
Berkali-kali Neu melapalkan mantra sihirnya, berkali-kali ia meledakkan sihirnya bertubi-tubi, baik mengenai setiap bagian pintu, termasuk jendela berbentuk lingkaran di bagian atas, sama sekali tidak ada gunanya. Pintu itu tetap utuh dan berdiri kokoh.
Neu mendengus, memukul pintu itu tepat pada kaca jendela lingkaran, baik menggunakan tangan atau tongkat. Berapa kali ia memukul pun, tidak ada satupun garis retakan pada kaca. Sungguh aneh, sangat aneh baginya.
Frustrasi, Neu berbalik dan menghampiri Cherie yang masih terlelap di atas bantal. Masih saja heran familiar-nya sama sekali belum melakukan apapun semenjak bertemu di pulau Familiar.
“Kenapa dirimu selama ini tidak berguna!!” jerit Neu, ingin sekali membangunkan paksa peri mungil berambut pelangi, tanduk ungu bergaris seperti unicorn, pakaian putih, dan berpupil seperti rosario itu.
Sekeras Neu menjerit, buktinya Cherie masih saja terlelap, masih menggunakan kedua tangan sebagai bantalan, seperti seekor bayi naga imut.
Neu menggeleng. Ia beralih kembali pada pintu tersebut.
“****!”
Ia kembali mengintip pada balik jendela pintu itu, berharap siapapun melewati lorong itu dan membukakan pintu. Akan tetapi, setelah ia memikirkannya kembali, ia telah tertangkap saat rekan Sierra memergokinya. Terlebih, ia pasti telah berada di suatu tempat, tempat yang menjadi markas sebuah organisasi mata-mata.
Mengumpulkan kepingan kilas balik di dalam benaknya, ia sudah tahu, Sierra telah menculik dan mengurungnya di ruangan serba putih itu. Ia sama sekali belum tahu di mana keberadaan Sierra. Terlebih, ia terpisah dari seluruh teman-temannya.
Suara langkah kaki mulai terdengar dari balik dinding. Neu dapat mendengarnya cukup lantang. Ia perlahan mundur dan mengeratkan genggaman tongkat mendapati dua laki-laki berseragam zirah baja merah gelap muncul di hadapan pintu. Jantungnya terasa terhenti sampai ia menyentuh dadanya.
Kedua orang itu tertegun menatap dirinya sudah siuman dari tidur panjangnya. Maka, mereka dengan cepat mulai menggerakkan gagang pintu.
“Peug ugha, waze morf ah euf, eb inbladari aht seda.” Neu membacakan mantra dan memutar kedua tangan bersama tongkatnya saat pintu di hadapannya itu mulai terdobrak.
Begitu pintu itu terdobrak, sebuah angin berbentuk pisau panjang meluncur tajam menuju salah satu dari dari laki-laki berseragam zirah. Targetnya pun tidak berkutik dan langsung terempas pada dinding, mengenai kepala terlebih dahulu hingga tidak sadarkan diri.
Rekan laki-laki itu tertegun menyaksikan Neu menggeretakkan gigi dan mengambil Cherie ke pundak. Cukup cepat, Neu berlari kepadanya dan menubruknya ke dinding dekat pintu.
“Di mana aku, son of a *****!!” jerit Neu mencekik pelan laki-laki itu.
“H-hei! Apa yang kamu lakukan?”
“Jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi padaku!” Emosi Neu meledak sampai jeritannya menggema.
“U-um … markas Royal Table.”
“Royal Table apa? Dan mana Sierra? Di mana dia!!”
“Si-Sierra? A-aku tidak tahu siapa dia? Sumpah, aku tidak pernah mendengar nama itu.”
“Soa, falsh eht siqlo morf eht dolc!” bisik Neu tegas sambil menyentuhkan tongkatnya pada dada laki-laki itu
Jentikan kilat menyambar seluruh tubuh lelaki itu sampai menjerit tersiksa. Jantung lelaki itu terasa terhenti begitu lama saat petir menghantam tubuhnya hingga lemas.
“Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa aku berada di sini?” bentak Neu.
“Oke, oke. Black Jack’s apprentice dan Diamond’s apprentice membawamu kemari dari Vaniar. Mereka membuatmu pingsan selama berhari-hari di sini.”
Black Jack’s apprentice dan Diamond’s apprentice. Kedua nama itu memicu Neu mengingat identitas Sierra sebagai Black Jack’s apprentice, terutama saat bootcamp di Vaniar.
“Lalu?”
“U-um …. Ka-kalau tidak salah … mereka … meminumkanmu semacam air. Air apa namanya? Kalau tidak salah … air berwarna biru bening untuk membuatmu tidur selama beberapa hari. Itu yang … saya ingat. Ka-kamu tahu terlalu banyak katanya.”
“Memangnya aku terlihat tahu soal Royal Table!!” jerit Neu lagi. “*E*n pyro, daco nad parn mo."
Sebuah sambaran api seketika menyelimuti seluruh tubuh lelaki itu. Neu pun melepas cekikan lembut dan mendorongnya, membiarkannya meronta-ronta tersiksa oleh panas api memanggang seluruh kulitnya.
Bertepatan dengan itu, segerombolan laki-laki berseragam zirah baja merah gelap lainnya berbelok dan menatap di hadapannya. Ia melenguh menatapi gerombolan itu merupakan pasukan Royal Table.
Seluruh pasukan tersebut terkesiap meratapi kedua rekan di hadapannya telah diserang oleh seorang sandera sendiri. Satunya telah terpental ke dinding sampai berdarah di bagian kening, satunya lagi sedang terpanggang api.
“Hentikan dia!” sahut salah satu pasukan di barisan terdepan.
Seluruh pasukan tersebut mulai melesat mengayunkan pedang, halberd, atau tombak. Berlari menghadang Neu sebagai target.
Neu pun bereaksi membacakan mantra dan menggerakkan tongkat seakan menembak lantai, “Los, last eht neme!”
Lantai yang terpijak oleh kaki barisan terdepan seluruh pasukan Royal Table seakan terangkat dan membungkus seluruh kaki mereka, memicu kepanikan dan jeritan. Dari paha hingga telapak kaki, mereka seakan membeku.
Tetapi hal itu tidak berlaku bagi beberapa barisan belakang. Mendapati mereka kembali mengejar, Neu berbalik dan langsung berlari terbirit-birit.
Selagi berlari memilih jalan kanan saat tiba di pertigaan yang seperti bentuk huruf “Y”, ia menoleh pada Cherie yang baru saja mengangkat tangan dan membuka mulut, pertanda bahwa ia sudah lolos dari lelapnya tidur.
“Akhirnya kamu bangun juga!” sahut Neu kembali berlari lurus. “Lakukanlah sesuatu!!”
Cherie justru kembali membuka mulut lebar dan menyandarkan kembali kepala pada pundak Neu. Seperti biasa, ia kembali terlelap.
“Hei! Jangan tidur!!” jeritnya lagi. “Kenapa kamu selalu begini!! Kalau saja aku tahu apa kekuatanmu! Kalau saja kamu benar-benar berguna! Tapi kamu selalu menyembunyikan kekuatanmu saat kamu tidur!! Kamu tidak pernah menunjukkannya sama sekali!! Kita takkan bisa berada dalam situasi begini kalau dirimu tidur terus, familiar bodoh!! Kenapa aku memilih dirimu waktu di pulau Familiar!!”
Berada di persimpangan, sangat tidak beruntung, di hadapannya lagi-lagi ada gerombolan pasukan yang tengah berlari. Entah kenapa, Neu juga merasa mereka juga mengincarnya, sama seperti pasukan di belakangnya.
“Tangkap si sandera itu!!”
“Hiii!!” Neu secara refleks berbelok kiri. Instingnya mengatakan ia harus belok kanan, entah kenapa, ia memilih jalan sebaliknya.
