
“Menjalankan misi? Tentu saja aku ikut!”
Beatrice melongo ketika menatap Riri begitu antusias menjawab ajakan Yudai, tanpa keraguan atau penolakan sama sekali. Terlebih, Yudai belum mengungkapkan tipe misi yang akan mereka ambil sama sekali.
Riri menganggapi lagi, “Tapi … akhir-akhir ini kebanyakan misi kelas A di quest board. Sebelum libur, aku bahkan baru sempat menyelesaikan satu misi kelas B.”
“Sa-satu misi kelas B?” Beatrice kembali melongo ketika mengulang ucapan Riri.
“Tidak apa-apa!” Yudai benar-benar antusias. “Justru kita akan mengambil misi kelas A!”
Sempat bungkam akan ucapan Yudai, butuh beberapa detik agar memastikan sebelum Riri tercengang. “Mi-misi kelas A katamu? Ka-kamu serius? Kamu juga pernah mengambil misi kelas B?”
“Tidak pernah sama sekali,” jawab Yudai, “tapi akhir-akhir ini misi kelas C, D, dan E sama sekali tidak ada di quest board. Aku juga tidak ingin menunggu cukup lama sebelum kehabisan uang. Lagipula, upah misi kelas A itu cukup banyak.”
“Uh, Yudai. Lebih baik jangan pikirkan tentang uangnya dulu, pikirkan tentang tingkat kesulitan misi. Satu salah langkah saja bisa berakibat fatal. Lalu kalian juga belum pernah mengambil misi kelas B sama sekali—”
Yudai memotong ucapan Riri secara antusias, “Ini kesempatan kita untuk mengembangkan diri lho!”
“Uh ….”
Riri menempatkan telunjuk kanan pada dagu, berpikir sejenak. Kelakuan Yudai yang ingin secepat mungkin mengambil misi lebih berbahaya sungguh membuatnya khawatir, sangat khawatir. Kurangnya pengalaman dalam mengambil misi kelas setingkat lebih rendah daripada kelas A justru memancing keraguan.
“Ah.” Riri memindahkan jari pada punggung kepala. “Kurasa kita harus mencobanya. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau kita semua celaka.”
“Yes!” jerit Yudai mengepalkan kedua tangan. “Kita akan menjalankan misi kelas A! Kelas A!”
“A-anu, apa kita harus mengajak orang lain?” tanya Beatrice pada Riri, “habisnya, Tay, Neu, dan Sierra sudah pulang ke kampung—”
“Ah, biar kuajak satu temanku yang kebetulan masih ada di sini. Besok, kita berkumpul di alun-alun!”
***
Malu, benar-benar malu, Katherine masih saja gemetaran ketika menatap Yudai tengah memindai setiap lembar misi kelas A yang terpampang di quest board. Cukup gugup ketika dia ingin mengajak Yudai berbicara, apalagi ketika Sans dan Beatrice juga ikut bergabung.
Pipinya memerah ketika memikirkan sebuah skenario. Dia dan Yudai hanya berdua menjalankan misi atau bertarung melawan sebuah monster atau sekelompok bandit.
Terlintas bayangan Yudai berseru padanya sambil melebarkan senyuman, Serahkan semuanya padaku!
Kepalanya seakan berasap tidak dapat menanggung lagi malu. Membeku sampai kehabisan kata-kata dalam pikiran.
Riri mulai membujuknya, “kamu kenapa? Apa karena ini misi kelas A pertamamu juga?”
“Bu-bukan … be-begitu. A-aku—”
“Aku juga sama gugupnya. Ini juga misi kelas A pertamaku. Setidaknya kita pernah menyelesaikan misi kelas B bersama-sama.”
“A-anu—”
“Sudah diputuskan!” Yudai sontak menginterupsi perkataan Katherine sambil menunjuk salah satu lembaran misi kelas A. “Kita ambil ini.”
Sans membaca teks pada lembaran misi tersebut, “Desa Salazar benar-benar dalam bahaya! Basilisk telah berkeliaran di kota selama lima hari terakhir dan menimbulkan banyak korban jiwa! Tolong kami!”
