Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 148



Suara hujan deras pada fajar bukan hanya menjadi suara anggun yang menyambut ketika terbangun. Setiap tetesan hujan yang mendarat di tanah atau di atas kastel akademi seakan memicu nada-nada harmonis yang mengalir membentuk sebuah kedamaian.


Sans yang baru saja keluar dari gedung asrama dan membawa kantungnya memanfaatkan suara rintik hujan di luar agar lebih lega dalam menyusuri selasar menuju gedung perpustakaan. Masih saja mengendap-endap sambil melirik memastikan tidak ada seseorang.


Begitu tiba di gedung perpustakaan, ia menatap gerbang gedung itu sedikit terbuka. Sangat berhati-hati, ia bergeser melewati celah pada gerbang itu. Duke telah berdiri saat berbalik, mencengangkannya.


Tanpa kata-kata, Duke mulai menaiki tangga berputar menuju lantai enam. Sans pun langsung tahu ia harus mengikutinya. Langkah cepat tapi perlahan, mengingat waktu mereka terbatas sampai fajar menyingsing.


Seperti hari sebelumnya, Duke menekan batu-bata pada tembok yang longgar saat tiba di lantai enam. Dinding pun kembali terbuka mengungkapkan ruangan di mana mereka mengadakan kelas rahasia khusus alchemist, khusus Sans.


“Baik, kamu langsung saja melakukan praktiknya,” Duke menyuruh.


Sans mengeluarkan setidaknya dua bahan dan meletakkannya di lantai di hadapannya. Ia juga memasang gauntlet-nya untuk bersiap mengerjakan tugas pertama.


Ia harus membuat sebuah katapel (slingshot). Bahannya meliputi nimgelatin, serat pohon albatus, dan bahan terpenting untuk pemurnian, kristal magi, yang ia ambil dari salah satu kantung milik Duke di sebelah kirinya.


Nimgelatin merupakan esens sisa yang didapat setelah mengalahkan seekor slime. Bentuknya seperti sebuah bongkahan kristal tapi lebih kenyal jika tersentuh kulit, warnanya pun tergantung warna slime tersebut. Kali ini, warna nimgelatin itu adalah merah.


Bahan kedua memang berupa serat pohon albatus. Ia sudah “mengupas” batang pada badan pohon albatus dan mengambil seratnya pada hari sebelumnya. Tipis dan berbentuk seperti rambut pirang kecokelatan.


Bahan terakhir, kristal magi yang ia ambil dari salah satu kantung milik Duke. Kristal berbentuk heksagram (penggabungan dua segitiga sama sisi) itu memiliki tujuh warna terang benderang menyerupai pelangi.


Saatnya untuk memulai proses pembuatan sebuah katapel. Pertama, Sans mendekatkan tangan kanan yang telah terselimuti oleh gauntlet di atas kristal magi yang masih dalam keadaan utuh itu. Selanjutnya, ia ambil dan mulai menekan erat bagian bawah kristal itu.


Tatapannya terfokus pada kristal sambil membangun kerangka bagian dalam di benaknya. Ia mulai menghantarkan tenaga dan mana dari dalam tubuhnya menuju gengaman. Konsentrasinya pada kristal magi itu dan bayangannya dalam membongkar kerangka selama proses dekonstruksi seakan membuatnya seperti ingin mengiris hanya menggunakan tangan kosong.


Kristal itu kemudian seperti meledak dan berubah bentuk menjadi butiran bubuk campuran warna cerah. Meski sudah seakan menjadi bubur, campuran tujuh warna cerah itu masih saja enak terpandang.


Sans kemudian meletakkan bubuk itu di lantai, bersampingan di antara nimgelatin dan serat pohon albatus. Kali ini, ia tidak perlu menggambar lingkaran transmutasi seperti biasa. Ia harus mencoba melakukan penggabungan bahan sendiri bersama dengan proses pemurnian, sintentiser.


