
Perempuan berambut cokelat bercampur pirang dan hitam panjang, itu yang dilihat oleh Neu ketika menoleh. Alis tebal lurus membuatnya mengingat identitas gadis itu.
“Sa-Sandee?”
“Kamu menunggu siapa?” Sandee dengan polos bertanya.
Tentu saja Neu tidak ingin sesuatu yang dia dengar selagi bersembunyi, sebuah rahasia akademi di antara kalangan profesor dan staf. Dia menarik napas sambil menundukkan kepala sejenak.
“Aku hanya ingin menyendiri sebentar,” Neu berbohong.
“Ka-kamu bertengkar lagi dengan Tay? Teman sekamarmu?”
“Ti-tidak.”
“Kurasa kamu berbohong.”
“Memang kenapa aku harus berbohong?”
Sandee mengingatkan, “Kamu bertengkar dengan Tay di depan kamarku bukan pertama kalinya yang kulihat. Aku pernah melihat kalian sampai berkelahi saat perang makanan, benar-benar berkelahi. Jujur saja, aku tidak menyangka kamu akan sering bersama Tay akhir-akhir ini, selain sebagai teman sekamar.”
“Itu ide Beatrice dan Yudai sebenarnya.”
“Tampaknya kamu akan baik-baik saja dengan Tay.”
Neu menghela napas. “Meski begitu, aku tetap saja tidak suka padanya, apapun yang terjadi, mau Beatrice dan Yudai memaksaku untuk bekerja sama dengan Tay, tetap saja dia tidak akan berubah. Sebaiknya aku kembali ke kamarku saja.”
***
Perpustakaan semakin membeludak dengan murid akademi ketika waktu ujian semakin mendekat, begitu juga dengan setiap ruang latihan. Mereka benar-benar serius mempersiapkan diri untuk ujian ketika waktu sudah tidak banyak lagi.
Dimulai dari persiapan untuk ujian tertulis, tumpukan buku pada setiap meja pengunjung menjadi hal menonjol, entah mereka jadi membacanya atau tidak. Diskusi juga menjadi aktivitas bagi kalangan murid selain membaca, saling berbagi ilmu pengetahuan.
Tay dan Yudai pun terpaksa harus memindai begitu banyak teks dari tumpukan buku berkat paksaan keras Neu. Langsung saja mereka bosan hingga menutup buku dan ingin berlatih, Neu akan membentak pelan tapi tegas.
Sans dan Beatrice juga tetap terjaga pada deretan teks pada buku yang mereka baca. Bagi Beatrice, ujian tertulis sama pentingnya dengan ujian duel, mengandalkan kepintaran dalam menjawab setiap pertanyaan mendasar sebagai seorang petualang. Bagi Sans, ujian tertulis dapat menjadi modal penting untuk lulus ujian akhir semester agar tidak mendapat nilai lebih buruk sebagai murid bermantel putih.
Selesai membaca materi ujjian dari berbagai sumber di perpustakaan, mereka beralih menuju halaman kastel akademi. Sore hari menjadi ramai dengan setiap murid yang sedang berlatih, baik dalam perorangan atau kelompok.
Ayunan belati Sans sudah mulai semakin halus secara vertikal dan horizontal, bukan sekadar melampiaskan tenaga, melainkan menggunakan situasi dan strategi untuk berperan seakan sedang menghadapi pertarungan sungguhan. Hal ini berkat ajaran Tay yang cukup keras.
Nyanyian Beatrice juga semakin menambah kekuatan sihir Neu, kekuatan yang cukup membanggakan tanpa harus terlalu menghancurkan sekitar halaman akademi sudah membuat mereka berpikir cukup untuk menghadapi ujian duel.
Yudai juga semakin memfokuskan pandangan dalam menembak, akurasi adalah segalanya bagi seorang archer dalam menyerang menggunakan busur dan panah. Target wajib terkena tembakan agar fungsi archer dapat bekerja sangat efektif.
Sierra kembali berlatih mantra-mantra untuk menyembuhkan dan menambah performa setiap temannya. Jika kelima temannya sedang berlatih keras, Sierra mengandalkan tanaman yang telah menjadi korban serangan menjadi objek untuk menyembuhkan.
