
Menganggap badan salah satu pohon tanpa daun di halaman belakang akademi sebagai target, Sans mengayunkan belatinya seakan tengah menebas dedaunan atau bertarung melawan musuh. Setiap tebasannya menghasilkan goresan hasil kelupasan kulit batang pohon tersebut, mulai dari hanya sekadar garis menjadi sebuah bentuk tidak simetris.
Yudai juga menjadikan setiap badan pohon sebagai target panahannya. Sambil berlari, dia menarik ekor panah dan tali busur secara bersamaan demi meluncurkan tembakan. Setiap kepala lancip panah pun menancap.
Beatrice mengerahkan kekuatannya dalam bernyanyi Give Us Strength sebagai penambah kekuatan dan penyemangat bagi kedua teman dekatnya. Dia menyanyi semerdu-merdunya agar tidak dapat mengecewakan sama sekali.
Sans dan Yudai menghentikan sesi latihan mereka ketika sang surya tengah menuju puncak. Yudai menurunkan panah sambil melangkah dan mengambil setiap anak panah menancap dari badan pohon.
Sans menatap pergelangan tangan kanan, ototnya sudah mengembang berkat seringnya berlatih. Kemampuannya dalam menggunakan belati juga sudah sesuai harapan sejauh ini, mulai menembus bagian awal dari cambium.
“Kalau dipikir-pikir lagi, membosankan juga kita latihan terus di sini tanpa memikirkan untuk mengambil misi di quest board. Terakhir kali, hanya misi kelas A ke atas, di atas kelas yang biasanya kita ambil,” tutur Yudai.
Beatrice pun melanjutkan, “Habisnya, aku merasa kita belum siap untuk melakukan misi-misi itu. Tantangannya lebih sulit, kita juga harus pergi lebih jauh. Monster-monster di sana juga lebih ganas.”
“Makanya. Kita berlatih untuk mengambil salah satu dari misi itu.
“E-eh?”
Sans ingin memprotes, “Ta-tapi kita bahkan belum pernah mengambil misi kelas B sama sekali. Masa mau langsung menyelesaikan misi kelas A?”
Yudai mulai mendahului Sans dan Beatrice untuk kembali ke dalam kastel akademi. “Makanya! Kita ambil kesempatan itu saja! Lagipula misi kelas A juga bayarannya cukup tinggi.”
Beatrice mulai kewalahan ketika dirinya dan Sans mengikuti langkah Yudai. “Ta-tapi kan, kalau hanya kita bertiga, tanpa Neu, Sierra, dan Tay—”
“Makanya. Kita ajak Riri saja.”
“Eh?” Sans melongo. “Memangnya tidak apa-apa?”
“Nanti sore kita tanyakan! Jadi besok kita akan mengambil salah satu dari misi itu. Dan ini adalah tantangan baru untuk kita.”
“Tanpa Tay, Neu, dan Sierra, untuk sekarang,” keluh Beatrice.
“Oh ya,” Sans pamit begitu memasuki ruang depan akademi sebelum mempercepat langkah menuju tangga, “Aku ada latihan khusus lagi bersama Profesor Duke. Besok, aku akan bilang padanya untuk mengikuti misi dari quest board! Sampai nanti.”
“Hei, Sans,” Beatrice memanggil, hanya saja tidak berpengaruh bagi Sans. “Ah. Aku jadi penasaran latihan seperti apa yang diberikan Profesor Duke pada Sans. Padahal aku juga ingin Profesor Duke melihatku berlatih, apalagi dibimbing olehnya.”
Yudai tentu tidak bisa berkata hal yang sebenarnya, keinginan Duke untuk mengajari Sans segala hal tentang alchemist, job terlarang menurut sistem di akademi. Terlebih, Sans juga sudah semakin terbiasa dalam latihan.
Memang tidak mudah bagi Yudai untuk menyembunyikan sebuah kebenaran, apalagi dari seluruh teman dekatnya. Tentu saja dia tidak ingin Beatrice berpikir tidak-tidak ketika kebenaran itu terungkap.
“Ya, aku juga sebenarnya ingin dilatih oleh Profesor Duke. Mau bagaimana lagi, dia berminat untuk melatih Sans. Aku juga tidak tahu mengapa Profesor Duke berpikir seperti itu. Setidaknya, dia dapat latihan tambahan secara privat. Lalu, kamu juga dapat kurang lebih sama. Latihan song mage.”
