Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 106



“Melelahkan sekali!!”


Yudai mengangkat kedua tangan ketika menaiki tangga dari ruang depan kastel, turut mengikuti murid tahun pertama lain.


“Syukurlah kamu bisa berpuas-puas diri menikmati setiap makanan di bazaar bersama Zerowolf.” Beatrice melebarkan senyumannya ketika mengikuti Yudai dan Sans untuk berbelok setelah melewati tangga.


“Tapi kamu dan Zerowolf benar-benar hebat bisa menjadi yang pertama menemukan dan mengidentifikasi tiga profesor itu,” ujar Sans.


Yudai menyeringai pelan. “Ya, kami berdua cukup kompetitif. Begitu aku bilang kita bisa makan sepuasnya setelah tugas stage ketiga selesai, Zerowolf langsung bersemangat. Sayang sekali dia ingin bersaing denganku lagi sebelum kembali ke sini.”


“Untung saja Hunt memberi kita libur sehari untuk memikirkan stage keempat. Menyelesaikan tugas tiga stage Festival Melzronta sudah membuatku agak pegal.” Sans menghirup napas lega.


“Ah!” Beatrice berhenti melangkah. “A-anu … Sans, Yudai … karena kita kebetulan sedang bertiga, apa … kalian ingin sekelompok denganku?”


Sans dan Yudai membeku sejenak, saling menatap ketika lamban dalam merespon usul Beatrice.


Beatrice mulai panik, bahkan cukup menarik perhatian beberapa murid yang ikut berjalan di selasar.


“A-a-a-anu, anu, stage keempat kan kita bebas memilih kelompok beranggotakan tiga orang. Ja-jadi saat di aula mendengar pengumuman dari Profesor Hunt, memang kebetulan aku berada di dekat kalian. Te-terus … a-aku te-terpikir untuk satu kelompok dengan kalian untuk stage keempat!”


“Be-benarkah!” Yudai memotong ketika berbalik dengan mata bagai bertabur bintang. “Aku juga terpikir seperti itu!”


Sans tersenyum lebar, menyetujui usul Beatrice dan Yudai.


“Nah! Dalam dua hari ke depan—” Yudai mengangkat kedua tangannya lagi, kali ini terkepal. “—kita bertiga akan menyelesaikan tugas stage keempat bersama!”


“Ya!” balas Beatrice.


“A-anu—” Sans menoleh perhatian murid lain yang tertuju pada mereka.


***


Bagi Neu, kelelahan yang ia dapatkan hingga stage ketiga sebanyak dua, bukan, tiga kali lipat. Pertama, tiga stage berturut-turut membuatnya lelah harus melangkah, entah itu lari atau hanya sekadar jalan. Kedua, pertengkaran antara dirinya dan Tay tidak pernah berhenti, apalagi seirng sekali harus berurusan dengan rival bebuyutannya itu.


Ketiga, lebih buruk lagi, masalah terbesar di kamarnya. Cherie, familiar peri miliknya, tidak melakukan apapun selain terlelap dalam mimpi di atas meja.


Masam, wajah Neu saat kerepotan menghadapi kelelahan tiga kali lipat daripada murid lain. Matanya agak berkedut dan terkadang sering menyipit. Dagunya juga bertumpu pada tumpukan lengan.


Menoleh ke belakang, dapat ia lihat Tay hanya berbaring di kasur tanpa berkomentar apapun tentang dirinya atau Cherie. Silent treatment, entah lebih baik, ia tidak perlu bertengkar ketika berada di kamar untuk melepas rasa penat.


“Seandainya saja kamu bisa menunjukkan kekuatanmu secepat mungkin, Cherie,” Neu membuka suara, “aku akan lebih bahagia daripada sekarang. Kekuatanmu mungkin mencerahkanku saat lelah. Tapi kamu kerjanya hanya tidur, lalu aku harus apa untuk tahu hal itu? Membangunkanmu sudah sulit.”


Neu menghela napas. Ia sudah kehabisan akal untuk berurusan dengan segala masalah selama di Akademi Lorelei. Tidak cukup untuk sekadar pintar dan rajin membaca buku, tantangan lain, terlibat dalam masalah oleh teman sekamarnya sendiri itu.


Ia berharap tidak lagi dekat dengan Tay selama stage keempat berlangsung. Mungkin ia lebih cocok kalau satu kelompok dengan Beatrice dalam mengerjakan tugas tersebut.


Semua orang tahu, Tay dan Neu bekerja sama dalam satu kelompok sama dengan bencana. Sering terjadi saat menjalankan misi dari quest board bersama keempat teman dekat lainnya.


Pikirnya, andai saja ia tidak terpicu oleh perang makanan Tay, tidak mungkin hidupnya di akademi semenderita saat itu. Terlebih, Familiar yang lebih berguna dan mampu langsung menunjukkan sebuah kekuatan daripada Cherie juga turut membuat bahagia.


