
“Apaaaaa! Kau membunuh Komandan Jing Han?” Hakim tertinggi Kota Yunzun terkejut mendengar laporan Petugas Pengadilan dan langsung bertanya pada Zhao Jian apakah itu benar, dan dengan santai Zhao Jian membenarkan laporan itu.
“Yang kulakukan itu sudah di jalur yang benar dan sesuai dengan instruksi Kaisar!” Zhao Jian sengaja membawa nama Kaisar agar dirinya tidak disalahkan. “Hakim Jiang Feilong tak perlu tegang begitu, aku akan bertanggungjawab bila ada pihak yang keberatan dengan keputusan itu!”
Hakim Jiang Feilong mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Zhao Jian. “Kamu harus bertindak hati-hati Hakim Jian, walaupun Kekaisaran ini terlihat kuat. Namun, di dalamnya sebenarnya sangat rapuh dan penuh intrik-intrik yang dapat membuat kepalamu terpenggal!” sahutnya. “Anggap saja Kaisar Jiang Long menjadi tamengmu, akan tetapi bila ada Ranah Paramita atau Ranah Saint yang tersinggung oleh ulahmu dan membunuhmu secara diam-diam apakah kamu masih bisa mengatakan Kaisar Jiang Long dapat melindungimu?”
Hakim Jiang Feilong menasehati Zhao Jian, ia merasa kepalanya terasa sangat pusing karena Jenderal Jing Mu pasti akan meminta pertanggungjawaban padanya—bukan pada Hakim muda yang naif dan impulsif ini.
“Sebagai seniormu aku hanya bisa mengingatkan saja dan berpesan jangan terlalu sering menggunakan Kitab Keadilan-mu dan lakukan sidang di pengadilan saja setelah melalui pemeriksaan Petugas Pengadilan!” kata Hakim Jiang Long sembari menepuk pundak Zhao Jian dan meninggalkan Zhao Jian sendirian di ruangan kerja yang baru saja disiapkan untuknya.
Sebenarnya Zhao Jian berbeda dengan Hakim lain yang memiliki wilayah kerja yang terbatas—karena di tiap-tiap Kota itu ada gedung Pengadilan dan mereka itu dibawah pimpinan Hakim Agung yang setara dengan menteri.
Sementara Zhao Jian adalah Hakim khusus yang mendapat mandat khusus dari Kaisar Jiang Long dan dapat melakukan sidang terhadap terdakwa di manapun ia berada, serta berhak menggunakan fasilitas Pengadilan termasuk mengerahkan Petugas Pengadilan.
“Ranah Saint? Ha-ha-ha... kalau hanya satu orang saja, aku dan Violet sudah cukup untuk menaklukkannya, sedangkan Ranah Paramita itu hanya ada Tiga di Kekaisaran Jiang ini, dan mereka adalah Patriark Sekte besar dan salah satunya adalah Patriark Sekte Pedang Abadiku,” gumam Zhao Jian. “Kalau aku tidak mempermalukan mereka maka mereka tidak mungkin akan turun tangan untuk membunuhku!” pikirnya lagi dan akan tetap berpegang teguh pada prinsip Keadilan Mutlaknya.
Zhao Jian keluar dari ruangannya dan para Petugas Pengadilan segera menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat padanya.
Zhao Jian hanya mengangguk pelan saja dan menebar senyum hangat, berbeda dengan para Hakim senior lainnya yang selalu memancarkan ekspresi wajah serius.
Zhao Jian menuju ruangan besar tempat ruang kerja Petugas Pengadilan.
Para Petugas Pengadilan yang ada di sana menatap Zhao Jian dengan santai, akan tetapi sesaat kemudian—saat mereka menyadari Jubah yang ia kenakan adalah Jubah Hakim, mereka langsung berdiri dan menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
“Siapa saja yang belum mendapatkan tugas saat ini?” Zhao Jian bertanya pada mereka.
“Aku Hakim Jian!” sahut Petugas Pengadilan magang yang terlihat seusia dengan Zhao Jian.
