Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 29



Hari pertama tamasya ke kota Silvarion sudah menjadi awal yang meledak dan tidak terduga, terutama ketika seluruh murid harus rela memakan sepiring siput escargot sebagai hidangan utama makan siang dan terbayar dengan mencicipi aneka manisan di sebuah toko. Kelompok 13 memiliki hal yang lebih meledak daripada itu, silent treatment mendominasi sebagai refleksi hubungan antara Tay dan Neu, membuat Yudai sama sekali tidak nyaman.


Larutnya malam berarti kebanyakan siswa telah terlelap, tidak sabar menunggu untuk hari kedua tamasya. Tidak bagi Tay dan Neu, mereka justru ingin kembali ke akademi secepat mungkin.


Bagi Yudai, memikirkan perkataan Neu bahwa professor pendamping mengawasi seluruh murid saat tamasya berlangsung, hampir tidak mungkin dia bisa menyelinap. Terlebih, rasa kantuk yang mendominasi ingin membuatnya terlelap menuju mimpi. Selain itu, dia tidak punya petunjuk apapun tentang keberadaan kedua orangtuanya sejauh ini.


Menatap Sans, teman sekamarnya seperti biasa, sudah terlelap terlebih dahulu di salah satu tempat tidur. Karena tidak mampu menahan kantuk dan menguap, Yudai mulai merobohkan tubuh ke atas tempat tidurnya. Lantai kosong hanya menjadi pembatas antara kedua tempat tidur di dalam satu kamar.


Sebelum terlelap, Yudai berkata dalam hati, Tay dan Neu harus segera diajak untuk bekerja sama.


***


Hari kedua pun telah tiba. Menunggu cukup lama sehabis menikmati sarapan di penginapan, seluruh kelompok akhirnya diajak oleh seluruh professor pendamping untuk berjalan menuju salah satu tempat terkenal di Silvarion. Pada hari sebelumnya, mereka hanya sekadar melewati tanpa memasuki tempat yang akan dikunjungi.


Pemandu wisata turut memandu seluruh murid tahun pertama untuk menuju lokasi. Tidak membutuhkan waktu lama dari penginapan untuk menempuh perjalanan ke lokasi tersebut.


Beberapa pilar marmer sekali lagi menyambut seluruh murid begitu memasuki lokasi tersebut. Pemandu wisata pun berkata bahwa lokasi tersebut merupakan sebuah monumen bersejarah bagi kota Silvarion.


“Monumen ini menjadi pengingat sejarah berdirinya kota Silvarion di benua Riswein,” pemandu wisata itu menjelaskan.


Selesai melewati pilar marmer tersebut, terdapat sebuah dinding berbentuk spiral hingga mereka harus mengelilingi seperti memutari lapangan. Seluruh murid terpana melihat dinding berbentuk seperti memutar, dapat terasa jiwa artistik seraya menghayati penghormatan kota.


Ketika tiba di pusat dari dinding spiral itu, sebuah patung ksatria berarmor baja berukuran lebih besar telah berada di depan mata. Bedanya, ksatria tersebut menunggangi kuda dan mengangkat pedang menggunakan tangan kanan. Bagian puncak pedang seakan-akan menunjuk arah langit.


“Jujur, aku belum pernah kemari selama di kota Silvarion.” Yudai mencoba memulai percakapan pada Tay dan Neu demi meredakan suasana.


Sang pemandu wisata mulai bercerita tentang sejarah di balik pembentukan kota Silvarion beserta monumen tersebut, “Kota Silvarion tidak akan ada jika tanpa perjuangan seorang ksatria di hadapan kalian.”


Pernyataan sang pemandu wisata tersebut mengundang keheranan dari beberapa murid tahun pertama, pertanyaan seperti “Hah? Ksatria patung?” atau “Memangnya bisa ksatria patung seperti dia bertarung dulu?”


Pemandu wisata itu menambah, “Maksud saya, sosok tokoh yang dijadikan patung ini merupakan seorang pahlawan kota. Dia telah berjasa melindungi daerah ini dari serangan pasukan monster. Pasukan monster telah membumihanguskan sebuah desa di daerah ini, rumah, bangunan, kebun, dan tempat penting bagi desa hampir semuanya hancur di tangan mereka.


“Beruntungnya, ada seorang pahlawan, yaitu seorang ksatria. Ksatria itu bernama Silvarion.”