Ia bangkit dari meja berpaling dari Cherie. Sudah lelah memikirkan seluruh tantangan dari tugas selama Festival Melzronta, tidur di kasur menjadi jawaban sementara. Ingin sekali saja ia tidak harus bersama Neu lagi dalam stage keempat.


Masalah demi masalah kerap menumpuk di dalam benaknya. Sungguh ironis bahwa Festival Melzronta merupakan kesempatannya untuk bersenang-senang.


***


Memasuki lounge room pada esok hari, tidak heran lagi Neu mendapati para murid lainnya satu per satu mulai bertanya untuk mencari anggota kelompok. Dapat terdengar cukup banyak yang sepakat dan dengan mudah, semenjak menurutnya memang teman satu kamar dan paling dekat di kelas dapat terpilih.


Merenungi nasibnya, tidak mungkin ia sekali lagi satu kelompok dengan Tay, “teman” sekamar sekaligus musuh bebuyutannya itu. Menoleh pada masing-masing murid di sekitar lounge room, tidak sedikit pula yang merupakan murid tahun pertama sama sepertinya.


“Neu.” Suara Beatrice terdengar dari belakangnya.


Neu menoleh ke arah dua tangga, menyapa Beatrice, “Hai. Um—” Ia langsung pada tujuannya. “—kamu mau tidak bekerja sama denganku di stage keempat besok?”


“Beatrice!” sahut Yudai berlari menuruni tangga asrama laki-laki dengan Sans. “Siap untuk pergi?”


Terpicu! Melihat Sans dan Yudai menemui Beatrice membuat Neu menyadari suatu hal. Ketiganya telah membentuk kelompok lebih awal dari perkiraannya.


“Maaf ya, Neu. Aku sudah satu kelompok dengan Sans dan Yudai,” Beatrice hanya tersenyum menganggapi.


“Oh, Neu.” Sans menghentikan langkahnya. “Belum dapat kelompok?”


“Ka-kalian cepat sekali.” Neu membeku.


Tanpa pamit dan melihat betapa cepat sekali hampir seluruh murid di lounge room mendapat kelompok, ia memutuskan untuk keluar dari gedung asrama terlebih dahulu.


Yudai berkomentar, “Uh, dia belum tanya pada Tay, kan?”


“Tidak tahu,” ucap Sans.


***


“Spicy tofu! Itu yang akan kita jual!”


Ide dari Yudai menggetarkan bulu kuduk. Itu yang dirasakan Sans dan Beatrice saat pertemuan di salah satu meja di kantin.


“Spi-spicy tofu??” Ingatan tentang rasa menu tersebut terpicu pada benak Beatrice. Kuah merah kecokelatan bagai cairan lava kecuali dengan topping tahu dan pedas menggelegar hingga membakar lidah dan perut.


“A-apa ideku terlalu tidak wajar?” Yudai membela diri sampai kewalahan.


“Um, mungkin spicy tofu bukan ide yang bagus untuk pengunjung,” tanggap Sans.


Beatrice mengangkat tangannya. “Anu … sebaiknya kita jual vyness caviar. Aku ingin membuatnya!”


“Oh!” Yudai mulai bersemangat ketika ingatannya terpicu. “Vyness caviar yang di kedai roti itu, kan? Aku dan Zerowolf sempat mencicipinya. Benar-benar lezat, jadi ingat saat kecil—“


“Tu-tunggu dulu,” Sans memotong, “pikirkan matang-matang dulu. Vyness caviar kan harganya cukup spesial daripada menu lain. Bahannya terutama caviar—”


Yudai menepuk pundak Sans di sampingnya. “Jangan khawatir. Pihak akademi menanggung biaya bahan makanannya, lagipula tepung dan bumbu sudah tersedia di pantry kantin juga.”


“Vyness caviar ya?” Zerowolf menghampiri Yudai dan Sans dari belakang, mengagetkan Beatrice.


Yudai dan Sans menoleh mendengar Zerowolf, cukup tertegun apalagi melihat Sandee dan Katherine juga telah tiba.


“Ze-Zerowolf?”


“Lho? Sandee? Kamu juga kenal Zerowolf?” sapa Beatrice.


Seperti biasa, Katherine melirik pada Yudai. Pipinya kembali merona saat melihat tepat pada mata, ingin sekali berbicara, tetapi malu, sangat malu, menghalangi dirinya.


Sandee memalingkan wajah. “A-aku tiba-tiba saja ditanya untuk satu kelompok dengannya.”


Zerowolf melanjutkan, “Tepat, kebetulan kita bertemu saat stage kedua Festival Melzronta, lalu—”


“Jangan dibahas lagi!” jerit Sandee malu.


