
Selagi seluruh murid di sekitar mengalihkan perhatian pada pertengkaran antara Earth dan Neu, Sierra menoleh pada jalan keluar pantai, terdapat celah kosong ketika Tay dan Ruka mulai bergabung dengan keramaian.
Memisahkan diri dari kerumunan, memanfaatkan celah di antara barisan para murid, ia perlahan melangkah menuju tujuannya. Sesekali ia menubruk bahu seseorang, ia hanya meminta maaf pelan.
Saat perkelahian itu telah meledak, ia berhasil meloloskan diri dari keramaian dan memasuki daerah kota. Ia menarik bagian bawah gaun merah selagi menambah kecepatan melangkah melalui daerah kota penuh penerangan lentera bercahayakan api.
Memanfaatkan kesunyian kota selagi seluruh murid akademi Lorelei sibuk merayakan pesta dansa pada hari terakhir Festival Melzronta menjadi keputusan terbaik. Pikirnya, ia dapat kembali ke kastel akademi tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya bergantung waktu untuk kembali ke pantai dan bergabung ke dalam kerumunan.
Melewati alun-alun dan hutan perbatasan antara kota dan taman akademi, tatapannya tetap fokus ke depan tanpa harus menoleh ke belakang dengan curiga. Yakin sekali tidak ada siapapun yang tahu.
Ketika gerbang menuju halaman depan kastel telah di depan mata, seorang lelaki berkulit hitam telah berdiri melipat dadanya. Di samping lelaki itu, dua orang gadis juga telah hadir.
“Kenapa lama sekali,” sambut sang lelaki
Sierra beralasan ketika menghampiri ketiganya, “Maaf. Sulit sekali mencari kesempatan untuk kemari.”
“Kamu seharusnya lebih cepat lagi, Black Jack’s apprentice. Dan akhinya kamu datang kemari.”
“Benar. Akhirnya kita bisa melakukannya. Kita ke lorong terlarang akademi, di mana para profesor melarang seluruh muridnya untuk masuk. Sebaiknya cepat sebelum puncak pesta dansanya.”
***
Pancaran kolam air mancur menjadi cermin bagi Beatrice. Seorang gadis dari keluarga bangsawan yang melarikan diri untuk menggapai mimpinya, yaitu menjelajahi dunia luar.
Menatap wajahnya sendiri, ia terpikir betapa buruk sekali kepribadiannya. Plin-plan, impulsif, ceroboh, dan selalu semaunya sendiri. Ia merasa karena kepribadian buruk seperti itu, ia tidak pantas untuk bahagia, apalagi setelah apa yang terjadi pada masa lalunya.
Ia duduk terdiam di titian keramik air terjun, membayangkan tindakannya telah menjadi sebuah malapetaka. Ia ingin Earth menjauh dengan berpura-pura menjadi pasangan dansa Neu. Rasa bersalah akibat hal itu membendung air mata hingga berjatuhan.
Terbayang kembali saat Earth melayangkan kepalan tangan kanan tepat pada wajah Neu. Apalagi kalimat yang paling menonjol tidak ingin ia ingat.
Menjauh dari tunanganku!
“Beatrice!”
Menoleh ke sebelah kirinya, dapat terlihat Sans telah tiba di alun-alun masih berlari.
Sans menghentikan langkah begitu tiba di hadapan air mancur, pusat dari alun-alun kota. Ia terengah-engah sehabis berlari mengelilingi hampir seluruh kota.
“A-aku … telah mencarimu ke mana-mana.”
Beatrice kembali menatap kolam air mancur, menatap refleksi dirinya sekali lagi. Ia ttidak tahu ingin berkata apa selain merasa bersalah atas malapetaka yang menimpa Neu.
“Ka-kamu tidak apa-apa kan?” Sans juga tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan saat seseorang sedang termenung sedih sendirian.
Sans akhirnya duduk di titian kolam, sekitar 30 sentimeter lebih jauh dari Beatrice. Berpikir dua kali untuk menghibur atau memastikan semua akan baik-baik saja mungkin tidak akan efektif.
