
“Ini dia.”
Sepucuk amplop cokelat sudah berada di genggaman Yudai, seorang pemuda berambut hitam pendek tegak. Ia semangat mengiringi jalan di sekitar ibu kota, melewati alun-alun dan berbelok kiri menuju sebuah gedung tidak jauh.
Sebuah kantor pos kecil, tidak salah, kecil, berdindingkan batu-bata warna abu dan atapnya seperti ciri khas yang dimiliki gubuk, berbentuk segitga serta beralas ranting bercampur batu.
Melewati pintu yang terbuka, ia langsung di sambut di sebelah kirinya oleh meja lebar kayu cokelat beserta kumpulan laci di belakang. Aroma dari kertas, baik itu berasal dari kumpulan amplop atau sepucuk surat, sudah seperti masuk ke dalam hidung.
“Mengirim surat pada kakek dan nenekmu lagi, Yudai,” sapa seorang pria berambut biru panjang menyambutnya. Petugas itu sudah sering sekali mendapati pengirim surat sepertinya, hanya mengingat wajah dari ciri khas alis melengkung dan mata agak sipit.
“Seperti biasa.” Yudai kembali tersenyum sambil menyerahkan amplop tersebut. “Akhir-akhir ini sibuk sekali diriku. Wajar, sebentar lagi tahun terakhir aku belajar di akademi.”
“Baik.” Petugas pos itu menempelkan cap lilin bundar berwarna merah untuk menutup amplop itu. “Seperti biasa, ke desa Kiha, rumah kakek dan nenekmu.”
“Ya.” Yudai mengangguk menyaksikan petugas pos itu menaruh surat di lemari meja. “Terima kasih.”
Meninggalkan kantor pos tersebut, pemuda beralis melengkung itu menghentikan langkah sejenak. Ia membiarkan panas meresap pada kulit dan peluh bercucuran pada wajah. Napasnya ia embuskan.
Ia mengingat kembali setiap kata yang ia tulis pada surat itu. Semalam menjadi waktu tepat untuk memikirkan setiap kalimat yang ia ingin ungkap melalui tetesan tinta dari pena bulu. Sambil kembali berjalan, ia seakan membayangkan dirinya mengucapkan setiap kalimat pada kakek dan neneknya:
Kepada Kakek dan Nenek
Apa kabarnya? Aku baik-baik saja seperti biasa.
Tidak terasa, sudah tiga tahun aku berada di ibu kota, untuk belajar di Akademi Lorelei. Seperti yang kalian tahu, banyak sekali perubahan, sangat banyak. Situasi sudah berbeda sekarang.
Ingat saat aku menulis kalau teman dekatku, Sans, keluar tepat sebelum tahun kedua dimulai? Aku masih memikirkannya. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Tapi … aku tidak menemukan petunjuk apapun, begitu pula dengan keberadaan orangtuaku.
Aku hanya berharap Sans baik-baik saja.
Ya, musim panas akan berakhir dalam sepuluh hari. Itu artinya tahun terakhirku di Akademi Lorelei akan dimulai. Aku tidak menyangka sama sekali. Seperti hari kemarin aku pertama kali menginjakkan kaki di akademi.
Semoga aku bisa lulus tahun terakhirku dan secepatnya kembali ke rumah. Jika bisa, semoga aku mendapat petunjuk lagi tentang keberadaan orangtuaku.
“Ah, kamu melamun lagi sambil jalan.”
Suara seorang perempuan membuatnya menghentikan langkah dan lamunannya, tepat saat ia mulai menapakkan kaki di lantai keramik cokelat alun-alun ibu kota begitu berpaling dari kantor pos.
Menoleh ke belakang, seorang gadis berambut cokelat tua memakai fedora ungu, jubah kuning oranye, dan kemeja putih berkerah panjang menyapanya. Yudai menatap pada bola mata merah gadis itu terlebih dahulu.
“Odeya,” Yudai menegur gadis itu, “aku tidak sadar kamu di belakangku.”
