
Mengingat bahwa jarang sekali nahkoda yang mau mengantar penumpang ke bagian selatan Riswein karena banyak terdapat rawa, cukup sulit untuk menggaet seorang nahkoda kapal.
Sans juga membayangkan begitu sulit mendapat kapal yang melintas ujung selatan benua Riswein setelah menolong masyarakat kota Salazar. Mungkin hanya keberuntungan, ataukah keajaiban? Itu pertanyaan di benaknya.
Pantai di dekat ibu kota sangat sibuk, lalu lintas kapal tergolong lancar, datang dan pergi. Paling tidak kebanyakan hanya untuk mengantar barang dagangan dari benua lain. Beberapa juga menampung penumpang tamu yang ingin berkunjung.
Sans mengamati betapa sulitnya Duke melakukan negosiasi dengan setiap nahkoda agar dapat mengantar menuju ujung selatan Riswein. Sungguh sulit untuk meyakinkan bahwa hanya mereka yang akan mendarat. Alasan sibuk bisnis terutama mengantarkan dagangan apalagi memakan waktu kurang lebih tiga hari menjadi jawaban bagi para nahkoda.
Waktu pun telah terbuang hanya untuk mencari nahkoda, atau lebih tepatnya kapten kapal menurut Sans. Matahari semakin memancarkan sinarnya beserta hawa panas menumpuk pada embusan angin. Mungkin bukan ide yang bagus tidak jadi berangkat saat fajar menyingsing.
Mereka akhirnya mendapat nahkoda yang setuju untuk mengantar menuju ujung selatan Riswein dalam dua jam. Duke menawar bayaran cukup tinggi sebagai sebuah suap, hal yang sama saat ia menemui para nahkoda lain.
Kapal yang mereka tumpangi berukuran lebih kecil daripada kebanyakan kapal di pantai. Satu-satunya hal positif sang nahkoda kapal sama sekali tidak sibuk.
Dua orang kru kapal menarik rantai berkarat dari lautan, sebuah jangkar yang terpasang terangkat dari permukaan laut dan tiba perlahan di lantai kapal. Kapal pun akhirnya bergerak meninggalkan dermaga dan mulai melintasi lautan. Embusan angin mulai mendorong layar dan memyeimbangkan kecepatan kapal.
Terasa berbeda bagi Sans. Jika sebelumnya ia berangkat menggunakan kapal bersama teman-temannya sebanyak total empat kali, kali ini hal pertama ia bersama seorang profesor dari akademi seorang diri.
Menyaksikan Duke telah berdiri menoleh pada permukaan laut biru jernih di bagian kiri kapal, cukup canggung bagi Sans untuk memulai sebuah percakapan. Hanya berdua dari Akademi Lorelei berangkat melakukan “field trip” khusus alchemist sudah menjadi hal berbeda daripada field trip sebelumnya.
Tidak ada teman sebaya dari akademi Lorelei seperti Yudai, Beatrice, Tay, Neu, dan Sierra di sampingnya. Hanya ada orang lebih tua darinya secara umur dan mental, ia merasa seperti orang termuda di kapal yang sedang menuju ujung selatan Riswein itu.
“Kenapa alchemist membutuhkan gauntlet menurut yang sudah kamu baca?”
Pemikiran Sans langsung buyar saat Duke membuka suara di dekatnya masih menatap arah permukaan laut. Ia langsung menoleh ingin memastikan apakah profesornya itu mengajukan sebuah pertanyaan. Dalam hati, masih samar-samar setiap kata hingga tidak mendapat sebuah kalimat.
“Apa?”
“Menurut Buku Dasar Alchemist, mengapa alchemist membutuhkan gauntlet?”
Menatap Duke duduk bersandar di dinding kapal membelakangi pemandangan laut, Sans terlebih dahulu melihat gauntlet pada telapak tangan kanan Duke. Warna biru metalik pada bagian punggung tangan, bagian pergelangan jari berwarna merah dari daun ars, bagian pergelangan tangan berwarna ungu berupa deretan serpihan bubuk kristal variant. Ia terlebih dahulu tidak bisa berkata-kata menatap keindahan dari hasil pembuatan dari tiga bahan, yaitu daun ars, jaring laba-laba es, dan bubuk kristal variant.
Ia menutup mata sejenak memindai kilas balik ketika membaca bab gauntlet pada Buku Dasar Alchemist. Sungguh rumit jika harus mengatakan persis seperti tulisan, kata-katanya sangat berat dan sukar ia mengerti.
