Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 97



Yudai sangat sungkan ketika memasuki kantor pribadi, atau lebih tepatnya kamar Dolce. Tidak jauh berbeda daripada kantor pribadi Duke. 


Ia menempati salah satu tempat duduk di dekat pintu selagi menyaksikan Dolce membuka laci rak di dekat jendela bergorden dekat tempat tidur. Ia sama sekali tidak tahu mengapa dirinya harus berada di kantor profesor favoritnya itu.


Kali pertama ia berada di dalam kantor pribadi Dolce. Menatap beberapa tempelan kertas di dinding sudah membuatnya terbata-bata, apalagi menyimpulkan kebanyakan sebagai “surat penggemar” dan ucapan selamat. Seperti yang ia duga, Dolce memiliki banyak pengagum, wajar sebagai alumni terbaik sepanjang masa.


Beberapa busur dan kumpulan panah yang banyak terletak di sebuah laci di sebuah sudut menghadap tempat tidur dan dekat meja serta rak. Bukan hanya itu, tetapi juga senjata lain berupa belati, pedang, dan knuckles.


“Yudai.” Dolce telah kembali membawa selembar dokumen dan menempati tempat duduk di hadapannya. “Jujur saja, melihatmu rajin berlatih memanah, entah seorang diri atau bersama teman-temanmu, saya benar-benar kagum. Pada saat yang sama, kegigihananmu mengingatkan saya pada seseorang. Seorang teman satu angkatan dengan saya dulu.


“Ia adalah laki-laki yang sama gigihnya dengan dirimu, selalu antusias dalam berlatih, baik sendiri atau dalam kelompok. Mengingat wajahnya, kamu benar-benar mirip dengannya.”


Seperti sebuah kilat menusuk tepat pada kepala, terpicu akan pernyataan gurunya itu, Yudai mempererat kepalan kedua tangannya pada lutut. Mendengar bahwa Dolce memiliki teman yang mirip dengannya memicu sebuah pertanyaan terbentuk.


“D-Dolce, a-apa … d-dia juga seorang archer, seperti diriku?”


Langsung bertanya pada intinya bukan merupakan solusi, akan aneh jika ia langsung bertanya apakah ayahnya merupakan teman Dolce.


“Benar sekali. Dia adalah seorang archer sama seperti saya, seperti dirimu.”


Dolce meletakkan dokumen itu di meja, menunjukkannya pada Yudai.


“Surat ini … merupakan hal terakhir yang saya dapat sebelum ia menghilang tanpa jejak. Kami sering bertukar surat sebagai teman. Sejak saat itu, saya berkali-kali mengirimkan surat hingga berujung tidak ada balasan. Memang sudah lama, tapi saya masih saja penasaran apa yang terjadi padanya. Tidak ada kabar apakah ia masih hidup, hanya menghilang.”


Yudai memutarbalikkan dokumen itu. Alih-alih menatap badan surat, nama pengirim di bagian bawah kanan menjadi perhatiannya. Nama itu membuatnya terkejut, sekali lagi seakan sebuah panah menembus pikirannya.


“Di-di-dia … dia …. Nama ini ….” Ia terbata-bata dalam berkata. “Dolce! A-Anda … kenal ayahku?”


Dolce mengembuskan napas lega. “Ternyata dugaan saya benar. Melihat dirimu di hadapan saya mengingatkan terhadapnya.”


Yudai menjatuhkan surat itu pada meja. Tubuhnya gemetar memproses sebuah kenyataan. Sama sekali tidak menyangka bahwa kenyataan itu menjadi batu pijakan untuk memenuhi tujuannya, mencari orangtuanya.


“Waktu dia seusiamu, wajahnya kurang lebih mirip denganmu. Alis melengkung dan berwajah seperti anak-anak, apalagi sikapmu yang antusias membuat saya bertanya-tanya apakah kamu adalah dirinya, atau seseorang yang berhubungan darah dengannya.”


Banyak sekali pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiran Yudai. Ingin sekali melontarkannya satu per satu, tetapi keraguan turut menghalanginya. Benar-benar takut jika sebuah kenyataan yang tidak terelakan harus ia terima.


Ia akhirnya memutuskan untuk bercerita, “Dolce. Kedua orangtua saya … telah meninggalkan kampung halaman saat saya masih kecil. Mereka … sering sekali bertualang, berkeliling dunia, mencari sebuah keajaiban dan pengetahuan baru. Saya lahir saat mereka masih bertualang. Pada akhirnya, mereka meninggalkan saya bersama kakek dan nenek. mungkin agar tidak terlibat bahaya.


“Bertahun-tahun tidak mendapat kabar keberadaan mereka, itulah mengapa saya menjadi seperti sekarang. Saya lelah menunggu kepastian. Saya ingin mencarinya, mencari mereka, baik itu saat saya belajar atau setelah lulus dari Akademi Lorelei, aku benar-benar … benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.”


“Saya mengerti.” Dolce mengangguk.


