
“Saya dengar dari Hunt kamu akan melawan Sans terlebih dahulu.” Duke berbicara pada Dolce saat seluruh pertarungan putaran keenam berlangsung.
“Benar. Kami bahkan tidak menyangka dia akan bersikeras untuk bertahan di akademi. Mungkin kepercayaan bahwa murid mantel seperti dia tidak akan bertahan lama. Tidak seperti murid bermantel putih lain, seperti yang juga bertahan setelah aptitude test lalu, dia memiliki kemauan keras untuk berkembang. Alih-alih melawan murid archer didikan saya, saya lebih ingin melawannya sekali lagi untuk mengujinya. Saya juga tidak puas ketika dia sampai pingsan saat aptitude test bagian akhir hingga membuatnya menjadi seperti sekarang.”
“Kamu seperti jadi orang jahat,” Duke kemudian meminta, “Dolce, saya ingin kamu kerahkan semua tenagamu. Uji kemampuannya sampai sejauh mana semenjak aptitude test berakhir.”
“Baik.”
***
Ring pun telah bebas dari panah berserakan setelah pertarungan Yudai dan Remi berakhir, hampir bersih tanpa noda darah. Begitu Dolce menyatakan dia akan melawan Sans pada salah satu duel putaran ketujuh, tidak perlu bagi Sans dan teman-temannya kembali berbaris mengikuti yang lain demi mendengar pengumuman lawan setiap duel lain.
Kabar tersebut sudah terlihat jelas bagi murid-murid lain yang berbaris menunggu giliran berduel. Begitu pengumuman lawan untuk setiap duel putaran ketujuh berakhir, mayoritas dari mereka berbondong-bonndong ingin melihat duel tersebut, entah karena ingin melihat Dolce beraksi dan bahkan menyaksikan Sans, sebagai murid bermantel putih, kembali gagal.
“Kenapa Profesor Dolce malah memilih seorang murid bermantel putih seperti dia?”
“Kalau dipikir-pikir lagi, dia itu murid yang pingsan setelah dihantam Dolce saat aptitude test bagian akhir, kan?”
“Percuma saja. Murid bermantel putih pasti gagal dalam ujian duel, apalagi melawan Dolce.”
“Akan lebih baik dia sudah keluar dari dulu.”
Terpicu! Perkataan dari setiap murid yang telah berkumpul, apalagi meremehkan Sans, membuat Yudai jengkel, sangat jengkel.
“Kenapa mereka masih saja meremehkan Sans! Padahal dia sudah susah payah sering latihan bersama kita!”
Tay menganggapi, “Memang benar, si mantel putih itu diharapkan keluar dari akademi setelah tidak lulus aptitude test. Tapi sebaiknya mereka saksikan sendiri bagaimana perkembangan dia.”
“Tumben kamu berkata rasional begitu, Tay,” sindir Neu.
Zerowolf ikut membalas, “Habisnya, setiap murid bermantel putih harus melawan Dolce lagi di ujian duel ini. Tidak heran, Dolce itu merupakan lawan yang paling ditakuti saat ujian.”
“Sans! Apapun yang terjadi, lakukanlah yang terbaik! Berjuanglah sampai akhir! Bertahanlah sampai waktunya habis!” jerit Yudai.
“Yudai benar! Berjuanglah!” Sahutan Beatrice membuat Yudai, Tay, Neu, dan Zerowolf tercengang.
Beatrice telah hadir kembali, berdiri di samping Yudai. Seluruh temannya sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan kembali secepat itu dari rumah sakit.
“Be-Beatrice!” ucap Neu. “Ka-kamu sudah tidak apa-apa, kan?”
“Iya.” Beatrice sedikit menyeringai sambil menggosok bagian belakang sun hat-nya. “Begitu aku sadar, aku sudah di rumah sakit. Suster menyuruhku untuk makan dan istirahat. Lalu setelah beberapa saat, aku jadi ingin kembali ke sini. Oh ya, bagaimana hasil duel kalian, Yudai, Tay, dan … anu siapa kamu?”
“Eh?” Zerowolf membalas pertanyaan Beatrice. “Aku Zerowolf, yang menantang Yudai waktu itu! Ingat?”
Yudai secara bersemangat menjawab, “Aku dan Tay menang dalam duel masing-masing!”
“Wah! Hebat! Kalian lulus!” Beatrice kembali girang.
Neu menghela napas. “Syukurlah, Beatrice, setidaknya kamu baik-baik saja. Kamu beruntung bisa menonton duel Sans melawan Dolce.”