Langkah selanjutnya, proses sintentiser, yakni peningkatan keberhasilan dalam proses sintesis dengan penyelarasan atau pemurnian. Ia bagi rata bubuk kristal magi menjadi dua bagian. Kedua bagian itu ia taburkan pada kedua bahan untuk membuat katapel.


Ia tempatkan kedua tangan di antara satu bahan itu, satu per satu. Dari dua sisi, ia tekan bahan pertama, nimgelatin bertabur bubur kristal magi. Tenaga dan mananya kembali merembes keluar menuju tangannya menghantarkan energi untuk memurnikan nimgelatin.


Butuh kurang lebih dua setengah menit untuk menunggu reaksinya sambil melakukan pemurnian. Bubuk kristal magi itu akhirnya terserap menuju nimgelatin menghasilkan kilat yang seakan bersinar. Nimgelatin tersebut sudah benar-benar murni.


Cara yang sama juga ia gunakan pada serat pohon albatus. Begitu proses sintentisernya selesasi, serat pohon itu menjadi seperti rambut berwarna keemasan, elegan dan bersinar.


Langkah terakhir, sintesis kedua bahan dan menggabungkannya menjadi sebuah barang jadi, yakni katapel. Ia mendekatkan kedua bahan itu. Ia akhirnya mengangkat kedua tangan menghadap keduanya.


Sama saja seperti transmutasi, seperti saat ia membuat sebuah ramuan, bedanya ia melakukan sintesis untuk membuat sebuah barang. Ia mulai memfokuskan dalam membayangkan struktur dalam kedua bahan untuk memulai proses dekonstruksi. Perlahan, ia mulai membayangkan rangka-rangka kedua bahan tersebut mulai terpisah dan menyatu.


Sambil berkonsentrasi, ia berusaha menyeimbangkan bayangannya tentang kedua bahan itu selama proses dekonstruksi dan pengeluaran tenaga serta mana. Apalagi hal ini juga bergantung pada pemahaman Sans terhadap kedua barang itu sekaligus proses pemurnian.


Memang, hal ini pertama kali bagi Sans untuk melakukan proses pemurnian melalui skill alchemist. Ia sudah menduga proses itu akan berjalan lama ketika menyatukan kedua bahan. Berlama-lama ia melihat belum ada yang terjadi selain sebuah cahaya kilat menyelimuti tangannya, tatapannya beralih pada jam pasir. Ia tertegun mendapati hanya sedikit pasir yang tengah menunggu mengalir melewati leher dari tabung bagian atas menuju tabung bagian bawah. Tabung bagian bawah jam pasir itu hampir penuh.


Tetap saja, Sans hampir kehilangan konstentrasinya, menyadari ia harus tetap fokus dalam proses penggabungan kedua bahan menjadi satu baranng jadi. Ia mengalihkan perhatian, tatapan, dan fokus, kembali membayangkan bagian kedua bahan seakan ia sedang menyatukan masing-masing unsur.


“Sebaiknya kamu cepat, Sans,” bujuk Duke menatapi jam pasir.


Peluh semakin banyak menetes pada kulit Sans, tertekan bahwa ia hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelesaikan tugas pertama dalam praktik pemurnian pembuatan barang. Ia tidak ingin membuat waktu sebelum fajar sia-sia hanya karena tidak berhasil. Terlebih, tekanan menambah akibat adanya penyelidikan terbuka oleh akademi berkontribusi pengurangan waktu dalam belajar alchemist secara sembunyi-sembunyi.


“Belum, masih belum,” bisik Sans berusaha keras.


Sans memaksakan diri mengeluarkan tenaga dan mana lebih keras, lebih keras daripada yang ia bayangkan. Mungkin saja ia belum terlalu memahami prosesnya, lebih kompleks daripada transmutasi dasar saat membuat ramuan penyembuh luka.


Jam pasir itu akhirnya meneteskan butiran pasir akhir memenuhi tabung bagian bawah. Duke langsung menoleh dan terkejut Sans memutuskan untuk lanjut tanpa melirik.


