Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 34



“A-ayahku?”


Menatap wajah masam Teruna, Beatrice menghela napas, mengetahui bahwa kabar tersebut bukanlah kabar baik.


“Ma-maafkan aku, sayang, ayahmu—”


Beatrice menggeleng kepala, air matanya mulai meledak. “Tidak! Jangan! Jangan bilang ayahku sudah mati! Jangan bilang! Dia satu-satunya orang di rumah yang mendukungku! Selain dirimu! Tidak!”


“Sayang, ayahmu tidak meninggal. Ayahmu … telah terkena penyakit keras beberapa bulan semenjak dirimu meninggalkan rumah.”


Rasa sakit hati cukup terangkat dari benak Beatrice, tetapi itu tidak cukup untuk membendung air matanya. Dia tidak percaya dengan kabar dari pelayan pribadinya.


“Penyakit ayahmu benar-benar langka, sulit disembuhkan. Kami telah mencari segala cara, segala obat, untuk menyembuhkan penyakit itu. Penyakit itu sama sekali tidak mau hilang.”


“Ti-tidak.” Beatrice hancur, sungguh hancur dalam keseduan kerasnya. Kedua tangan menutupi wajah mulusnya yang telah terkena tetesan air mata cukup banyak pada pipi.


Beatrice berlutut semakin meledakkan kesenduan dalam bentuk tangisan. Semangat berasal dari dukungan sang ayah sedikit demi sedikit hancur seperti pecahan kaca.


“Beatrice, jangan menangis.” Teruna membantu Beatrice kembali berdiri. “Tenanglah. Ingat apa kata ayahmu. Kamu sudah memulai impianmu untuk melihat dunia luar, tentu ayahmu tidak ingin kamu menyerah begitu saja gara-gara ini. Setidaknya, ayahmu akan baik-baik saja.


“Aku tahu kenapa Oya menemuimu waktu di Silvarion. Dia memintamu menemukan obat penyakit itu, kan? Kalau tidak salah air mata phoenix. Apa aku benar?”


Beatrice membalas sambil melepas sun hat dari kepalanya, “Padahal, begitu aku lulus dari Akademi Lorelei, aku ingin membuktikan pada keluargaku, terutama Ayah, kalau aku bukan sekadar perempuan dari keluarga bangsawan yang banyak mengikuti tradisi. Aku ingin membuktikan kalau perkataan Ibu tentang diriku salah.


“Kalau Oya mengancam untuk memaksaku pulang dan keluar dari Akademi Lorelei, setelah mendengar kabar darimu, aku ingin mencari keberadaan Phoenix. Aku ingin mengambil air mata Phoenix demi kesembuhan ayah. Aku tidak ingin menyerah sekarang. Aku sudah susah payah menjadi song mage. Aku akan membuat Ayah bangga.”


Teruna mengikat tubuh Beatrice pada pelukannya seraya menenangkan tangisan. “Beatrice sayang, maafkan aku. Maafkan aku telah membuatmu sedih oleh kabar ini. Lanjutkanlah semampumu, lanjutkan pelatihanmu di akademi ini. Ayahmu akan sangat bangga denganmu.”


***


Dua hari setelah kembali dari tamasya di kota Silvarion, seluruh murid akhirnya kembali diwajibkan untuk menghadiri setiap kelas yang mereka ambil seperti biasa. Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu menghadiri kelas pertama setelah seminggu libur, yaitu kelas sejarah.


Beatrice masih saja termenung ketika dirinya melangkah dari gedung asrama menuju kelas. Tersesat oleh pikiran bahwa sang ayah sedang menderita penyakit langka, percakapan Sans, Yudai, dan Neu seakan menjadi angin lalu.


Yudai bertutur pada Sans dan Neu, “Aku terlalu fokus pada latihan memanah, dan itu hanya aku sendiri yang berada di tempat memanah. Jangan bilang kalau Professor Duke mengingatkan kalau ada tugas, aku sama sekali tidak membaca buku sejarah belakangan ini.”


Neu mengingatkan sambil melewati barisan bangku yang telah diisi oleh sebagian murid sekelas, “Aku tidak ingat kalau Professor Duke memberi kita tugas membaca. Dia hanya mengumumkan adanya acara tamasya ke benua Riswein.”


“Neu, kamu kan ke perpustakaan waktu itu, bisa kupastikan kalau kamu membaca banyak buku seharian penuh, termasuk tentang sejarah.”