“Masalahnya, banyak murid lain di sekitar kita yang ingin menonton,” keluh Tay, “entah mengapa, duel ini paling dinanti. Apa ini efek bahwa Dolce benar-benar lawan yang paling ditakuti?”
“Dolce kan archer, jadi kenapa dia tidak menggunakan busur?” Beatrice memperhatikan Dolce menggenggam sebuah belati alih-alih busur dan membawa quiver berisi panah.
Sans yang telah berdiri di hadapan Dolce, kurang lebih sekitar dua meter, sambil menggenggam belati menelan ludah. Sekali lagi, dia harus melawan profesor petarung terbaik sepanjang masa itu.
Terbayang kembali saat aptitude test bagian akhir. Sans kalah telak ketika Dolce berkali-kali memukulnya hingga pingsan. Perasaan menyayat hati ketika hal itu membuatnya menjadi murid bermantel putih, tanpa job sama sekali.
Kali ini, dia sudah menggenggam erat belati hitamnya. Tidak seperti sebelumnya, bukan pertarungan menggunakan kepalan tangan, melainkan belati kali ini.
“Kamu pasti bisa, Sans!!” Beatrice dan Yudai secara bersamaan menyemangati.
Menoleh pada teman-temannya yang menjadi bagian dari kerumunan penonton dari samping kanan ring, Sans bertekad agar tidak mengecewakan mereka sekali lagi seperti saat aptitude test.
Latihan demi latihan sudah dia alami, baik dalam misi atau latihan bersama. Momen pengujian kemampuan dalam bertarung, hasil latihan selama ini akan terlihat selama melawan Dolce.
Karena Hunt juga menjadi lawan pada salah satu duel putaran ketujuh, Alexandria mengambil posisi untuk memberi aba-aba. “Pertarungan putaran ketujuh—”
Sans mulai mengambil ancang-ancang, menempatkan kaki kiri di depan untuk mempersiapkan akselerasinya. Serang Dolce dan bertahan sekuat tenaga, itu pola pikir selama bertarung.
“—dimulai!”
Kali ini, Sans mulai melangkah sambil mengayunkan belatinya ke belakang, mengunci Dolce sebagai target serangan. Dia melancarkan serangannya dengan mendorong mata belatinya.
Seperti dugaan, Dolce menangkis serangan Sans. Kedua mata belati itu bertubrukan menimbulkan bunyi cukup tajam untuk tiba di pendengaran masing-masing.
Beatrice dan Yudai cukup tertegun betapa ahlinya Dolce dalam menggunakan belati, selain busur dan panah sebagai seorang archer.
Zerowolf berkomentar, “Seperti yang dia bilang sebelumnya, dia juga ahli menggunakan senjata lain selain panah.”
Neu menambah, “Tentunya selain sihir.”
“Tidak heran banyak orang yang takut padanya,” ucap Yudai, “terutama saat aptitude test bagian akhir.”
“Ha!” jerit Sans terus mengayunkan belatinya hanya untuk terus tertangkis.
Dolce pun kembali menangkis setiap ayunan belati Sans cukup mudah. Dia merasa Sans benar-benar berbeda dibandingkan saat aptitude test bagian akhir.
Determinasi seakan terlihat terbakar pada kedua mata Sans. Murid bermantel putih itu ingin melakukan sebaik mungkin untuk lulus dan mengalahkan Dolce.
Kuat dan gigih, kesan pertama Dolce terhadap perkembangan Sans. Dolce telah mengetahui masih terdapat celah di balik serangan dan perkembangan murid bermantel putih itu.
Setiap kali Sans mengayunkan belati menuju target, terutama bahu atau perut Dolce, tetap saja tertangkis.
Dolce akhirnya melampiaskan tenaganya dalam mengayunkan belati. Begitu besar tenaga ayunannya, Sans langsung terdorong langkahnya dalam menangkis serangan itu.
Tidak ada waktu untuk lengah bagi Sans. Motivasinya memicu sebuah semangat membara dalam bertarung dan lulus bagian puncak dari ujian akhir semester. Tenaganya semakin meledak-ledak dalam menyerang.
Dia sudah berlatih sangat keras, termasuk dalam menjalankan misi dari quest board. Dia merasa seluruh teman-temannya, yaitu Beatrice, Yudai, Neu, Tay, dan Sierra, telah memotivasinya untuk tetap berada di akademi, demi menggapai mimpinya.
Oleh karena itu, dia tidak ingin mengecewakan seluruh temannya sekali lagi, apalagi ibunya sendiri. Sang ibu menjadi prioritas utama dalam alasan dia harus menang dan lulus ujian duel.
“Ayo!” jerit Sans mendorong belatinya menggunakan kedua tangan saat sekali lagi Dolce menangkisnya.