“Dolce. Terima kasih telah mengungkapkan ini. Sebenarnya—”


Ketukan pintu menghentikan sebuah percakapan, memicu untuk menoleh. Baron telah berdiri di hadapan pintu yang masih terbuka.


“Kenapa kamu masih di sini, Dolce?”


“Baron?” sapa Dolce.


“Pro-Profesor Baron?” Yudai mengingat profesor berambut merah pendek itu sebagai lawan Zerowolf waktu ujian akhir semester.


Dolce bangkit dari tempat duduknya begitu menatap Baron.


“Rapat akan segera dimulai. Profesor Arsius sudah menunggu.” Baron menghela napas ketika menoleh pada Yudai, ia mempertegas, “Bukankah seharusnya kamu berada di asrama sekarang?”


Yudai kehabisan kata-kata untuk menanggapi Baron. Ia tidak punya pilihan selain bangkit dan meninggalkan kantor pribadi Dolce, membiarkan mereka mengikuti rapat.


Rapat pada malam hari memang tidak biasa bagi Yudai sebagai murid Akademi Lorelei. Seingatnya, seluruh profesor sering mengadakan rapat pada siang hari, baik tentang akademik atau hal lain.


“Ah. Sebenarnya saya yang mengajaknya kemari,” Dolce membela Yudai, “kami ada semacam urusan antara profesor dan murid.”


“Salah satu murid archer terbaik?”


“Ka-kalau begitu—” Yudai menyapa, “—saya harus pergi. Permisi.”


Yudai mengangkat kaki dari ruang pribadi Dolce. Tetap saja penasaran tentang pertemanan antara ayahnya dan Dolce beberapa tahun lalu. Ia tidak sempat bertanya cukup banyak untuk mencari tahu lebih detail.


***


Deretan meja trapesium di pusat sebuah ruangan lebih luas daripada ruang kolektif atau pribadi setiap profesor membentuk sebuah oval tidak simetris. Ruangan itu terletak di lantai tujuh kastel akademi, lantai terlarang bagi semua murid.


Seluruh profesor telah menempati kursi di hadapan meja masing-masing, sangat datar dalam menatap satu sama lain. Terdapat satu kursi yang kosong di pusat deretan meja itu, tepatnya di antara Alexandria dan Danson.


Alexandria sangat serius menatap mayoritas profesor di akademi adalah laki-laki, meremehkannya bukan menjadi solusi dalam berpendapat. Ia telah menyiapkan segalanya tidak peduli topik yang akan menjadi pembicaraan utama.


Bagi profesor lain, terutama Dolce, Hunt, dan Duke, Alexandria merupakan profesor perempuan yang tangguh dan selalu kritis dalam mengutarakan sebuah kebenaran dalam berpendapat. Suara perempuan pun menjadi sebuah representasi dalam setiap rapat.


Seluruh profesor akhirnya bangkit dari duduk mereka begitu Arsius memasuki ruangan sambil membawa lembaran dokumen. Kepala akademi itu menempati posisinya menghadap salah satu profesor yang menempati bangku membelakangi pintu. Mereka menundukkan kepala pada Arsius seraya memberi hormat.


Arsius menempati posisinya sambil menyambut, “Mari kita mulai.”


Seluruh profesor kembali menempati posisi masing-masing. Menatap raut wajah Arsius yang masam, sebuah situasi serius telah mereka prediksi.


“Ada sebuah hal yang telah saya khawatirkan semenjak tahun ajaran ini dimulai,” Arsius memulai diskusi, “sebuah hal yang sangat menganggu masa depan akademi ini. Bukan hanya akademi ini, tetapi juga Kerajaan Anagarde.”


Seluruh profesor terdiam tidak mengira sebuah ancaman diam-diam membayangi masa depan akademi. Bagi Alexandria, ia hanya merespon datar, seakan sudah menduga hal ini akan terjadi.


“Benar. Saya sudah berbicara pada Alexandria dan Hunt tepat sebelum ini. Hanya saja, akan lebih baik jika kita semua membicarakan yang telah saya khawatirkan selama ini. Memang tidak mudah untuk menyampaikannya secara langsung begitu saja, membutuhkan waktu untuk mempersiapkan jika situasi sudah semakin memburuk.


“Hal yang saya khawatirkan, benar-benar mengkhawatirkan nasib kerajaan dan akademi, adanya seorang mata-mata yang menyamar di akademi ini.”


Dalam hati, mayoritas dari profesor tertegun atas pernyataan itu. Beberapa lagi tidak menganggapi hal ini dengan serius, melainkan menganggapnya sebagai kecemasan berlebih dan olok-olok.


“Seorang mata-mata, seorang musuh yang tidak pernah diduga oleh pihak kerajaan, telah masuk dengan tujuan menghancurkan dari dalam. Saya sama sekali belum tahu dengan cara apa ia akan melakukannya. Bisa saja, dia akan memanfaatkan segudang rahasia yang kita sama sekali tidak ketahui. Sebelum saya melanjutkannya lebih lanjut, apa ada tanggapan?”