Sans menduduki salah satu bangku di barisan terdepan sambil mendengar percakapan antara Yudai dan Neu. Suara seperti balon mengempaskan udara meledak ketika bokong Sans menempati bangku, menghentikan seluruh aktivitas murid sekelas, terutama mengobrol.


Wajah Sans memerah ketika mendapati hampir seluruh murid yang telah mengambil posisi di bangku menyaksikan hal memalukan tersebut. Seorang murid berjubah putih yang memalukan akademi bukan hanya gagal dalam aptitude test, tetapi juga “kentut” di ruangan kelas.


Sans memalingkan wajah sambil kembali bangkit ketika sebagian murid mulai cekikikan terhadap “perilaku memalukan”-nya. Sebuah bantal karet berwarna merah dan berbentuk bundar telah berada di bangkunya, tanpa diketahui sebelumnya.


Yudai tercengang ketika menatap bantal karet tersebut. Sebagai teman sebangku Sans, Yudai mengangkat bantal karet tersebut dan berbalik menghadap barisan bangku murid lain di belakang.


“Siapa yang menjahili Sans menggunakan ini? Siapa?”


Seluruh murid menghentikan gelak tawa, terdiam menatap satu sama lain. Tidak ada satupun yang angkat bicara untuk mengaku sebagai pelaku perilaku jahil tersebut.


“Selamat pagi, semua! Silakan duduk!” Duke memasuki kelas lebih cepat dari dugaan, bahkan masih cukup banyak bangku yang kosong.


“Beatrice.” Neu menoleh pada wajah Beatrice yang layu ketika mulai duduk di sebelahnya. “Apa kamu sakit?”


Mendengar pertanyaan Neu, Beatrice sama sekali tidak ingin menjawab. Perasaannya kini sedang dia bangun kembali dari pecahan agar siap untuk berbicara. Ancaman Oya seakan menjadi nyata di pikirannya. Jika dia gagal menemukan air mata phoenix, bukan hanya dirinya terpaksa meninggalkan akademi dan kembali ke rumah di benua Riswein, tetapi juga kesehatan sang ayah yang semakin menurun hingga terjadi hal tidak diinginkan.


Satu per satu murid memasuki kelas mulai memenuhi barisan bangku setelah Duke tiba. Mereka tidak menyangka bahwa mereka datang lebih terlambat, khawatir akan hukumannya.


Duke membantah, “Jangan khawatir denganku. Kalian akan baik-baik saja di kelas ini. Tidak apa-apa kalau kalian datang terlambat, aku tidak akan menghukum atau mencatat nama kalian. Hanya saja, yang patut kalian ingat adalah bagaimana caranya agar tidak datang terlambat, atau lebih bagus datang sebelum saya.


“Karena pada pertemuan sebelumnya saya tidak memberi tugas membaca, pertemuan kali ini kita isi dengan diskusi lima bab sebelumnya. Kalian bisa memberi pendapat sambil menceritakan kembali kelima bab tersebut. Saya beri waktu untuk membaca kelima bab.”


Buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei yang telah dibawa dari kamar asrama masing-masing dan diletakkan di atas meja mereka buka. Mulai dari bab pertama mereka baca.


Seluruh murid memindai setiap teks pada lima bab pertama buku tersebut demi menghemat waktu, mengingat pertemuan kali ini tidak sepenuhnya diisi dengan membaca, tetapi juga berdiskusi.


Ketika waktu diskusi telah tiba, seluruh murid menutup buku tersebut rapat-rapat. Neu menjadi yang pertama untuk mempresentasikan rangkuman lima bab pertama. Mulai dari sejarah pembentukan ketiga kerajaan sebelum Anagarde, dia jelaskan panjang lebar, tidak heran sebagian kecil mulai membuka mulut lebar untuk menguap.


Beberapa murid juga turut membantu menjelaskan setelah Neu, bedanya mereka lebih sederhana. Meski tidak secemerlang dan sekritis Neu, mereka semampu mungkin memaparkan inti dari sejarah tersebut. Beberapa juga bahkan mengajukan pertanyaan yang nantinya dijawab Neu.


Tay hanya terdiam menatap Neu yang lebih aktif dalam berdiskusi. Dia masih menganggap teman sekamar sekaligus musuhnya sebagai si “mata empat sok tahu”, itu sindiran halus melalui gumaman dari bibirnya.


Ketika diskusi tersebut mencapai puncak dan menjadi menyenangkan, Duke menginterupsi, “Baik, sudah cukup. Waktu pertemuan hari ini sudah berakhir.”


