Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 103



“Uh!”


Napas Yudai agak ngos-ngosan ketika berupaya untuk terus menghindari seorang lelaki botak berotot kekar pada lengan. Dari kelihatannya, lawan itu sangat tangguh dari dugaan, terutama dalam kecepatan sudah menandingi. Hanya menggunakan tangan kosong, Yudai menyimpulkan murid itu merupakan monk.


Ia kembali mengambil satu panah dari quiver begitu menyaksikan monk itu mulai mendekatinya. Belum sempat menggerakkan genggaman panahnya pada busur, ia sudah mendapatkan pukulan tepat pada wajah.


Tubuhnya terlempar kebelakang hingga menjatuhkan panah dari genggaman. Punggungnya kini mendarat terlebih dahulu pada tanah berumput, sangat beruntung mengingat ia menapakkan kaki pada jalan batu saat bertarung.


Monk itu membungkuk dan menarik kerah mantel Yudai menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya telah mengunci target sambil mengumpulkan chakra seakan telah bercahaya, mengambil ancang-ancang untuk memukul.


Yudai melihat celah kosong di antara kedua ************ monk itu dan kedua pahanya sendiri. Memanfaatkan keuntungan itu, ia mengangkat paha kanannya tepat pada target.


Belum sempat melancarkan pukulan, pengumpulan chakra monk itu terhenti ketika Yudai menendang tepat pada selangkangannya, memicu pecahnya konsentrasi akibat nyeri cukup keras.


“AAAAAAH! Sakit!” jerit monk itu bergeser ke kiri dalam posisi berbaring menahan selangkangannya.


Akibat tendangan dari Yudai yang cukup keras, monk itu harus rela menyentuh bagian perutnya karena nyeri menyebar cukup luas. Lama-kelamaan, tangan kanannya beralih pada ************ yang menjadi sumber nyeri.


Yudai bangkit dan mengambil dua buah panah dari quiver-nya. Gerakannya yang cepat dalam menembakkan panah menuju kedua kaki monk itu dapat membuatnya lolos. Kedua panah itu mengenai tepat pada talus.


“AAAAAH! TI-TIDAAAAK!” jerit monk itu menyimpulkan ia tidak dapat melarikan diri atau menyerang kembali.


“A-akhirnya … aku selamat.” Yudai dapat bernapas lega. “Sudah tiga yang kukalahkan. Kalau tubuhnya begini, bagaimana bisa kubawa dia kembali ke akademi?”


“A-aku kalah,” rintih monk itu.


“Aaaah … aku lapar,” Yudai mengeluh begitu perutnya berbunyi.


***


Sans, Beatrice, dan Lana menghentikan lari ketika menatap sebuah sungai mengalir cukup deras yang menjadi batas antara dua jalan hutan. Tanpa ada jembatan atau batu penyintas, tidak ada pilihan lagi selain berbalik.


Napas mereka terengah-engah sehabis menyaksikan kelompok crossdresser merupakan petarung kuat dalam melawan Tay dan Neu. Secercah kelegaan telah sedikit demi sedikit memacu ketenangan untuk mulai bersembunyi kembali.


Lana yang menghadap Sans dan Beatrice pertama berkomentar, “U-untung kita tidak berhadapan langsung dengan mereka. A-aku tidak sudi Kakak kalah dan ditangkap oleh orang-orang macam mereka.”


Dipanggil kakak entah mengapa memicu getaran pada benak Sans. Ia benar-benar malu, apalagi dirinya masih tanpa job di Akademi Lorelei.


Sans memalingkan wajah sejenak, ia merentangkan tangan kanan sambil berbalik. Tangan kirinya menyentuh bahu Beatrice.


“Eh?”


Sans bersuara, “Si-siapapun yang di belakang, keluarlah.”


Beatrice dan Lana menoleh pada deretan pohon antara rumput dan jalan tanah, tercengang ketika Sans menyimpulkan seseorang membuntuti.


Orang itu mengungkapkan diri sebagai Earth begitu keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu salah satu deretan pohon sebelah kanan. Tunangan Beatrice itu menghadap Sans, Beatrice, dan Lana sambil berkacak pinggang.