“Maafkan aku.” Beatrice membuka suara.
Sans tercengang begitu memalingkan pandangan dari lututnya menuju wajah Beatrice.
“Maafkan aku. Aku … sudah mengacaukan segalanya. Neu … pasti terluka gara-gara aku. Gara-gara aku … aku … pesta dansa jadi kacau. Hanya karena aku ingin menjauh dari Earth, hanya karena aku tidak ingin menikahinya—”
“Beatrice,” panggil Sans.
“—perkelahian terjadi lagi. A-aku … melibatkan Neu terlalu jauh. Se-sekarang dia … dan Tay terlibat masalah lagi, kali ini—”
“Itu tidak benar!” tegas Sans impulsif. Cukup tercengang ketika ia haya ingin memendam kalimat itu di dalam pikirannya, tanpa sengaja berubah menjadi ucapan.
Beatrice pun terdiam, masih meneteskan air mata.
Sans berdehem dan menutup mata sejenak. Ia memastikan, “Um … setidaknya … mereka tidak saling bertengkar, Tay dan Neu. Neu ingin melindungimu dari Earth. Begitu Neu dipukul, kupikir Tay ingin melindungimu juga, di-dia ingin membelamu.”
Beatrice kembali menatap lututnya yang tertutup bagian bawah gaun. “A-aku … berkata kalau aku sudah diajak Neu ke pesta dansa. Kamu pasti kaget saat melihatku bersamanya kan? Saat kami berdua bilang tidak mungkin teman masa kecil bisa jadi pasangan. Aku … hanya ingin Earth menjauh dariku. Itu saja.”
Sans kini mengerti mengapa Beatrice dan Neu secara tiba-tiba menjadi sebuah pasangan.
Beatrice menyapu air mata dari pipinya. Menghela napas, menenangkan diri sejenak hanya itu untuk meredakan bebannya. Mengangkat kepala menatap sunyinya langit bertabur bintang, setidaknya kesenduan mulai terobati.
Seandainya ada sebuah bintang jatuh, ia memiliki satu keinginan. Ia dapat mewujudkan mimpinya tanpa gangguan. Sebelumnya, lulus dari akademi menjadi sebuah prioritas utama.
***
“Mohon perhatiannya.”
Lagu terakhir pesta dansa telah selesai berdendang dan kehadiran Arsius di panggung memicu tatapan tertuju padanya. Sudah puas berdansa mengikuti irama musik, sebuah pengumuman pun menanti. Murid tahun pertama dan kedua cukup terkejut dengan hal itu.
“Kalian telah mengikuti lima stage Festival Melzronta. Pertama, melintasi halaman kastel akademi sambil menghadapi tantangan. Kedua, kejar tangkap di hutan barat akademi. Ketiga, menemukan profesor yang menyamar di bazaar. Keempat, berjualan di bazaar. Dan terakhir, bersenang-senang di pesta dansa.
“Inilah yang kalian tunggu-tunggu, hasil dari partisipasi kalian selama Festival Melzronta berlangsung. Hasil terbagi menjadi tiga kategori: individu, pasangan, dan kelompok.”
Tentu sudah bisa ditebak berdasarkan apakah penentuan hasil setiap kategori.
Yudai dan Zerowolf saling melirik berdekatan di barisan terdepan menghadap panggung, entah kebetulan atau tidak. Menunggu hasil dari persaingan mereka, tentu saja Zerowolf berharap bisa mengungguli Yudai untuk pertama kalinya.
Sans dan Beatrice yang telah kembali sudah berdiri tepat di belakang Yudai. Tentu bukan sebagai pasangan, hanya sebagai teman.
Neu menghela napas berdiri terdiam menatap dirinya dan Beatrice terpisah oleh setidaknya tiga orang secara horizontal. Masih saja merasa bersalah akan insiden melawan Earth, ia hanya terdiam dengan Tay dan Sierra berada di sisinya.
Sierra pun beruntung, ia telah kembali tepat saat lagu terakhir berlangsung. Menoleh pada dua dari lima teman dekatnya, sekali lagi ia terpikir rencananya berjalan lancar. Sebagai seorang gmata-mata, penting agar kedoknya tidak terbongkar.
