
“Sial! Kita kehilangan mereka!” sahut Yudai.
Mendapati banyak sekali belokan dan juga pintu menuju berbagai ruangan, seperti dugaan mereka, rumah atau lebih tepatnya mansion keluarga Beatrice memang luas. Lantai kayu cokelat muda berataskan karpet merah bersisi garis keemasan beserta dinding penuh lukisan keluarga Beatrice dari buyut sampai generasi sekarang memicu sakit kepala, apalagi jalannya sudah berbelok-belok.
“Di mana mereka?” sahut Riri saat ia dan Tay menghampirinya dari belakang.
Sans menggeleng.
“Pasti mereka tidak jauh dari sini. Tampaknya hanya ada satu tangga yang tadi,” ujar Riri.
Tay menendang salah satu pintu, mendobraknya sampai memicu suara seperti ledakan.
“A-apa yang kamu lakukan?”
“Sederhana. Kita cari Beatrice sampai ketemu. Dobrak saja pintunya.”
“Ta-tapi ini rumah—”
“Masa bodoh! Kita harus menyelamatkan Beatrice!” Yudai sependapat dengan Tay dan ikut mendobrak salah satu pintu.
“A-apa ini tidak membuang-buang waktu?” tanya Sans mulai cemas.
“Kita tidak punya waktu untuk ini. Ayo, Sans!” suruh Riri.
Alih-alih membuntuti Sans dan Riri yang kembali berlari melewati karpet merah, Tay dan Yudai justru masih mendobrak satu per satu pintu, berpikir mereka punya peluang untuk menemukan Beatrice.
Satu per satu ruangan mereka lihat, mulai dari kamar pelayan yang terdiri dari kasur susun berderet, beberapa perpustakaan khusus, ruang menenun, hingga ruang belajar. Saat mencapai ruang terakhir di ujung belokan, ia mendobrak pintu seperti biasa, tidak terkunci.
Yudai terbelalak tidak percaya, ruangan itu adalah sebuah kamar, sebuah kamar yang tidak terkunci sama sekali. Dari luasnya saja, dapat ia simpulkan kamar itu adalah kamar utama mansion.
Dinding batu-bata, langit-langit kayu, chandelier di atap tengah ruangan menyinari karpet merah hampir memenuhi ruangan beserta meja bundar kecil dan tiga buah sofa. Sudut kanan, tempat tidur ukuran king bertirai dan bersprei kuning bergaris membentuk pola.
“Ah!” Yudai menatap sesuatu yang familier tergeletak di meja bundar kecil. Sesuatu itu adalah sebuah lingkaran hijau cerah seperti terbuat dari emerald.
Ia buru-buru menghampiri meja itu agar dapat memastikannya. Ia terbelalak mendapati memang benar itu adalah hal yang familier baginya.
“I-ini … song sphere Beatrice.”
“Heh, Alis Melengkung!” panggil Tay. “Jangan diam di situ terus!”
“Tay.” Yudai buru-buru keluar dari kamar itu menunjukkan song sphere milik Beatrice.
“I-ini kan … milik si Topi Putih.”
“Tidak salah lagi.”
***
Sans dan Riri mendapati sebuah pintu di ujung kiri mereka telah terbuka lebar, satu-satunya pintu yang tidak tertutup sama sekali. Sans langsung melesat menghampiri, akan tetap saat hendak melewati pintu itu, Riri secara cepat merentangkan tangan begitu mendekatinya. Memang, pasti ada yang tidak beres.
Tanpa kata-kata, Riri mengangguk pada Sans dan mulai mengambil langkah pelan terlebih dahulu. Mengangkat kedua tangan ber-knuckles ke depan, ia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Ketika melewati pintu, Sans terbelalak menatap Beatrice menjerit dengan mulutnya tertutup oleh jari sang ibu membelakangi jendela bergorden. Jeritan song mage malang itu sampai teredam kata-katanya.