“Wah, ketahuan juga akhirnya. Selama ini aku bersembunyi, sebaiknya kalian sadar bahwa sedang dibuntuti.”


Beatrice mengembuskan napas berat, mendekatkan jari-jemarinya pada mulut. Itulah reaksi terhadap kembalinya Earth di hadapannya.


“Ke-kenapa? Ke-kejam! Se-selama ini kamu mengikuti kami?”


Earth menyeringai, “Lebih tepatnya mengikutimu, Beatrice. Masih saja kamu memihak dengan orang tidak setingkat kelas sosialnya dengan kita berdua. Ya, kali ini ditambah seorang wanita berpedang dan ber-headband merah, sayangnya aku tidak dapat mencicipi gadis berkelas lebih rendah daripada Beatrice tersayang.”


Lana mulai menggenggam gagang pedangnya yang masih tertancap pada selongsong punggung. “Me-mencicipi? A-apa katamu tadi? Rendah sekali kata-katamu pada seorang perempuan!”


“Aku hanya ingin menangkap Beatrice bukan hanya untuk mendapat poin di babak kedua ini, tetapi juga agar dia mau ke dalam pelukanku. Dia adalah jodohku.”


“Ti-ti—” Beatrice memalingkan wajahnya.


“Jangan salah paham ya, Beatrice sayang. Ini bukan salahmu, ini sudah menjadi tradisi bagi kita, kelas bangsawan, perjodohan yang sangat sakral menuju sebuah pernikahan, lalu kita akan berkeluarga dan hidup bahagia selama-lamanya. Tapi ternyata kamu mencemari dirimu sebagai gadis keturunan bangsawan dengan bergaul bersama orang-orang lebih rendah kelasnya, apalagi kamu juga menjadi song mage, sesuatu yang tidak biasa bagi kebanyakan murid, apalagi kelas kita.


“Pada akhirnya, kamu melupakan kehormatanmu sebagai anggota keluarga bangsawan. Sudah seharusnya membiarkan hanya laki-laki kelas bangsawan yang bekerja keras di luar, baik dalam belajar di akademi, bekerja untuk mencari nafkah, dan melindungi keluarganya kelak. Mungkin jika aku menangkapmu ke dalam sebuah pelukan, kelak kita akan menjadi pasangan terbahagia di Akademi Lorelei. Setelah semester ini berakhir, kita akan pulang ke kampung halaman, segera menikah dan membuat anak sebanyak mungkin.”


Beatrice mundur satu per satu langkah, gemetar pada tubuhnya semakin banyak. “Ke-kenapa? Kenapa … aku harus kembali ke keluargamu dan menikahimu? Ti-TIDAK MAU!! A-aku … hanya gadis yang ingin sekali … melihat dunia luar.”


Sans mulai mengambil belatinya ketika mendengar jeritan Beatrice. Perasaannya sama seperti saat bertemu Oya yang ingin membawa pulang Beatrice dari akademi. Tidak mungkin ia membiarkan temannya berada di genggaman seorang pria menjijikkan itu.


Tepat sebelum Sans melangkah, ia tercengang ketika Lana mempercepat langkah dan mengambil pedang dari selongsong. Ditatapnya pedang berwarna krem, baik bagian mata tajam dan gagang, tergenggam pada tangan perempuan ber-headband merah itu.


“Kakak, Serahkan laki-laki brengsek ini padaku. Aku tidak segan menghajarnya karena telah menghina dirimu dan teman dekatmu,” tegas Lana.


“La-Lana?” gumam Sans. “Bi-biar aku—”


“Aku tahu, sebagai murid bermantel putih dan tanpa job, kamu yang sekarang tidak mungkin menang melawannya, Kakak. Dia nomor satu dalam babak pertama kemarin, jadi pasti dia sangat kuat dan cepat. Biarkan adikmu yang ber-job knight ini melawan si brengsek ini.”


Lana mulai mengarahkan ujung mata pedangnya pada Earth, seraya menantang.