Hampir seluruh murid tahun pertama merespons terkejut sampai membentuk bibir menjadi bentuk bulat sejenak. Mereka tidak menyangka kota tersebut diambil dari nama sang pahlawan.


“Sandang, pangan, dan papan turut menjadi incaran sekumpulan pasukan monster untuk dibumihanguskan, terutama di antara perbatasan kota. Ksatria yang bernama Silvarion ini mampu memimpin pasukannya untuk memusnahkan seluruh pasukan monster hingga akhir hayatnya.


“Begitu perang dengan pasukan monster usai, kerajaan Anagarde ikut turun tangan selama kunjungan ke benua Riswein dan membantu masyarakat daerah ini membangun sebuah kota. Mereka sepakat kota yang mereka bangun ini dinamakan Silvarion, nama dari ksatria ini.


“Tidak heran, kota ini menjadi pusat dari job striker, terutama swordsman dan knight. Masyarakat yang ingin menjadi archer dan royal guard juga tidak sedikit, demi meneruskan tradisi dari jasa Silvarion pada kota ini.”


“Wow,” ucap Beatrice dan Neu yang menjadi minoritas dalam mengambil tipe job.


Selesai mendengar penjelasan sejarah dari sang pemandu wisata, tidak sedikit murid yang menempatkan tangan kiri pada dada kanan masing-masing menghadap patung, seraya menghormati jasa Silvarion atas kota yang bernama sama itu.


Tidak lupa, mereka juga berterima kasih pada kerajaan Anagarde dalam hati. Jika bukan karena jasa mereka dalam membantu pembangunan kota secara finansial, kota Silvarion tidak akan terjadi seperti sekarang.


***


Seluruh murid menghela napas ketika tiba di ruang makan penginapan sepulang dari monumen Silvarion. Mereka terpikir kenyataan bahwa siput escargot akan menjadi hidangan utama makan siang sekali lagi.


Beberapa dari mereka terpikir lebih baik beli aneka manisan daripada melahap hidangan menjijikan seperti sepiring siput escargot sekali lagi. Namun, seluruh professor pendamping justru melarang siapapun untuk meninggalkan ruang makan selama waktu makan siang berlangsung.


Beberapa pelayan tiba membawakan sepiring besar hidangan yang masih tertutup oleh sebuah penutup bundar. Seluruh murid tahun pertama berharap setidaknya hidangan pembuka masih masuk akal bagi indera perasa masing-masing.


Ketika sepiring hidangan tersebut tiba di atas meja masing-masing kelompok, setiap pelayan membuka penutup hidangan dan mengungkapkan menu makan siang tersebut. Sepiring hidangan tersebut meliputi aneka daging, tetapi bukan yang seluruh murid inginkan.


Makan siang besar tersebut meliputi hiu fermentasi, acar herring, usus bakar, puffin panggang, dan kepala domba. Tidak heran hampir seluruh murid mulai merasa jijik dengan aneka hidangan tersebut.


Beberapa murid mulai berkomentar, “Ini lebih buruk daripada siput escargot!”


“Aku lebih baik muntah daripada menikmati hidangan ini!”


“Hidangan macam apa ini?”


Yudai bahkan melihat lebih dekat semua hidangan tersebut. “Whoa! Aku bahkan tidak pernah menikmati ini sebelumnya!”


“Silakan makan,” Dolce dengan datar mempersilakan.


Hampir seluruh murid memalingkan wajah ketika mengambil sepotong salah satu hidangan tersebut menggunakan garpu dan pisau. Mereka bahkan menutup mata ketika memasukkan sepotong hidangan ke dalam mulut.


“Oke, apa boleh buat,” ucap Yudai mulai memotong hiu fermentasi bahkan tanpa memalingkan wajah atau menutup mata.


Mengandalkan jiwa petualang sekali lagi, Yudai langsung memasukkan sepotong hiu fermentasi dari garpu ke dalam mulut. Mengetahui respons terhadap siput escargot, hampir seluruh murid tahun pertama menyaksikan Yudai menikmati sepotong hiu fermentasi, terutama Tay dan Neu yang berada di dekatnya.


Yudai berkomentar terhadap rasa hiu fermentasi, “Ya, ini tidak buruk.”


“Ah!” hampir seluruh murid berkomentar lagi.


“Apa dia memang manusia jika dia menikmati semua hidangan itu?”