“Desa Salazar? Desa itu berada di barat daya benua Riswein,” ucap Beatrice, “orangtuaku pernah berkunjung ke sana.”
“Begitu juga dengan orangtuaku,” tambah Yudai.
Riri berkomentar, “Yudai, apa kamu yakin ingin mengambil misi ini? Butuh setidaknya satu atau dua malam untuk tiba di sana.”
Yudai menganggapi, “Setidaknya selama libur, aturan jam malam sama sekali tidak berlaku di Akademi Lorelei. Jadi kita bisa pergi ke luar Aiswalt untuk menjalankan misi. Aku dan Sans juga sempat bertanya pada Profesor Hunt tentang hal ini.”
Perkataan Yudai memicu ingatan Sans sebelum meninggalkan ruang pribadi Duke.
***
“Profesor.” Sans menghentikan langkah tepat setelah membuka pintu. “Aku dan Yudai sempat bertanya pada Profesor Hunt. Aturan jam malam sama sekali tidak berlaku saat libur untuk murid yang memutuskan untuk tinggal di sini. Bolehkah saya suatu saat selama libur masih berlangsung, oh, maaf, mungkin aku terlalu bertele-tele—”
“Katakan saja,” pinta Duke.
Sans mengangkat kepalanya. “Saya ingin memiliki gauntlet alchemist. Saya hanya kekurangan bubuk kristal Variant. Saya ingin memanfaatkan libur musim dingin ini untuk mencari—”
Duke memotong, “Saya mengerti. Tapi untuk saat ini, kamu belum siap untuk ke sana, mengambil kristal Variant. Kamu masih harus berlatih bertarung dan melakukan transmutasi. Kamu butuh kemampuan transmutasi untuk membuat gauntlet itu. Ingat, satu kesalahan bisa berisiko, apalagi jika itu menimbulkan kematian.
“Sekarang, besok kamu terus saja berlatih bertarung dulu. Jika bisa ambil misi yang bertingkat lebih tinggi daripada biasanya. Dengan begitu, kamu akan siap untuk mencari kristal Variant dan membuat gauntlet. Nanti akan kuberitahu begitu saya menemukan lorong kosong untuk berlatih.”
***
“Sans?” Yudai membuyarkan lamunan Sans.
“E-eh?” Sans bergetar mundur. “A-apa?”
“Lebih baik kamu berkonsentrasi saat misi nanti. Ini akan menjadi lebih sulit daripada biasanya.”
Melihat Yudai menyemangati Sans dengan menepuk pundak, Katherine menghela napas. Dia kembali menundukkan kepala, mengurungkan niatnya sekali lagi untuk mengajak bicara.
Gadis priest itu membuka mulutnya, ingin menyampaikan benaknya. Pada akhirnya, dia terhenti sejenak, kembali termenung akan sebuah skenario. Terlebih, ini pertama kalinya dia menjalankan misi bersama Yudai dan kedua teman dekatnya berkat ajakan Riri.
Katherine mengangkat kepalanya. “A-an—”
“Basilisk telah berkeliaran di kota selama lima hari terakhir dan menimbulkan banyak korban jiwa!” Riri mengulang teks pada lembaran misi itu. “Kalian ingin menjalankan misi ini? Kalau tulisannya seperti ini, sudah berbahaya lho. Apalagi kita masih belum tahu basilisk itu seperti apa. Bisa saja dia itu monster yang menyeramkan yang memiliki kekuatan mematikan.”
Beatrice menepuk kedua pipinya. “Se-seram! Kekuatan mematikan!”
Yudai mengangguk. “Tidak apa-apa. Kita lakukan misi ini. Misi kelas A lainnya juga sama berbahayanya dengan yang ini. Baik, kalau tidak ada yang keberatan lain, kita ke dermaga!”
Yudai menjawab polos, “Nanti saja. Mungkin kita akan tahu begitu tiba di desa Salazar.”
Sans bergumam menyaksikan Yudai terlebih dahulu girang melangkah, “Jujur saja, aku bahkan tidak tahu apakah kita sanggup melakukannya.”
“Oh ya! Aku mau beli roti sebelum kita berangkat!” sahut Beatrice.