Dari kiri, ia berpaling tercengang Earth mulai melesat dan mengempaskan pedangnya ke depan. Jebakan, memang hal janggal seperti itu telah menjadi sebuah jebakan.
Untungnya, Riri siap siaga. Cukup cepat ia mendorong Sans ke samping dan mengangkat telapak tangan ber-knuckles meluncur memblokir ayunan mata pedang milik Earth. Dorongannya hampir seimbang dengan tenaga ayunan pedang milik Earth.
Sans tersandung ke lantai, tidak sebelum ia menempatkan tangan kiri ber-gauntlet sebagai tumpuan. Dengan cepat ia menekankan tangan kiri agar ia kembali bangkit. Saat melihat Riri dan Earth mulai bertarung, ia ambil belati dari selongsong di pinggir paha kanan celananya.
Ia melirik Beatrice yang tengah disandera sang ibu, keraguan mulai menggerogoti pikirannya ketika menyaksikan Riri juga mulai mundur langkah demi langkah.
Riri masih tidak mampu melayangkan pukulan. Ia mendapati gerakan berpedang Earth lebih melesat. Gerakan lengannya melamban saat pedang Earth sedikit demi sedikit hampir mencapai tubuhnya.
“HAAAA!!” jerit Earth mendorongkan pedangnya, mengedepankan puncak mata pedang untuk menusuk.
“UH!” Meskipun tahu pedang itu akan mencapai dadanya, Riri menyilangkan kedua pergelangan tangan sebagai respon pertahanan.
Sans berlari dan belatinya mencapai pedang milik Earth dari kiri, memblokirnya. Ia mendorongkan belatinya sekuat mungkin agar gerakan pedang itu menyingkir sebelum mencapai kedua pergelangan tangan Riri.
Earth menguatkan genggaman pedangnya dan kembali menyeimbangkan diri begitu ia tersandung ke kiri. Cepat sekali, ia kembali berlari mengayunkan pedangnya untuk menyerang.
Sans dan Riri bersama-sama menangkis setiap serangan. Senjata mereka saling bertubrukan menghasilkan momentum dan bunyi nyaring. Secara bergantian, Sans dan Riri melampiaskan serangan pada Earth.
Tidak peduli telah beberapa kali menyerang bergantian, Earth tetap berkutik menghadapi keduanya. Bahkan ia melaju sambil mengayunkan pedang, mendahului serangan tebasan belati milik Sans dan pukulan knuckles milik Riri.
“Lambat!” Earth mengincar Sans terlebih dahulu, melepaskan tumpuan pada tumit kiri di belakang di lantai dan mulai melompat mengempaskan pedang dari samping.
Sans tercengang begitu Earth mulai mengayunkan pedang ke hadapan dirinya. Terlambat bereaksi, tenaganya dalam mengayunkan belati untuk menangkis kalah berat sampai terempas ke lantai di dekat lemari di belakang.
Mata pedang Earth juga mencapai ujung bahu kanan Sans hingga memicunya terpental ke tembok hampir mengenai lemari di sebelah kanan. Sans pun ambruk ke lantai begitu mendapat serangan itu. Nyeri di bahu kanannya mulai memecah tenaga.
Beatrice menjerit ingin memanggil Sans, tetapi mulutnya masih saja terkunci oleh ibunya sendiri.
Earth berbalik dan mengincar Riri, mengeratkan genggaman pedangnya sambil menyeringai.
Riri mengambil ancang-ancang, menempatkan kaki kanannya dan kedua tangan ber-knuckles-nya ke depan. Ia mengantisipasi gerakan cepat lawannya itu berdasarkan langkah cepat.
“Giliranku.” Earth mulai mengumpulkan tenaga pada lengan, mengambil ancang-ancang untuk menghantamnya.
Bahkan sebelum ia mengangkat pedangnya kembali, sebuah panah melesat dari kirinya, mengincar tepat pada kepala. Ia menggeretakkan gigi dan mengayunkan pedang ke kiri menghantam panah itu.
