
Rangka kayu dan kain cokelat muda. Dua benda di langit-langit menjadi tatapan pertama bagi Sans setelah membuka mata. Kain lembut pada punggungnya turut menjadi alas selama berbaring tidak sadarkan diri.
“Eh?” Sans mengangkat punggungnya, sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Meski rasa sakit masih seperti menusuk bagai benda tumpul pada punggung, dia menempatkan kedua tangan pada belakangnya untuk membantu berdiri. Perlahan dia angkat tubuhnya untuk berdiri.
Tangan kirinya turut menyentuh punggung demi sedikit menahan sakit. Menoleh ke samping kirinya, Yudai dan Riri masih menutup mata belum kembali mendapat kesadaran akibat semalam.
“Be-benar.”
Terlintas kembali sebuah kilas balik dari semalam. Mereka menghadapi Basilisk sebagai misi kelas A, misi yang jauh melampaui kemampuannya sejauh ini.
Dia menjadi orang pertama yang tumbang selama menghadapi Basilisk. Jika mengingat kembali, bongkahan dinding reruntuhan menimpa punggungnya hingga tidak dapat bangkit.
Dia menghela napas kembali, menoleh pada Riri. Sebelum kehilangan kesadaran, terakhir kali dia saksikan Riri mengunakan teknik penyembuh monk.
“La-lalu apa yang terjadi setelah itu?”
Sans mulai melangkah, melewati pintu tenda yang seakan terbelah ketika menyentuhkan kedua tangan. Ketika keluar, kumpulan tenda putih berbentuk bundar telah berjajar di tanah gersang tanpa adanya pohon.
“I-ini di mana?”
“Oh syukurlah, kamu sadar juga.” Seorang perempuan berambut biru pendek mencapai pipi menghampiri dari kirinya.
“E-eh?” Sans menoleh pada perempuan itu. “Te-tempat apa ini?”
“Ini adalah tempat pengungsian sementara bagi penduduk desa Salazar, tidak cukup jauh. Kami berkali-kali berpindah tempat karena Basilisk kerap menemukan kami hari demi hari saat tengah malam. Kami berencana untuk pindah lagi semalam—”
“Uh ….” Yudai melangkah keluar dari tenda menghampiri Sans dan perempuan itu. Dahinya telah terbungkus oleh perban putih untuk meredakan rasa sakit akibat semalam. “Sans?”
“Yu-Yudai?”
Perempuan itu menambah, “Syukurlah. Begitu kami dengar kalian yang kemari setelah mengambil misi dari kami, kami berharap yang terbaik. Kami sendiri tidak mampu mengalahkan Basilisk yang menyerbu seluruh kota. Setiap malam, Basilisk memaksa kami untuk memindah tempat pengungsian ini.
“Begitu saya dengar kalian berhasil menaklukkan Basilisk, kami benar-benar lega dan sedih pada saat bersamaan. Kami terpaksa harus mengandalkan kalian untuk membunuh Basilisk, sebuah legenda yang menjadi dasar kota ini. Kami bahkan tidak tahu mengapa Basilisk menyerang seluruh kota begitu saja.”
Sans menganggapi, “A-aku minta maaf.”
“Ja-jadi … kita mengalahkan Basilisk?” ulang Yudai. “Sebentar, terakhir kali, aku dikejar-kejar Basilisk saat bersama Katherine, lalu tiba-tiba saja aku berada di sini. Ka-kamu mengalahkan—”
“Seingatku, Riri yang menaklukkannya. Mungkin berkat kita mengandalkan kelemahan Basilisk, Riri dapat menyerang menggunakan tenaga sekuat mungkin.”
“Tu-tunggu, apa dia lihat tembakanku mengenai salah satu mata Basilisk? Soalnya aku tidak dapat melihatnya demi bertahan hidup. Kalau tidak, anggap saja keberuntungan tidak berpihak sama sekali.”
“Begitu.” Sans kembali bertanya pada perempuan di hadapannya itu, “oh! Di mana kedua teman kami yang lain?”
Perempuan itu menjawab, “Oh, mereka ingin aku menunjuk tempatnya begitu kalian telah sadar.”