“Oke.” Beatrice mulai mengambil usus bakar hanya menggunakan tangan kosong. “Jangan berpikir, kunyah dan telan saja.”


Lebih mudah untuk berbicara daripada melakukannya, yaitu melahap seluruh hidangan makan siang lebih buruk daripada siput escargot pada hari sebelumnya. Banyak dari murid tahun pertama tidak sanggup menelan hingga memuntahkan kunyahan masing-masing.


Yudai menjadi murid pertama yang mampu hampir menyelesaikan sepiring hidangan aneka daging tersebut, hanya menyisakan mata domba. Digenggamnya salah satu mata dari tulang kepala domba.


Hampir seluruh murid tahun pertama yang menyaksikan Yudai mengambil mata domba tersebut menggeretakkan gigi, merasa jijik akan tampak bagian hidangan terakhir tersebut. 


Tanpa melihat secara langsung, Yudai langsung memasukkan mata domba tersebut ke dalam mulutnya. Ketika dia kunyah, rasa aneh mulai mencemar lidah.


“Oke, ini cukup menjijikan rasanya,” komentar Yudai.


Satu jam telah berlalu, hanya sedikit, termasuk Yudai, yang mampu menghabiskan seluruh hidangan menjijikan tersebut. Beberapa lagi tidak mampu menghabiskan hingga harus memuntahkan saking tidak tahan dengan rasa dan penampilan hidangan-hidangan tersebut.


“YEAAAAH!” jerit sebagian besar murid tahun pertama merayakan sambil mengayunkan tangan.


“Harap tenang!” Hunt menghentikan perayaan tersebut sebelum menyatakan. “Sebelum kalian pergi, saya punya pengumuman penting untuk kalian. Kalian akan pergi ke labirin Oslork untuk menyelesaikan sebuah tugas besok.”


Hampir seluruh murid tahun pertama terenyak. Mereka tidak menyangka sebuah tamasya terdapat satu tugas wajib dikerjakan pada esok hari. Mereka menghela napas sampai menempati kembali tempat duduk setelah bersiap berdiri.


“Tamasya ini bukan sekadar memperkenalkan daerah luar kerajaan Anagarde atau Akademi Lorelei, tetapi hal ini untuk mempersiapkan kalian agar mampu bertualang secara mandiri, termasuk mengelilingi dunia.”


“Astaga,” ucap Beatrice.


“Baik, tugas kalian di labirin Oslork untuk kalian besok. Kalian harus memasuki ke dalamnya, berkeliling, dan mencari satu-satunya jalan keluar di seberang,” Hunt mengumumkan tugas tersebut.


“Hah?” jerit mayoritas dari murid tahun pertama.


“Sial, sudah kuduga, untung aku bawa busur dan panah,” komentar Yudai.


Mayoritas murid tahun pertama sempat ingin melayangkan protes karena kesenangan selama bertamasya harus terganggu oleh sebuah tugas dari seorang profesor seperti Hunt. Lagipula, tidak semua membawa senjata selama perjalanan berlangsung.


“Semuanya, bagi yang tidak membawa senjata, kalian bisa membelinya di toko senjata sekitar sini. Jika kalian butuh perlindungan lebih seperti armor atau helm, kalian juga bisa membelinya di beberapa toko sekitar sini. Saya harap kalian punya uang vial yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk besok.”


“Astaga,” salah satu murid berkomentar.


“Aku tidak menyangka akan ada tugas seperti ini.”


Hunt melanjutkan, “Kalian akan mengelilingi labirin Oslork bersama kelompok masing-masing, sesuai urutan kelompok. Bersiaplah, kalian harus mengandalkan kekompakan dan kerja sama tim untuk dapat keluar dari labirin dengan selamat. Kalian boleh pergi.”


Begitu satu per satu murid mulai membubarkan diri, pembicaraan seputar tugas tersebut mulai menjadi topik pembicaraan utama. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka harus mengerjakan sebuah tugas pada esok hari, apalagi jika hal itu membutuhkan senjata.


Beatrice menghela napas. “Aku bawa song sphere, jadi kita akan baik-baik saja, untuk sekarang.”


“Aku juga bawa belati,” tambah Sans, “setidaknya, sekarang waktu bebas.”


“Um, aku sebaiknya pergi ke kamar duluan,” Sierra pamit.


“Eh? Kenapa? Sekarang kan waktu bebas?” Beatrice tercengang.