Setiap belokan, ia mengandalkan refleksnya semenjak dalam tekanan kejaran seluruh pasukan Royal Table. Tiga kali ia berbelok, ia mendapati sebuah ruangan berbentuk persegi panjang. Sayangnya, hanya tembok dan ruangan kosong yang ada.
“Bu-buntu!!” jerit Neu.
Ia berbalik mendapati seluruh pasukan Royal Table berbondong-bondong masuk ke ruangan tersebut, ingin sekali menangkapnya.
“Ba-bagaimana ini.” Neu mengangkat tongkatnya, ingin sekali melapalkan mantra dan menyerang menggunakan sihir, sayang sekali, lawannya terlalu banyak. Ia sama sekali belum pernah melawan kelompok sebanyak itu. Sihirnya baru hanya bisa mencapai beberapa orang.
Dua orang pasukan di barisan terdepan sama sekali tidak bersenjata. Mereka justru mengangkat tangan, ingin sekali menggenggam kedua lengan Neu untuk menangkapnya. Begitu tenang, sangat tenang, mereka tersenyum lega misi mereka sudah tercapai sangat mudah.
“Ti-tidak!” Neu mengedepankan tongkatnya ingin membaca mantra, sudah sangat terdesak.
Cherie langsung membuka mata mendapati majikannya telah terdesak oleh pasukan Royal Table. Tangan kedua pasukan Royal Table di hadapannya menggapai tangan Neu.
Akhirnya peri mungil itu melayang dan mulai membuka mulut. Ia menjerit menimbulkan suara bergema tinggi bersama dengan sebongkah cahaya pelangi bersumber dari tanduknya. Saking silaunya, memicu seluruh pasukan tersebut menjerit.
Neu juga tertegun dan membuang muka, menutup mata mendapati familiar-nya telah menggunakan kekuatannya. Saat kembali membuka mata, ia terkesiap mendapati seluruh pasukan Royal Table di hadapannya itu sudah tidak bergerak, seakan-akan menjadi patung. Namun, hanya gerakan pupil mata dan embusan napas masih ada.
Cherie, familiar-nya, kembali ke bahu Neu, lelah setelah menunjukkan kekuatannya. Akhirnya, setelah sekian lama menanti, Neu mendengus kuat menatapinya kembali tidur.
“Kenapa tidak dari tadi saja kamu tunjukkan kekuatanmu.”
Terlebih dahulu, Neu memastikan kedua pasukan Royal Table di hadapannya tidak dapat bergerak, dalam pose ingin menangkap. Jika melihat dari dekat, ia dapat pastikan kedua bola mata masih bergerak, embusan napas juga masih keluar dari hidung dan mulut.
“A-aku mengerti—” Neu menyimpulkan, “—jadi kekuatanmu itu … membekukan orang untuk sementara waktu, kecuali bagian bola mata dan hidung. Sekali lagi, kenapa tidak dari tadi saja!”
“Benar. Kita harus keluar dari sini dan kembali ke Akademi Lorelei.”
Cukup santai, tetapi jantung masih sangat berdegup tidak beraturan, Neu melewati seluruh pasukan Royal Table yang tidak dapat melakukan apapun selain melirik dan bernapas. Dalam hati mereka tertegun menyaksikan Neu dapat lolos begitu saja.
Neu akhirnya dapat bernapas lega saat melewati semuanya, kembali berbelok dan berlari.
***
Berkali-kali Neu menyusuri seluruh lorong sebuah tempat antah-berantah itu. Sering sekali ia mendapati sebuah ruangan tak berpintu alias buntu. Ketegangan masih saja menggerogoti tubuhnya.
Setidaknya setelah tiga puluh menit berkali-kali tersesat, ia mendapati sebuah tangga seperti tertempel. Tangga menuju sebuah lantai bawah. Semenjak selama ini lorong yang ia lewati tidak berjendela sama sekali, ia menyimpulkan tangga berlebar kurang lebih satu setengah meter itu adalah jalan menuju lantai bawah, sebuah jalan keluar.
