
Memang terasa aneh akhir-akhir ini, itu yang dipikirkan Beatrice.
Perempuan ber-sun hat putih itu hanya duduk seorang diri menikmati makan siangnya di kantin, tidak ingin mengajak siapapun dua hari setelah pertengkaran Yudai dan Neu. Kesunyian, sudah sejak lama dirinya hanya seorang diri tanpa teman dekatnya.
Neu pun duduk di hadapan Beatrice, meletakkan baki makan siang di meja. Tanpa memulai percakapan sedikit pun, dirinya berlagak seakan seperti hari biasa, ketika Sans dan Yudai juga ikut.
“Kamu tidak perlu duduk di depanku kalau masih marah,” Beatrice membuka suara, “aku tahu, aku sudah bilang kamu sudah keterlaluan, apalagi tentang Sans dan Yudai.”
“Aku tidak marah padamu.” Neu kembali melahap makan siangnya. “Kamu masih temanku.”
“Aku bahkan tidak bisa bertemu Sans dan Yudai. Mereka sama sekali tidak makan di kantin.”
“Sudah, biarkan saja mereka. Mereka butuh waktu.”
“Neu! Apa kamu masih berpikir seperti kemarin? Apa kamu tidak akan meminta maaf?”
Neu sama sekali tidak menganggapi permintaan Beatrice untuk meminta maaf pada Sans dan Yudai atas perkataannya hari sebelumnya. Terus saja melahap makan siangnya sambil berpura-pura tidak mendengar.
“Lupakan saja.” Beatrice meletakkan garpu dan pisau pada baki di hadapannya, meski makan siangnya masih bersisa cukup banyak.
“Habiskan makannya.”
“Aku … tidak terlalu lapar.”
Belum sempat berdiri, Sierra menghampiri Beatrice dan Neu membawa baki makan siangnya dari samping kiri. Murid priest tersebut memperhatikan masih ada dua tempat kosong di meja tersebut.
“Maaf, bolehkah aku makan siang bersama kalian?”
Neu menganggapi, “Oh. Tentu saja.”
Sierra masih membuang muka pada Neu ketika duduk di samping Beatrice. Dia mulai mengambil satu suap sup sayuran untuk memulai menikmati makan siang.
Neu memahami Sierra masih sungkan menatap wajahnya. Dia ingat kembali ketika dirinya dan Yudai yang menyebabkan murid priest perempuan itu terkena sarang lebah tepat pada kepala, menyebabkan sengatan lebah begitu dahsyat.
Neu beralih perhatian pada Beatrice yang terdiam, menatap makan siangnya sendiri tanpa melakukan apapun. Terlebih, sekali lagi wajah termenung perempuan berambut brunette di hadapannya itu menjadi perhatiannya.
“Beatrice? Apa kamu masih terpikir perbuatanku kemarin di sini?”
Beatrice menggeleng. “Bukan.”
Sierra menebak, “Kamu masih memikirkan yang waktu itu? Tentang ayahmu?”
Neu tercengang ketika mendengar pernyataan Sierra, apalagi mendengar kata ayahmu terlontar dari murid priest tersebut. Dia memalingkan wajah ke kolong meja, tidak pernah mengingat kalau Beatrice pernah bercerita hal detail tentang ayahnya.
Neu hanya mengingat Beatrice hanya kabur dari rumah demi belajar di Akademi Lorelei. Dia sama sekali tidak pernah mendengar lebih jauh tentang kondisi keluarga Beatrice.
Neu mendadak terlintas sebuah kilas balik di dalam benaknya. Beatrice sempat termenung sepulang dari kunjungan murid tahun pertama di Silvarion. Dia menyimpulkan telah terjadi sesuatu pada keluarga Beatrice, terutama sang ayah.
Beatrice tidak pernah bercerita lebih jauh tentang masa lalunya pada Neu, apalagi Sans dan Yudai. Terlebih, memperhatikan ekspresi Beatrice semenjak bertemu dengan seseorang tepat setelah tiba di akademi sepulang dari Silvarion, pasti sesuatu telah terjadi padanya.
Neu memutuskan untuk meminta penjelasan. “Beatrice, ayahmu kenapa?”
Menyadari bahwa Sierra secara spontan bertanya, Beatrice kehabisan kata-kata ketika Neu mendengar.
“Tidak apa-apa. Kamu bisa bilang padaku.”