“Tapi kan itu kan beda! Aku ingin Profesor Duke melihatku berlatih.”
Ketika Yudai dan Beatrice berbelok kiri setelah menaiki tangga, dari jalan kanan, Katherine hanya berdiam diri, lagi-lagi memandang. Yudai menjadi objek yang membuat gadis itu menghela napas.
Dia mendekatkan tangan kanan pada dada. Wajahnya memerah selagi menghela napas, memikirkan kata-kata demi mengajak Yudai untuk berbicara.
Sayang, sayang sekali. Dia menyaksikan Yudai seakan lenyap dari pandangannya, tanpa memanfaatkan kesempatan untuk menemui dan menyampaikan sesuatu.
“Oh. Katherine.” Riri lagi-lagi menemuinya dari belakang. “Kenapa kamu jadi bingung begitu?”
“Ah!” Katherine perlahan menoleh pada Riri. “A-anu.”
“Kamu mau tidak temani aku berlatih? Seperti kemarin?”
“A-a-a—” Katherine lagi-lagi gagal untuk berbicara dengan Yudai.
***
Seperti sebelumnya, Duke meminta Sans untuk membuat ramuan penyembuh luka. Tepat sebelum mulainya latihan tersebut, profesor berkulit hitam itu memiliki satu lagi tugas.
“Kemarin kamu sudah mampu berkonsentrasi dalam membayangkan benda dan melakukan transmutasi secara bersamaan. Imajinasimu sudah mulai menampakkan akurasi tersebut. Hari ini, saya ingin kamu menggunakan energi dari dalam tubuhmu secara stabil.”
Sans melongo, mendengar frasa menggunakan energi secara stabil sudah membuatnya memberi tatapan kosong pada Duke.
“Benar, kamu telah berhasil menyeimbangkan imajinasi dalam membayangkan hasil akhir barang tersebut dan juga mengerahkan kekuatan untuk melakukan transmutasi. Tapi keberhasilan itu harus stabil, kadang kala hanya keberuntungan yang didapat.”
“Ja-jadi kemarin saya hanya beruntung?”
“Ah, maksud saya, setelah keberhasilan pertama kali, ada peluang kamu akan kembali gagal. Oleh karena itu, ini saatnya untuk kamu belajar untuk melakukan penstabilan energi agar transmutasi berjalan lancar.”
Duke meletakkan seluruh bahan dari ramuan penyembuh luka itu yang dia ambil dari lemari. Lima bahan itu telah berada di atas meja di hadapan Sans tepat pada pusat garis transmutasi, seakan mengepung wadah botol labu.
“Lalu kenapa energi saya harus lebih stabil dalam melakukan transmutasi? Apa kalau energi saya sedikit akan gagal?”
“Sebenarnya kamu menjawab pertanyaanmu sendiri,” jawab Duke, “ditambah, jika energimu terlalu banyak dikerahkan, hasilnya akan gagal. Terlebih, jika hal itu merupakan barang yang cukup sulit dibuat. Konsekuensinya bisa fatal, sangat fatal hingga dapat mematikan.”
“A-apa?” Sans mulai gemetaran.
“Makanya saya ingin mengajarimu hal yang paling mendasar dulu. Saya juga ingin mengawasimu, memastikan hasil dari setiap barang yang kamu buat melalui proses transmutasi tidak berujung kegagalan apalagi bahaya. Sebagai seorang guru, tentu saya mengharapkan kamu mampu melakukan transmutasi barang yang sulit, meski hal itu butuh waktu.”
“Sa-saya akan mencoba sebaik mungkin,” Sans secara jujur menganggapi.
“Ti-tidak apa-apa. Tidak perlu terburu-buru untuk cepat-cepat agar dapat membuat barang sulit. Yang penting, manfaatkan waktumu untuk menguasai setiap hal tentang alchemist. Kamu pasti bisa.”
Sans menghela napas. “Jadi saya harus sekali lagi membuat kelima bahan ini seperti kemarin sore.”
Dia meletakkan tangannya mengarah pada botol labu sambil mulai berkonsentrasi melakukan dua hal secara bersamaan, yaitu membayangkan hasil akhir berupa cairan warna merah di dalam botol labu dan menstabilkan energi dalam mengerahkan proses.
Terlebih dahulu, dia membayangkan bentuk dari ramuan tersebut sambil menerawang setiap bahan di antara garis transmutasi. Dia memusatkan energinya mulai dari sedikit hingga secara progresif menjadi banyak.