“Ri-Riri?” Yudai menoleh pada Riri yang baru saja menghampiri.
Riri menyentuh bahu kirinya terlebih dahulu setelah keluar dari tenda. “A-apa yang terjadi?”
“Baik, kalian bertiga sudah sadar. Ikut saya.” Perempuan itu mulai berbelok.
***
Memasuki salah satu tenda, Sans, Yudai, dan Riri mendapati Beatrice dan Katherine masih duduk, gemetar atas apa yang telah terjadi semalam. Kelegaan teah tergambar pada wajah kedua gadis itu menatap ketiga temannya baik-baik.
“Sa-Sans? Yu-Yudai?” Beatrice bangkit dengan mata berlinang dan tubuh gemetar. “Syukurlah! Kalian baik-baik saja!”
Sans dan Yudai tercengang menatap Beatrice berlari menghampiri mereka. “A-aku kira kalian akan mati!”
“Be-Beatrice,” ucap Sans dan Yudai bersamaan.
“Ri-Riri.” Giliran Katherine yang menghampiri Katherine. “Yudai, Sans. Syukurlah. Setelah aku berusaha keras menyembuhkan Yudai, warga desa berdatangan membawa kalian. A-aku benar-benar khawatir.”
“Katherine,” gumam Yudai.
Riri mengungkapkan setelah menghela napas, “Semalam itu … seperti mimpi. Aku … masih tidak percaya. Aku, maksudku, kita … berhasil mengalahkan Basilisk. Mungkin berkat kita mengandalkan kelemahannya. Meski kita harus berakhir seperti ini.
“Syukurlah, setidaknya kita semua selamat. Setidaknya, kita tidak dimakan hidup-hidup atau menatap mata Basilisk secara langsung.”
“Misi kelas A benar-benar berbahaya!” Beatrice menggelengkan kepala sambil menutup mata, membiarkan tubuhnya gemetar panik.
“Benar,” Sans berkomentar, “aku benar-benar takut, sangat takut saat menghadapi Basilisk. Dia monster yang berbahaya, lebih berbahaya daripada yang pernah kita hadapi sebelumnya.”
“Aku juga. Setidaknya kita berhasil mengalahkannya,” lanjut Yudai, “tapi tetap saja.”
“Kalian merasakannya, kan?” tutur Riri. “Seperti yang kurasakan saat aku dan Katherine berusaha menyelesaikan misi kelas B. Tapi sebaiknya kalian jangan dulu ambil misi seperti ini lagi kalau belum siap.”
“Ah!!” Yudai menggesekkan tangan pada rambut pendeknya. “Padahal aku ingin mengambil misi kelas A lagi.”
“Ja-jangan!” tuntut Beatrice menggelengkan kepala. “A-aku belum siap untuk mengambil misi seperti tadi lagi!”
***
“Terima kasih banyak telah menyelamatkan kami, daerah kami, dari ancaman Basilisk.”
Seorang pria berkepala gundul dan berjenggot putih tebal menundukkan kepala pada Sans dan teman-temannya, bersama dengan beberapa penduduk lain di luar tenda, yaitu tempat pengungsian berupa tanah gersang tanpa adanya tumbuhan.
“Uh, sebenarnya Basiilsk telah memakan hidup-hidup orang penting kota kami, termasuk kepala desa. Bahkan, setiap relawan yang datang kemari untuk mengalahkan Basilisk semuanya mati, entah dimakan hidup-hidup atau menatap langsung pada mata. Kami berpikir, ini saatnya untuk menyingkirkan ular raksasa itu” Pria berkepala gundul itu menundukkan kepala. “Tapi setidaknya kalian datang dan menyelamatkan kami semua. Kami semua tidak akan selamat jika kalian tidak datang kemari dan mengalahkan ular raksasa itu.
Riri cukup tertegun atas kenyataan bagi penduduk desa Salazar. Dia menghela napas.
“Kalau begitu, kalian simpan saja upahnya untuk memperbaiki desa.”
Yudai menganggapi keputusan Riri, “E-eh? Ri-Riri? Kenapa?”
