
“Dolce belum jadi lawan ya?” Yudai menyaksikan profesor berambut ungu gondrong sebagai instruktur archer, menggantikan Baron. “Aku juga tidak kenal profesor itu.”
“Dia Profesor Remi,” tanggap Zerowolf, “Biasanya dia mengampu kelas archer khusus tahun ketiga. Dia bisa dibilang merupakan salah satu profesor terbaik di akademi. Profesor Baron sudah hebat, Profesor Remi apalagi.”
“Apalagi Dolce,” lanjut Yudai, “aku ingin bertarung melawannya lagi.”
“Sebenarnya sama denganku. Aku juga ingin melawan Dolce di ujian duel ini. Harusnya Profesor Baron tidak memilihku saat putaran pertama. Memang kita beruntung sudah diajari Dolce sebagai salah satu, maksudku, alumni terbaik sepanjang masa.” Zerowolf berucap saat satu per satu profesor di hadapan barisan murid masing-masing memanggil sebuah nama.
“Sayang sekali.”
Neu mengingatkan, “Tapi kalau kalian kalah, kalian tidak lulus lho. Ini ujian duel, ingat?”
Zerowolf membantah, “Setidaknya aku bisa bertahan selama sepuluh menit melawan Dolce, dibandingkan dengan Yudai, saat mock battle, dia kalah.”
“Itu karena kamu belum pernah melawannya.” Yudai mulai cekikikan.
“Yudai.” Itu sebuah nama yang terlontar dari mulut Remi.
Sempat terhenti sejenak mengumpulkan reaksi, Yudai langsung mengeluh, “Aaaah! Kenapa aku tidak melawan Dolce saja? Padahal aku ingin melawannya di ujian duel!”
Neu menepuk pundak Yudai. “Setidaknya bersyukurlah, lawanmu lebih aman daripada Dolce. Bisa-bisa kamu habis melawan Dolce seperti saat di mock battle.”
Zerowolf menambah, “Dia sebenarnya tidak kalah hebat dibandingkan Dolce.”
“Baiklah!” Yudai mulai bersemangat. “Aku akan menang melawan Profesor Remi!”
“Yudai,” panggil Sans ketika Yudai mulai melangkah.
“Eh?” Yudai berbalik menatap Sans.
“Berjuanglah. Menanglah seperti teman-teman kita.”
Yudai mengacungkan jempol. “Baik, Sans! Setelah ini, kamu juga berjuang melawan Dolce!”
“Ba-baik!”
Yudai mengikuti langkah Remi menuju ring sudut kiri barisan belakang, yaitu tempat pertarungan mereka.
“Saya sudah mendengar kamu pernah menantang Dolce dalam mock battle. Apa saya benar?” Remi ingin memastikan.
“Benar.” Yudai mengangguk.
“Dolce ingin saya bertarung melawanmu sebagai ujian kali ini. Saya takkan menahan diri dalam pertarungan, kali ini, bukan mock battle, tapi duel sungguhan.”
Dolce pun menghampiri barisan murid lain yang tengah bersiap untuk melangkah. “Semuanya. Buat yang belum dapat giliran, terutama murid archer dan mantel putih, saya akan bertarung dalam putaran selanjutnya.”
“Eh!” seluruh murid mulai tercengang, terutama murid archer.
Tay yang baru saja kembali bergabung ikut berkomentar, “Ini yang ditunggu-tunggu.”
“I-ini … sepertinya sama seperti saat aptitude test bagian akhir,” ucap Sans.
“Harap kalian bersiap, bisa saja salah satu dari kalian akan melawan saya. Saya nantikan itu. Kalian boleh mendekati ring yang kalian ingin tonton sekarang.”
Seluruh murid archer yang tersisa mulai tidak bisa berkata-kata, ketegangan telah mendominasi menghadapi fakta bahwa salah satu dari mereka akan melawan Dolce. Begitu pula dengan murid bermantel putih, terutama Sans, apalagi yang pernah menghadapi alumni terbaik sepanjang masa itu saat aptitude test bagian akhir.
“Ayo. Aku ingin melihat Yudai beraksi!” bujuk Zerowolf melangkah duluan.
“Do-Dolce akan bertarung di putaran selanjutnya,” ulang Sans sambil mengikuti langkah Zerowolf, Neu, dan Tay menuju ring di sudut kiri barisan belakang.
Yudai mulai menempatkan kaki kiri ke depan ketika berdiri di sisi kiri ring, menyiapkan busur dan mengambil salah satu panah dari quiver, mengikuti Remi di hadapannya.
“Yudai, berjuanglah!” seru Neu. “Kalau kamu berani menantang Dolce, kamu pasti bisa mengalahkan Profesor Remi!”
Dia berpikir pertarungan melawan Remi tidaklah sama seperti saat mock battle melawan Dolce. Meski pembedanya hanya panah yang digunakan berupa panah asli berujung besi lancip, dia menduga lawannya tidak kalah kuat dibandingkan Dolce dan akan mengerahkan segala kemampuan.