Merangkai kata di dalam pikiran dan mengubahnya menjadi gerakan bibir dan suara cukup sulit, apalagi di hadapan seorang profesor seperti Duke. Ketegangannya tidak seperti saat ia gemetar menghadapi Alexandria di kelas filsafat yang seharusnya ia masuk pada hari itu.
“U-um—” Sans masih sedikit terbata-bata begitu mulai ikut duduk. “A-alchemist membutuhkan gauntlet ka-karena … um … dapat menambah keuntungan tersendiri untuk melakukan transmutasi bahan menjadi sebuah bahan baru.
“Nah, bisa dibilang begitu, tapi penjelasanmu bisa lebih baik lagi,” Duke mulai bercerita, “Kamu tahu kan, swordsman membutuhkan pedang untuk menyerang, kalau knight biasanya mereka menambahkan shield, beberapa mage dan priest membutuhkan tongkat sihir untuk menambah kekuatan sihir, atau saya biasa menyebutnya ‘mana’. Bahkan royal guard yang nanti bertugas untuk melayani kerajaan biasanya pakai tombak atau halberd.”
“Eh? La-lalu apa hubungannya, Profesor?”
“Bisa dibilang alchemist merupakan senjata yang dibutuhkan alchemist, bukan sekadar aksesori. Seperti tongkat sihir pada mage dan priest yang dapat menambah kekuatan mana masing-masing dan menstabilkannya, gauntlet memiliki fungsi hampir mirip bagi alchemist.
“Selama ini, kamu telah berlatih menggunakan mana saat melakukan transmutasi.”
“A-aku … menggunakan sihir?”
“Begitulah, tetapi seperti yang saya bilang sebelumnya, alchemist bukanlah penyihir, melainkan ilmuwan. Kamu bingung sekali ya saat saya menyebut menggunakan mana? Gauntlet pada alchemist memiliki fungsi utama untuk menekan output mana, atau sebut saja pengeluaran kekuatan, yang terlalu besar. Juga, gauntlet meningkatkan keberhasilan menciptakan sebuah barang 1.5x lipat. Kamu juga bisa menciptakan katalis.”
Katalis. Sebuah kata yang pernah Sans temukan selama membaca Buku Dasar Alchemist. Ia baru membaca bab itu dua kali, tetapi hanya sedikit yang dapat ia pahami.
“Anu, bisakah Anda menjelaskan apa itu katalis?”
Duke mengangguk dan mulai menjelaskan, “Katalis dapat dibilang sebagai alat pembantu memunculkan kekuatan mana. Pada dasarnya, katalis itu seperti penghantar yang bisa memudahkan siapa saja untuk menggunakan sihir, sama sekali tidak memandang job-nya. Semua orang dapat menggunakan sihir dengan bantuan katalis, bahkan membantu menambah kekuatan untuk melakukan serangan fisik seperti tebasan pedang, tembakan panah, dan sebuah pukulan sekalipun.
“Katalis pada awalnya ditemukan sekitar 300 tahun yang lalu. Katalis yang ditemukan adalah segundukan kristal transparan raksasa di salah satu gunung tertinggi di benua Aiswalt. Sayang sekali, kejelasan informasi itu tetap menjadi rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Gunung tertinggi manakah di Aiswalt juga menjadi sebuah misteri bagi yang ingin mengetahui kebenarannya.
“Katalis dibagi menjadi dua jenis. Pertama, Miriad, katalis yang dikhususkan untuk orang ber-job tingkat pemula hingga menengah. Kedua, Absalum, katalis khusus bagi mereka yang sudah lanjut ke tingkat khusus seperti spesialisasi job atau untuk orang-orang yang telah menguasai job-nya secara penuh. Bentuk dan kegunaan katalis setiap orang berbeda-beda bergantung job mereka masing-masing.
“Tetapi setiap orang hanya dibatasi untuk memiliki satu katalis utama dan satu katalis cadangan. Jika lebih dari tiga, pihak berwenang seperti asosiasi penyihir atau kerajaan Anagarde akan menyita semua katalis yang ia miliki.”
Sama seperti waktu pelajaran sejarah kerajaan Anagarde pada semester pertama, Sans dapat memahami sedikit demi sedikit penjelasan Duke. Meski setiap kata tidak terlalu terserap ke dalam benak, ia mulai terbayang sebuah pertanyaan, begitu penasaran dengan katalis.