“Juara ketiga kategori individu jatuh kepada … Petra dari tahun ketiga! Dia mendapat 2000 vial dan 3 buah herb langka!”
Herb langka. Sans memperkirakan jenis bahan itu dapat menjadi bahan untuk barang hasil transmutasi alchemist.
“Juara kedua yang mendapat item khusus job-nya dan 3000 vial jatuh kepada … Ryu dari tahun ketiga!”
“Me-mereka … yang berada di posisi teratas stage pertama bukan?” Lana menyenggol pinggang Riri.
Arsius melanjutkan pengumumannya, “Baik, ini menarik. Dua orang telah mendapatkan poin yang sama setelah menjumlahkan poin kedua stage pertama. Siang tadi, kami berdiskusi panjang siapa yang lebih pantas menjadi juara pertama kategori individu. Berdasarkan posisi di stage pertama dan jumlah tangkapan di stage kedua, kami telah sepakat. Dia mendapat 5000 vial, item khusus job mereka dan diperbolehkan untuk memasuki lantai enam perpustakaan.”
Kerumunan murid mulai heboh. Beberapa dari mereka baru tahu bahwa ada lantai enam di perpustakaan akademi.
Neu bergumam, “Perpustakaan lantai enam, lorong terlarang bagi murid akademi. Sial ….”
Sierra tersenyum saat mendengar pengumuman itu.
“Selamat untuk … Zerowolf!”
“Ha!” jerit Zerowolf menunjuk Yudai. “Akhirnya! Akhirnya aku bisa mengungguli—”
“Dan Yudai!” lanjut Arsius. “Keduanya dari tahun pertama!”
Zerowolf benar-benar melongo, sangat tercengang ketika ia ternyata berakhir imbang melawan saingan beratnya dalam kategori individu.
Sans dan Beatrice hanya bisa menggeleng khusyuk dan tertawa pelan akan kehebohan Zerowolf. Lalu … Katherine terdiam, kebingungan saat ingin mengucapkan selamat untuk Yudai.
Para juara kategori individu, termasuk Yudai dan Zerowolf akhirnya naik ke atas panggung sesuai arahan dari Arsius. Begitu berbalik, seluruh penonton yang menjadi tatapan bersorak dan bertepuk tangan cukup heboh menyambut.
“Selanjutnya kategori pasangan. Kami bagi lagi menjadi tiga subkategori, tercepat, terkocak, dan pembuat ribut. Seperti yang kalian tahu, kalian harus mengindentifikasi tiga profesor yang tengah menyamar di tengah-tengah bazaar dan menebak pada profesor bersangkutan. Sesuai pandangan keempat profesor pengawas setiap tingkat murid, mereka sepakat bahwa pasangan tercepat jatuh kepada Yudai dan Zerowolf!”
Penonton kembali heboh ketika sekali lagi Yudai dan Zerowolf mendapat tingkat teratas salah satu kategori. Beatrice menjadi salah satu pemandu sorak terheboh sambil mengangkat kepalan tangan.
Menatap Beatrice cukup senang pada Yudai, Neu kembali termenung. Sesuai dugaan, ia tidak sedikitpun mendapat tatapan dari teman masa kecilnya itu.
“Baik, tinggal stage keempat,” tambah Zerowolf.
Arsius kembali menambah, “Mereka juga mendapat bimbingan langsung dari professor kelas atas dan tiket gratis menuju kota special job, badge berbentuk satu sayap, serta tambahan uang 4000 vial. Pasangan terkocak mendapat 2500 vial, tur kerajaan, dan badge berbentuk badut—"
Tay membuka suara, “Kuharap si Alis Melengkung itu tidak boros menghabiskan uang hadiahnya.”
“Benar. Dia boros sekali saat stage ketiga,” tanggap Neu.
“Siapa suruh kamu berkata begitu, Mata Empat.”
“Kamu ini, sangat tidak tahu malu, memperparah keadaan di pesta dansa.”
“Aku menyelamatkanmu, tolol.”
