
Seluruh murid tahun pertama memasuki ruang latihan bertarung, ruangan yang sama persis di mana mereka mendapat pengumuman ujian akhir semester kedua. Dengan Dolce sebagai pemimpin barisan satu deret dan menuntun semuanya menuju lokasi ujian, beberapa dari mereka menelan ludah, menahan muntah, hingga mengalami tremor berkepanjangan.
Puncak dari ujian akhir semester kedua, pertunjukan skill original kepada profesor setiap job dan sesama murid tahun pertama. Mereka tahu masing-masing profesor akan menentukan nilai secara individual untuk digabungkan sebagai nilai total. Terlebih, nilai ujian akhir semester juga akan mendominasi nilai semester kedua, hampir setara dengan nilai bootcamp yang sedikit lebih rendah.
Begitu mereka memasuki lokasi ujian, sudah ada deretan meja berjajakan lembaran kertas dan pena bulu tercelup di botol tinta, beserta bangku. Tentu saja, profesor dari setiap job di akademi sudah berdiri membelakangi meja dan bangku, menyambut seluruh murid tahun pertama.
Alexandria, sesuai dugaan kebanyakan murid, menjadi profesor perwakilan job royal guard. Ia mendengus saat menatap Sans sebagai alchemist masih ada di antara mereka. Ia membuang muka dan beralih tatapan pada profesor lain.
Hunt, sebagai profesor perwakilan job mage, turut menyambut seluruh murid, “Kalian sudah membuat skill original kalian sendiri selama tiga hari terakhir. Sekarang saatnya kalian menunjukkan hasilnya pada kami semua. Kami akan memanggil nama kalian satu per satu, dimulai dari job royal guard. Nama yang dipanggil harus maju dan menghadap kami untuk mempertunjukkan skill originalnya.
“Untuk setiap profesor, silakan ambil tempat kalian. Profesor Alexandria, silakan panggil nama terlebih dahulu.”
Alexandria memanggil sebuah nama begitu ia dan seluruh profesor di ruang ujian itu sudah duduk. Dari belakang, seluruh murid dapat merasakan hawa angkuh, dari gestur hingga kerut pipi.
Hawa angkuh itu terutama terasa oleh Sans, hanya dengan melihat profesor paling dibenci itu.
Memperkaitkan dengan saat Alexandria protes Sans lolos dari hukuman, sangat tampak Alexandria tidak ingin banyak bicara, membiarkan spekulasi dari murid-murid bertebaran.
Seorang murid royal guard yang dipanggil itu maju terlebih dahulu, menghadapi seluruh profesor perwakilan job. Dilihatnya murid itu menyebutkan nama skill original dan fungsinya.
Sans kemudian melirik teman-teman di dekatnya. Terlebih dahulu, ia memandang Beatrice dan Katherine yang pucat, mencoba mengingat-ingat kalimat mantra atau lirik lagu demi menghilangkan ketegangan.
Selanjutnya, Neu yang tengah berbicara pada Cherie, familiarnya di bahu, berharap dukungan dari makhluk mungil itu. Bagi Sans, Neu pasti mampu mengesankan seluruh profesor dengan mantra baru sebagai skill originalnya.
Tay dan Ruka juga tidak berbicara sama sekali, melainkan fokus memperhatikan pertunjukan skill. Begitu murid royal guard pertama selesai menunjukkan sebuah skill original dan menghantamkannya pada sebuah dummy jerami, pembicaraan mereka berdua mulai terdengar.
“Begitu saja,” komentar Ruka, “sepertinya seluruh profesor tidak berkomentar apapun.”
Tay menambah saat murid royal guard itu mulai meninggalkan salah satu arena kembali menuju barisan murid, “bahkan tidak juga menyatakan lulus atau tidak.”
Yudai mendesah di samping Sans, “Akan sulit juga menentukan kita lulus atau tidak.”
Sans mengangguk, ia memastikan meski hanya dari belakang, gestur dan raut wajah setiap profesor yang menilai skill original masing-masing tidak dapat tertebak.
Satu per satu murid royal guard bergantian melaju ke arena. Begitu mereka menapakkan kaki di arena itu, di hadapan seluruh profesor penguji, skill original mereka perkenalkan dan praktikkan. Tentu saja, mereka menjelaskan cara kerja skill masing-masing, ada yang merasa tidak perlu semenjak hanya praktik.
Beatrice menyadari, tidak ada satupun profesor mengomentari skill original sama sekali, hanya mempersilakan setiap murid untuk kembali ke tempatnya. Ia menelan ludah, semenjak ia tidak tahu apakah skill-nya bagus atau tidak nanti.