Riri mengambil kesempatan itu dan melompat serta mendorong pukulannya menuju dada Earth. Duri pada knuckles-nya sampai menghantam dada dan menembus jas dan kemeja.
Earth menyeimbangkan diri begitu ia terkena serangan tidak terduga itu. Ia melirik ke arah pintu, Yudai telah menembakkan panah pada dirinya.
“Bukan. Giliranku,” bantah Yudai.
“Uh, bukannya seharusnya giliran si monk itu?” Tay menyindir.
“Ah. Benar.”
“Dan memegang song sphere merepotkan sekali.”
“Oke, setidaknya kita sudah melihat Beatrice dan—” Yudai terbelalak menatap Sans terbaring di hadapan lemari. “S-Sans!!”
Earth menyeringai saat menatap Yudai dan Tay ikut masuk dan berdiri di belakang Riri. “Rupanya masih ada temannya juga ya?”
Ibu Beatrice menyahut, “Ambil bundaran hijau itu, Earth!”
Riri kembali mengambil ancang-ancang membelakangi Tay. “Yudai, jangan sampai song sphere lepas dari genggaman Tay.”
Tay membuanng muka. “Bukan berarti kalian harus melindungiku. Sungguh merepotkan sampai aku tidak bisa bertarung sama sekali.”
“Baik!” Yudai mundur setidaknya dua langkah mendekati tembok di belakangnya, dengan tangan kanan merentang agar Tay ikut mundur. Ia kemudian menggerakkan tangannya mengambil panah dan quiver dan menempelkannya pada tali busur.
Beatrice menggelengkan kepala menyaksikan Sans mencoba kembali bangkit. Ia ingin menyoraki Sans agar ia dapat kembali berdiri. Sayangnya, ia tidak dapat berbuat apapun semenjak status masih sebagai pihak tersandera ibunya sendiri.
“Ayo maju!” sahut Yudai pada Riri.
Riri kembali melesat mengepalkan kedua tangan mulai mengambil ancang-ancang. Saat Earth mendekatinya dan kembali menghantamkan pedangnya, ia kembali melancarkan pukulan demi bertahan dari sayatan mata pedang itu.
Menatap Yudai tengah melancarkan tembakan, Sans mulai merangkak ke pojok ruangan agar dirinya merasa aman untuk mengembalikan tenaga agar dapat bangkit kembali. Bahu kanannya masih terasa sakit akibat terkena sayatan pedang Earth.
Ia menguatkan kembali genggaman belatinya sambil menempatkan tangan kiri ke depan sebagai tumpuan untuk kembali berdiri perlahan.
Tak lama, begitu mundur setelah tangisan serangannya terhadap pedang Earth. Ia membuang napas dan melancarkan aliran chakranya sebagai tenaga. Chakranya langsung mengalir menuju kepalan tangan kanannya.
Ia kembali meluncurkan pukulan selagi Earth juga kembali melayangkan ayunan pedangnya. Karena chakra darinya yang memicu ledakan tenaga pada pukulan itu, pedang Earth justru terpental.
“AAAAH!” jerit Earth begitu tubuhnya ikut terpental, menubruk lemari milik Beatrice. “Masih belum.”
Earth begitu cepat berlari tanpa memedulikan nyeri di punggungnya, melawannya. Ia kembali merentangkan genggaman pedangnya ke belakang, kembali mengincar Riri.
Yudai menembakkan panahnya kembali, melepas tali busur dan ekor panah secara bersamaan. Lagi-lagi, tembakannya mencapai tangkisan mata pedang milik Earth. Panahnya kini jatuh ke lantai dan terbelah menjadi dua.
“A-apa?” ucap Yudai.
Earth melesat menghampirinya. Ia tidak berkutik menatap knight yang menjadi calon suami Beatrice itu sudah berpapasan dengan dirinya.
Perutnya terkena sayatan pedang memicunya terpental ke tembok, menjatuhkan busurnya. Ia pun terbaring akibat nyeri dari luka tersebut.