Katherine kembali menundukkan kepala, tidak berhasil dalam membuka suara pada Yudai. Dia hanya terdiam sambil mengikuti langkah keempat rekannya dalam menjalankan misi.
***
Tentu saja suhu air laut saat musim dingin sudah seperti ingin membeku, apalagi ketika kulit bersentuhan dengan permukaannya, pasti dingin menusuk hingga ke tulang. Udara dingin bersama dengan hujan salju turut menemani perjalanan menggunakan kapal.
Meski dengan kondisi seperti itu, Sans dan keempat rekannya tetap terpesona dengan pemandangan laut saat musim dingin, apalagi ketika masih turun salju. Setelah lelah hanya berdiri memandangi situasi itu sepanjang hari, apalagi ketika langit menjadi jingga, mereka singgah di salah satu ruangan lantai bawah kapal itu.
Beatrice membagikan baguette yang ia beli dari kedai roti, untuk makan malam, pada masing-masing rekannya. Meski bagian kulit roti sudah dingin semenjak mereka menaiki kapal, mereka masih dapat menahan liur tergoda oleh tampilan kecokelatan.
“Selamat makan!” Beatrice dan Yudai bersemangat untuk mulai memakan baguette di genggaman.
Riri menghela napas. “Seperti yang kubilang tadi, sayang sekali. Semenjak kabar basilisk menyerang desa Salazar, tidak ada nahkoda kapal yang mau berangkat ke sebelah selatan Riswein. Apalagi, di sana banyak rawa beracun yang berbahaya. Makanya kita harus singgah dulu di Silvarion.”
“Ah. Jadi ingat saat tamasya ke sana.” Yudai masih melahap baguette-nya.
“Setidaknya kita punya waktu untuk mencari tahu seperti apa basilisk dan mengapa makhluk itu benar-benar mematikan.”
Katherine masih menatap Yudai dalam diam, sambil menikmati setiap gigitan baguette-nya. Dia menatap tekstur bagian dalam baguette tersebut, putih lembut di balik garingnya kulit kecokelatan. Begitu pandangannya kembali pada Yudai, terpikir kembali sebuah skenario untuk mengajak berbicara.
Yudai kembali berucap sambil cekikikan, “Kalau Neu ikut, dia pasti bilang hei, ini misi kelas A! Apa kalian ingin cari mati? Kita belum siap sama sekali.”
Beatrice menganggapi, “Aku sama sekali tidak terpikir seperti itu.”
“Oleh karena itu.” Yudai menubrukkan kedua kepalan tangan. “Daripada menunggu uang menipis sebelum muncul misi kelas C di quest board, lebih baik mengambil misi kelas A yang memiliki upah lebih banyak. Ini juga menjadi tantangan bagi kita.”
“Kuharap Tay, Neu, dan Sierra juga bisa ikut,” keluh Beatrice.
“Kalau semuanya lancar, kira-kira dalam dua atau tiga hari, kita akan tiba di lokasi, kota Salazar,” ujar Riri, “besok kita singgah di Silvarion, lalu kita cari kendaraan untuk pergi ke Salazar.”
Sans membuka suara, “A-anu, Riri.”
Riri menoleh pada Sans.
“Kamu tadi bilang pernah menyelesaikan misi kelas B, kan?”
“Ya. Soal itu, aku menyelesaikannya dengan teman-temanku, Katherine juga,” Riri mulai bercerita, “salah satu temanku mengajak untuk menjalankan misi kelas B. Awalnya kami skeptis karena nyatanya kami baru saja menyelesaikan tiga misi kelas C saat waktu luang. Kami juga tahu kemampuan bertarung masih kurang, tapi kami memutuskan untuk menyelesaikannya karena sudah telanjur mengambil misi itu.
“Pada akhirnya, kami tidak menyangka bahwa misi kelas B akan benar-benar sulit, melebihi ekspektasi kami. Saat kami melawan monster yang harus dikalahkan pada misi itu, kami ditebas habis-habisan. Aku bahkan terluka cukup parah. Beruntung, Katherine menyelamatkan kami dengan sihir penyembuhnya. Meski begitu, kami tetap kesulitan hingga pada akhirnya bisa mengalahkan monster itu.