Neu perlahan menapakkan kaki pada anak tangga satu per satu, memastikan ia mengendap-endap dalam melewati tangga. Saat ia mencapai pertengahan tangga, ia menempatkan kedua kaki pada anak tangga, tercengang tidak percaya apa yang ia lihat.
“A-apa ini?”
Kumpulan rak buku berukuran lebar seakan seperti sebuah dinding di sisi kanan, saling menempel. Penuh dengan buku. Ketika ia mengangkat kaki dari anak tangga terakhir, ia memutari ruangan itu. Sebelah kirinya, terdapat kumpulan lilin menyala sebagai penerangan.
“I-ini—”
Neu melirik ke langit-langit, terdapat sebuah peta dunia membentang luas mendominasi seluruh atap. Ia berdecak kagum pada siapapun yang mampu melukis atau memasang gambar itu di atap tersebut.
Ia berfokus pada sebuah meja jauh di hadapannya, bersama dengan berbagai lembaran kertas di meja di setiap sisinya. Sungguh, ia menjadi penasaran saat berjalan lurus pada sebuah meja itu.
Saat mendekatinya, ia melirik setidaknya empat buah cincin batu akik. Batu akik merah muda lah yang paling menarik perhatiannya. Maka ia mengambil cincin itu dari paling sebelah kiri.
“Apa ini?”
Saat ia mendekatkan cincin itu pada matanya, kilasan cahaya dari batu akik itu memancar vertikal dan horizontal dan menyilaukan pandangan seketika. Tubuhnya bergetar merespon begitu pikiran mereka mulai mengacak, seperti ingin pingsan.
Neu tertegun pandangannya seketika berubah di sekelilingnya. Tampak sebuah bangunan berbentuk kubus sempurna terbuat dari campuran batu dan kayu. Sekumpulan massa telah berkumpul menggenggam obor bernyalakan api. Saat itu, angin sejuk beserta langit hitam telah menyingsing, berarti peristiwa itu terjadi saat tengah malam.
“Alchemist!” jerit mayoritas dari massa.
“Tidak dapat dimaafkan!”
“Jangan sampai dia kabur!”
Dari setiap sudut, barisan terdepan satu per satu melempar obor, memicu bara api yang memakan bagian depan dari bangunan itu. Api itu semakin membesar seiring semakin banyak obor yang terlempar.
Sama sekali tidak ada bangunan di sekitar, mereka dapat leluasa membakar kemarahan dengan api karena sang penghuni telah melakukan hal tabu.
“Ya! Mati kau, alchemist!”
“Membakarlah di neraka!”
Kilas balik pun berakhir, sebuah cahaya memudar menuju pusat sebelum kembali mendapat kesadaran. Neu membuka mulut, terengah-engah dalam bernapas.
“A-apa itu? A-apa-apaan itu? Alchemist? Masyarakat kerajaan Anagarde?” Neu masih tidak percaya. “Jadi sebenci itu masyarakat kerajaan Anagarde pada alchemist.”
Neu sampai mundur sambil meletakkan cincin batu akik itu dan menyentuhkan tangan kiri pada selembar kertas di belakangnya. Ia melirik lembar kertas yang ia sentuh adalah sebuah buku terbuka. Ia menatap satu per satu kata mulai dari sisi kiri atas. Saat kata demi kata itu terserap menuju benaknya, ia memutar matanya.
“Apa? Jadi Royal Table selama ini ….”
“Neu!”
Sebuah panggilan seorang perempuan di belakang memicu dirinya berbalik.
“Di situ kamu rupanya.” Perempuan itu adalah Sierra. Perempuan bergaun merah gelap panjang itu dengan tenang melewati pintu itu, ingin mendekati Neu.
Neu justru mundur, menggelengkan kepala.
“Si-Sierra?”
“Kamu ternyata sudah melihat semuanya. Semua kebenaran yang ada pada kerajaan Anagarde.”
Neu langsung menegaskan, “Ternyata kamu! Kamu adalah Black Jack’s apprentice. Memang aku tidak salah mendengar sebelum aku pingsan. Kamu yang membawaku kemari!”