Sans kesulitan dalam mengatur konsistensi energi. Menambah pengeluaran energi berakhir selalu berakhir terlalu banyak, mengurangi seringkali terlalu sedikit hingga tidak terjadi apapun. Mungkin upaya keberhasilan pertama hanya keberuntungan belaka.
“Energimu belum stabil,” komentar Duke, “jangan tambah terlalu banyak, minimalisasi—”
“Duke?” Suara seorang wanita tidak asing, benar-benar tidak asing hingga membuat Sans sekali lagi menggagalkan proses transmutasi. Ya, suara wanita itu sangat memicu pikiran Sans bahwa dia tidak ingin profesor itu menginterupsi.
“Sialan!” bisik Duke buru-buru membantu Sans berdiri dari hadapan meja transmutasi dan membereskan segala alat dan bahan tersebut.
“Pr-Profesor Alexandria?” gumam Sans gugup. “Ba-bagaimana ini? Saya seharusnya tidak di sini.”
Duke membuka laci di dekat rak pakaian dan menaruh setiap alat dan bahan, perlahan tapi pasti. Begitu menutup laci tersebut, dia membuka pintu rak pakaian lebar dan mengayunkan tangan kiri.
“A-Anda ingin saya bersembunyi—”
“Cepatlah!”
Sans melangkah perlahan sebelum memasuki rak pakaian tersebut. Dia bersembunyi di balik barisan pakaian bergelantungan ketika Duke menutup pintu dengan rapat.
“Tenanglah,” ucap Duke.
“Duke?” Alexandria tidak sabar hingga mengeraskan ketukan pintu.
Duke menarik napas ketika berdiri di hadapan pintu, menenangkan diri. Dia tahu bahwa Alexandria merupakan profesor yang secara lantang melarang adanya alchemist. Memang, selagi dia berhalangan hadir saat kelas sejarah pada semester lalu, profesor yang paling dibenci murid-murid akademi itu mengambil alih pelajaran.
Akhirnya, dia membukakan pintu dengan lebar, menatap Alexandria telah berdiri tatap muka. Dia menelan ludah, cukup tegang menghadapi profesor terkenal itu.
“Tadi saya mendengar suara ledakan saat berkeliling.”
“Le-ledakan?” Duke pura-pura tidak tahu. “Ledakan apa? Kenapa Anda kemari—”
“Saya serius.” Alexandria menajamkan tatapan. “Saya mendengarnya menggunakan telinga saya sendiri. Di balik pintu kantor Anda. Saya yakin ledakan itu berasal dari balik pintu ini.”
Ketukan kepalan tangan Alexandria sontak memicu ketegangan dari dalam hati Duke. Wanita itu benar-benar sulit untuk mendapat kesan dari siapapun, bahkan sesama profesor.
Duke teringat ketika Dolce pernah berkata bahwa dia, waktu sebagai murid, merasa ingin muntah ketika bertemu Alexandria. Sering sekali Alexandria berwenang semena-mena, menentukan hukuman dan aturan tidak masuk akal selagi kepala akademi, termasuk Arsius, tidak berada di sampingnya.
Alexandria seakan sebagai bos ketika mengajar, memberitahu dan mempertanyakan tindakan muridnya sendiri ketika sedang mengerjakan sesuatu atau beraksi dalam menerapkan ilmu. Tidak heran hampir seluruh murid, bahkan beberapa profesor dan staf, membencinya.
Sans, meski tengah bersembunyi di balik lemari pakaian Duke, dapat mendengar pukulan Alexandia pada pintu, menyimpulkan hal tersebut tidak terdengar baik. Upaya Duke untuk menyembunyikan rahasia tentang alchemist, dan dirinya sebagai murid ilmu terlarang itu, mungkin berujung pemaksaan untuk penungkapan.
“Sa-saya—” Duke gugup dalam membuat sebuah kebohongan. “—hanya sedang berlatih sihir ledakan. Makanya—”
“Kalau Anda berlatih sihir ledakan, jangan lakukan di kantor Anda!” Alexandria meledakkan bentakannya.
Sans sampai memalingkan wajah, tidak tahan dengan bentakan Alexandria. Persis sama seperti di kelas, dia tidak kuat secara mental jika menghadapi secara langsung bentakan wanita itu.
“Lakukanlah di luar. Anda tahu sihir ledakan itu bisa membakar akademi ini jika gagal! Carilah tempat yang luas saja sekalian, atau gunakan tempat pelatihan.”