Tay tertegun menatap Yudai ambruk di dekatnya. Ia juga masih mengenggam song sphere milik Beatrice. Satu lagi pertahanan sudah roboh.
“Yu-Yudai!” jerit Riri menoleh.
Tanpa menyadari di sekeilingnya, mata pedang Earth mencapai bahunya. Hantaman pedang Earth memicu entakkan keras hingga memicunya ikut roboh begitu darah mulai keluar.
Beatrice kembali menjerit, air matanya kembali mengalir menyaksikan Yudai dan Riri ikut roboh di lantai setelah terhantam Earth. Ingin menjerit sekali lagi sekencang-kencangnya, kata-kata seperti tersaring menjadi dengungan.
Tay menggeretakkan gigi menggenggam song sphere menggunakan tangan kiri, seakan sedang menggunakan tameng. Tangan kanannya meraih pedang di selongsong punggungnya, bersiap untuk menarik perlahan.
“Berikutnya adalah dirimu,” Earth menyuruh, “serahkan song sphere itu.”
“Bagus!” gumam ibu Beatrice. “Jika perlu, bunuh saja dia!”
Tumit kaki kiri Beatrice mencapai bagian depan kaki kanan ibunya sendiri. Memanfaatkan kesempatan itu, ia mengangkat kaki kirinya dan mengempaskan tenaga untuk menginjaknya keras.
“A-AAAAH!!” jerit ibu Beatrice tidak menyangka anaknya sendiri akan menyerang meski masih menjadi sandera. Tangan yang masih tertempel pada mulut anaknya juga mulai terlepas perlahan.
“AAAAAAAAAH!!” jerit ibunya sendiri menahan rasa sakit dan melebarkan tangannya.
Beatrice akhirnya lolos dari genggaman ibunya dan berlari melambaikan tangan pada Tay.
“Be-Beatrice!” sahut Yudai menyaksikan Beatrice berhasil meloloskan diri.
Tay tahu betul isyarat itu. Ia tidak jadi mengangkat pedangnya, justru mengeratkan kedua tangan pada song sphere mengambil ancang-ancang. Memperhatikan Earth juga tertegun mengalihkan pandangan pada Beatrice.
Ia melompat kecil dan melempar song sphere seperti sebuah piringan. Earth tertegun mendapat song sphere itu melewati atas kepalanya.
Begitu berhasil menggapai song sphere itu, Beatrice mengucapkan judul lagu yang ia ingin nyanyikan, “Art of Protection!”
“Ga-gawat!” sahut ibu Beatrice.
Sans akhirnya kembali bangkit menempatkan tangan kanan pada lutut kanan. Menatap Beatrice berhasil meloloskan diri, beban dari nyeri di bahu kanan seakan terangkat, seperti membantu reda. Terlebih saat dirinya terselimuti gelombang bundar.
“Ma-maafkan aku, Ibu!” Beatrice berucap dan menutup mata. Ia mulai menyanyikan lagu begitu iringan musik dari song sphere mulai menggema.
Let me make this art
Let me make this art
Art of protection
Gelombang bundar juga melingkari Yudai, Tay, dan Riri sebelum menghilang seketika. Sebuah sihir dari mana dan nyanyian Beatrice meresap ke dalam kulit sebelum melewati otot dan tulang. Daya tahan tubuh mereka telah meningkat, rasa nyeri pun berkurang.
“A-apa ini? Ke-kenapa? Seharusnya Beatrice tidak membela rakyat jelata seperti kalian,” tegur Earth, “mungkin kalian memang membutuhkan song mage seperti dia karena kalian ini lemah.”
“Kamu benar, kami memang masih lemah,” ucap Riri sambil mengangguk, “aku akui, kamu memang kuat, murid knight tahun kedua. Tapi kamu lupa satu hal.”
Tay melompat dan mengayunkan pedang dari samping. Secara refleks, Earth berbalik dan menghantamkan mata pedangnya, menahan serangan itu.