Zerowolf mengacungkan telunjuk pada Yudai. “Baiklah, persaingan kita di Festival Melzronta belum usai! Aku juga akan membuat vyness caviar sama sepertimu, kita akan bertanding siapa yang berhasil menjualnya paling banyak!”


Yudai menyeringai berunjuk gigi. “Baiklah, aku terima tantanganmu!”


Kedua anggota lain dari masing-masing kelompok terdiam mendengar pernyataan Yudai dan Zerowolf. Memang tidak ada lagi yang mampu menghentikan kedua saingan itu semenjak pernyataan saling bersaing semenjak stage pertama.


“Wah ….” Lana memasang wajah tidak bersalahnya ketika menghampiri kedua kelompok. “Vyness caviar ya? Aku jadi iri dengan semangat kalian berdua.”


“La-Lana! Jangan meniru gayaku!” jerit Zerowolf.


“Zerowolf.” Giliran Riri yang menghampiri Zerowolf, menghela napas sambil menundukkan kepala. “Memangnya kamu ini otak udang?”


Sans menebak, “Ka-kalian berdua … jangan bilang mau berjualan vyness caviar juga?”


Lana tertawa geli. “Tentu saja tidak, Kakak. Kelompokku akan berjualan crepe. Kebetulan Riri dan Ruka teman sekelompokku.”


“Semalam, awalnya aku ingin mengajak Katherine, tapi dia sudah satu kelompok dengan Zerowolf dan Sandee,” Riri menambah informasi yang tidak perlu.


Katherine mengangkat kedua tangannya. “Ma-maaf, Ri-Riri.”


***


“Maaf, kelompok kami sudah ada tiga orang.”


“Jangan, katanya Johnson mau ikut.”


“Sudah penuh, he he ….”


Itulah contoh jawaban penolakan dari setiap murid yang telah Neu kunjungi. Mulai dari lounge room gedung asrama, selasar, ruang depan kastel akademi, hingga taman halaman depan, kerap sekali ia tidak mencapai tujuannya.


Neu menghela napas ketika kembali ke selasar setelah tidak ada satupun murid tahun pertama yang juga belum dapat kelompok atau menolak dirinya. Ia tidak mengerti mengapa dirinya tidak menjadi pilihan pertama dalam membentuk kelompok beranggotakan tiga orang.


Apakah karena ia benar-benar pintar? Apakah ia sekadar sok pamer? Apakah karena reputasinya semenjak pertengkarannya dengan Tay?


Berbagai pertanyaan seakan tersesat di dalam benak Neu. Tetapi, alih-alih menjawab beberapa pertanyaan itu, satu-satunya hal yang ia harus lakukan hanyalah mencari kelompok.


“Ah. Neu, kebetulan sekali,” sahut Sierra saat ia tengah berbelok.


“Hei, Sierra,” sapa Neu.


“Anu, sepertinya hanya kamu yang tersisa.”


“Apa maksudmu?”


“Tidak kusangka, kamu jadi pilihan terakhir dalam kelompokku. Hanya tinggal satu orang lagi, murid tingkat pertama.”


Neu akhirnya dapat bernapas lega.


“Baiklah, Sierra. Aku masuk kelompokmu. Omong-omong, siapa anggota satu lagi?”


***


Sungguh tidak bisa dipercaya! Itulah yang dipikirkan Neu begitu mengetahui anggota terakhir dari kelompok Sierra. Tentunya dia adalah orang terakhir dan sama sekali tidak ingin sekelompok dengannya sama sekali, yaitu Tay!


Tay juga tentu tidak mau satu kelompok dengan Neu. Sierra sudah menduga hal ini akan terjadi. Adu mulut pun meledak ketika sesi diskusi di dekat jembatan halaman akademi.


Ketenangan dari suara aliran air sungai dan embusan angin pada daun pohon beserta bergoyangnya berbagai jenis bunga di sekitar harus rela terganggu oleh suara keras adu mulut. Seharusnya selama diskusi dapat terbantu oleh ketenangan, itulah mengapa kelompok lain mencari tempat yang lebih damai.


Sierra memotong adu mulut tersebut, “Aku tahu kalian sering bertengkar saat kita sering bertemu. Sekarang, kita tentukan kita ingin menjual apa untuk bazaar besok.”


Neu mengacungkan telunjuk pada Tay. “Selama dia tidak seenaknya sendiri, kita pasti akan baik-baik saja dalam stage keempat!”


“Ya, bagus sekali, Mata Empat sok pintar, paling tidak kamu akan memilih menu yang tidak akan laku.”


“Kalau menu usulanku tidak akan laku, kenapa kamu tidak beri usul saja, Tay!”