Sierra menoleh pada Neu. “Kamu belum tahu? Padahal kalian ini teman dekat. Aku sering melihat kalian bersama, apalagi dengan Sans dan si pemanah alis melengkung itu.”
“Belum.” Neu menggeleng.
Beatrice menundukkan kepala sekali lagi. “Maafkan aku, Neu. Aku seharusnya bilang ini pada kalian, padamu, Sans, dan Yudai. Aku … waktu itu belum siap untuk menceritakan semuanya, yang terjadi ketika aku terpisah dengan kalian di Silvarion.”
“Sudah. Aku ingin tahu apa yang terjadi waktu itu? Apa saja yang sudah kamu ceritakan pada Sierra?” Neu meminta.
“Neu. Aku juga menceritakan bagaimana keadaanku di rumah pada Sierra, kamu belum tahu bagaimana rasanya aku selama di sana.”
Beatrice akhirnya bercerita mulai ketika dia dijodohkan dengan Earth atas permintaan sang ibu. Dia sama sekali tidak memberitahu bahwa Earth juga merupakan murid Akademi Lorelei. Hal itu menjadi bukti bahwa sang ibu mengambil alih kekuasaan akan keluarga dan dirinya.
Beatrice hanya ingin menjadi perempuan mandiri tanpa terkekang oleh aturan orangtua. Dia memiliki impian untuk pergi ke dunia luar agar dapat melihat segalanya. Akan tetapi, impiannya hampir hancur ketika sang ibu memaksa untuk menjadi perempuan bangsawan layak.
Neu pun juga mengetahui di balik keberhasilan Beatrice melarikan diri dari rumah, yaitu sang ayah dan Teruna, pelayan pribadinya. Mengikuti pesan sang ayah, Beatrice pun akhirnya dapat belajar di Akademi Lorelei, meski tidak pernah menyangka bahwa song mage jadi job-nya.
Beralih ketika di Silvarion, yaitu saat Beatrice mendadak “menghilang” saat bersama Sans, Yudai, dan Neu. Seorang pelayan keluarga, Oya, memintanya untuk pulang ke rumah. Begitu menolak, dia diminta untuk mendapatkan air mata phoenix.
Alasan Oya meminta Beatrice mendapat air mata phoenix terungkap ketika Teruna mengunjungi akademi, mengungkapkan sang ayah jatuh sakit. Penyakit tersebut benar-benar langka dan sulit disembuhkan.
“Jadi begitu,” respon Neu terhadap cerita Beatrice, “aku turut prihatin atas ayahmu. Itulah mengapa kamu bersedih setelah kita tiba dari Silvarion kembali ke akademi.”
“Aku sama sekali belum terpikir untuk mencari phoenix. Sudah cukup lama semenjak Oya dan Teruna memintaku, tapi aku belum melakukan apapun.”
Neu memberi usul, “Baik. Kita akan mencari phoenix, kita ambil air matanya, lalu kalau Oya atau Teruna datang ke akademi, kita serahkan, lalu ayahmu akan sembuh.”
“Neu.”
“Aku cari tempat keberadaan phoenix di perpustakaan dulu. Besok, kita bisa mulai pergi ke sana.”
Sierra menambah, “Maaf. Apa aku boleh ikut kalian? Ini demi ayahnya Beatrice. Aku ingin membantu Beatrice mendapat air mata phoenix.”
“Eh?” Neu melongo.
“Boleh. Justru lebih bagus. Sebenarnya aku terpikir untuk mengajak Yudai dan Sans juga—” Beatrice menyetujui.
Neu merasa tertekan ketika mendengar Beatrice menyebutkan nama Sans dan Yudai. Dia tidak akan nyaman jika harus bekerja sama dengan mereka berdua untuk mengambil air mata phoenix.
“—tapi sebaiknya kita butuh waktu untuk mengembalikan pertemanan kita. Kalau kita mengajak mereka berdua sekarang, bisa kacau. Padahal aku ingin kami berempat yang ke sana.”
“Usahakan kita berangkat saat fajar,” tambah Neu, “sepertinya butuh perjalanan cukup lama untuk ke sana.”
“Baik,” ucap Beatrice.
***
Karena tidak ada hal yang harus dilakukan, terutama kelas atau misi, keputusan Beatrice sudah ditentukan. Nyanyian spontannya membuktikan bahwa dia akan berlatih lagu song mage di sekitar halaman kastil akademi.