Keduanya saling beradu dalam mengempaskan dan menubrukkan pedang masing-masing. Earth sampai tercengang kecepatan memainkan pedang Tay hampir sama dengan kecepatan mengayunkan pedangnya. Ia menggeretakkan gigi mengayunkannya lebih meledak, tenaganya ia gunakan cukup banyak.
Tay tetap bertahan mmenangkis pedang itu dengan tenang. Berkat nyanyian Art of Protection milik Beatrice, saat pedang itu mencapai tubuhnya, terutama bagian dada, rasa nyeri pun seakan nyaris tidak ada. Sobekan kemeja putihnya hanya kecil.
Tay pun bergeser dan dan berputar ke belakang, memicu Yudai memanfaatkan kesempatannya untuk menembakkan panah dari samping setelah berlari. Ia melepaskan tarikan tali busur dan ekor panahnya meluncurkan sebuah tembakan.
Refleks Earth lamban setelah terdistraksi menghadapi Tay. Panah Yudai yang meluncur pun menancap pada bagian atas punggungnya. Panah itu lepas cukup cepat ke lantai, nyeri pun hanya sedikit mempengaruhi mentalnya.
Masih saja terdistraksi oleh serangan Yudai, giliran Riri yang melompat dan melanarkan pukulan dari kanannya. Earth langsung terbelalak bergeser dan menoleh, responnya memicu dirinya untuk menangkis menggunakan pedangnya menghadapi hantaman knuckles.
Lengah, Riri mengempaskan chakra pada pukulannya mengarah pada dagu yang terhalang oleh genggaman pedang. Bahkan tanpa menyentuh sama sekali, dagu Earth seakan melayang ke atas, nyeri pun langsung meledak menuju otaknya.
Riri pun menyingkir, membiarkan Sans menggunakan gilirannya untuk menusukkan belatinya. Ia melompat seakan meluncurkan tubuhnya seperti melayang menggenggam belati dengan ujungnya di depan.
Earth buru-buru melayangkan pedang ke bawah sebagai upaya menangkis belati milik Sans. Akan tetapi, tenaganya melemah setelah mendapat serangan dagu oleh Riri, maka pedangnya terpental jatuh ke sampingnya.
Tidak hanya itu, Yudai juga membantu menembak kembali. Panahnya mengenai tepat pada leher, memicu darah terciprat.
“A-AAAA—” Earth sampai terbata-bata dalam bereaksi, tubuhnya pun roboh ke lantai.
Beatrice pun tepat menyelesaikan nyanyiannya cukup merdu.
Let it remind you
We're not alone
Let's face it together
In our great battle
“Seperti lagu Beatrice, satu-satunya kesalahanmu adalah … kita bersama-sama mengalahkanmu,” Yudai menyimpulkan.
Begitu Beatrice selesai bernyanyi, ia tercengang mendapati ibunya tengah berlari mengambil sebilah pisau dari pinggangnya. Ibunya sendiri dari samping kanannya! Ia terkesiap menoleh sampai membuka mata lebar. Ia tidak percaya sama sekali atas tindakan ibunya sendiri.
Menatap hal terebut, Sans, Yudai, dan Riri ikut tercengang. Sama sekali tidak menyangka ibu Beatrice akan membunuh anaknya sendiri! Upaya putus asa saat Earth sudah terkalahkan oleh murid-murid Akademi Lorelei yang berstatus kelas lebih rendah terpaksa ia lakukan.
Yudai buru-buru mengambil panah dari quiver-nya. Tangannya lebih gemetar saat menancapkannya pada busur. Ia tahu ia akan terlambat menembak sebelum hal yang ia tidak inginkan terjadi.
Darah pun bercipratan, tidak ada yang berani membuka mata menyaksikan hal itu. Begitu Sans dan Riri menoleh kembali pada cipratan darah itu, mereka terkesiap, masih sama sekali tidak percaya atas kejadian itu.
Beatrice sampai membuka mata dan menatap ke samping kanannya. “Ke-kenapa … I-I-Ibu?”