“Profesor, kenapa katalis menjadi rahasia bagi beberapa orang? Juga … saya tidak pernah melihat siapapun yang menambah sihir pada tebasan pedang dan tembakan panah sama sekali. Saya … hanya pernah melihat Riri, seorang murid monk yang kebetulan juga teman saya, melakukan serangan menggunakan chakra. Apa itu juga termasuk penggunaan mana? Apa dengan penggunaan
“Monk biasanya menggunakan tenaga yang disebut sebagai chakra dari dalam tubuh untuk menyerang dan bertahan, menurut saya, hal itu tidak termasuk kekuatan mana. Mereka dapat menggunakan katalis sebagai penambah chakra agar kekuatan penyerangan dan pertahanan bertambah cukup pesat.
“Lalu tentang mengapa jarang melihat serangan yang dibantu oleh katalis juga berkaitan dengan sejarah penggunaannya, serta menjadi salah satu alasan mengapa alchemist dianggap job ilegal. Jika seorang alchemist salah dalam menggunakan struktur-struktur bahan selama transmutasi menjadi katalis, ia akan kehilangan kendalinya. Saya dapat menyimpulkan bahwa faktor terjadinya sebuah insiden alchemist disebabkan oleh kegagalan katalis.”
Dalam benak Sans, terbayang kembali sebuah kilas balik dari memory shard sang hantu penginapan mewah di barat ibu kota. Semuanya berkaitan, ketakutan masyarakat terhadap alchemist salah satunya berdasarkan penggunaan dan penciptaan sebuah katalis. Itulah mengapa jarang sekali terlihat seeorang menggunakan katalis saat bertarung, apalagi di Akademi Lorelei.
“Kamu siap untuk mendapat gauntlet,” ujar Duke lagi.
“Oi!” Seorang kru kapal melambaikan tangan dari pintu ruangan kapal, terdengar oleh Sans dan Duke. “Saatnya makan siang!”
Duke bangkit dari duduknya. “Ayo.”
Ketika Sans mulai bangkit dan mengikuti langkah Duke,
Sans membuang napasnya, mendapati pertama kalinya ia pergi ke benua lain tanpa teman-temannya. Ia akan begitu merindukan mereka selama kira-kira tiga minggu penuh. Hanya ada Duke, seorang profesor yang rela mengajarinya alchemy meski ia hanya seorang murid bermantel putih dan gagal dalam aptitude test.
Benar saja, perjalanan menuju ujung selatan Riswein menghabiskan waktu cukup lama. Baru semalam, ia sudah mendapat rasa penat harus beradaptasi dalam perjalanan jauh seorang diri. Ia pun tidur cukup malam merenungi saat libur musim dingin di akademi, menjalankan misi, membesarkan bayi phoenix, dan bersenang-senang bersama Yudai dan Beatrice.
Kapal itu singgah di ujung utara Riswein pada hari kedua perjalanan. Nahkoda dan dua orang kru turun untuk pergi ke kota Silvarion, hanya berkata bahwa mereka ingin membeli perbekalan, termasuk makanan.
Cukup lama untuk menunggu ketiganya kembali hingga sore. Perjalanan pun akhirnya berlanjut.
Tiga minggu ke depan akan terasa panjang, sangat panjang bagi Sans.
***
Field trip solo, istilah itu telah dipikirkan Sans, telah memasuki hari keempat. Ia tidak menyangka bahwa kapal akhirnya tiba di pantai di ujung selatan Riswein ketika matahari terbenam.
Sans ingat betul, pantai itu merupakan tempat singgah sehari setelah ia, Beatrice, Yudai, Riri, dan Katherine berhasil bersusah payah menumpas basilisk di kota Salazar, misi kelas A. Menunggu begitu lama agar kapal datang waktu itu membuatnya ingat dengan kondisi pasir cokelat dan terumbu karang terdampar di atasnya.
Dua orang kru juga turun dari kapal, menyatakan mereka berasal dari Salazar. Maka, mereka mengajak Sans dan Duke untuk singgah menghabiskan malam pertama di Riswein.
Sans mendengar perkataan Duke secara jernih. Sama sekali tidak menyangka, ia akan langsung menuju lokasi pertama pada malam hari.
Terlintas sebuah kebiasaan dirinya mengerjakan misi atau berlatih bertarung menggunakan belati pada siang hari. Akademi Lorelei menetapkan jam malam, tidak heran, hal ini terasa baru baginya.
Terlebih, ia dan Duke kebanyakan menghabiskan hari saat perjalanan hanya tidur siang. Hari terakhir perjalanan itu, karena bosan dan tidak tahu ingin melakukan apa, ia berakhir terlelap dari saat sang surya mencapai puncak langit. Entah mengapa, ia masih ingin tidur alih-alih memulai sebuah tugas.