“Pasangan pembuat ribut jatuh kepada Tay dan Neu!” Pengumuman Arsius membekukan mereka. “Mereka mendapat 1500 vial dan sebuah penghargaan Madness, serta badge berbentuk rahang buas.”
“A-apa maksudnya ini?” Mereka berdua kompak bergumam.
Bukanlah hal membanggakan jika mendapat gelar pasangan pembuat ribut selama stage ketiga. Apalagi ketika sudah malu akibat publik tertawa terbahak-bahak.
Tay menyindir, “Kamu dulu.”
“Tidak, kamu dulu,” balas Neu mempersilakan Tay untuk naik panggung.
Tidak ingin lagi repot dengan segala kehebohan dan keributan, Sierra mendorong keduanya mengiringi celah antara deretan murid.
Mereka akhirnya harus rela menaiki panggung menahan malu, apalagi ketika menyaksikan publik kembali tertawa terbahak-bahak. Segala kehebohan selama Festival Melzronta setidaknya “membuahkan hasil”.
“Sekarang kita ke kategori kelompok di stage keempat. Ada 10 kelompok yang berhasil mencapai 700 pelangan, mereka akan mendapatkan tiket makan di kantin gratis selama 2 hari dan pin berbentuk tiga buah tangan. Kelompok Ringo, kelompok Juu, kelompok Zerowolf, kelompok Yudai—”
Yudai berkomentar, “Kelompok kita berhasil mendapat salah satu kategori yang terbanyak.”
“Kami juga telah menilai kebersihan, keteraturan, kecakapan, dan dekorasi yang cukup menarik. Kelompok itu mendapat gelar stand paling menarik dan hadiah pin berbentuk palette lukisan serta seperangkat kuas, dan mereka adalah … kelompok Riri!”
“Akhirnya! Kita menang juga!” seru Lana menepuk bahu Riri.
“Ya sayang sekali hadiahnya bukan uang atau sesuatu yang berguna untuk nanti,” komentar Riri.
“Terakhir, ada setidaknya 15 kelompok yang berhasil menghasilkan setidaknya 1000 vial selama bazaar berlangsung. Mereka berhak memasuki kelas spesial dan pin berbentuk mata uang vial. Dalam urutan acak, kelompok-kelompok itu adalah kelompok Ryu, kelompok Riri—”
Ruka menepis komentar Riri, “Nah, akhirnya sesuatu yang berguna.”
“Setidaknya kita bisa lebih siap untuk akhir semester ini! Jangan kalian sia-siakan kesempatan ini,” balas Riri.
“—kelompok Yudai, kelompok Zerowolf—”
“A-aku boleh masuk kelas spesial?” Sans sangat menyangka.
“Berhasil! Kita benar-benar berhasil dalam stage keempat!” seru Beatrice.
Begitu pengumuman telah usai, saatnya pembagian hadiah untuk pemenang kategori individu dan pasangan. Untuk kategori kelompok, hadiah dapat diambil pada esok hari di ruang profesor. Kehebohan kembali meledak ketika pembagian hadiah berlangsung.
Begitu menerima hadiah, Zerowolf jadi ingat, terpicu akan persaingannya melawan Yudai.
“Tu-tunggu dulu! Hasil stage keempat bagaimana? Berapa banyak uang yang dihasilkan kelompokku? Berapa banyak pelanggan yang kudapat?”
Yudai kembali melongo mendengar kedua pertanyaan Zerowolf. Ironisnya, tidak satupun profesor, terutama Arsius, yang dapat menjawab.
Riri menepuk jidat sebagai reaksi kehebohan Zerowolf. “Di-dia itu ….”
“AAAAAH!” Zerowolf menjerit sebelum kembali menunjuk Yudai di dekatnya. “Dengar ya, Yudai! Persaingan kita sama sekali belum berakhir! Suatu saat aku akan mengalahkanmu!”
Yudai sekali lagi tenang dalam menganggapi tantangan itu. “Ba-baiklah.”
“Kenapa kamu tenang sekali!!’
Dengan demikian, kehebohan itu mengakhiri Festival Melzronta di Akademi Lorelei.