Odeya mengangguk, meruncingkan senyuman. “Tentu saja tidak. Kamu kan sedang melamun.”
Yudai tertawa agak canggung. “Ya, kamu mengikutiku. Dan sejak kapan omong-omong?”
“Aku menguntitmu dari asrama, berjaga-jaga saja. Dan kamu lupa sesu—”
“AH!” Yudai terbelalak saat sebuah pikiran memicunya. “Aku lupa Riri kemarin bilang kita harus berkumpul di kantin!”
Odeya mendengus sambil menyeringai, kemudian mengeluarkan tawa kecil. “Kamu ini memang tidak pernah berubah, sama seperti yang dikatakan Riri.”
***
“Kuperingatkan kamu berkali-kali, Zerowolf! Kamu tidak pernah bosan untuk memaksa kita semua untuk mengambil misi kelas S! Misi paling berbahaya dan kita hanya sepuluh hari sebelum menjadi murid tahun terakhir!” ujar seorang lelaki berambut pendek berdiri dengan ikat kepala warna emas di dahi.
“Memangnya kenapa, Riri? Ini kesempatan emas kita untuk mencari pengalaman sebagai petualang!” balas lelaki ber-beret biru sambil menggenggam busur ke hadapan lawan bicaranya.
Berbelok di selasar menuju pintu masuk menuju kantin, Yudai dan Odeya menghentikan langkah menyaksikan Zerowolf dan Riri sudah berdiri di hadapan mereka saling berselisih di sebuah tempat duduk. Mereka memutuskan untuk diam dan menyaksikan kedua laki-laki bermantel dark blue itu.
“Kesempatan emas, arsehole! Yang ada justru bahaya yang mengancam! Misi kelas A saja sudah sulit untuk kita, apalagi kelas S!” Riri membantah.
“Itulah kenapa kita butuh pengalaman lebih. Apalagi mulai semester depan, kita juga sudah butuh uang lebih. Hadiah misinya kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada misi kelas A.”
Yudai menghela napas menatapi adu mulut itu. Tingkah laku Riri dan Zerowolf baginya sama sekali belum berubah selama tiga tahun terakhir.
“Yudai?” Zerowolf menegur terkejut.
“O-Odeya.” Giliran Riri yang menyapa.
“Wah, wah.” Odeya terkekeh. “Masih membicarakan misi kelas S dari awal liburan musim panas ya? Memang benar, misi kelas S itu kira-kira hanya muncul setahun sekali, dan peluang untuk menyelesaikannya kecil.”
Riri mendengus. “Makanya, aku tidak mau ambil risiko besar harus kehilangan anggota kita. Misi kelas S memang mematikan.”
Yudai menambah, “Ya, kalau mau ambil misi kelas S, boleh-boleh saja menurutku. Setidaknya itu menjadi tantangan sebelum kita ke dunia luar.”
Riri menepuk keningnya, beranggapan Yudai seakan menyetujui perkataan Zerowolf.
“Aku juga sudah siap setelah kita menyelesaikan begitu banyak misi kelas A! Dari tahun kedua kita di sini.”
Zerowolf berseru antusias “Itu dia! Kita juga sudah punya banyak pengalaman—”
“Stop!” Riri menaikkan kedua tangan.
“Hei!” Yudai melirik ke belakang, melambaikan tangan pada dua orang gadis yang telah tiba di kantin. Wajar ia menyapa cukup keras mengingat kantin masih sangat sepi karena masih liburan musim panas di akademi.
Beatrice dan Katherine akhirnya menghampiri setelah berbelok dari selasar akademi. Beatrice sangat girang menjawab sapaan Yudai dan melambaikan tangan. Sementara Katherine … masih memalingkan wajah begitu menatap Yudai, sama sekali tidak berubah selama tiga tahun terakhir.