Oleh karena itu, Sans dan Duke mengambil jalan yang berbeda dari sang nahkoda dan para kru kapal, termasuk dua orang yang akan menuju Salazar. Terlebih dahulu, mereka melintasi deretan pohon bakau layu tak berdaun.
Melintasi tanah yang telah tandus diiringi oleh pohon minim dedaunan karena tanah cukup tandus. Terlihat pula beberapa jembatan kayu yang melintasi rawa beracun berwarna hijau bercampur ungu. Pasti yang memberi bantuan pada kota Salazar melewati jembatan kayu seperti ini, itulah pikir Sans.
Alih-alih melewati jalan utama yang didominasi oleh jembatan kayu, Duke mengambil jalan menanjak, mendaki bukit. Katanya, salah satu dari jalan tersebut merupakan jalan menuju lokasi tujuan.
Monster seperti slime, kadal bersisik hijau, alligator bergerigi tajam, ular, dan makhluk bertubuh tumbuhan merambat turut menanti ketika dalam perjalanan. Saat setiap pertarungan berlangsung, Sans sampai tercengang menatap Duke mengalahkan monster lebih banyak darinya menggunakan belati atau kemampuan alchemist.
Sans berdecak kagum ketika Duke memamerkan tebasan belati pada setiap monster. Gerakan menggerakkan belati tidak sembarang mengayun, melainkan menggenggam erat dan mengunci target titik lemah masing-masing monster. Satu per satu monster pun tumbang.
Bukan hanya itu, Duke juga mengucapkan beberapa mantra sihir sambil mengangkat tangan menghadap target. Mulai dari serangan elemen api, air, dan petir. Kebanyakan sihir merupakan empasan area begitu luas hingga mencapai monster dalam jumlah banyak.
Sans hanya melongo menyaksikan Duke telah membasmi para monster lebih banyak saat perjalanan. Mendapati bertarung pada malam hari menjadi hal pertama kali baginya, ia langsung tidak terfokus dan ayunan belatinya tidak beraturan. Meleset, dapat dibilang begitu. Ketidakberuntungannya terjadi saat seekor slime menempel pada bahu kiri Sans. Duke perlahan membasminya menggunakan tusukan belati menembus tubuh slime agar terbasmi.
Merasa letih, ingin segera berbaring di kasur di sebuah penginapan alih-alih menuju lokasi pertama field trip solo. Sungguh, ia harus beradaptasi pada malam hari.
Bagi Sans, mengeluh bukanlah solusi tepat. Ia hanya memendam segala keluhan di dalam benak. Ia hanya mengikuti arahan dari Duke untuk langkah selanjutnya sebagai seorang alchemist dan mencapai sebuah tujuan utama.
Berjalan selama satu setengah jam, apalagi mendaki dataran, entah mengapa membuat pikirannya lebih terbuka. Adrenalinnya terpacu dan terlepas menghasilkan sebuah euforia, menghilangkan rasa lelah dalam pikiran. Meski begitu, ketika mencapai lokasi tujuan, kakinya mulai gemetar, otot pada paha dan betis mulai bagai tertusuk hingga menembus tulang.
Sebuah bentuk gunungan dengan jalan masuk terbuat dari kayu tanpa tutup telah berada di depan mata. Di bagian pinggir gunungan itu terdapat kristal yang bersinar berwarna ungu. Rumput yang mengelilinginya juga bersinar ikut memancarkan warna yang sama.
“Ini dia, tambang kristal Munich,” tutur Duke.
“Hebat.” Sans sungguh kagum akan keindahan pancaran cahaya rumput dan kristal.
Duke akhirnya kembali melangkah, tidak ingin menunda-nunda lagi menyaksikan pancaran cahaya. Pintu masuk ia lewati tanpa ragu.
Terdistraksi dengan keindahan bagian luar tambang kristal Munich, Sans beralih pandangan menyaksikan sosok Duke lama kelamaan memudar seakan tertelan warna hitam pada lubang persegi panjang pintu masuk. Maka, ia mempercepat langkah mengikutinya.
Jalan menurun seakan seperti “ucapan selamat datang” bagi mereka berdua. Sans hampir saja terpeleset ketika mengerem mengurangi kecepatan jalan. Ia merentangkan tangan demi menyeimbangkan diri selagi berjalan.
Ketika Sans berupaya menghentikan langkah sejenak, kedua kakinya mulai kehilangan keseimbangan, memaksanya untuk terus melangkah. Ia sampai menghela napas berkali-kali menahan rasa lelah.