Sierra meniup napasnya dan berbicara santai. “Memang benar. Apa yang kamu lihat itu benar-benar nyata. Aku adalah seorang mata-matanya, seorang mata-mata yang menyamar menjadi murid Akademi Lorelei.”
Neu kembali melirik pada lembaran halaman buku, beserta keempat cincin batu akik di meja.
“Kamu sudah melihatnya? Memory shard di cincin batu akik itu?”
“Sierra, katakan kalau semua itu bohong. Semuanya bohong, kan?”
“Apa yang kamu bicarakan, Neu?”
“Kenapa Royal Table terobsesi sekali dengan insiden alchemist? Katakan yang kulihat setelah menyentuh cincin itu, alchemist dibunuh dan dibenci masyarakat kerajaan Anagarde itu bohong. Semuanya bullshit!”
Sierra mulai melangkah dan menggeleng. “Neu, Neu, Neu. Semuanya bukan bullshit …. Itu yang sebenarnya terjadi—”
“Bagaimana bisa ada cincin yang kupegang menunjukkan peristiwa pada masa lalu? Apa ini bagian dari rencanamu? Rencana Royal Table?”
Sierra menghentikan langkahnya. “Dunia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya tentang alchemist. Kebenaran telah disembunyikan dari semua orang. Semua yang dikatakan oleh siapapun di kerajaan Anagarde adalah bullshit.”
“Bohong! Bohong! Aku tidak percaya padamu!”
“Sepertinya kamu sudah tahu terlalu banyak, Neu.” Sierra kembali melangkah, kali ini mempercepat entakkan kaki pada lantai untuk mendekatinya. “Aku beri kamu dua pilihan, Neu. Kamu akan dihukum mati karena kamu sudah tahu terlalu banyak tentang Royal Table.
“Atau pilihan kedua, mungkin ini adalah pilihan paling bijak bagimu, kamu akan bergabung dengan Royal Table, bersamaku. Bersama, kita akan membuat dunia percaya kerajaan Anagarde menimbun sebuah kebusukan. Kamu hanya tinggal membantu kami untuk mencari dan menunjukkan buktinya.”
Neu tetap menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak sudi terlibat kebusukan Royal Table. Apalagi, Royal Table-lah yang telah menangkap dan menyanderanya. Ia masih percaya dengan kerajaan Anagarde. Royal Table hanyalah organisasi separatis yang ingin menghancurkan reputasi Akademi Lorelei, itulah yang ia pernah curi dengar dari dua orang profesor.
“Sayang sekali.” Sierra mengangkat tongkatnya. “Kukira kamu sungguh pintar dalam menganalisis. Kamu membuat keputusan yang salah.”
Neu menggeretakkan gigi, menyaksikan Sierra tengah menyiapkan serangannya. Maka, ia menjerit. “Cherie!!”
Cherie pun kembali bangkit dari tidur di pundaknya. Ia membuka mulut dan memancarkan cahaya dari tanduk, sekali lagi mengempaskan kekuatannya. Jeritan beserta cahaya dari tanduk meluncur pada Sierra.
Sierra pun menunduk dan menyingkir dari serangan Cherie, meluncurkan pahanya menuju samping. Saat ia kembali bangkit, ia membaca mantra dan mengempasnya menggunakan tongkat tepat mengarah pada peri mungil itu.
Jeritan Cherie meledak ketika tubuhnya mulai terselimuti oleh cahaya putih mendidih. Cahaya putih itu memicu rasa panas pada kulit, mendidihnya sampai menyiksa hingga ia kehabisan pertahanannya dan terjatuh ke lantai.
“Cherie!” Neu mengangkap tubuh peri mungil itu menggunakan tangan kirinya
“Familiarmu akhirnya punya kekuatannya juga. Tapi dia masih payah, begitu juga keputusanmu. Giliranmu.”
Neu memang harus melawan temannya sendiri, Sierra. Bisa dikatakan bukan lagi temannya, melainkan musuh. Sungguh sulit untuk menyerang apalagi ia sudah sangat mengenal gadis itu.