan oleh hubungan antara Tay dan Neu.


Sierra dan Tay menjadi teman dekat baru akhir-akhir ini.


***


Tidak dapat terasa waktu berjalan cukup cepat, pelajaran dari setiap profesor sudah semakin mencapai klimaks. Dalam kelas sejarah, pembahasan hampir mencapai bab terakhir buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, berarti semester pertama akan segera berakhir.


Latihan khusus job masing-masing juga semakin intensif dan berat. Setiap profesor pengampu tidak kenal lelah dalam mendidik setiap muridnya untuk mencapai kemampuan terbaik dan memuaskan.


Untungnya, Sans masih mendapat sedikit ketenangan ketika dalam bimbingan Duke, seorang profesor yang mengajarinya segala hal tentang job alchemist, job yang tidak termasuk dalam job system di Akademi Lorelei dan juga dianggap ilegal. Sejauh ini, mereka berhasil mempertahankan kedok, bahkan jika perlu, Duke menyuruhnya agar berlatih pada malam hari.


Sans melakukan transmutasi pada berbagai bahan untuk membuat sebuah barang baru. Konsentrasinya semakin penuh ketika mengarahkan telapak tangan kanan pada setiap bahan pada meja. Meski bahan-bahan yang diberi semakin kompleks dan sedikit lebih aneh, proses transmutasi yang dia lakukan cukup lancar setelah mengalami beberapa kekurangan.


Sans menghela napas kembali begitu selesai membentuk sebuah barang berbentuk kerucut kecil sebagai hasil dari transmutasi. Bahan dari barang tersebut cukup kompleks untuk didekonstruksi melalui transmutasi, apalagi direkonstruksi menjadi barang baru bersama dengan bahan lain.


“Kerja bagus, Sans.” Duke memperhatikan hasil transmutasi tersebut. “Sebaiknya kamu kembali ke asrama, beristirahatlah.”


Sans berbalik menghadapi Duke. “Te-terima kasih banyak, Profesor Duke.”


“Oh ya, kamu tidak pernah membahas air mata phoenix itu, kan? Kamu juga tidak pernah bilang apakah kamu berhasil mendapatkannya.”


Terpicu. Sans benar-benar tidak enak ketika harus mengatakan sebuah kenyataan bahwa dia gagal mendapat air mata phoenix, apalagi saat tidak mengetahui cara yang tepat untuk melakukannya.


Terlintas sebuah keinginan untuk bertanya tentang cara mendapatkan air mata phoenix dengan tepat, tanpa melukai sama sekali, apalagi membunuh. Berkaca dari kegagalannya, apalagi secara kebetulan menemui Beatrice, Neu, dan Sierra ketika bersama Yudai dan Tay, sebuah jawaban harus dia dapatkan.


Sans kembali mengurungkan pertanyaan di dalam benaknya, tidak jadi mengeluarkan dalam bentuk suara secara langsung menuju telinga Duke. Akan sangat bodoh jika Sans mengungkapkan dirinya telah mencoba mengambil air mata phoenix tanpa cara yang tepat.


“Ah, lupakan saja. Nanti kalau saya menemukan informasi tentang kedua bahan lainnya, untuk obat penyakit ibumu, akan kusampaikan.”


Sans mengangguk. “Ba-baik.”


“Oh ya, Sans. Untuk sekarang, sebaiknya kamu fokus pada ujian akhir semester. Minggu depan, kamu tidak perlu datang ke kantor pribadi saya. Kamu harus lulus agar bisa bertahan di akademi ini. Terapkan hasil latihan bertarungmu, latihan bersama teman-temanmu, dan hapalkanlah materi yang telah diajarkan di kelas umum, termasuk di kelas saya.”


“Saya akan melakukannya, saya akan bertahan di akademi ini.”


“Bagus. Kamu boleh pergi.”


***


“Mana kutahu tentang Sierra,” bisik Tay ketika kelas sejarah yang diampu oleh Duke tengah berlangsung.


Mengesampingkan penjelasan Duke tentang bab terakhir buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, Sans dan ketiga teman dekatnya telah memperhatian bangku Sierra masih kosong tanpa ditempati siapapun, berarti murid priest perempuan tersebut tidak hadir.


Bukan kali pertama Sierra telah absen semenjak grup pertemanan mereka semakin meluas menjadi enam orang, ini adalah kali kedua. Pada hari sebelumnya, Sierra juga tidak hadir ketika istirahat makan siang, membuat mereka menunda mengambil misi dari quest board.


“Kalau dipikir-pikir lagi, dia juga jarang bicara dengan kita akhir-akhir ini,” ujar Beatrice.


“Bukannya memang dia tidak banyak bicara?” Neu mengingatkan. “Paling tidak, dia hanya bicara kalau kita menyapa atau bertanya. Sudah bicaranya, fokus saja, ini pertemuan terakhir kelas sejarah.”


“Mau bagaimana lagi.” Neu menghela napas. “Kamu juga sama sekali tidak mengulang pelajaran, kan? Hanya berlatih pedang? Pelajaran sejarah akan menjadi bagian dari ujian akhir semester, bagian tertulis, sama seperti teori berpedang. Lebih baik kalian perhatikan saja kata-kata Profesor Duke.”


Sans hanya terdiam ketika memperhatikan penjelasan Duke, seringkali bangku Sierra dia perhatikan. Hari pertama dia pikir Sierra absen karena alasan tidak enak badan, dua hari memang masih wajar.


