Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 138



Tangan kirinya mengcengkeram puncak titian heksagonal yang seharusnya ia injak. Kedua kakinya bergelantungan di udara menunggu untuk mendarat menuju sebuah kedalaman gelap.


Yudai terengah-engah menguatkan cengkeraman pada sisi titian selagi tangan kanannya ia angkat cukup lantang. Sangat panik, jari-jemari tangan kanannya bahkan tergelincir saat mencapai tititan tersebut.


Titian tersebut kembali naik ke atas cukup cepat hingga Yudai hampir kelepasan momentum dalam cengkeraman tangan kirinya. Tangan kanannya juga masih kesulitan meraih puncak titian tersebut. Butuh tiga kali kala tangan kanannya menggapai sisi titian seraya mencengkeramnya erat.


Ia mendorong tubuhnya ke atas, kedua kakinya perlahan menekan dinding luar bentuk heksagonal tersebut. Ia berhasil memanjat menuju puncak titian itu dan berdiri tegak di atasnya.


Ia kembali melompat menuju beberapa titian di hadapannya sampai akhirnya diinya berada di lantai di ujung depannya. Eldia mengangguk dan menyeringai saat menyambutnya.


“Sekarang kamu sudah tahu betapa bahayanya kuil ini.”


“Memang, berbahaya sekali. Tapi di bawahnya apa?”


“Serius, kamu tidak akan ingin tahu.” Eldia kembali melangkah, kali ini sebuah jalan berbentuk seperti lubang pintu di hadapannya menjadi sebuah tujuan, tidak sabar ingin menunjukkan Yudai tantangan berikutnya. “Ayo.”


Yudai sigap mengikuti langkahnya. Secepat mungkin tidak ingin tertinggal jauh semenjak Eldia merupakan satu-satunya yang memegang obor.


Melewati pintu tersebut, satu lagi tantangan telah menanti di hadapan mereka. Enam buah kapak raksasa bergelantungan ke langit dan bergerak secara horizontal. Kira-kira setiap celah antara dua kapak sepanjang 30 centimeter, cukup menegangkan bagi seseorang yang ingin melewatinya.


“Tantangan bagian ketiga,” Yudai berkomentar.


Eldia menyerahkan obornya pada Yudai, “Kamu coba duluan. Begitu kamu tiba di sana, aku akan menyusul.”


“Tu-tunggu, tunggu, tunggu, lalu bagaimana kamu akan melihat gerakan kapaknya.”


“Aku bisa mendengar gerakannya.”


“Uh.” Yudai menelan ludah.


Ia bahkan hampir terjatuh saat menyebrangi banyak titian heksagonal bergerak secara vertikal dengan melompat. Kali ini, ia menghadapi tantangan berbahaya lagi, lebih berbahaya daripada sebelumnya.


Ia hanya harus melewati dan menghindari gerakan kapak setiap kali melangkah. Ia sudah tahu ia akan tamat ketika kapak itu mengenai tubuhnya secara utuh. Memang, hal ini setara dengan misi kelas A baginya. Apalagi, kapak-kapak itu bergerak cukup cepat, menyeberangi setiap sisi hanya dalam kurang lebih tiga detik. Bahkan tinggi kapak tersebut jika terhitung dari langit-langit hampir mencapai lantai.


Ia menutup mata dan membuang napas perlahan, melepaskan beban keraguan dan kecemasan. Energi dari batinnya seakan keluar saat menempatkan kaki kirinya ke belakang dan mengambil obor dari Eldia.


Ia mundur sejenak untuk mengambil ancang-ancang demi melesat dan menembus kapak pertama. Ia akhirnya mulai berlari cukup cepat hingga ia mampu menembus ayunan kapak pertama, tepat setelah kapak tersebut berlalu menuju kirinya sebelum kembali ke kanan.


Ia mengerem ketika menghadapi kapak kedua di hadapannya. Tidak ada celah lebih luas di belakangnya untuk sekadar mundur dan mengambil ancang-ancang seperti sebelumnya. Ia harus mengambil momentum untuk kembali berlari dan mengerem tepat pada waktunya di hadapan kapak selanjutnya.


Ia kembali berlari tepat setelah mengambil posisi kuda-kuda memanfaatkan momentum tepat. Kapak kedua berhasil ia tembus, akan tetapi ia mengerem ketika kapak ketiga mengayun cepat menghalangi, bahkan tubuhnya seakan tepat mengerem di hadapannya.