“Boleh juga.” Earth mengeluarkan pedangnya. “Biasanya aku lembut pada lawan perempuan saat di kelas. Tapi mengingat dirimu ini membela si tanpa job untuk menghalangiku dari Beatrice tersayang, aku tidak akan menahan diri. Ah, aku melawan adik kelasku sendiri sesama knight, apalagi dia perempuan, pasti menyenangkan.”


Lana meludah begitu mendengar nada merayu Earth. “Ini demi melindungi Kakak dan temannya!”


Earth memutar telapak tangan kiri, mengizinkan Lana untuk menyerang terlebih dahulu.


Merespon gestur Earth sebagai sindiran, Lana mulai melaju dan mengayunkan pedang. “Ini untuk Kakak dan temanku! HAAAAA!!”


Ketika Lana telah mendekatinya, Earth menangkis serangannya. Kedua mata pedang saling bertubrukan menimbulkan bunyi gesekan, nyaring di telinga kedua knight itu.


Lana mengerahkan tenaganya dalam mendorong ayunan pedangnya menghadapi tangisan dari Earth. Sebagai seorang perempuan, tenaganya dalam bertahan menyaingi murid knight laki-laki, apalagi Tay yang menjadi swordsman, itu yang Sans dan pikirkan.


“Ka-kamu melebihi dugaanku dalam tubuhmu yang lebih kecil.”


“Bagus kalau begitu,” ucap Lana lembut.


Earth pun tercengang ketika tangkisan pedangnya berhasil tertembus oleh Lana. Secara refleks, ia melompat mundur seraya menghindar serangan tersebut.


Betapa tidak beruntung, mata pedang Lana mengena pada bagian perut kemeja Earth hingga robek. Kabar baiknya, tebasan itu tidak menembus kulit hingga memicu rasa sakit.


Lana menatap robekan itu. “Ups. Ma-af ya. Aku telah merusak kemejamu.”


“Kurang ajar!” Earth mempererat genggaman pada genggaman pedangnya. “Jadi begitu maumu. Dasar picik.”


“Ah, jadi kamu tidak mau penampilanmu di hadapan para gadis seperti itu ya?” Lana berpura-pura simpati. “Terutama pada yang kamu anggap sebagai tunangan.”


“Baiklah. Pertama, akan kukalahkan dirimu terlebih dahulu. Lalu kutangkap Beatrice dan kubawa dia kembali ke akademi, setelah itu baru aku akan menghabiskan waktu berdua dengannya!”


“Maaf ya.”


Lana memasukkan tangan kiri pada saku mantel dan mengeluarkannya dalam bentuk genggaman. Ia mengayunkannya begitu mengunci Earth sebagai target.


Earth tercengang ketika tiga buah ledakan asap muncul di hadapannya, menghalangi pandangannya. Ia terbatuk-batuk tidak sengaja menghirup asap mencari gerakan Lana.


“Sialan, perempuan itu!” jerit Earth.


Lana berpaling pandangan memberi perintah, “Kakak, larilah!”


“E-eh?” Sans dan Beatrice melongo bersamaan.


“Ba-bagaimana denganmu, Lana?” Beatrice membalas.


“Cepatlah! Selagi dia tidak bisa melihat kalian. Biar kulayani dia. Aku juga ingin bertarung melawan knight kakak kelasku sendiri sampai waktu stage kedua habis.”


“Ta-tapi kan—” Beatrice kewalahan menatap Lana hanya seorang diri menghadapi sang kakak kelas.


Sans mengangguk. “Baiklah. Beatrice, ayo!”


Sans berbalik dan mulai melarikan diri begitu asap mulai memudar. Beatrice yang masih ragu pun tidak punya lagi pilihan selain mengikuti Sans alih-alih kembali menghadapi Earth, sang “tunangan”.


***


Lagi-lagi, Sans dan Beatrice menghentikan langkah ketika napas mereka mulai sesak. Kaki mereka juga sudah mulai merasakan nyeri. Saat itu, mereka menempatkan tangan pada badan salah satu pohon.