Semuanya benar-benar bekerja keras sampai waktu persiapan ujian telah berakhir, terutama ketika langit berubah dari jingga menjadi hitam pada sehari sebelum acara utama dimulai. Kerja keras mulai dari banyak membaca buku, berdiskusi, hingga berlatih untuk pertarungan sudah menjadi bagian awal dari menghadapi ujian.
***
Dua helai kertas dalam posisi terbalik telah berada di masing-masing meja muridPena bulu dan botol tinta juga menemani di atas meja siap untuk digunakan untuk menuliskan jawaban.
Murid-murid dibagi berdasarkan pembagian kelas umum pada awal semester, berarti Sans berada di satu ruangan ujian bersama kelima teman dekatnya. Akan tetapi, tidak seperti saat kelas umum seperti sejarah, tempat duduk mereka dalam urutan acak, maka mereka harus terpisah. Pembagian tempat duduk acak juga demi mencegah kecurangan dari sesama teman dekat.
Hunt yang bertugas sebagai pengawas telah berdiri di hadapan barisan bangku murid. “Baiklah. Kalian boleh membuka lembar soalnya! Ujian tertulis dimulai!”
Seluruh murid memutarbalikkan lembar soal, mengungkapkan ada setidaknya duapuluh soal berbentuk esai, meliputi soal sejarah kerajaan Anagarde dan akademi Lorelei, job system, dan pengetahuan setiap job. Mereka mulai mencelupkan ujung helai pena bulu pada botol tinta sebelum mulai menuliskan jawaban soal pertama.
Neu langsung menuliskan jawaban tanpa ragu lagi, seakan mengalirkan pikiran melalui tulisan pena bulu pada kertas. Tanpa menoleh sama sekali, atau memperhatikan beberapa murid seperti Tay kesulitan dalam berpikir.
Tay sama sekali tidak bisa menoleh untuk mengintip jawaban murid lain berkat sihir anti-curang. Begitu dia kembali mengarahkan pandangan pada lembar soal, dia berpikir keras kesulitan untuk membayangkan jawaban bahkan dari soal pertama, yaitu job system tentang stereotipe priest.
Sierra dengan tenang menuliskan jawaban dari soal pertama, meski dapat terdengar bisikan dan gumaman dari beberapa murid di dekatnya menunjukkan panik tidak tahu jawaban dari kebanyakan soal.
Sans dan Yudai menjawab sebisa mungkin sesuai dengan ingatan masing-masing. Yudai menggunakan kreativitas dalam menjawab seakan sedang mengarang sebuah cerita tanpa mengurangi inti jawaban yang dia maksud. Sans tersendat-sendat ketika menuliskan sebuah jawaban, seperti tali terputus lalu tersambung kembali.
Satu jam telah berselang, Hunt mengetuk mejanya sebanyak tiga kali. “Ujian tertulis sudah selesai. Harap letakkan pena di meja. Kumpulkan lembar jawaban masing-masing, lalu kembali ke tempat duduk kalian untuk menunggu hasilnya.”
“Ah!” gumam Tay tertegun mendengar pengumuman tersebut.
Begitu seluruh lembar jawaban telah terkumpul pada pengawas, langsung diperiksa dan diberi nilai, tidak peduli berapa lama. Semuanya terdiam menyaksikan Hunt duduk mengecek jawaban masing-masing, mencontreng dan memberi nilai menggunakan pena bulu bertinta.
Sans, Beatrice, dan Yudai juga ikut tegang sampai menelan ludah. Raut muka Hunt sama sekali datar ketika memeriksa setiap lembar jawaban, tidak dapat diprediksi apakah setiap jawaban benar atau salah.
Memeriksa dan membaca setiap lembar jawaban dapat memakan waktu cukup lama, kurang lebih tiga sampai lima menit untuk selesai menilai. Mengingat jumlah murid di setiap ruangan ujian sebanyak 18 hingga 25, tidak heran lebih dari satu jam berakhirnya ujian tertulis sudah berlalu.
Salah satu murid mengangkat tangan dan membentak, “Lama! Kenapa tidak sekalian saja nanti menunggu hasilnya?”
Hunt menepuk meja menggunakan tumpukan lembar jawaban. “Kamu berani membentak saya?”
Murid tersebut menggeleng, tercengang atas reaksi Hunt. “A-anu, sebenarnya, saya tidak … saya hanya ingin hasilnya—”
Tanpa ragu lagi, Hunt membentak lagi sambil bangkit, “Silakan keluar dari kelas ini, kamu tidak lulus ujian tertulis!”