“Begitu rupanya,” komentar Neu.
“Sandee,” Alexandria memanggil.
Sandee tertegun saat namanya terpanggil. Ia menarik napas sambil berjalan menuju salah satu arena ruang latihan bertarung itu dan berbalik menghadap seluruh profesor.
“Skill originalku bernama Halberd Scream.”
Pertama, Sandee melambung tinggi mengangkat halberd-nya. Ia melaju memanfaatkan momentum lompatannya ke depan. Begitu ia mendaratkan kedua kaki, ia menusukkan halberd-nya pada sebuah dummy Jerami di hadapannya.
Belum selesai, ia mengayunkan halberd-nya ke bawah, meruntuhkan dummy jerami itu seketika.
“Hebat!!” sahut Lana bertepuk tangan.
Sandee menundukkan kepala dan merentangkan tangan kanan seraya hormat, mengucapkan terima kasih, terutama pada Alexandria. Ia pun kembali ke barisan murid di belakang mereka.
Setidaknya tiga nama murid ber-job royal guard telah Alexandria panggil sampai selesai. Ia menundukkan kepala pada Clancy di sebelah kanannya untuk memulai memanggil murid-murid ber-job knight.
Clancy mulai bersuara, “Saya ya. Selanjutnya adalah pertunjukan skill original dari murid-murid knight.” Ia memanggil nama pertama.
Zerowolf kemudian mendahului Yudai dan mendekati Sandee dan Lana. Lagi-lagi ia menyambut Sandee menggunakan wajah tidak bersalahnya. Melihat pemuda itu, Sandee bergerutu pelan.
“Sepertinya berjalan lancar bagimu,”
“Apa maumu?” sanggah Sandee membuang muka.
Sandee mendesah menatap wajah Zerowolf di hadapannya. Meski ia tidak lagi bersama Sans dan teman-temannya, terutama Zerowolf, memandang murid ber-job archer yang menurutnya brengsek itu sudah ingin ia tonjok tepat pada wajah, sampai hidungnya patah sekalian. Itulah bayangan Sandee saat ia menghajar Zerowolf. Atau jika perlu, tusuk dada Zerowolf menggunakan halberd.
“Oooh … merindukanku? Ya, mau bagaimana lagi, habisnya kamu menjauh dariku terus. Oh, contohnya saat di kantin,” Zerowolf meledek, “tuh, cemberut memicu kerutan di wajah lho.”
Kepala Sandee seperti berasap, otaknya melebar dari dua sisi, urat nadi juga mengencang di dalam kulit.
“Kenapa sih? Kamu selalu begini! Memang ada yang salah denganmu!”
Zerowolf memalingkan wajahnya. “Ya, kesalahanku hanya … kamunya tidak mau senyum. Senyum dong. Kamu kan baru saja menunjukkan skill originalmu.”
“Kamu!” jerit Sandee melaju, mengeratkan halberd-nya.
Lana langsung mengikat perut Sandee menggunakan kedua tangan seraya menghentikannya. Tarikan Lana memberatkan Sandee untuk mengangkat kaki hanya untuk mendekati Zerowolf.
“Lepaskan! Sakit!” sahut Sandee.
“Pelukan adalah jawaban terbaik saat kamu marah. Cuuuu….” Lana mendekatkan wajahnya pada pipi Sandee.
“He-hentikan! Banyak orang melihat tahu!”
Zerowolf mengulum senyumannya, berbalik dan mengangkat tangan kiri seraya pamit. “Ya, sampai nanti. Kalian akan takjub melihat skill originalku.”
Sandee menggeretakkan gigi sampai menarik kedua tangan Lana untuk melepas pelukan begitu Zerowolf bergabung kembali dengan Yudai. Urat nadinya semakin mengencang mengingat
“Awas dia!”
“Lana.”
Lana tertegun saat Clancy memanggil namanya. Terpicu dengan panggilan itu, ia mulai mengambil pedang di selongsong punggung beserta tameng. Secara polos, ia siap untuk berunjuk gigi menunjukkan skill originalnya.
“Giliranku. Doakan aku biar berhasil.”
Lana melewati beberapa murid di depannya begitu memasuki salah satu arena latihan pertarungan, menghadapi seluruh profesor sebagai dewan juri di hadapannya.
“Halo! Aku Lana!” Lana memperkenalkan dirinya sekali lagi pada seluruh profesor penguji. Ia mengangkat pedangnya. “Skill-ku bernama Sacred Slash.”
“Ini dia! Sacred Slash!!”