Danson mengambil alih dalam berdiskusi. “Sebuah rahasia yang sama sekali tidak kita ketahui. Saya ingin tahu bagaimana cara mata-mata itu mencarinya untuk menghancurkan akademi, baik itu menghancurkan kastel ini atau bahkan … mengadakan kampanye hitam pada rakyat kerajaan.”


Rivera mulai berpendapat, “Danson, mungkin menghancurkan kastel akan lebih masuk akal bagi mata-mata jika ingin menghancurkan akademi.”


Alexandria secara tegas mengutarakan, “Bagi saya, kampanye hitam dapat membuat posisi akademi ini tidak diuntungkan, begitu juga dengan kerajaan ini. Saya tidak akan terkejut jika mata-mata itu berhasil melakukan caranya, apapun untuk menghancurkan akademi ini dari dalam, sebuah pemberontakan akan terjadi. Pemberontakan besar semenjak alchemist menjadi biang keroknya. Mungkin saya membicarakan alchemist tidak relevan dengan hal ini, tetapi mereka sama bahayanya dengan mata-mata ini.”


Baron membalas tanggapan Alexandria, “Hei, kenapa kamu selalu mengaitkannya dengan alchemist? Selalu saja kamu bawa—”


“Baron. Ingat kan kalau alchemist sebenarnya job yang berbahaya, bukan? Berbahaya bagi akademi ini, apalagi Kerajaan Anagarde. Saya tidak akan terkejut jika mata-mata ini adalah seorang alchemist. Saya dapat merasakan bahwa kaum alchemist merencanakan sebuah balas dendam semenjak mereka menyebabkan sebuah masalah pada masa lalu. Sebuah insiden mematikan bagi kerajaan akademi, paling mematikan setelah perang besar.”


Duke, sebagai seorang alchemist yang juga berperan sebagai profesor magang, menelan ludah ketika mendengar pernyataan tegas Alexandria. Tidak dapat terbantahkan sesuai dengan kenyataan yang ada. Ia memilih untuk menutup mulut semenjak alchemist bukan hal relevan dalam rapat. Juga, melawan Alexandria akan mengeksposnya sebagai seorang alchemist.


Hunt mengangguk setuju. “Saya benci mengakuinya, tetapi Anda benar, Alexandria. Sesuai yang kita bicarakan sebelum rapat ini, alchemist menjadi motif terbesar bagi si mata-mata ini. Satu-satunya pertanyaan, siapa yang menjadi mata-mata itu? Mata-mata yang ingin menghancurkan akademi ini dari dalam.”


“Jika mata-mata ini berada di dalam akademi—” Danson kembali berpendapat, “—bukan tidak mungkin lagi kalau dia adalah seorang murid. Lagipula, kita juga tidak tahu apakah dia adalah murid tahun keberapa. Bisa saja dia sudah lama merencanakan ini semenjak memasuki akademi sebagai murid.”


“Bukan hanya murid di Akademi Lorelei yang harus kita khawatirkan tentang hal ini,” Hunt menambah, “situasi terburuk, hal yang paling ditakutkan, bisa saja … salah satu dari kita adalah mata-matanya.”


Seluruh profesor kembali saling menatap, memutar mata menilai bahwa ada hal terselubungi di balik topeng “wajah”. Tidak boleh menilai orang dari penampilan dan sikap dari luar, sebuah prinsip penting dalam mengenal seseorang. Ketegangan memenuhi suasana rapat begitu menghadapi kemungkinan bahwa salah satu dari mereka adalah mata-mata.


“Jadi ada solusi untuk situasi ini?” tanya Alexandria.


Arsius menghela napas sambil menempelkan kedua tangan menjadi kepalan. “Sungguh berbahaya jika seluruh murid mengetahui situasi ini, sangat berbahaya hingga dapat menimbulkan kepanikan. Kita juga tentu tidak ingin lebih panik saat kita saling menyelidiki satu sama lain. Saya rasa hal itu merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini.”


Alexandria mengangguk setuju. “Risiko memang harus diambil, bahkan pertemanan kita dapat menjadi tumbal.”


Danson menambah, “Jika itu satu-satunya cara, kita harus melakukannya.”


“Bukan hanya menyelidiki setiap profesor yang ada di sini, tetapi juga seluruh murid. Lakukanlah diam-diam agar murid tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Hunt.


***


Sierra duduk terdiam menyaksikan teman sekamarnya, Sandee tengah terlelap di kasur di hadapannya, melamun. Rencananya menjadi sebuah perenungan penting selama berada di akademi.


Sudah menjadi risiko bahwa menjadi murid Akademi Lorelei dapat mengekspos identitasnya sebagai seorang mata-mata. Menjalankan misi sambil mengikuti alur murid menjadi satu-satunya jalan baginya agar semuanya berjalan lancar.


Dalam hati sebuah prinsip kembali tertanam pada benaknya, ia akan melakukan dengan cara apapun untuk mencari tahu sebuah rahasia terpendam Akademi Lorelei.