“Siapa lagi?” tanya Zhao Jian karena Petugas Pengadilan magang itu tidak memiliki fluktuasi energi spritual di meridian-nya, Zhao Jian takut bila mengirimnya sendirian untuk menangkap para preman maka ia akan dihajar hingga babak belur oleh para preman itu.
Tidak ada yang mengangkat tangan padahal ada Puluhan Petugas Pengadilan di sana dan mereka terlihat tidak melakukan pekerjaan apapun.
“Eeeeeeeee... kejam sekali Hakim baru itu!” gerutu salah satu Petugas Pengadilan setelah Zhao Jian pergi.
“Ayo kita laksanakan saja, apakah kalian tidak tahu dia adalah Hakim gila yang bahkan berani memenggal kepala Komandan militer. Hukuman yang ia berikan bila kita gagal menjalankan tugas itu masihlah ringan, karena kita hanya mendapat cambukan saja!” sahut Petugas Pengadilan yang lebih senior sembari melihat tugas apa yang akan mereka kerjakan.
“Tapi bila ia menggunakan Energi Spritual Ranah Tianzun saat mencambuk kita maka kita mungkin akan menderita juga!” sahut Petugas Pengadilan wanita yang baru resmi menjadi Petugas Pengadilan.
Rekan-rekannya langsung mengerutkan kening dan menelan ludah, karena mereka teringat kalau basis Kultivasi Hakim muda itu ternyata Ranah Tianzun, sementara mereka hanya Ranah Spirit saja.
Mereka segera berhamburan dari ruangan itu untuk segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Zhao Jian, mereka tidak ingin dicambuk olehnya karena Zhao Jian pasti akan mencambuk mereka hingga merasakan sakit yang tiada tara.
...***...
Zhao Jian hendak masuk lagi ke ruangannya, tetapi tiba-tiba dihadang oleh Hakim senior yang merupakan Pria berusia Lima Puluhan tahun. Wajahnya tampak sangat kesal dan menatap Zhao Jian dengan tatapan tajam penuh dengan Niat membunuh.
“Zhao Jian! Kenapa kamu membunuh Komandan Jing Han? Seharusnya hanya Pengadilan Militer saja yang dapat memvonis hukuman untuknya, anak bau kencur sepertimu berani sekali melanggar konstitusi yang berlaku dan menerapkan aturan seenaknya saja!” bentak Hakim senior itu.
Zhao Jian langsung berasumsi kalau Hakim ini mungkin berasal dari Klan Jing atau selama ini mendapat suap dari Jing Han agar semua kejahatannya ditutup-tutupi.
Zhao Jian memperhatikan tanda nama yang melekat di dada Hakim senior itu dan berkata, “Hakim Lu Xiao! Apakah kamu pura-pura tuli? Aku ini adalah menantu Kaisar Jiang Long dan kamu pasti tahu ....” Seringai tipis terpancar dari sudut bibir Zhao Jian. “Lupakan saja! Urus saja urusanmu sendiri dan jangan menghalangiku!” Zhao Jian berkata sinis.
Hakim Lu Xiao tampak sangat kesal dan mengepal tinjunya. Lima Petugas Pengadilan senior Ranah Jie Zhu di belakangnya langsung memasang kuda-kuda; bersiap untuk melawan Zhao Jian. Namun, Lu Xiao mengangkat tangannya agar mereka membiarkan Zhao Jian lewat.
“Zhao Jian... berhati-hatilah! Ada kalanya Tupai gagal melompat, militer pasti tidak akan tinggal diam atas kematian Komandan Jing Han. Sebagai seniormu aku menyarankan agar kamu lebih baik berkultivasi dengan rajin di Sekte Pedang Abadi dan jangan pernah meninggalkan tempat itu!” Lu Xiao berkata sembari tersenyum masam.
Perkataannya terkesan seperti sebuah nasehat, akan tetapi ada pesan tersirat dalam kalimat itu yang merupakan sebuah ancaman pada Zhao Jian.
“Terimakasih senior Lu!” sahut Zhao Jian tanpa menoleh ke belakang.