Yudai menggeretakkan giginya, tertegun dirinya hampir saja tepat tertebas oleh kapak tersebut. Benar-benar berbahaya, sangat berbahaya. Namun, ia tetap harus menembus empat kapak di hadapannya untuk menaklukkan tantangan ketiga selama di kuil Soka.


Ia pun kembali berlari cukup cepat menembus kapak ketiga dan mengerem sebelum melewati kapak keempat. Cukup cepat untuk mengambil jeda, mengumpulkan momentum, memanfaatkan celah tipis, dan kembali berlari. Ketiga kapak terakhir ia tembus hingga akhirnya ia tiba di ujung jalan.


“Ya!” Yudai sungguh puas menghadapi tantangan berbahaya itu.


Kala ia berbalik, Eldia telah berlari menembus kapak pertama. Ia sampai kaget tidak menyangka gadis itu melompat pada tali kapak kedua.


Yudai sama sekali tidak terpikir untuk melompat dan menggapai tali kapak sama sekali. Ia bahkan tidak akan siap untuk melakukannya seperti Eldia. Ia juga terpikir tali yang mengikat kapak secara terbalik cukup kokoh, sama sekali tidak terputus meski sudah cukup lama semenjak kuil Soka dibangun.


Eldia berhasil melompati setiap tali kapak di hadapannya dan mendarat di hadapan Yudai.


“Wow.”


“Cukup pintar, bukan?” tanggap Eldia.


“Aku harus belajar melompat.”


Eldia tertawa pelan. “Ha ha ha, aku suka dengan sikap spontanmu. Kamu harus benar-benar belajar agar mudah menghadapi tantangan seperti ini.”


“Oke, tantangan selanjutnya apa?”


Eldia mendahului Yudai dan kembali melangkah, memimpinnya untuk melalui sebuah jalan di hadapan mereka. Tanpa perlu menjawab pertanyaan sama sekali, ia sangat antusias untuk menuntun Yudai selama di kuil Soka.


***


“Aku benar-benar tidak percaya ini!”


Sebuah ruangan penuh peti mati, entah bersandar di dinding atau tergeletak di lantai, telah mereka singgah. Selain itu, di hadapan mereka merupakan jalan buntu, tidak ada kecuali dinding batu.


“Oh tidak,” ucap Yudai, “selama ini kita menghadapi tiga tantangan, kita berakhir di jalan buntu?”


“Tidak ada yang namanya sia-sia.” Eldia kembali melangkah, tanpa menoleh pada setiap peti mati yang tersebar sedikit pun, tetap berjalan lurus.


Yudai justru melirik sampai menggigit lidah, sungguh ngeri meratapi setiap peti mati yang berjejer tidak beraturan. Jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya, seakan menambah kerja ekstra untuk menyangkal ketakutan itu.


Begitu Eldia menghentikan langkah menghadapi dinding tersebut, terlihat delapan batu bata berbentuk persegi panjang seakan tidak menyatu dengan sisa dari dinding. Ia mulai menekan satu per satu.


Seakan menekan dalam urutan acak, setidaknya itu yang dipikirkan Yudai; tekanan pada batu yang longgar pada dinding itu memicu sebuah harmoni nada secara berurutan, sungguh mendayu-dayu begitu terdengar menuju telinga.


Selesai menekan batu terakhir, dinding itu bergeser seakan terbelah menjadi dua secara vertikal. Terungkaplah sebuah bongkahan besar berbentuk segitiga dengan dua buah cincin miring seakan melindunginya.


Dari warna merah terang tersebut, terkilaslah sebuah ingatan menuju benak Yudai. Warna merah itu, benar, mengingatkannya terhadap sebuah cincin batu akik yang ia pernah lihat.


“Itu … warnanya mirip dengan batu akik itu. Memory shard.”


“Apa itu?”


“Aku sebenarnya tidak mengerti bagaimana cara kerja langsungnya. Tapi terakhir kali aku melihatnya, memory shard memperlihatkan sebuah kilasan masa lalu.”


Memang cukup sulit untuk menjelaskan bagi Yudai, sangat sulit. Ia merasa Eldia tidak akan mengerti jika ia menjelaskan memory shard seakan menuntun seseorang untuk menyaksikan sebuah kejadian masa lalu secara nyata.