Dia menoleh pada Sans, Neu, Tay, dan Zerowolf yang ingin menyaksikan pertarungan tersebut. Sans dan Neu berjuang sekuat mungkin untuk menyemangati, sementara Tay dan Zerowolf hanya diam tidak sabar ingin menyaksikan.
Yudai akhirnya mendapatkan semangat begitu terpicu oleh Zerowolf secara tidak langsung. Dia menoleh kembali pada Remi, berjanji pada diri sendiri agar mengerahkan segala kemampuannya dalam ujian.
Hunt mulai menyahut, “pertarungan putaran keenam—”
Yudai mendekatkan ekor panah pada tali busur, mengunci lengan kanan Remi terlebih dahulu sebagai target.
Remi juga ikut menggenggam ekor panah dan tali busur, bersiap untuk menembak.
“—dimulai!”
Tepat setelah terucapnya aba-aba, Remi melepas tarikan tali busur dan ekor panahnya. Tembakannya meluncur cukup cepat hingga membuat Yudai goyah dalam melepas tembakannya saking kagetnya.
Tembakan Yudai melambung menuju pusat lantai ring, sudah jelas tidak mencapai targetnya. Dia secara refleks menyingkir dari tembakan tak terduga Remi di hadapannya.
Belum selesai Yudai menyeimbangkan diri ketika berhenti, apalagi mengambil panah dari quiver-nya, Remi kembali mengincarnya dengan tembakan.
Sekali lagi, refleks memandunya untuk kembali menyingkir, mengambil arah kanan untuk mundur.
Remi tetap berdiri di posisi yang sama, busurnya dia arahkan mengikuti Yudai. Cukup cepat mengambil panah. Dia kembali menembakkan panahnya.
Tembakan tersebut meluncur ketika meninggalkan genggaman Remi dan tali busur. Yudai pun belum sempat selesai mengambil satu panah dari quiver-nya. Pandangannya kembali terfokus pada tembakan cepat yang kembali mengarah pada dirinya.
Karena refleksnya kali ini terlambat, ketika bergeser ke kanan, panah tembakan Remi merobek bagian bahu atas mantel Yudai. Robekan tersebut bukan hanya terdapat pada bahu, tetapi juga meyayat bagian kulit.
“Ah!” gerutu Yudai mendapat nyeri pada bahunya, tetapi hal itu tidak membuatnya goyah.
Remi tetap berdiri di posisi yang sama sambil kembali mengambil panah dan menembak, tidak membiarkan kesempatan Yudai untuk membalas. Kecepatan tangan kanan dalam mencapai quiver dan kembali pada genggaman tali busur memang kencang dan stabil, seperti mesin penembak.
Yudai menggeretakkan gigi mendapati cara Remi mengambil panah. Frustrasi, menghadapi seorang archer lebih gesit dari dirinya sudah membuatnya terdesak. Ingin sekali menembak, menembak dan menyerang, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menghindar dan bertahan.
Meski dia mengetahui jika berhasil bertahan selama sepuluh menit duel tanpa menyatakan menyerah atau terluka hingga tidak bisa lagi melanjutkan, tetap saja, tidak ada untungnya jika sama sekali tidak melakukan serangan.
“Yudai!!” jerit Zerowolf. “Apa yang dia lakukan? Hanya menghindar begitu saja? Kalau begini terus dia bisa kalah!”
Sans ikut memperhatikan cara Remi mengambil panah dari quiver. Dia menggeleng, berpikir tidak mungkin seorang murid dapat menghadapi archer segesit profesor tersebut.
Sans juga menyimpulkan Dolce juga memiliki kecepatan lebih cepat dalam mengambil panah dan melancarkan tembakan daripada Remi. Tidak heran, saat dia pertama kali bertarung dengan alumni terbaik sepanjang masa itu, banyak murid tahun pertama yang ketakutan akibat rumor.
“Pantas saja dia kalah melawan Dolce, ini apalagi, dia tidak akan sanggup melawan Profesor Remi dan lolos ujian duel ini,” sindir Tay.
Neu protes, “Dasar, saat seperti ini kamu malah bicara yang tidak-tidak.”
“Perhatikan baik-baik kecepatan Profesor Remi dalam mengambil panah dan melancarkan tembakan. Kamu akan mengerti.”
Yudai terengah-engah dalam menghindari setiap tembakan Remi tanpa melancarkan balasan sama sekali. Dia hanya bisa berlari, berlari, dan berlari dalam pertarungan tersebut.
Empat menit telah berlalu, tembakan Remi sama sekali tidak berhenti dan mengenal lelah. Yudai berpikir akan percuma untuk terus menghindar, kecepatan larinya semakin melambat, tenaganya juga semakin menurun.
AKU HARUS MENEMBAK! MENEMBAK!
Belum sempat keluar dari niatnya, Yudai tercengang, matanya melotot. Sebuah respon nyeri memicu dirinya. Dia menoleh pada sumber nyeri cukup dahsyat tersebut.
Sebuah panah tembakan berhasil menusuk bahu kirinya, mengucurkan darah lebih banyak daripada sebelumnya, meski tidak secara signifikan. Dia sama sekali tidak menyangka tembakan Remi mengincar bahu kiri selagi menghindar.
“Yu-Yudai!” jerit Sans.