Yudai mengambil kesimpulan, “Mungkin, dia akan masuk ke kelas khusus job priest, dengan begitu, dia akan kembali berkumpul bersama kita saat makan siang besok.”


Meski dengan absennya Sierra memicu di dalam benak, ketika fokus kembali pada penjelasan Duke, begitu mudah untuk mengikuti arus pembicaraan sambil membayangkan sejarah tersebut. Bab terakhir membahas sejarah lima tahun pertama Akademi Lorelei dan pengaruhnya terhadap kerajaan Anagarde.


Duke juga meminta pendapat dari murid-muridnya agar menjelaskan dampak besar akademi terhadap kerajaan. Kebanyakan dari mereka menjawab Akademi Lorelei membentuk cukup banyak royal guard bagi kerajaan. Tetapi, Neu justru menjawab lebih kritis, meski seluruh lulusannya telah mengambil jalan masing-masing, baik menjadi petualang atau sekadar melayani kerajaan, setidaknya mereka sudah mengabdi pada kerajaan Anagarde agar menjadi pribadi terbaik.


“Baik. Sekian pelajaran sejarah untuk semester ini,” Duke mengakhiri pertemuan tersebut, “Saya ucapkan terima kasih telah menjadikan kelas ini menyenangkan bagi kalian dan saya sendiri. Kalian pasti menikmatinya. Tetapi, kalian masih harus menghadapi ujian tertulis sebagai bagian dari ujian akhir semester. Pastikan kalian pelajari kembali semua materi yang telah kita diskusikan, agar dapat menjawab setiap pertanyaan dengan baik dan benar.


“Saya harap kalian dapat lulus ujian akhir semester dan bertahan di akademi ini. Ingat, nilai kalian harus bagus pada semester ini agar dapat awal yang baik demi masa depan masing-masing. Terima kasih banyak.”


Salah satu dari murid berdiri terlebih dahulu. “Profesor Duke, pelajaran Anda yang terbaik. Jadi … terima kasih banyak atas penyampaian Anda. Anda adalah salah satu profesor terbaik.”


Seluruh murid juga ikut berdiri dari bangku. “Terima kasih banyak, Profesor.” Semuanya menundukkan kepala seraya memberi hormat


Duke sama sekali tidak menyangka dirinya akan mendapat penghornatan seperti yang terlihat. Ini adalah semester pertama dia mengampu sebuah kelas, kelas sejarah. Cara penyampaiannya begitu menyenangkan hingga mengundang partisipasi setiap murid.


“Ka-kalian tidak perlu seperti ini. Ka-kalian sudah menjadi murid yang hebat,” Duke terbata-bata menganggapi perlakuan murid-muridnya.


Yudai menambah begitu seluruh murid kembali mengangkat kepala, “Anda guru yang terbaik!” Diikuti oleh sorakan beberapa murid.


“Ba-baik.” Wajah Duke memerah, tersipu. “Sekarang, kalian harus balas budi, dapatkan nilai bagus dengan belajar, terutama dalam ujian tertulis. Pelajari semuanya sebaik mungkin. Sekali lagi, terima kasih banyak, kalian boleh pergi.”


Pelajaran terakhir kelas sejarah merupakan awal dari akhir, seluruh murid kini akan menghadapi materi terakhir pada setiap kelas khusus job tertentu sebagai persiapan ujian akhir semester.


Seluruh murid keluar dari kelas dengan perasaan cerah, sangat cerah. Semangat mereka diharapkan terbawa sampai mulai menghadapi ujian akhir semester.


Keluar dari kelas, mengikuti arus murid-murid sekelas lain yang mulai berpencar, Tay langsung berlalu tanpa pamit pada keempat “teman dekat”-nya, berhubung sama sekali tidak ada Sierra. Baginya, tidak perlu mengganggu keempat “teman dekat” tersebut jika Sierra tidak ada di sekeliling.


“Eh?” Yudai melongo menyaksikan Tay melangkah begitu saja begitu melewati pintu kelas menuju selasar.


“Kenapa? Ada apa dengannya?” tanya Beatrice melihat Tay berbelok.


“Mungkin dia tidak ingin bersama kita. Kalian lihat sendiri, apa yang sudah kubilang dari dulu,” Neu menyimpulkan.


“Mungkin … dia harus ke kelas khusus swordsman secepat mungkin, karena … minggu ini juga minggu terakhir sebelum ujian,” Yudai menerka.


Sans mengangguk. “Ya. Aku setuju pada Yudai. Pasti sangat intensif latihannya.”


“Kita bahkan belum tahu sistem ujiannya seperti apa, selain tertulis,” Neu kembali menghela napas.


“Sejak Sierra tidak masuk kemarin, dia … jarang bicara pada kita semua,” Beatrice kembali berkata.


Neu mendorong bahu Beatrice. “Ah, Beatrice, daripada bicara begitu, kita ke kelas job masing-masing. Ayo! Nanti kita telat masuk pelajaran terakhir.”


“E-eh, tu-tunggu!”


“Oh ya, kita ke kamar Sierra saja kalau begitu,” usul Yudai begitu Beatrice dan Neu mulai pergi, “Sekalian kita menjenguk dia.”


Sans menggeleng. “Beatrice tadi pagi ke sana sebelum ke kelas. Sierra tidak ada di kamarnya sama sekali.”


“Aneh.” Yudai menggaruk bagian belakang kepalanya.