“A-apa?”
“Keluar dari sini! Berdiri dari bangkumu dan lewati pintu itu!”
Seluruh murid tertegun atas reaksi Hunt terhadap sang murid yang mengeluh itu. Langsung tidak diluluskan, tidak peduli berapa jawaban benar yang berhasil dia jawab.
“Ada lagi? Ada lagi yang mau mengeluh?” bentak Hunt. “Bagi yang keberatan untuk menunggu, silakan keluar, saya juga sekalian tidak meluluskan kalian.”
Hunt kembali duduk menghela napas. Dia kembali memeriksa lembar jawaban murid dengan teliti.
Lima belas menit berlalu, Hunt bangkit dan mengumumkan, “Terima kasih telah sabar menunggu, tidak peduli berapa lama. Di tangan saya sudah terdapat hasil ujian tertulis kalian. Nilainya sudah saya tulis. Saya akan panggil nama kalian sesuai dengan urutan nilai tertinggi hingga terendah.
“Nama pertama yang akan saya panggil merupakan murid dengan nilai tertinggi, yaitu 100.”
Memang sudah bisa diprediksi di antara kalangan murid, siapa yang mendapat nilai sempurna, berdasarkan aktivitas di kelas dan di mana pun untuk mencari referensi dan menjawab pertanyaan dari profesor.
“Neu,” Hunt mengungkapkan murid dengan nilai tertinggi di kelas.
Neu bangkit dari bangkunya seiring hampir semua murid bertepuk tangan mengucapkan selamat. Tay hanya bertepuk pelan menyaksikan musuh bebuyutannya menemui Hunt untuk mengambil hasil ujian tersebut.
“Selamat, Neu. Kamu berhasil mendapat nilai sempurna dalam ujian tertulis akhir semester ini.”
Neu menerima hasil lembar jawabannya. “Terima kasih banyak.”
“Silakan kembali ke bangkumu. Jangan dulu ke luar ruangan.”
Menunggu nama mereka dipanggil sekaligus nilai ujian diumumkan sudah membuat setiap murid, terutama yang merasa tidak mengerjakan dengan sebaik mungkin, sudah membuat tegang. Menelan ludah berkali-kali misalnya, atau menepuk meja perlahan dan menubrukkan kaki pada lantai.
“Sierra. 94,” panggil Hunt sambil mengungkapkan nilainya.
Sans dan Yudai melongo ketika Sierra telah mendapat nilai yang benar-benar bagus, 94. Tidak dapat disangka, dari murid yang memakai gaun alih-alih seragam, kepintarannya pun tidak kalah dengan Neu.
Beatrice sampai mendekatkan jari jemarinya pada mulut seiring Hunt masih memanggil setiap murid, memasuki teritori nilai di antara 80 hingga 90.
“Beatrice, 82.”
“Eh?” Beatrice melongo bereaksi. “A-aku? Dapat 82?”
“Ya, Beatrice. Kamu dapat 82.”
Beatrice perlahan bangkit dari bangku, tidak dapat menyangka dia akan mendapat nilai lumayan sama sekali. Dia menghampiri Hunt untuk mendapatkan hasilnya.
“Beatrice, pastikan saat ujian duel, kamu sudah mendapat pasanganmu. Kamu ini adalah song mage tipe defender dan support.”
“Sa-saya sudah mendapatkan pasangan untuk ujian duel nanti, Profesor. Terima kasih banyak.” Beatrice menundukkan kepala seraya hormat pada Hunt.
Sans justru terpikir ujian tertulis merupakan modal awal dari ujian akhir semester. Dia dalam kondisi tidak aman jika nilai ujian tertulis tidak mencapai standar Akademi Lorelei, itu yang dia khawatirkan.
Urutan nilai terus menurun seiring Hunt memanggil murid untuk mengambil hasilnya. Mencapai teritori nilai 70, yaitu standar minimal kelulusan, Sans hanya bisa berharap usahanya cukup.
“Sans, 75.”
Panggilan Hunt sontak mengeluarkan Sans dari lamunannya sendiri, sama sekali tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka, 75 adalah nilai ujian tertulisnya.
Dia perlahan berdiri dari bangku dan menemui Hunt di mejanya untuk mengambil lembaran hasil ujian.