Salah satu dari penduduk juga ikut bertutur, “Tapi kalian pantas menerima hadiah misinya. Kalian berhasil menaklukkan Basilisk.”
“Aku merasa tidak enak kalau kalian rela menghabiskan uang hanya untuk membayar keberhasilan kami, sementara desa kalian masih menjadi reruntuhan,” Riri membela keputusannya.
“Ta-tapi kami bisa meminta kerajaan untuk bantuan memperbaiki desa. Kami rela menunggu cukup lama untuk bantuan itu,” pria berkepala gundul itu menolak halus.
“Lagipula, meski kami berhasil menjalankan tugas kalian sesuai lembar misi—” Riri menundukkan kepalanya. “—untuk menyelesaikan misi setingkat seperti ini, kemampuan kami masih jauh lebih rendah.”
“Riri,” gumam Sans.
“Jadi kami merasa belum pantas untuk menerima uang dari misi ini.” Riri kembali menegakkan kepalanya.
Beatrice, Katherine, dan Yudai jauh dari tercengang atas keputusan Riri itu. Sans menutup mata dan mengangguk, membayangkan kembali setiap kilasan saat mengalahkan Basilisk.
Keberuntungan, jika terus diandalkan tanpa mengembangkan kemampuan, pasti akan kalah telak melawan setiap kesulitan. Seperti halnya saat Yudai mengandalkannya dalam menembak tepat ke arah mata Basilisk tanpa melihat secara langsung. Ditambah lagi, mereka hampir tumbang akibat sergapan Basilisk, bahkan membuat Yudai pingsan dan Sans kesakitan tertimpa bongkahan besar reruntuhan.
“Kenapa begitu, Riri? Bukannya kita berhasil menaklukkan Basilisk dengan segala kemampuan terbaik kita sendiri?” tolak Yudai.
“Yudai.” Sans menepuk bahunya. “Memang benar kita sudah melakukan yang terbaik, tapi secara kemampuan, kita masih jauh dari standar misi kelas A, apalagi misi kelas B.”
“Sans benar.” Riri mengangguk sambil berbalik menghadapi keempat temannya. “Kita sudah melakukan semampu mungkin, mulai dari mengandalkan kelemahan Basilisk hingga melawannya secara langsung. Jadi sebaiknya kita tidak terima upah itu, mengingat mereka juga butuh memperbaiki kota.
“Ya, kita juga sudah dapat pengalaman menyelesaikan misi lebih sulit daripada biasanya.” Riri menyeringai mengungkapkan sisi positif. “Sans, Beatrice, Yudai, kalian sudah tahu betapa sulitnya misi kelas A, bahkan misi kelas B juga seperti yang Katherine dan aku pernah alami. Semakin banyak pengalaman yang kita dapatkan dalam setiap misi, setiap tingkatnya, selagi siap, semakin berkembang juga dalam kemampuan bertarung.”
Beatrice membuat asumsi, “Ah, kalau begitu, kalau misi yang kita hadapi sebelumnya terasa seram sekali, berarti lama-kelamaan, misi kelas A yang akan kita hadapi ke depannya tidak akan seram, kan? Kalau kita sudah jauh lebih berkembang?”
Asumsi Beatrice pun mengundang gelak tawa jika semakin terpendam di dalam benak masing-masing. Yudai dan Riri terlebih dahulu menyeringai hingga tidak dapat menahan tawa. Sans dan Katherine pun secara diam tidak dapat menahan geli pada tenggorokannya.
Wajah Beatrice memerah setelah mendengar hampir seluruh orang tertawa terhadap perkataannya.
“E-eh? A-apa aku berkata yang aneh-aneh?”
Yudai menggeleng. “Setidaknya cukup mendekati dengan kenyataan. Kita pasti akan menyelesaikan misi kelas A dengan lancar lain kali, selama kita terus berlatih.”
Pria berkepala gundul pun mengambil alih percakapan, “oh ya, sebagai tanda terima kasih, semenjak kalian mengambil misi dari kami di kota kerajaan, kami akan mengantar kalian ke dermaga terdekat untuk kembali ke Aiswalt.”
“Te-terima kasih banyak.” Riri berbalik mengucapkan.