Sebilah pisau jatuh dari genggaman sang ibu. Saat Beatrice menatap darah mulai menetes ke lantai, sebuah pedang sudah tertancap pada bagian bagian dada sang ibu. Ia terbelalak mendapati Tay sudah menusukkan pedangnya.
Hal yang sudah pasti ia saksikan, ibunya sendiri mencoba untuk membunuh Beatrice. Masih saja tidak ingin menerima, matanya mulai berkaca-kaca ketika sang ibu mulai roboh ke lantai, mengeluarkan genangan darah segar.
Tay menundukkan kepala dan membuang napas mendapati pedangnya yang telah berlumuran darah terjatuh ke lantai, mengotori karpet kamar. Ia memang terpaksa melakukannya demi melindungi Beatrice.
“Ma-maaf,” ucapnya dingin.
Menyaksikan sang ibu yang sudah tidak bergerak lagi, Beatrice berlutut. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, ibunya telah tewas terbunuh dan juga mencoba untuk membunuhnya. Dua kejadian itu sekaligus memecahkan hati Beatrice berkeping-keping sampai mengeluarkan deru keras dari mulut.
Yudai mulai melangkah ingin menghampiri. “Beatrice….”
Riri merentangkan tangan pada dada Yudai, menatapnya dan menggeleng.
Sans sampai mengepalkan kedua tangannya. Teringat pada sang ibu yang dari sekarat hingga tenggelam di air mata kehidupan. Ia berpikir, tega sekali seorang ibu ingin membunuh anaknya sendiri karena putus asa dengan sebuah tujuan.
“Keterlaluan. Sungguh keterlaluan.” Sans sampai menghela napas berkali-kali, meneteskan air mata.
***
Tanpa ada satupun yang menduga, langkah kaki seperti gemericik memicu mereka semua menoleh pada pintu keluar rumah. Sekelompok royal guard berzirah perak sudah mendobrak masuk mendapati ruang utama rumah itu sudah seperti setelah kapal pecah. Deretan kursi sudah sudah tergeletak, beberapa justru hancur, chandelier yang telah jatuh dari langit dan pecah terbagi menjadi beberapa bagian, pilar yang terbelah, dan kain yang telah tercemar langkah kaki.
“Ternyata benar, ini tempat keributannya.”
Oya terbelalak mendapati sekelompok royal guard telah tiba. “A-akhirnya. Aku selamat.” Ia memaksa tegas, masih saja berbaring. “Tangkap mereka semua! Mereka menyusup dan menghancurkan rumah ini! Mereka menghentikan sebuah pesta pernikahan.”
Salah satu royal guard justru menghampiri Oya, mengabaikan pihak murid Akademi Lorelei dan kelima royal guard pendamping. “Sebenarnya, kami kemari untuk menangkap dirimu dan seuruh penghuni rumah ini.”
Royal guard itu menarik kedua tangan Oya agar berdiri sekaligus memasang borgol besi tanpa ragu.
“A-a-apa ini! Ke-kenapa aku! Kenapa tidak mereka saja yang kalian tangkap!”
“Kami mendapat laporan Anda dan seluruh penghuni rumah ini telah melakukan penculikan. Oleh karena itu, Anda kami tahan!!”
“Apa kalian buta! Memangnya siapa yang melapor! Siapa di antara kalian yang ikut melapor pada royal guard!!”
Selagi seluruh pelayan ditahan oleh para royal guard dari Beltopia, sebagian mereka juga mereka bantu berdiri sehabis tumbang dalam pertarungan, semuanya heran. Tidak ada satu pun yang pergi menemui royal guard patroli di sekitar kota sama sekali. Lagipula, peluang untuk menemukan mereka sungguh nihil, mereka jarang terlihat kecuali jika ada hal yang mencurigakan.
Seorang wanita berambut pendek berikat ponytail di belakang melewati pintu dan mengungkapkan dirinya. Oya lagi-lagi membuka mulut dan melotot, tidak percaya sosok itu sudah berdiri di hadapannya.
“Ha? Si-siapa Anda?” Zerowolf terheran menatap wanita itu.