“Berarti tinggal … satu orang lagi, Bleu, si swordsman tahun pertama yang akan menjadi murid tahun kedua. Begitu semuanya berkumpul, kita ambil misi kelas A, usahakan di luar ibu kota, lalu kita selesaikan dan ambil lagi,” ujar Riri.
“Eh? Bukan misi kelas S yang itu? Kalau misi itu terus tidak seru, kenapa tidak kelas S saja!” Zerowolf masih bersikukuh.
“Masih saja membicarakannya,” Riri mendengus lagi.
Zerowolf mendesah. “Kalau saja aku ketuanya, aku akan paksa kita semua ambil misi kelas S. Kalau saja Tay, Neu, Lana, Sandee, dan Ruka masih bersama kita dan tidak sibuk dengan kegiatan bersama kelompok mereka masing-masing—”
“Hah!” potong Riri menarik kerah kemeja dan mantel Zerowolf. “Katakan itu sekali lagi!”
“A-anu … he-hentikan,” ucap Katherine, gadis berambut cokelat kemerahan ikal dan bermantel hijau, pelan.
Yudai memberi usul, “Bagaimana kalau begini saja. Kalau lembar misi kelas S masih ada di quest board, kita coba ambil saja, dan pergi ke sana.”
“Yu-Yudai!” sahut Riri.
“Ya, kalau lembar misi kelas S-nya sudah tidak ada, kita bisa ambil misi kelas A seperti biasa.”
Beatrice dan Katherine terdiam mendengar usul dari Yudai. Misi kelas S, misi yang jauh lebih sulit dan brutal hingga mematikan daripada misi kelas A. Itu yang telah mereka dengar selama ini dari desas-desus penduduk kota dan murid-murid Akademi Lorelei.
Beatrice, gadis yang kini memiliki rambut cokelat muda berkepang pita biru dua dan masih bermantel cokelat, mendekati Yudai dan membujuknya, “Apa kamu yakin? Aku saja takut kalau harus mengambil misi kelas S.”
“Jangan khawatir, setidaknya Zerowolf tidak akan bisa lagi mengeluh kalau lembarnya tidak ada.” Yudai kemudian berbisik, “sebenarnya aku ingin mengambil misi kelas S itu, jujur.”
“Ah.” Odeya melirik. “Bagaimana dengan Bleu? Dia kan belum datang.”
***
Riri memelototi tidak percaya di hadapan quest board. Lembar misi kelas S masih ada secara utuh, tanpa sobekan sama sekali. Ia melirik pada Zerowolf yang menyeringai memasang wajah tidak bersalah.
Beatrice dan Katherine juga sama kagetnya. Sama sekali tidak terpikir bagi mereka tidak ada satupun di ibu kota yang berani mengambil misi tersebut selama musim panas berlangsung.
“Fu fu.” Odeya kembali tertawa kecil. “Sepertinya kita akan mengambil misi kelas S.”
“Ini mustahil kan?” Riri mengekpresikan kekagetannya. “Padahal banyak sekali petualang di ibu kota kerajaan Anagarde. Ternyata … selama ini … tidak ada yang mengambil misi ini! Pasti ada yang salah.”
Zerowolf mengoreksi, “Atau … mereka gagal menjalankan misi ini dan menyerah. Atau bahkan langsung menyerah sebelum memulai. Berarti kalau mereka gagal—”
Beatrice mengangkat tangan panik. “Tolong jangan bahas itu! Mengerikan sekali membayangkannya!”
Yudai ingin memastikan. “Apa ini … kita jadi menjalankan misi kelas S?”
Riri memalingkah wajah dan menggeretakkan gigi. Perjanjian tetaplah perjanjian. Zerowolf sudah menjelaskan jika lembar misi itu masih ada, mau tidak mau, ia harus memimpin timnya untuk menjalankan misi kelas S.
Ia juga menatap Beatrice dan Katherine yang sama setujunya. Dari raut wajah dapat tergambar mereka cukup ketakutan. Katherine bahkan tidak dapat berkata apapun dan menundukkan wajahnya.