Seluruh murid merintih tidak puas, mengeluh beberapa pertanyaan belum terjawab melalui diskusi tersebut.


“Maaf semuanya, begitu saja untuk hari ini. Seperti biasa, kalian baca bab keenam sebelum pertemuan selanjutnya. Diskusi tadi memang menyenangkan, saya akui. Pertemuan selanjutnya saya jamin akan lebih menyenangkan. Selamat pagi.”


Beatrice terlebih dulu berdiri tanpa berbicara dengan Neu, Sans, dan Yudai. Dia mengikuti beberapa murid lain untuk keluar dari ruangan kelas. Sepertinya, dia menudukkan kepala, tidak siap untuk membicarakan masalahnya pada siapapun.


Yudai juga melongo heran. “Kenapa? Biasanya dia senang bersama kita. Wajahnya selalu cerah ketika kelas berlangsung. Tapi kali ini kulihat wajahnya muram.”


Neu menggeleng. “Aku tidak tahu. Kalau dia sakit, seharusnya dia tidak terburu-buru menuju kelas song mage. Atau mungkin dia ke asrama untuk beristirahat. Semenjak dari Silvarion, Beatrice menjadi seperti ini.”


Sierra yang menduduki salah satu bangku barisan kedua turut mendengar percakapan antara Yudai dan Neu, iba tentang Beatrice. Mengingat Beatrice sebagai teman sekelompok waktu di Riswein, sebagai perempuan dia mungkin dapat mendapat informasi tersebut terlebih dahulu.


***


Beatrice menghela napas ketika selesai menghadiri kelas song mage khusus untuk dirinya. Song Sphere di genggaman tangan kiri dia turunkan sejenak. Ketika mengangkat kepala, Sierra sudah berdiri di hadapannya.


Sierra sedikit melangkah menemuinya. Menatap muka Beatrice masih masam, mungkin keputusan untuk mengajak berbicara sesama perempuan akan lebih efektif.


“Kamu kenapa?”


Beatrice tetap termenung ketika kembali menatap Sierra. Dia memalingkan pandangan, tidak yakin untuk mengungkapkan kata hatinya.


“Kudengar dari teman dekatmu kamu tidak seperti biasanya. Tidak apa-apa, kamu bisa bercerita padaku. Aku hanya ingin tahu.”


Beatrice membuka suara, “Aku … tidak apa-apa.”


Senyum palsu, lengkungan bibir secara terpaksa, tidaklah cukup untuk menyembunyikan wajah masam terpampang pada Beatrice.


Sierra menggeleng. “Kamu tidak terlihat baik-baik saja.”


“Aku—”


“Begini saja. Sekarang kita ke kedai roti untuk makan siang, hanya kita berdua. Aku ingin tahu apa yang ada di pikiranmu. Mungkin kamu bisa lebih terbuka padaku. Aku ganti baju dulu.”


***


“Dua roti isi ayam dengan dua cangkir teh melati.” Pelayan itu mengantarkan pesanan pada meja. “Silakan.”


Beatrice sedikit kagum dengan selera pakaian Sierra, mengingat perkataan bahwa seragam tidak cocok bagi gadis elegan tersebut. Gaun hitam ketat hingga hampir menonjolkan tubuh sangat cocok jika dipakai oleh Sierra.


Beatrice menatap sebuah ironi bahwa priest seharusnya memakai pakaian berwarna cerah alih-alih berwarna gelap seperti yang dipakai Sierra di hadapannya. Selera pakaian Sierra dapat dibilang cukup berbeda daripada murid priest lainnya.


Beatrice mengalihkan pandangan pada sepiring roti isi di hadapannya. Potongan daging ayam berwarna putih kecokelatan, selada, dan tomat terapit di antara dua roti gandum berwarna cokelat berbintik.


Sierra terlebih dulu menikmati gigitan pertama roti isi potongan ayam pesanannya. Rasa garing dari roti, asin dan lembut dari potongan ayam, serta kesegaran dari selada dan tomat membuat nikmat untuk sejenak.


Sierra bertanya ketika meletakkan kembali roti isi ke piringnya. “Kamu masih saja murung? Apa kamu tidak ingin bercerita?”


Beatrice menghela napas sejenak, tetap memfokuskan pandangan pada roti isi di hadapannya. Dia mengkhawatirkan reaksi Sierra terhadap apa yang dia ingin sebenarnya sampaikan, terutama tentang ancaman dari Oya dan kabar dari Teruna.