“Kubilang, Mata Empat, bekerja denganmu sama dengan bencana, ben-ca-na, persis saat kita jadi teman sekamar!”


“Apa hubungannya!”


Sierra kini menyadari ia berada di sebuah tumpangan berbahaya, tanpa Sans, Beatrice, dan Yudai. Menyaksikan Tay dan Neu beraksi sudah cukup menjadi bencana sebelum memulai stage keempat.


***


Seluruh murid mulai meninggalkan akademi pada pagi buta hari kelima Festival Melzronta. Itu karena mereka melakukan hal paling utama dalam stage keempat, yaitu membuat stand makanan sendiri berkelompok sebanyak tiga orang dari matahari mulai matahari mulai naik ke langit hingga senja.


Papan nama ketua kelompok telah terpampang di masing-masing stand yang telah tersedia dan terpakai selama empat hari berturut-turut. Stand tersebut menjadi lokasi kelompok yang bersangkutan selama stage keempat berlangsung.


Berbagai bahan makanan dari pantry kantin diantar pada masing-masing stand kelompok berdasarkan kebutuhan masing-masing menu makanan oleh staf akademi. Bahkan beberapa bahan khusus dan alat memasak pun diantar oleh sang penjual atas suruhan dari akademi.


Dengan begitu, seluruh kelompok dapat melakukan persiapan. Pengolahan bahan makanan mentah dan segar menjadi makanan olahan memang butuh waktu, tetapi tidak ada alasan untuk belum siap saat pengunjung mulai beraktivitas di kota dalam bazaar hari kelima.


Segala penjuru jalan di kota telah penuh dengan deretan stand saling berhadapan, mulai dari dekat area pantai, perbatasan antara kota dan hutan, perbatasan akademi, hingga tempat yang menjadi pusat selama Festival Melzronta berlangsung, alun-alun.


Alun-alun juga menjadi pusat persaingan antara dua kelompok. Pertama, kedua kelompok itu menjual menu yang sama persis. Kedua, stand masing-masing tepat saling berhadapan di pusat alun-alun. Ketiga, mereka sengaja memberitahu staf panitia saat menyerahkan formulir kelompok berisi kebutuhan bahan dan alat bahwa mereka sengaja memilih tempat tersebut. Tidak mengherankan hal ini sering sekali terjadi selama stage keempat.


Siapa lagi kalau bukan kelompok Yudai dan kelompok Zerowolf yang sama-sama menjual vyness caviar. Mereka menjadi perbincangan hangat pada murid di pusat alun-alun selama persiapan untuk bazaar. Mulai dari menerima caviar dari supplier hingga proses memasak.


Semangat kedua belah kubu sangat menggelora, terutama dari sang “ketua” yang berniat untuk saling bersaing.


Bagaimana dengan kelompok Riri?


“Tidak, terima kasih. Lebih baik pakaianku kotor karena darah.”


Ruka tidak melakukan apapun selain berdiri melirik Riri dan Lana mengaduk adonan tepung, telur, dan gula hingga mengental. Kecepatan putaran genggaman alat pengocok tentu membutuhkan tenaga lebih karena akan ada banyak pengunjung.


“Daripada mengeluh, cepat bantu kami!” bentak Riri meledak.


“Tenagaku juga cepat terkuras karena tidak sekelompok dengan Kakak ….” Giliran Lana mengutarakan keluhannya saat kecepatan mengocok adonan kalah dari Riri. “Stand kelompok Kakak di alun-alun, sementara kita … berada tepat di dekat monumen dan toko blacksmith, lalu—”


“Berhentilah mengeluh!” Lagi-lagi Riri membentak. “Kita kerahkan kemampuan kita untuk membuat crepe yang enak! Dan Ruka, tersenyumlah.”


“Tersenyum—” Ruka melakukan pose melirik tajam, seakan kegelapan telah mengambil alih. “—bagaimana kalau aku bilang tidak mau.”


“Justru kamu menakuti para pembeli!”


Riri menggeleng khusyuk menyaksikan kelakuan kedua rekan perempuannya itu.


Lalu … kelompok Sierra, Tay, dan Neu? Mereka mendapat tempat di dekat perbatasan menuju akademi.


Seperti dugaan Sierra, selaku “ketua” kelompok, persiapan mereka diwarnai oleh pertengkaran antara Tay dan Neu. Ia menjadi satu-satunya orang yang sibuk dalam proses pengolahan bahan, itu pun kecepatannya sangat lamban.


“Salahmu kita dapat tempat yang dreadful seperti ini!”


“Masih saja menyalahkanku soal ini, Tay! Siapa juga yang memperlambat pendaftaran kita hingga saat-saat terakhir!”


Sierra menghela napas sambil membusungkan kepala. “Ini mimpi buruk sekaligus kenyataan.”