Odeya tertawa kecil, bibirnya sedikit membentang ke atas hampir membentuk seringai. Cukup tenang dalam menganggapi, ia sampai sedikit menggoyangkan tongkatnya.
Riri mengakhiri kekesalannya dengan mendesah. Ia terlebih dahulu membaca detail dari misi tersebut. “Ambil sisik kraken di gua besar di pesisir Coela di timur laut benua Aiswalt. Itu saja.”
“Sisik kraken! Baiklah!” sahut Zerowolf. Namun, ia mengurungkan kegirangannya. “Tunggu, memang kraken seberbahaya itu? Sampai harus menjadi misi kelas S?”
“Ah. Akhirnya.” Odeya menoleh ke kanan, seakan menerima embusan angin yang memicunya.
Seorang pemuda berambut hitam ikal pendek dan bertubuh mendekati bahu Yudai menghampiri. Ia membawa pedang di selongsong pada punggungnya, menghela napas.
“Darimana saja kamu?” tegur Riri.
“Memangnya penting?” ujar pemuda itu.
“Kita semua sudah berjanji kemarin, kita semua berkumpul di kantin.”
“Aku melihat Yudai ke luar kastel. Kalau dia boleh berlatih sendiri, aku juga bisa berlatih sendiri. Aku bukan anak kecil seperti yang kalian kira.”
“Bleu,” Yudai memanggil pemuda itu, “mungkin kamu mengira aku akan berlatih sendiri saat harusnya kita berkumpul. Aku ke kantor pos, mengirim surat pada kakek dan nenekku.”
Riri mengangkat bahunya. “Kamu lagi-lagi terlalu baik padanya, Yudai. Bleu mungkin lebih muda daripada kita semua, lebih muda daripada kebanyakan murid tahun kedua sekarang. Tapi dia harus belajar menghormati siapapun yang lebih tua.”
“Aku sudah menghormati kalian. Mau kalian apa lagi?” Bleu mulai memberontak, kakinya sedikit menapak lantai cukup keras. “Lalu apa? Kamu bertingkah seperti orangtua? Memangnya kamu ini orangtuaku?”
Zerowolf menghela napas. Ia memalingkan wajah begitu melihat Bleu lagi-lagi sekadar memberontak pada ketua kelompok, Riri. Bahkan, ia tidak seberani dengan pemuda yang masih belia itu.
“Dasar.” Riri menggeleng. “Kalau kamu begini terus, mana ada orang yang ingin menerima dirimu sebagai anggota kelompok petualang nantinya.”
“Sungguh, kamu dengan mudahnya memarahi Bleu,” sindir Zerowolf.
“Aku belum selesai, Zerowolf. Ini serius misi kelas S, benar-benar berisiko tinggi, sangat tinggi.”
“Dari tadi sudah kubilang, aku yakin.”
Beatrice menghela napas sebelum mengembuskannya. Ia sampai menapakkan kaki begitu keras, memicu perhatian keduanya.
“Oke. Aku ingin ikut menyelesaikan misi kelas S!” sahutnya.
Riri, Zerowolf, dan Yudai tertegun menatap raut wajah perempuan berambut brunette panjang mendekati punggung itu. Alis terangkat, mata seperti terbakar semangat, dan pipi sedikit mengerut. Itulah pertanda Beatrice memiliki determinasi pada saat itu.
“Kamu serius, Beatrice?” ujar Riri tidak yakin, “kalau salah sedikit saja, kita bisa gagal total, bahkan mati.”
“Meski bahayanya tinggi, aku tidak bisa diam dan kabur begitu saja. Pada akhirnya nanti kita akan menghadapi misi yang jauh lebih sulit daripada biasanya. Jadi, misi kelas S ini adalah langkah awal kita untuk menjadi petualang sungguhan, bahkan sebelum kita lulus dari akademi.