“Tidak apa-apa, aku tidak akan menghakimi. Sesuatu yang kamu sembunyikan, terutama perasaan, lama kelamaan akan menjadi masalah pada dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu menderita seperti itu. Aku juga sering melihatmu Bahagia bersama ketiga temanmu, terutama Sans.


“Ya, meski aku tahu Yudai dan Neu pernah mengacaukan diriku saat aptitude test bagian luar, justru kamu lebih Bahagia menghadapi mereka berdua. Mereka sungguh konyol, apalagi Yudai.”


“Neu itu teman masa kecilku di benua Riswein,” Beatrice membuka suara, “Aku bahagia ketika mengetahui Neu juga belajar di Akademi Lorelei. Di rumah, aku tidak boleh keluar dari rumah, apalagi bergaul dengan laki-laki seperti Neu.


“Ibuku menetapkan aturan bagaimana perempuan bangsawan harus bersikap dan berperilaku, apalagi pekerjaan rumah tangga. Katanya, perempuan bangsawan harus melakukan pekerjaan rumah tangga di rumah, tidak boleh keluar rumah tanpa pengawasan.


“Perempuan muda bangsawan sepertiku tidak memiliki kebebasan, apalagi setelah aku dijodohkan dengan seorang laki-laki. Aku dipaksa untuk menikah tanpa suka, tanpa kesempatan untuk diriku memilih laki-laki yang ingin kujadikan sebagai suami.


“Itulah mengapa aku memutuskan untuk melarikan diri dari rumah dan pergi ke Akademi Lorelei, untuk mengarungi dunia luar, untuk menjadi sesuatu yang berbeda daripada perempuan bangsawan. Aku ingin menjadi perempuan lain, diriku sendiri, yang kuinginkan tanpa batas.


“Saat di Silvarion, hari kedua tamasya, aku bertemu dengan salah satu pelayan dari rumah, namanya Oya. Dia memberi ancaman untuk menjemput kembali ke rumah jika aku menyelesaikan permintaannya. Aku harus mencari keberadaan Phoenix dan mendapat air matanya.”


Sierra mulai berkomentar, “Phoenix. Burung itu cukup langka kudengar. Cukup sulit untuk mencarinya.”


“Aku tahu.” Beatrice mengangguk. “Setelah kita semua kembali ke akademi, pelayan pribadiku, Teruna, berkunjung. Dia mengungkapkan alasan Oya membutuhkan air mata Phoenix. Ayahku telah terkena penyakit langka, aku juga lupa bagaimana mendeskripsikan penyakit itu. Pokoknya, air mata Phoenix itu merupakan obatnya.”


Sierra ikut menghela napas, tidak percaya akan kabar buruk dari Beatrice. “Aku turut prihatin. Aku akan membantumu mencari keberadaan Phoenix.”


“Tidak usah repot-repot, mungkin aku tanya saja pada Neu. Kamu juga pasti sibuk dengan pelatihan priest.”


“Aku belum terlalu sibuk, aku baru mendapat materi tentang dasar job priest.”


Beatrice akhirnya menggenggam gagang cangkir teh dari hadapannya. Diteguknya cairan teh tersebut menuju dalam mulut. Hangat, sangat hangat, kehangatan dari cairan teh melati tersebut sedikit mengobati kesedihannya.


Diletakkan kembali cangkir teh tersebut di atas meja, Beatrice kembali terpikir akan masa lalu. Setiap kenangan yang dia alami di rumah, apalagi bersama keluarganya yang dikenal sebagai salah satu keluarga kelas bangsawan di kampung halaman.


“Beatrice.” Sierra memperhatikan kembali wajah masam Beatrice.


Beatrice mengangkat kepalanya, menatap langsung pada wajah Sierra. “Aku sebenarnya belum menceritakan masa laluku pada Sans dan Yudai. Hanya sedikit telah kuceritakan pada Neu. Aku ingin bercerita semampuku, tentang keadaanku di rumah sejak kecil, sejak aku mulai bermain bersama dengan Neu dan teman-temanku, kebanyakan laki-laki.”


Sierra kembali mengambil satu gigitan roti isi ayam ke mulutnya, mengunyahnya menjadi potongan kecil hingga dapat masuk ke dalam tenggorokan dan tercerna di perut. Dia siap untuk mendengar cerita masa lalu Beatrice.