Dinding batu gelap seakan sobek menonjolkan warna ungu kebiruan, memancarkan warna di balik kegelapan di dalam tambang. Cukup membantu situasi dalam penerangan menunjukkan jalan.
Kurang lebih dua menit melangkah dari pintu masuk tambang, jalan mulai landai. Belokan kiri tidak simetris telah berada di depan mata, maka Duke tanpa ragu meneruskan jalannya.
Jalan pun mulai melebar. Sans memprediksi luas jalan yang tengah mereka lewati setara dengan ukuran lounge room. Apapun bisa terjadi, itu pikirnya.
Benar saja, dari pandangan minim penerangan, seekor monster muncul, seakan keluar dari sebuah kegelapan. Sebuah raksasa bertubuh batu bercampur tanah, lengkap bertubuh humanoid. Ukurannya bahkan mencapai 2 meter.
“Muncul juga. Golem,” sapa Duke.
“Go-golem? Ra-raksasa ti-tinggi sekali.”
“Tinggi jalan ini, yang kita sedang lewati kurang lebih dari tiga meter. Tidak perlu khawatir akan kepala golem sampai menubruk langit-langit dan memicu hujan batu.”
Sang golem mengangkat tangan kanan dan mengambil ancang-ancang memanfaatkan momentum. Ia mengempaskan tenaga menghadapkan kelingking ke bawah dan meluncurkan tebasan tangan seperti pisau, mengarah keduanya.
Duke dengan cepat melompat ke samping kanan dan berguling menyeimbangkan tubuh. Ketika lantai batu tersentuh dengan kulit, terdapat beberapa lubang berukuran tangan golem akibat tebasan.
Sans terlambat bereaksi begitu mulai menekuk lutut dan menolakkan badan menuju arah yang ia inginkan. Pendaratan tebasan golem pada lantai memicu daya entakkan hingga mengempas tubuhnya.
“AAAH!” Ia mendarat di lantai dengan lengan kiri terlebih dahulu, terjatuh akibat serangan golem
Belum sempat mengumpulkan tenaga untuk menempatkan telapak tangan di lantai batu berlubang, ia mendapati golem itu menoleh. Ia tercengang ketika dirinya menjadi sebuah sasaran empuk.
Golem itu mulai mengepal tangan kanannya dan mengangkatkan tinggi. Sekali lagi mengambil ancang-ancang mengumpulkan tenaga dan mendorongnya menjadi sebuah peluncuran pukulan.
“Exare eht ark!”
Sebuah cahaya berwarna merah kehitaman secara horizontal mendarat pada belakang tubuh golem, tepatnya di leher bagian belakang. Tak lama, tubuh golem pun terhenti dan mulai terpecah menjadi kumpulan bongkahan batu.
Sans tercengang menatap kepalan tangan golem hampir mencapai wajahnya, baru saja mengedipkan mata. Bongkahan-bongkahan batu itu satu per satu mendarat di lantai batu tampang, mengungkapkan pandangan bahwa Duke telah menebaskan tangan ke udara. Dari sebuah jeritan, ia tahu bahwa profesor ber-job alchemist itu telah mengucapkan sebuah mantra.
“Tadi itu mantra atau skill Eraser.”
“Eraser?”
Duke merendahkan tubuhnya menghadapi bongkahan batu golem dan mengambil salah satunya.
“Ini.”
Sans sampai melotot dan membuka mulut ketika menatap sesuatu yang tertulis pada bongkahan batu berbentuk heksagonal tidak simetris itu. Sebuah simbol, terlihat seperti sebuah huruf, telah terukir dan membekas.
“Sebuah rune. Titik lemah golem,” jelas Duke, “eraser yang saya gunakan menghilangkan huruf rune agar dia terkalahkan hingga tubuhnya hancur.”
Begitu kembali meluruskan kaki, Duke melepas genggaman batu itu menubruk lantai hingga terpecah belah menjadi kepingan. Sans masih terdiam bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan.” Sams seperti Yudai, Sans melongo ketika mendengar Duke dapat menebak isi benaknya saat itu. “Rune dapat diserang oleh senjata fisik seperti tebasan pedang, atau serangan sihir. Mantra Eraser dapat mematikan golem dalam satu serangan.”
“A-apa … Eraser sebuah skill khusus alchemist?”
Duke kembali melangkah. “Benar. Untuk menguasainya, lebih lama daripada sihir yang biasa digunakan oleh mage dan priest.”
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, meninggalkan bongkahan batu yang telah tergeletak di lantai batu.