Sama sekali tidak terlihat murid lain atau monster di sekitar tempat itu, cukup beruntung memang. Semenjak rasa lelah itu terpicu oleh kejaran keduanya ketika melarikan diri dari Earth.


Beatrice menatap Sans sekali lagi. Benaknya sama sekali seperti terpukul oleh beban ketika merepotkan seorang teman. Terlintas pula saat Sans dan Yudai berani melindungi dirinya dari cengkeraman Oya saat di alun-alun.


“Sa-Sans, ma-maafkan aku. A-aku … jadi merepotkanmu sekali lagi.”


Sans menghela napas. “E-eh? Ti-tidak, tidak apa-apa. Yang penting kita berdua selamat. Ya, sejauh ini hanya kita berdua yang masih tidak tertangkap. Kita … berjuang sampai akhir sebelum waktunya habis.”


“A-anu—”


“Kita berjuang berdua ya!”


Sans kembali ragu setelah memilih kata untuk menyemangati Beatrice, apalagi setelah melihat raut wajahnya tetap menatap ke bawah.


“I-iya.” Beatrice tersenyum kecut, tidak ingin membuat Sans semakin khawatir.


***


Sama seperti waktu aptitude test bagian dalam, nyaringnya bunyi lonceng hingga ke hutan menjadi pertanda berakhirnya waktu untuk babak kedua Festival Melzronta. Mendengar bunyi tersebut, seluruh murid yang masih bertahan, baik yang masih ingin menangkap atau bersembunyi, harus kembali ke akademi.


Kali ini, setiap murid yang telah membawa mangsa kembali ke halaman akademi tetap mendapat poin, asalkan tidak menjadi salah satu dari penjemputan profesor. Beberapa profesor turut menjemput untuk memastikan seluruh murid kembali dengan selamat.


Beberapa murid tiba dengan kondisi luka baik akibat serangan antar murid atau monster. Cukup cepat, masing-masing dari mereka segera menuju UKS setelah mendapat pendampingan teman dekat dan beberapa profesor.


Sans dan Beatrice bernapas lega ketika kembali ke halaman akademi tanpa tertangkap oleh murid lain, berarti mereka menjadi salah satu yang mendapat poin bonus pada babak kedua Festival Melzronta. Itulah salah satu dari pengumuman Baron, salah satu profesor yang bertugas pada sore itu.


Setidaknya Yudai, Zerowolf, Riri, Lana, dan Sandee juga berhasil bertahan, begitu pula dengan Earth. Tay dan Neu tidak menjadi salah satu murid yang terpanggil namanya, berarti mereka telah tertangkap oleh sekelompok crossdresser itu, itulah pikir Sans dan Beatrice.


“Murid dengan poin terbanyak, yaitu sebanyak empat poin, jatuh pada … Zerowolf dan Yudai!” lanjut Baron.


Seluruh murid bersorak kagum terhadap pencapaian kedua murid terbaik pada babak kedua tersebut. Pada saat yang sama juga heran mempertimbangkan fakta bahwa keduanya merupakan murid tingkat pertama, semenjak tidak ada satupun yang mencapai sepuluh besar pada babak pertama.


Buah bibir tentang mereka berdua seri di posisi sebelas pada babak pertama menumbangkan rasa remeh bagi beberapa murid.


“Untuk babak ketiga akan dijelaskan oleh profesor yang telah ditunjuk begitu memasuki kembali kastel. Murid tingkat pertama, temui Hunt di aula; untuk murid tingkat kedua, saya tunggu di—”


 Zerowolf menoleh pada Yudai di sebelah kirinya pada kerumunan murid, “Berhasil menangkap tiga juga ya? He he, Yudai—"


Yudai melengkungkan bibirnya ke atas, menebar kegembiraan sebelum berkata, “Zerowolf, bersaing denganmu di Festival Melzronta benar-benar menyenangkan!  Ayo lanjut bersaing di babak selanjutnya.”


Zerowolf menyeringai. “Baiklah. Nanti akan tiba giliranmu untuk meminta ampun padaku!”