“Sa-saya mengerti.”
Duke dapat bernapas lega ketika Alexandria telah berbelok, meninggalkan dirinya. Ketika tengah menutup pintu, langkah wanita itu terhenti.
“Duke. Ingat, sebagai profesor, kita patutnya berpikir kritis. Kesalahan seperti tadi tidak bisa dimaafkan jika sampai menjadi bencana, apalagi sampai menghancurkan kastel akademi.”
“I-iya. Saya mengerti.”
“Sudah. Lakukan sesuka Anda.” Alexandria pun melanjutkan langkahnya.
Setelah menyaksikan Alexandria berbelok menuju sebuah koridor, Duke menutup pintu rapat dan bergegas mempercepat langkah menuju hadapan lemari. Dia membuka pintu lemari pakaian tersebut, menyimpulkan semua sudah aman.
“Sans.”
Ketika keluar dari dalam lemari pakaian tersebut, terutama melewati deretan gantungan pakaian, konfrontasi Alexandria pada Duke memicu kilas balik bagi Sans, ketika mau tidak mau profesor wanita itu mengambil alih kelas sejarah dan langsung menjelaskan materi alchemist.
Alasan mengapa saya harus memberitahu tentang alchemist pada murid-murid yang sama sekali tidak tahu seperti kalian, saya tidak akan menoleransi perbuatan apapun yang berkaitan dengan job tersebut. Saya tentu tidak akan menerima murid yang berani mempelajari alchemist. Biar saya beritahu kalian, alchemist merupakan job yang terlarang dan berisiko besar dalam sejarah Kerajaan Anagarde.
“Sans, maafkan saya.” Duke membuyarkan lamunannya. “Untuk hari ini, pelajaran alchemist saya cukupkan sampai di sini. Sebaiknya saya mencari lorong kosong dan tersembunyi, serta jarang dilewati siapapun untuk menjadi tempat latihan untukmu.”
Sans memecah bungkam. “Profesor, sebenarnya mengapa Anda menjadi alchemist? Jika Anda sudah tahu hal ini terlarang, mengapa Anda masih mau melakukannya?”
Duke terdiam, menghela napas. Sungguh sulit untuk menjawab pertanyaan Sans, apalagi ketika tujuannya untuk menjadi alchemist benar-benar berat, tidak mudah untuk terungkap pada siapapun sebagai sebuah rahasia.
“Mu-mungkin nanti saja saya cerita. Untuk sekarang kamu fokus berlatih transmutasi dulu. Kamu baca lagi Buku Dasar Alchemist selagi saya mencari lorong kosong dan tersembunyi. Begitu saya menemukannya, saya akan memberitahumu. Butuh setidaknya beberapa hari semenjak mulai besok saya cukup sibuk.”
Beruntung bagi Sans, hari esok juga merupakan sebuah janji untuk menjalankan misi kelas A bersama Beatrice dan Yudai. Dia dapat rehat untuk sementara waktu dari urusan alchemist dan melatih menggunakan belati sebagai senjata.
“Sans. Seperti yang tadi saya katakan, kamu harus belajar meminimalisasikan kekuatanmu dalam proses transmutasi, dengan begitu energimu akan lebih stabil, benar-benar stabil.”
“Saya mengerti, Profesor.”
“Coba nanti kamu praktikkan saat kamu berlatih bertarung. Jangan gunakan terlalu banyak kekuatanmu saat mengayunkan belati. Kamu masih melakukannya saat bertarung melawan Dolce saat ujian duel waktu itu. Tidak heran kamu cepat lelah.
“Untuk sekarang, aku masih ingin melihat kegigihanmu dalam berlatih. Kamu sudah menunjukkan setiap orang bahwa kamu bukan sekadar murid bermantel putih. Kamu membuktikan pikiran setiap orang tentangmu salah, benar-benar salah. Sekarang, kamu sudah cukup antusias dalam berlatih transmutasi. Saya harap kamu dapat berkembang dengan cepat, dengan begitu, saya bisa melatihmu untuk membuat barang yang lebih sulit.
“Jika kamu dapat lebih cepat, kamu dapat mencapai tujuanmu, untuk menyembuhkan ibumu. Kamu boleh pergi sekarang.”
Sans menundukkan kepala seraya memberi hormat pada Duke. “Te-terima kasih banyak, Profesor.”