“Beatrice!”
Beatrice menghentikan langkah dan nyanyian spontan, menoleh ke belakang, masih berada di anak tangga. Tidak disangka, Sans dan Yudai tengah menemuinya, meski hubungan pertemanan tengah renggang karena pernyataan Neu.
“Ka-kalian berdua—"
Yudai langsung bertanya, “Anu, Beatrice. Apa besok kamu ada waktu luang?”
“Aku dan Yudai ingin melakukan misi bersama-sama,” ucap Sans.
Yudai menambah, “Sebenarnya, kami yang membuat misinya, kami ingin melakukan sebuah ekspedisi. Apa kamu mau ikut?”
“E-ekspedisi?” ulang Beatrice.
“Benar!” jawab Yudai bersemangat. “Sans ingin mencari sesuatu yang baru. Cukup bosan kalau kita hanya menjalankan misi dari quest board.”
Beatrice membuang napas, tidak menyangka bahwa Sans dan Yudai akan menemuinya dua hari setelah pernyataan Neu di kantin. Sebenarnya, dia ingin mengajak mereka untuk ikut mencari phoenix dan mendapatkan air mata burung tersebut.
Mendengar Sans dan Yudai memiliki rencana lain, Beatrice mengurungkan niat untuk bertanya.
“Ma-maaf, besok aku juga ada urusan,” Beatrice menjawab pertanyaan Sans dan Yudai.
“E-eh?” Yudai melongo.
“Jadi begitu,” respon Sans.
“Oh ya, kalian tidak makan siang di kantin? Apa karena Neu berkata yang tidak-tidak dua hari yang lalu?” Beatrice bertanya. “Yudai, kamu belum berbicara padanya akhir-akhir ini.”
Yudai melipat kedua tangan di dada. “Kami berdua baru saja dari perpustakaan, dan itulah mengapa kami akan pergi untuk mencari sesuatu besok. Kalau soal Neu, aku … jujur saja, lebih baik aku tidak berbicara padanya dulu. Kalau seseorang sedang marah, lebih baik jauhi saja dulu sebelum tekanannya reda.”
“Begitu rupanya. Mungkin Neu ingin meminta maaf padamu, Yudai, terutama setelah dia membicarakan bahwa Sans tidak punya harapan.”
Sans merendahkan kepala, kembali termenung dengan perkataan Neu terhadapnya. Beatrice pun tercengang memperhatikan wajah lesu laki-laki bermantel putih itu.
. “E-eh? Maafkan aku, Sans, aku tidak sanggup menghentikan perkataannya waktu kamu tidak ada.”
Sans merespon dan mengangkat kepalanya, “Aku juga sudah dengar semuanya dari Yudai. Wajar dia berbicara begitu tentang diriku.”
“A-anu, Yudai, sebaiknya kamu berbicara pada Neu, sekaligus mengajaknya mungkin, dan juga dia ingin meminta maaf pada kalian berdua.”
“Ta-tapi—”
“Ah! Aku ke halaman depan dulu untuk berlatih nyanyianku. Aku permisi ya!”
Beatrice pun menuruni tangga menuju lantai dasar begitu pamit. Sans dan Yudai terdiam menatap perempuan bertopi putih itu berlari mengiringi ruang depan kastil akademi, mencuri perhatian berbagai murid lain di sana.
Beatrice sama sekali tidak memedulikan perhatian murid lain, dia justru kembali spontan bernyanyi menyebarkan senyuman cerah sebagai representasi kebahagiaan. Berpikir positif, baginya, itu yang akan membuat berhasil, terutama mendapat air mata phoenix demi sang ayah.
***
Diletakkannya buku berjudul Makhluk-Makhluk Langka dan Lokasi Mereka di meja hadapannya, Neu terlebih dahulu melihat deretan lembar halaman yang cukup banyak hingga membuat buku tersebut tebal.
Dibukanya terlebih dahulu bagian daftar isi buku tersebut, tulisan “Phoenix” langsung terlihat di depan mata di antara deretan judul bab. Cukup mudah bagi Neu untuk membaca cepat bagian daftar isi tersebut, maka dia langsung memindah menuju halaman bab tersebut.