Yudai mengeluh, “Ah, kita tidak dapat uang tambahan selama berlibur.”
“Jangan khawatir, kita akan mengambil misi lagi,” Sans meyakinkannya.
***
Berkat permintaan dari sang pria berkepala gundul begitu tiba di sebuah dermaga selatan Riswein, yaitu dermaga yang jarang dikunjungi nelayan, akhirnya Sans, Beatrice, Yudai, Riri, dan Katherine mendapat sebuah kapal untuk ditumpangi. Terlebih, identitas sebagai petualang asal kota kerajaan di Aiswalt juga membantu.
Kapal pun berangkat ketika matahari terbenam semenjak mereka ingin kembali secepat mungkin. Butuh setidaknya tiga hari untuk tiba kembali di Aiswalt selama perjalanan berlangsung.
Pada akhirnya, mereka kembali ke Akademi Lorelei dengan selamat, tanpa membawa upah dari misi kelas A itu. Setidaknya mereka dapat pengalaman berharga sebelum waktunya.
Masing-masing dari mereka kembali melanjutkan latihan ketika Riri dan Katherine berpisah untuk sementara, tetapi belum meninggalkan akademi. Sans kembali mengunjungi ruangan pribadi Duke untuk memperkuat teknik penstabilan energi dan imajinasi dalam proses transmutasi, meski Duke belum menemukan ruangan tersembunyi. Yudai berlatih seorang diri memperkuat akurasi tembakan panahnya. Beatrice meminta Danson untuk mengajarinya sebuah mantra atau lebih tepatnya, sebagai song mage, lagu baru.
Hal yang tidak Yudai ketahui selama berlatih, Dolce kerap mengintip proses itu. Profesor yang menjadi alumni terbaik sepanjang masa itu menaruh harapan lebih padanya sebagai sang guru. Membiarkannya berlatih seorang diri menjadi keputusan terbaik.
Ketika sedang ada waktu luang dari urusan masing-masing, Sans, Beatrice, dan Yudai berlatih bersama di halaman kastel akademi, menunjukkan kemampuan bertarung masing-masing sejauh ini, menggunakan pepohonan di sekitar sebagai bahan latihan.
Sembilan hari setelah misi menaklukkan Basilisk selesai, dipenuhi oleh latihan, latihan, dan latihan, mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke alun-alun kota untuk melihat quest board. Tentu misi sesuai dengan kemampuan sejauh ini mereka harapkan.
“A-apa? Tidak ada misi kelas C lagi?” sahut Yudai.
“Semuanya misi kelas A.” Sans memindai setiap lembaran misi di barisan atas quest board.
Beatrice menunjuk salah satu lembar di bagian ujung bawah kanan. “Ah! Ada misi kelas D. Kita bisa mengambilnya.”
Yudai menggeleng. “Tidak. Untuk terus mencapai atas, untuk bisa mengambil misi kelas A, kita harus tetap mengambil misi sesuai kemampuan kita sejauh ini, misi kelas C.”
“Lho? Ada misi kelas B juga?” Sans melirik pada salah satu lembar misi itu.
“Misi kelas B?” Yudai sangat girang menatap lembaran misi itu. “Mungkin kita harus mengambilnya! Daripada kita tidak menemukan misi kelas C lagi!”
Sans dan Beatrice melongo terhadap kepolosan dan kegirangan Yudai. Sama sekali tidak mengingat kata Riri, itu yang mereka pikir. Apalagi mereka masih ragu untuk mengambil misi kelas B, mengingat pengalaman dalam misi kelas C masih belum cukup.
“Oke, kita ambil misi ini saja? Bagaimana?”
Sebuah sentuhan pada bahu memicu refleks bagi Beatrice untuk berbalik dan menghela napas kaget. Seseorang yang familier telah berada di hadapannya.
“O-Oya?” Beatrice memanggil nama laki-laki itu.
Sans dan Yudai ikut berbalik tepat setelah Beatrice mengutarakan nama itu.
“Lama tidak berjumpa, Nyonya Muda Beatrice,” sambut Oya, “kita punya urusan yang belum terselesaikan.”