“Sans, sebagai murid bermantel putih, yang tidak lulus aptitude test, kamu mematahkan ekspektasi saya. Saya senang kamu bisa bangkit dan berusaha sekeras mungkin dalam ujian tertulis. Kamu masih harus berjuang dalam ujian duel nanti.”
Sans menganggapi, “Ba-baik, Profesor.”
Begitu Sans berbalik menuju bangkunya, Hunt kembali mengunumkan dan memanggil, “Yudai, 73.”
Yudai bangkit dari bangku dan menerima hasil ujiannya dari Hunt. Dia pun berbalik kembali ke bangkunya.
“Semuanya, nama selanjutnya adalah murid terakhir yang mencapai standar kelulusan ujian.”
Hanya tersisa 12 murid di kelas yang sama sekali belum terpanggil untuk mengetahui nilainya, Tay merupakan salah satu dari mereka. Mengetahui bahwa sisanya tidak mencapai standar kelulusan, mereka hanya bisa berharap-harap cemas.
“Nilai dari murid yang akan saya panggil selanjutnya adalah 70,” ungkap Hunt.
Yudai menatap Tay yang berada di salah satu bangku barisan terbelakang, sedang menghela napas.
“Tay.”
Kebanyakan dari murid melongo tidak menyangka, termasuk empat mantan teman dekatnya, menyaksikan Tay bangkit dari bangku dan mendekati Hunt untuk mendapat hasil ujiannya, bernilai 70.
Keempat mantan teman Tay sama sekali belum dipanggil, berarti mereka tidak lulus ujian tertulis. Sama sekali tidak percaya semenjak mereka berpikir Tay akan menjadi lebih buruk setelah aptitude test, terutama begitu mereka meninggalkannya seorang diri begitu saja.
Hunt berpesan pada Tay, “Tay, saya melihat kamu lebih fokus dalam berlatih berpedang, kepintaran dalam mengingat sejarah dan berbagai hal tentang job system juga penting. Lain kali, tolong anggap hal ini secara serius. Kamu beruntung mendapat nilai 70, pas standar kelulusan. Saya harap kamu lebih mampu dalam ujian duel nanti.”
Tay hanya mengangguk sebelum kembali menuju bangkunya.
Selesai memanggil sisa 11 murid yang mendapat nilai di bawah standar, Hunt kembali mengumumkan, “Kalian telah mendapat nilai masing-masing yang akan menjadi modal kelulusan ujian akhir semester. Bagi yang mendapat nilai di bawah standar, saya harap kalian serius dalam ujian duel nanti.
“Seperti yang kalian ketahui, lawan ujian duel kalian adalah instruktur kalian sendiri, setiap profesor akan berhadapan langsung dengan kalian untuk menguji kemampuan kalian masing-masing. Ujian tersebut akan diadakan besok.
“Saya harap kalian sudah berlatih keras untuk ujian duel besok. Semoga berhasil.”
Seluruh murid akhirnya bangkit dari bangku dari keluar dari kelas, menyatakan kelegaan. Bagi yang mendapat nilai di bawah standar, mereka mengeluh dan mengutarakan kekecewaannya.
Tay justru juga menjadi bahan pembicaraan, masih saja tidak ingin menerima kenyataan bahwa dia lulus ujian tertulis. Kebanyakan dari mereka menganggapnya hanya beruntung, semenjak dia sering bercengkerama dengan Sans, Beatrice, Yudai, Neu, dan Sierra.
Sans juga menjadi bahan omongan karena sebagai murid bermantel putih tidak mungkin bisa lulus ujian tertulis dan ujian duel. Banyak dari murid lain yang meremehkan murid bermantel putih seperti Sans karena biasanya tidak lulus ujian akhir semester.
Sans dan Tay menghiraukan omongan tersebut dan mulai berkumpul kembali dengan keempat teman dekat mereka. Tay hanya bergerutu, menyindir keempat mantan temannya yang berbicara jelek. Sans memasang determinasi bahwa dia harus lulus ujian duel, tidak peduli siapa lawannya, dia harus menang.
Bahkan Neu juga tidak menyangka Tay akan lulus, meski mendapat nilai pas-pasan. Setidaknya, dia menyamarkan senyuman di balik bibirnya, kerja keras untuk mengajari Tay hingga membuatnya serius menghadapi ujian tertulis sudah terbayar.
Tinggal menantikan ujian duel. Belum banyak yang tahu standar dan sistem dalam ujian tersebut. Semuanya masih bisa berspekulasi.