“Te-TERUNA!!” Oya menjeritkan nama wanita itu.
“Teruna?” Sierra bergumam setelah mendekatkan kedua tangan pada mulutnya, seperti sebuah panah menusuk pikiran dengan kecepatan cahaya, ia sungguh tidak menyangka sosok itu akhirnya muncul di hadapannya. Ia sedikit mengeraskan suaranya. “Di-dia … Beatrice pernah bercerita padaku, dia pelayan pribadi Beatrice.
“Benar sekali, gadis bangsawan.” Teruna memanggil Sierra karena ia lebih mendekati sosok seorang bangsawan.
“Ba-bagaimana bisa! Bagaimana bisa kamu kemari!” Oya membangkang.
“Upaya pembunuhan terhadapku gagal juga. Anda membiarkanku sampai mati di tengah-tengah hujan kemarin. Saya menutup mata membiarkan air hujan menambah lukaku lebih parah. Tapi … kurasa … sebelum menutup mata, ada orang bertopeng yang memasukkan sebuah cairan pada mulutku. Saya kira saya akan mati, ternyata, saya masih hidup dan luka saya pulih.
“Begitu saya kembali ke hadapan gerbang rumah ini, saya tahu tamu sudah mulai berdatangan. Saya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan pernikahan yang tidak diinginkan majikan saya. Saya melapor pada royal guard patrol. Tapi saya tidak menyangka hal seperti ini sudah terjadi.”
Zerowolf mengangkat tangan, entah ingin narsis. “I-itu karena kami juga tidak ingin membiarkan Beatrice menikah dengan Earth.”
“Jaga mulutmu!” potong Sandee.
Teruna berjalan melewati karpet lurus tepat pada Oya. “Oya, rencana dirimu dan majikanmu sudah gagal. Betapa menyedihkan kalian harus memaksakan sebuah pernikahan tanpa cinta.” Ia menoleh pada para royal guard patroli. “Bawa mereka pergi.”
“Ti-tidak!! Tidak!! Anda menangkap orang yang salah!” Oya sekali lagi mengelak. “Mereka telah menyusup dan menghancurkan rumah ini, seharusnya mereka saja yang ditangkap!”
Sekelompok royal guard patroli menggiring seluruh pelayan keluarga itu, jika perlu menyeret, keluar dari rumah itu. Hanya dua orang royal guard patroli yang tetap tinggal.
“Di mana pemilik rumah ini dan juga calon suami anaknya?”
Teruna, tanpa perlu peringatan, langsung bergegas menaiki tangga. Adrenalin dari kekhawatirannya memicu insting dan kesimpulan ia harus menuju lantai atas.
“He-hei!” sahut Tatro.
“Tunggu!” sahut Lana.
***
Begitu menatap pintu kamar Beatrice terbuka lebar, sebuah pemandangan suram langsung memicunya untuk menapakkan kaki masuk ruangan itu. Responnya seakan memerintahnya untuk menghampiri Beatrice yang berlutut menangisi mayat ibunya.
Sans, Yudai, Riri, dan Tay yang hanya diam tertegun menyaksikan satu lagi pelayan keluarga Beatrice, kali ini seorang wanita, masuk. Tanpa perlu bergegas mengeratkan genggaman pada senjata, mereka kembali terdiam saat Teruna mulai menepuk pelan pundak Beatrice dan memeluknya.
Tidak seperti pelayan keluarga Beatrice lainnya, dapat mereka rasakan dari sikap bahwa Teruna memiliki hati lembut tanpa tercemar sebuah hasutan. Mereka sama sekali tidak enak jika harus menganggu momen tersebut.
“I-ibuku … Ibu … sampai ingin membunuhku.”
Beatrice menggelengkan kepala membalas pelukan Teruna. Kebingungan harus bereaksi seperti apa membuat tangisannya semakin meledak. Dua kenyataan yang berbentrokan, ibunya telah tewas setelah mencoba untuk membunuhnya.