“Aku … hanya lelah sehabis memakan hidangan tadi. Aku sebaiknya beristirahat.” Sierra bangkit dari tempat duduk dari berlalu mengikuti beberapa murid lain menuju tangga.


“Hei,” sapa Neu ketika dirinya dan Yudai menghampiri Sans dan Beatrice, “kalian ingin pergi?”


“Tay tidak ikut kalian?” Beatrice menatap Tay mengikuti murid lain menuju tangga.


“Terserah dia.” Neu menggeleng.


***


“Ah, aku masih lapar.” Neu menyentuh perutnya ketika keluar dari penginapan mendekati air mancur pusat kota. “Kalian juga, kan?”


“Sedikit,” jawab Beatrice.


“Aku sudah kenyang.” Yudai mengangkat kedua tangan ke atas sambil berjalan.


“Omong-omong, kenapa kamu sampai bisa menikmati siput escargot dan sepiring hidangan tadi?” Neu mempertanyakan.


“Aku tidak tahu. Mungkin karena jiwa petualangku,” Yudai menjelaskan, “omong-omong, kalau aku mulai mencari orangtuaku di sekitar sini sekarang, aku tidak punya apa-apa, bahkan petunjuk. Kedua orangtuaku bahkan tidak pernah bilang mereka mau kemana, bahkan kakek dan nenekku juga tidak tahu.”


“Oh. Pasti kedua orangtuamu suka dengan siput escargot dan hidangan semacam tadi,” Beatrice menyimpulkan.


Neu mulai memimpin jalan di posisi terdepan. “Jadi waktu bebas ini, setelah kita cari makan siang, kita mau apalagi? Mencari armor atau jubah untuk tugas besok?”


Yudai hanya menjawab, “Terserah, yang penting aku ingin berkeliling kota ini secara mandiri, bersama kalian lebih baik.”


Neu menghela napas. “Aku sudah menahan diri untuk berkata diri, tetapi aku senang aku bisa berkeliling kota tanpa Tay. Akhirnya, ketegangan terangkat dari pikiranku!”


Yudai kembali bersuara, “Omong-omong, aku juga masih ingin mengenal Tay lebih jauh. Mengapa sahabat Tay dulu sampai mengabaikannya?”


Neu membuang muka, “Biar saja. Dia pantas mendapat perlakuan seperti itu. Namanya juga karma, ketika dia mengabaikan teman-temannya, dia akan mendapat ganjaran setimpal. Kalian lihat sendiri, kan?”


Beatrice masih menjulurkan senyuman. “Meski dia punya sisi buruk yang terlihat, di bagian dalam dia punya sisi baik tersembunyi.”


Yudai setuju sambil bersorak. “Ya! Itu yang ingin kucari dari Tay! Itu dia!”


Neu menggeleng tidak setuju. “Dia tidak akan punya hal seperti itu. Kalau ada, paling sedikit.”


Yudai menampar bahu Neu ketika berbelok menemui sebuah semak belukar. “Ah! Hanya perasaanmu saja!”


“Whoa!” jerit Beatrice tertarik oleh sebuah sentuhan di balik sebuah gang antara dua bangunan dan tidak ada satupun yang menyadari.


Sebuah genggaman tangan kiri menutup mulut Beatrice begitu rapat. Dari sentuhan cukup kasar, dia menyimpulkan bahwa yang menggapainya adalah seorang lelaki.


“Lepas—” Beatrice mulai bersuara menampar genggaman tangan kiri lelaki tersebut.


Ketika berbalik, Beatrice melongo menatap sosok lelaki berkacamata, bertopi hitam polkadot, dan berambut cokelat muda itu. Dia terengah-engah ketika terpicu ingatan sosok lelaki tersebut di dalam antara dua bangunan.


“Ti-tidak mungkin! Kenapa! Kenapa Anda di sini?”


Lelaki itu mengingatkan, “Sudah lama tidak bertemu, nyonya muda Beatrice. Kamu telah meninggalkan rumah seorang diri dalam waktu yang cukup lama.”


“Bukannya—”


“Entah kebetulan atau bukan, saya di Silvarion untuk mencari senjata baru. Tetapi, begitu saya melihat dirimu bersama murid-murid Akademi Lorelei, lebih tepatnya, kamu menjadi murid Akademi Lorelei berdasarkan pandangan saya. Pulanglah, Beatrice. Kembalilah ke rumah. Ibumu benar-benar khawatir.”