“Jadi begitu ya. Pantas saja saat aku menjalankan salah satu misi kemari, aku disuruh memotong bagian dari batu akik raksasa ini. Masuk akal, ini fungsi batu akik di kuil Soka? Tapi mereka tidak bilang ini buat memory shard, bisa saja ini hanya untuk perhiasan biasa—”


“Apakah … mungkin kedua orangtuaku membuat memory shard? Atau mungkin untuk menjalankan misi?”


“Yudai, hati-ha—”


Kaki kiri Yudai sampai menekan sebuah lantai batu longgar bahkan sebelum Eldia menyelesaikan peringatannya. Saking tertegunnya sampai ia tersadar dari distraksi terhadap bongkahan batu akik itu, kaki kirinya sampai terpeleset hingga terjatuh.


Eldia langsung melirik setiap peti mati di sekitar ruangan tersebut. Benar saja, satu persatu tutup peti mati bergeser dan setiap makhluk di dalamnya mulai bangkit. Tangan dari masing-masing makhluk itu menggenggam sisi peti mati sebelum berdiri.


Tubuh hitam pucat, perban putih tipis menutupi bagian dada hingga paha, kepala bentuk tengkorak bertekstur seperti batu, dan helm kayu. Mahkluk tersebut mendesis sambil melangkah seperti merambat. Beberapa di antaranya bahkan memegang sebuah belati berbentuk bulan sabit.


“I-itu apa?” Yudai langsung gemetar begitu berdiri.


“Mumi.” Eldia mengambil pedang dari selongsong pedangnya. “Kita harus keluar dari sini.”


“Melawan mereka dulu?” Yudai mengambil satu panah dan menempatkannya pada busurnya.


“Ya. Tetaplah di belakangku.”


Eldia mengambil ancang-ancang dan posisi kuda-kuda, mulai mengayunkan pedang dan mengumpulkan momentum tenaga. Begitu beberapa mumi di hadapannya mulai mendekatinya, ia menebas mereka tepat pada leher. Ayunan pedang tersebut meretakkan memotong leher nan tipis hingga terlempar ke lantai, menyisakan bongkahan tengkorak.


Selagi Eldia membasmi para mumi di hadapannya, Yudai ikut melancarkan tembakannya mengarah pada kepala. Sayang sekali, jarum pada panah itu justru tertangkis ketika mengenai kepala, menyebabkan serangannya tidak mempan.


“Sial!” jerit Yudai.


“Ikut aku!”


Serangan Eldia pada gerombolan barisan depan mumi yang berjatuhan itu membuat celah. Ia mengerahkan tenaganya pada ayunan pedang untuk menyerang menuju segala sisi di hadapannya, termasuk mumi berpedang. Para mumi berbelati pun sangat lambat dalam mengayunkan pedang, maka mereka terlebih dahulu tumbang, sampai menjatuhkan belati yang memicu bunyi di lantai.


“UWOOO!!” jerit Yudai kala tangan salah satu mumi meraih lengan kanannya saat mengikuti Eldia. Secara refleks, ia mengayunkan busurnya mencapai dada mumi itu hingga roboh ke lantai.


Cukup cepat dalam mengayunkan pedang meski dalam sergapan mumi, Eldia menggeretakkan gigi saat dirinya mendapati dirinya sudah menumbangkan banyak mumi sebelum meraih jalan keluar.


Lagi-lagi mereka harus merintangi tantangan sebelumnya, kali ini dalam kejaran mumi. Pertama, melintasi jalan bergelantungan enam kapak raksasa. Sungguh sulit untuk melewatinya, apalagi penuh tekanan oleh kejaran mumi.


“Kamu duluan saja!”


“Apa?”


“Kamu keluar dulu. Biar aku yang menghalangi para mumi. Kamu kembali ke kota!”


“Tapi—”


“Cepat!” Para mumi pun semakin mendekat ketika memasuki pintu selagi Eldia memperingatkan Yudai. Perempuan itu kembali mengayunkan pedang setelah menyerahkan obornya.


Yudai membuang napas kasar begitu mengambil obor itu, memalingkan wajah dari Eldia. Ia tahu, Eldia pasti bisa mengalahkan para mumi semenjak berkali-kali mengambil misi di kuil Soka. Pada saat yang sama, ia juga merasa iba perempuan itu akan terbasmi oleh para mumi hidup-hidup.