“Hari ini sudah cukup, Sans. Nanti kamu coba lanjutkan besok.”


“Belum.” Sans menggeleng. “Aku masih ingin lanjut sampai bahannya jadi.”


“Tapi—”


Lambat laun, kedua bahan itu akhirnya berguncang akibat terpicu oleh tenaga dan mana Sans. Sebuah proses pun akhirnya terjadi ketika kedua bahan itu mulai terdekonstruksi dan menyatu membantuk sebuah rangka.


Serat pohon albutus mulai menyatu membentuk gagang huruf “Y” dari lembut menjadi keras. Nimgelatin juga ikut terdekonstruksi dan berubah bentuk menjaditali karet sebagai pegas untuk menembakkan batu sebagai peluru.


Ia telah berhasil membuat katapel!


Sans pun akhirnya bernapas lega, satu tugas dapat ia selesaikan.


***


“Tidakkah kamu tahu dirimu telah mencemari nama baikmu sendiri?”


Kata-kata pertama dari sang ibu semenjak tiba kembali di rumah telah seperti menusuk Beatrice dari belakang. Terlebih lagi, ia hanya bisa duduk diam di kasur kamarnya. Sama sekali menundukkan kepala, tidak ingin menatap sang ibu yang berdiri di depan pintu kamar dalam gelap.


Jika menoleh ke samping, sebuah jendela yang belum tertutup gorden memacarkan gemerlapnya malam sudah tersegel oleh deretan besi vertikal layaknya sebuah pintu sel penjara. Jalan alternatif untuk meloloskan diri sudah tidak mungkin lagi terlewati.


“Berani-beraninya kamu melarikan diri dari rumah, kurang lebih delapan bulan kamu berada yang kamu anggap sebagai dunia luar. Apa kamu tidak berpikir pengaruh dunia luar itu sudah banyak mencemari dirimu sebagai perempuan bangsawan!”


“Apa kamu bodoh sekali sampai berniat mencemarkan nama baik keluarga kita? Seharusnya kamu malu pada dirimu sendiri, Beatrice sayang!”


Beatrice sungguh bosan lagi-lagi harus mendengar nasihat seperti itu dari mulut ibunya sendiri. Hal yang ia pikirkan hanyalah kondisi ayahnya semenjak terpaksa kembali ke rumahnya di Beltopia, tempat terburuk yang mungkin ia kunjungi selama ini.


“Ya sudah.” Sang ibu memalingkan dirinya dari tatapan Beatrice. “Mulai sekarang, kamu harus patuh pada tradisi bangsawan. Tidak perlu kembali ke dunia luar segala, kembalilah menjadi gadis bangsawan yang seharusnya.


“Dalam satu minggu, saat Earth sedang libur pertengahan musim semi, kamu harus menikah dengannya. Mungkin kamu akan lebih patuh jika kamu sudah menjadi seorang istri! Kamu juga tidak boleh keluar dari kamar ini.”


Beatrice langsung mengangkat kepalanya, terpicu oleh keputusan sang ibu. Ia bangkit dari tempat tidur dan mempercepat langkah mendekati pintu.


“Tunggu! Bagaimana dengan Ayah!! Keadaan Ayah bagaimana?” Ia sama sekali belum mendapat jawaban dari tujuan awal mengapa ia harus pulang.


Semenjak ia kembali menempatkan kaki di rumah, tidak ada satupun, bahkan dari ibunya sendiri, Oya, dan pelayan lain, mengabari keadaan ayahnya. Mereka hanya fokus pada dirinya semata.


Pintu pun tertutup rapat bersamaan dengan suara putaran kunci. Berkali-kali ia memutar kenop pintu, tetap saja tidak terbuka.


“Kumohon! Aku ingin keluar dari sini! Aku ingin bertemu Ayah!!” Beatrice menepuk pintu cukup kencang beberapa kali. “Aku ingin kembali ke Akademi Lorelei! Aku tidak ingin menikahi Earth!!”


“Buka pintunya!! Buka pintunya ….”