Beberapa tulisan dia lewati dengan cepat semenjak. Neu hanya mengincar lokasi keberadaan Phoenix. dia sudah tahu ciri khas dari burung langka tersebut semenjak dia sering membaca beberapa buku yang kebetulan membahasnya. Akan cukup mudah baginya untuk mengidentifikasi seekor phoenix.
Neu menguatkan niat untuk membantu teman sejak masa kecilnya, Beatrice, untuk mengambil air mata phoenix. Maka, begitu dia mencapai subbab lokasi keberadaan phoenix, setiap huruf, kata, kalimat, frasa, dan paragraf terserap sebagai pemahaman. Dia menemukan salah satu lokasi phoenix, yakni di gunung berapi di barat laut benua Aiswalt, meski memperkirakan perjalanan menuju ke sana memakan waktu cukup lama.
Memahami lokasi keberadaan Phoenix, Neu akhirnya menyimpulkan dan memutuskan. Memang dirinya, Beatrice, dan Sierra harus meninggalkan akademi pada esok fajar. Jika berangkat siang, pasti mereka akan kembali ke akademi pada larut malam, melewati batas jam malam. Peluang kembali ke akademi pada sore hari akan melebar jika berangkat pada fajar
Neu menutup buku tebal tersebut perlahan, bangkit dan mengambilnya. Cukup berat ketika dia membawa kembali pada rak lokasi buku tersebut.
Bagi Neu, dia tidak heran bahwa pengunjung perpustakaan tersebut sering melihatnya, semenjak dirinya sering berkunjung untuk membaca. Bahkan, beberapa murid perempuan terpana dengan “kesempurnaan” yang dimilikinya, pintar, kritis, sering membaca buku, pandai menggunakan sihir, dan penampilan menawan, apalagi memakai kacamata menambah kharisma yang dimiliki.
Neu hanya melengkungkan senyuman ketika beberapa murid perempuan menyapanya sambil malu-malu kucing, baik itu di perpustakaan, di ruang depan gedung asrama, di kantin, atau di kedai roti.
***
“Aku menemukan lokasinya!” Neu menemui Beatrice ketika tiba di ruang depan asrama.
Beatrice hanya sedang terdiam, duduk di sofa di hadapan perapian. Perasaannya campur aduk, tegang dan termenung. Jika dia sudah menemukan air mata phoenix, mau tidak mau dia harus kembali ke kampung halamannya demi menyembuhkan sang ayah. Dia tentu tidak ingin kembali ke rumah, melainkan tetap berada di Akademi Lorelei, yang telah dianggap sebagai rumah sendiri.
Beatrice menoleh pada Neu yang mengungkapkan ada kabar baik, terutama tentang keberadaan phoenix. Tidak perlu ke benua Riswein atau Grindelr yang menghabiskan banyak waktu, apalagi ketika semester ajaran sedang berlangsung.
Beatrice merasa lega. “Syukurlah. Setidaknya phoenix ada di benua Aiswalt.”
“Benar.”
Beatrice bangkit menatap Neu. “Aku tidak tahu apa aku harus kembali ke rumah atau menunggu Oya atau Teruna, untuk memberi air mata phoenix.” Mendadak, Beatrice terpicu akan sesuatu yang penting. “Oh ya! Botolnya! Kita harus—”
“Aku sudah membelinya di sebuah toko.” Neu menunjukkan sebuah botol kecil bertutup gabus. “Kita simpan beberapa tetes air mata phoenix di botol ini, lalu kamu bisa memberikannya pada pelayanmu, jika mereka datang ke akademi ini.”
Beatrice mendesah lega. “Baiklah. Bagaimana kita dapat mengeluarkan air mata dari phoenix?”
Neu terdiam, menyadari bahwa dia tidak membaca cara mengeluarkan air mata dari phoenix. Dia menampar dahi sambil menggeleng khusyu.
“Kenapa?”
Neu mengungkapkan kebohongan, “A-aku tidak menemukan bagian yang itu. Akan lebih baik kita mengetahuinya sendiri.”
“Ta-tapi kita tidak tahu bagaimana caranya.”
“Akan lebih baik kita belajar sendiri. Sebaiknya kamu tidur cepat, besok akan menjadi hari yang panjang, cukup panjang.”
Beatrice kembali mendesah, tidak mengetahui cara mendapat air mata phoenix dapat menjadi kabar buruk. Langkah awal, menemukan lokasi keberadaan phoenix, sudah menjadi kabar baik baginya, sedikit.