Ia pun membuang muka dan melompat pada tali kapak pertama tanpa berpikir panjang. Saat menggapai tali itu menggunakan genggaman kedua tangannya, kakinya hampir mengenai bagian atas kapak. Secepat mungkin ia mendarat pada lantai di hadapannya.


Adrenalinnya terpacu ketika ia berkonsentrasi berlari melewati lima kapak bergerak itu. Tanpa membiarkan dirinya tergores, ia meraih ujung untuk kembali menuju tantangan kedua.


Tanpa menatap ke belakang, Yudai pun kembali memacu langkahnya untuk keluar.


***


Menuruni tangga dari puncak piramida kuil Soka memang membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak tersandung. Yudai cukup gemetar di bagian tangan dan kaki saat melangkah perlahan sambil melihat ketinggian, tujuan akhir tangga tersebut cukup membuatnya perutnya bergejolak.


Butuh kurang lebih satu setengah jam untuk menuruni tangga itu. Ia pun merobohkan tubuhnya di tanah, kelelahan, sangat lelah. Seluruh tubuhnya lama-kelamaan seakan mengikat dari dalam, terutama bagian kaki, tangan, dan perut.


Masih merasa tidak enak meninggalkan Eldia sendirian di dalam kuil Soka. Ia sampai bertanya-tanya dalam hati, jika Eldia selamat dari kejaran mumi dan ketiga tantangan itu, ia ingin bertemu sekali lagi. Ia yakin, ia akan bertemu kembali.


Cukup lama ia berbaring sampai ia hampir kehilangan kesadaran. Ia langsung tersadar bahkan sebelum menuju dunia mimpi, teringat dirinya harus segera kembali ke Silvarion tepat sebelum fajar.


Ia perlahan menekan tanah sebagai tumpuan untuk berdiri. Ia mulai melangkah cukup cepat saking ingatnya ia selama ini menyelinap dari kegiatan bootcamp saat tengah malam.


***


Tiba kembali di gerbang masuk Silvarion, sudah terlihat sinar jingga seakan menggeser warna hitam pada langit dari bawah.


“Oh, tidak, tidak, tidak, tidak!” Yudai mulai panik, sedikit gemetaran ketika menatap fajar telah tiba. “Ini gawat!”


Tidak ingin berlama-lama untuk menunggu agar tertangkap basah, Yudai mempercepat jalannya menuju lokasi penginapan kelompok A. Peluangnya untuk kembali tanpa tertangkap


Menatap sekeliling setiap halaman gedung kota, belum ada aktivitas apapun. Rakyat kota mungkin baru saja bangun dari tidur dan bersiap-siap untuk memulai sebuah hari baru.


Selesai melewati jalan menuju lokasi penginapan kelompok A, ia membuang napas menghantarkan sedikit kelegaan. Ia sudah berdiri di hadapan pintu penginapan tersebut, masih tertutup.


Ia menutup mata begitu menggenggam knop pintu. Berdiam diri penuh ketegangan dalam dirinya. Knop pintu ia putar seraya membuka pintu.


Ia perlahan bergeser melewati pintu dan menutupnya pelan. Selanjutnya, ia mengambil langkah satu per satu, sangat pelan tapi pasti agar tidak ketahuan oleh siapapun, terutama profesor dan sang asisten.


“Yudai!”


Sebuah suara sontak menghentikan langkah Yudai, bersumber di kiri belakangnya, sudut yang ia tidak lihat sama sekali. Ia menoleh ke arah tersebut, sampai napasnya terengah dan matanya melotot tajam seakan terlambat bereaksi.


Zerowolf telah duduk di salah astu bangku tersebut, menatapnya baru saja tiba di tavern penginapan. “Ja-jadi kamu ini—”


Ketegangannya sedikit menurun, sedikit lega bahwa bukan seorang profesor atau sang asisten yang menangkap basah dirinya, melainkan Zerowolf. Satu hal lagi adalah ketika rival bebuyutannya itu bereaksi dan menyimpulkan.


“—pagi-pagi begini … berlatih sendirian diam-diam?”


Yudai sampai melongo mendengar kesimpulan dari Zerowolf. Satu-satunya kabar baik hanyalah Zerowolf salah menebak. Rahasianya berupa tujuan sebenarnya menyelinap semalaman benar-benar aman.


Ia benar-benar lelah, ingin segera beristirahat alih-alih mengawali hari dengan melakukan aktivitas bootcamp pada hari itu.