Lana meluncurkan badannya dan menusukkan puncak pedang pada dummy tersebut. Sebagai sentuhan terakhir, ia mengayunkan pedang ke atas dan menghadapkannya dekat pada wajah.
“Terima kasih banyak,” pamit Lana sebelum kembali ke tempatnya, meninggalkan arena.
***
Giliran Riri untuk menunjukkan skill original. Ia menjadi murid monk pertama yang terpanggil. Tanpa perlu pengenalan diri, ia meletakkan kaki kiri di depan membentuk posisi kuda-kuda.
Ia mengambil napas, membiarkan chakra dari dalam tubuhnya merembes menuju kepalan tangan ber-knuckles-nya. Saat ia membuka mata, ia mengangkat kaki kanan di posisi belakang dan melangkah seakan melompat. Ia mengempaskan tangan kanannya terlebih dahulu.
“Knuckle Rush!!”
Riri mendorong kedua tangannya secara bergantian membentuk pukulan bertubi-tubi pada dummy jerami tersebut. Dari pandangan orang lain, dorongan pada kedua tangan secara bergantian seperti berkecepatan tinggi, tidak terlihat pergerakannya.
Riri pun mengakhiri skill-nya dengan memukul dummy tersebut tepat pada kepala. Dummy itu pun roboh dan terbongkar. Jerami pun berserakan di mana-mana, mengagetkan semuanya, semenjak belum ada satupun yang mampu menghancurkan total dummy sejauh ini.
Tanpa hormat dan pamit, ia keluar dari arena dan kembali menghampiri Sans dan yang lain. Ia menghela napas mendapati peluh mengalir di keningnya.
“Tadi itu hebat sekali, Riri!” sahut Yudai kagum.
“Untung saja aku lebih banyak bermeditasi saat memikirkan skill yang akan kubuat,” tanggap Riri, “mungkin berkat chakra-ku yang banyak, skill-ku jadi sekuat tadi.”
Kembali pada pengujian skill murid ber-job monk, semuanya mengerahkan chakra dari dalam tubuh untuk menonjolkan skill, baik bertahan atau menyerang. Seluruh profesor yang menyaksikan tidak berkomentar, hanya menulis nilai di lembar masing-masing.
Sans menelan ludah menatapi selama ini seluruh profesor penguji belum bersuara sama sekali, bahkan untuk berkomentar sekalipun, termasuk dalam menguji skill original murid ber-job monk.
Riri membujuk, “Tenang saja, Sans. Selama kamu sudah membangun skill originalmu dengan baik, pasti mereka akan meluluskanmu.”
“Kamu benar,” tanggap Sans, mencengangkan Riri.
Riri pun meluruskan bibir, tersenyum menatap perubahan dalam tanggapan Sans.
“Sans, kamu sudah berubah rupanya,” gumamnya.
Begitu seluruh murid ber-job monk telah terpanggil, giliran Profesor Speed yang berdiri, mengumumkan murid ber-job swordsman akan menunjukkan skill original selanjutnya. Ia memanggil nama Conti terlebih dahulu.
Conti mendengus menatap Tay sambil melaju ke arena. Belum beberapa detik ia berada di arena, ia menunjukkan ayunan pedang bertubi-tubi di arena, menunjukkan skill originalnya. Ayunan itu mencapai dummy¬ tersebut.
Selesai menunjukkan skill originalnya, ia menyeringai menatap Tay kembali. “Kalau aku lulus nanti, pasti kuhajar kamu. Kalau perlu kubunuh saja sekalian.”
Tay memperhatikan gerak-gerik Conti, rival bebuyutannya itu. Ia sudah tahu Conti menanam dendam terhadapnya semenjak hari kedua pembuatan skill original. Dirinya mendengus menatap Conti, mengingat segala pertikaian waktu itu.
“Tay,” panggil Speed.
Semua murid terdiam ketika salah satu murid yang paling dibenci itu akhirnya melaju ke salah satu arena dan menghadapi setiap profesor. Conti dan ketiga teman dekatnya menjadi salah satu murid melirik tajam, selagi mereka masih teringat kegagalan dalam upaya membunuh Tay dan Ruka.
Conti mendengus mendapati Tay terpanggil tepat setelah dirinya. Baginya, menatap Tay mulai mengambil pedangnya sama saja seperti berhalusinasi dan ingin muntah. Masih saja menggeretakkan gigi menahan emosinya, ia hanya ingin melihat kegagalan Tay dalam menunjukkan skill originalnya.