“Lalu … aku ingin menjadi lebih berguna lagi, Aku tidak ingin menjadi song mage yang lemah tidak berdaya. Aku ingin ikut kalian dalam pertarungan ini.”
Katherine mengangkat tangan. “A-a-anu … aku juga … ingin ikut menjalani misi itu. Aku … ingin menjadi priest yang lebih berguna. Semenjak … Sierra mengkhianati kita semua, aku jadi … lebih bersemangat menjalani misi bersama kalian. Aku ingin semakin menyembuhkan kalian meski dalam bahaya."
“Wah, wah ….” Odeya menyeringai sambil tertawa kecil. “Sepertinya Beatrice dan Katherine juga setuju. Kalau semuanya ingin menjalankan misi kelas S itu, aku juga setuju. Bagaimana denganmu, Bleu?”
“Baik. Tantangan harus dihadapi, bukan?” Bleu menganggapi sambil mengangkat kepala. “Aku ikut. Jangan remehkan aku ini masih muda. Aku sama sekali tidak takut. Ingat aku sering ikut kalian menjalankan misi kelas A.”
Riri menghela napas, meratapi semua anggota kelompok yang diketuainya sangat ingin menyelesaikan misi kelas S. Ia kembali melihat teks dalam lembar misi tersebut. Mengalahkan kraken dan mengambil sisiknya. Terlebih misi kelas S bisa jadi merupakan misi kelas A yang sudah lama sering gagal diselesaikan.
Pemuda berambut hitam pendek tipis, beralis tebal, dan bermantel kuning oranye itu mengenggam erat bagian atas lembar misi.
“Kita ambil misi ini. Lagipula, kita hanya punya sepuluh hari dari sekarang untuk menyelesaikannya. Jadi, ini akan menjadi misi terbesar yang kita ambil sebagai tim!”
Yudai bersorak mengangkat kedua tangannya, “Baiklah! Sudah diputuskan! Ayo kita selesaikan misi kelas S itu!”
“Akhirnya luluh juga. Kita harus berjuang keras agar tidak mati sebelum semester selanjutnya dimulai,” lanjut Zerowolf.
Selagi Riri membaca kembali detail misi itu dan mulai menjelaskan pada anggota kelompoknya, Yudai menoleh ke kiri. Di dekat air mancur di pusat alun-alun ibu kota, terlihat dua orang tengah berjalan dengan tatapan fokus ke depan.
Salah satu dari orang itu merupakan pemuda bermantel cokelat muda bertudung. Hanya dari kejauhan, ia menatap kulit sawo matang dan rambut panjang. Dari matanya, ia seperti terpicu ingatan.
Begitu kedua pemuda itu meninggalkan alun-alun dan berbelok, Yudai mulai mundur dan berbelok. Langkah pelannya perlahan berubah menjadi lari. Larinya semakin kencang saat ia meninggalkan alun-alun itu dan mulai berbelok.
Ia menghentikan larinya saat tugu monumen berbentuk seperti lilin berujung lancip dan diampingi oleh dua patung ksatria sudah di depan mata. Lingkaran bangunan toko juga dapat ia saksikan.
Ia melihat sekeliling, hanya ada beberapa orang yang tengah melakukan aktivitas di sekitar lingkungan itu. Dua orang pemuda tadi tidak ia lihat sama sekali.
“Yudai!” sahut Beatrice menghampirinya dari belakang. “Ada apa?”
“Ku-kupikir—” Yudai seperti terengah-engah. “—aku melihatnya. Tidak salah lagi.”
“Siapa?”
Yudai menarik napas sebelum menjawab dan menoleh pada Beatrice, “Kurasa aku melihat Sans.”
Seperti terhantam listrik, Beatrice mengambil satu langkah mundur. Ia mendekatkan jari-jemari menuju bibir. Terpicu ingatan saat terakhir kali melihat Sans, apalagi membaca surat perpisahan.
“Sans … ada di sini?”
“Entahlah.” Yudai menggeleng. “Mungkin hanya perasaanku.”