“Makanya aku sangat skeptis ketika kalian ingin mengambil misi kelas A sekarang. Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman menyelesaikan misi kelas B, jangan pernah meremehkan sama sekali, jangan hanya memiliki tujuan demi uang. Setiap tingkat, tantangannya—”
Yudai melanjutkan, “—akan lebih sulit. Aku tahu. Tapi kalau lebih sulit akan lebih menyenangkan. Kita juga bisa berkembang dalam bertarung.”
Menatap Yudai cukup percaya diri sudah membuat Katherine seperti tertusuk panah bayangan. Benar-benar iri dengan Riri yang dapat mengajak Yudai berbicara dari awal. Dia berharap dapat mengikuti jejak Riri untuk berbicara.
“Satu lagi. Kesalahan kami saat menjalankan misi kelas B,” Riri kembali menambah, “kami tidak sempat mencari tahu tentang monster yang kami hadapi. Kami langsung melawannya begitu saja, tanpa tahu kemampuannya. Pokoknya, standar misi kelas B ke atas benar-benar tinggi, makanya upah yang ditawarkan relatif lebih tinggi daripada misi kelas C ke bawah.”
“Menarik,” ucap Sans.
Beatrice cukup panik hingga akhirnya menghabiskan baguette-nya duluan. “I-ini berbeda daripada misi yang biasanya kita ambil …. Bagaimana kalau kita dalam bahaya? Bagaimana kalau salah satu dari kita tidak kembali dengan selamat? Bagaimana kalau kita tersesat lalu—”
“Eh? Be-Beatrice? Ti-tidak apa-apa. Selama kita melakukan observasi tentang monster itu—” Riri mencoba untuk menenangkan Beatrice, “—kita punya peluang untuk berhasil.”
Yudai menundukkan kepala sambil mendekatkan telunjuk pada dagu. “Misi kelas B. Asyik juga. Suatu saat, kalau ada waktu luang, kita juga coba ambil, sekalian ajak Neu, Tay, dan Sierra.”
“Oh ya.” Riri menoleh pada Katherine. “Kamu dari tadi diam saja. Apa kamu ingin berkata sesuatu?”
“E-eh?” Katherine tercengang seiring mukanya kembali memerah.
Dia menjadi pusat perhatian ketika keempat rekan dalam misi membasmi basilisik menoleh. Tatapannya terfokus pada Yudai, semakin memanas pula otaknya untuk memikirkan kata-kata.
“Katherine? Kenapa?” Riri bertanya lagi.
“Oh!” Sebuah ingatan terpicu pada benak Yudai. “Kamu yang menyembuhkan Profesor Rivera saat ujian duel, kan? Setelah aku berduel dengannya.”
“Ah. I-iya. A-aku … aku—”
Yudai memotong perkataan Katherine, “Maafkan aku sudah menyuruhmu untuk menyembuhkan Profesor Rivera terlebih dulu. Kupikir luka Profesor Rivera lebih signifikan. Jadi—”
“Ti-tidak apa-apa. Setidaknya, temanmu yang menyembuhkan dirimu, bu-bukan?” Katherine mulai kewalahan berbicara pada Yudai, jelas dari pipinya yang memerah dan kepalanya seakan berasap. “Se-seharusnya aku—”
“Ti-tidak, tidak apa-apa. Sekarang, kita punya kamu sebagai priest dalam misi ini. Kamu bisa menyembuhkan kita semua jika terluka selama menyelesaikan misi.”
Riri menambah, “Aku juga mohon bantuannya sekali lagi, Katherine. Kerja kerasmu akan bertambah semenjak kita akan menyelesaikan misi kelas A.”
“A-aku juga mohon bantuannya,” ucap Beatrice sedikit gugup, “kita akan lakukan yang terbaik bersama-sama.”
“E-eh?” Pipi Katherine semakin memerah, malu, benar-benar malu, apalagi menatap Yudai. “Ma-maafkan aku. A-aku akan melakukan yang terbaik.”
Sans mengangguk. “Aku juga. Mari kita bekerja sama.”
“Tentu saja!” Yudai mengacungkan telunjuknya. “Kita pasti akan menyelesaikan misinya selama kita melakukan yang terbaik.”