Terlebih lagi, ia melirik pada Sans dan teman-temannya. Sans ikut menjadi fokus utamanya. Sama sekali tidak berubah pikiran, menatap Sans seakan tenang bersama teman-temannya juga memicu pikiran ingin mengusir, apalagi membunuh. Ia juga ingin ujian akhir semester ini menjadi panggung saat Sans mempermalukan dirinya, apalagi status murid tanpa job itu juga tidak menguntungkan.
Seperti tahu Conti meliriknya, Sans menoleh padanya. Hawa energi kebencian ia rasakan. Ia tahu Conti membencinya, sangat membencinya.
“Biarkan saja dia,” bujuk Yudai mengajak Sans bergeser dan kembali berfokus pada pertunjukan skill original Tay.
Tay menghunuskan pedangnya dan tanpa perlu aba-aba lagi, ia terlebih dahulu memutar pedangnya searah jarum jam sambil mengambil ancang-ancang dari tumpuan kakinya. Seperti tidak perlu memutarkan tangan, bagi seluruh penonton dan profesor penguji, tangannya seperti tidak bergerak.
Ia melepas tumpuan kaki dan melesat mengayunkan pedangnya secara horizontal terlebih dahulu. Ia menjerit mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah secara miring, dari kiri ke kanan. Gerakannya cukup cepat sampai ia melakukannya berkali-kali. IA kemudian melangkahi dummy itu begitu menyelesaikan tahap akhir dalam skill-nya, menebaskan pedangnya pada bagian sisi kiri dummy tersebut.
Selesai Tay menapakkan kakinya kembali, dummy jerami itu hancur berserakan di lantai. Kedua kalinya semenjak ujian akhir semester kedua dimulai.
“Itu tadi Blade Revenger,” Tay mengungkapkan nama skill originalnya.
Semuanya membuka mulut lebar saat salah satu murid yang paling dibenci itu telah berhasil berunjuk gigi sebagai seorang swordsman, bahkan mereka mendengar dari Speed bahwa Tay telah berkembang, saat pertama mereka mendengar komentar seorang profesor tepat setelah mempertunjukkan skill original.
Begitu Tay meninggalkan arena dan kembali ke barisan murid-murid, Speed memanggil Ruka untuk maju.
“Kalau aku gagal, mungkin aku akan menuntut mereka.” Sindiran sinis Ruka seakan mematikan akal teman-temannya, terutama Riri.
Sama seperti Tay, saat Ruka menginjakkan kaki pada arena, ia mulai menghunuskan pedang dan mengangkat kaki kanannya perlahan hingga 90 derajat.
“Blood Light Dance.”
Ia berputar mengayunkan pedangnya sampai mencapai dummy jerami. Saat pedangnya mencapai dummy tersebut, ia melompatinya dan langsung meluncur secara diagonal seraya meluncurkan tebasan pedangnya. Ia juga berjungkir balik mengayunkan pedang dari kepala dummy menuju bawah, diakhiri oleh hantaman horizontal.
Lagi-lagi, dummy jerami itu hancur berkeping-keping. Sudah ketiga kali.
Selesai menunjukkan skill-nya, Ruka mengembalikan pedang ke selongsong di punggungnya. Ia pun kembali menghampiri Sans dan teman-temannya setelah mengangkat kaki dari arena. Riri pun membalas seringainya dengan menatap tajam.
Satu per satu murid swordsman selanjutnya melaju ke arena dan menunjukkan skill original. Sambil menyaksikan, Sans mulai menggetarkan kaki kanannya, apalagi ketika menatap deretan profesor yang membelakangi seluruh murid, terutama Alexandria.
Ia berpikir, jika ia gagal menunjukkan skill-nya, jika skill-nya tidak mengesankan, atau jika ia mendapatkan perlakuan buruk seperti pengurangan nilai hanya karena ia seorang alchemist, pasti ia akan gagal.
Suara benturan keras seperti ledakan menguraikan lamunannya sampai ia mengangkat kepalanya. Seluruh murid berhamburan bersuara panik saat menatap sumber itu.
Seorang murid swordsman perempuan roboh di arena! Saat menunjukkan skill originalnya.
“Astaga!!” sahut Zerowolf bereaksi.
Speed, Dolce, dan Clancy menghampiri murid perempuan itu dan berlutut. Mereka terlebih dahulu mengecek keadaan murid tersebut, mulai dari menyentuh kening hingga tangan.
Sans tidak dapat melihat lebih dekat untuk memastikannya, semenjak profesor lainnya, terutama Alexandria, memperingatkan agar seluruh murid tetap berada di barisan.
“Mungkin dia bersusah payah sampai kelelahan,” komentar Neu, “sampai dia seperti itu.”
Sans menghela napas lagi, menyadari kejadian itu bisa menjadi salah satu situasi terburuk baginya.