Beasts Master

Beasts Master
Sekte Pedang Abadi



“Aku akan menjelaskan secara singkat tentang Sekte Pedang Abadi pada kalian!” seru Duan Siliang yang merupakan Penatua Sekte Pedang Abadi dan Beast Master tersebut. “Ada Tujuh Puncak Gunung di Sekte Pedang Abadi. Pertama adalah Puncak Gunung Pedang, tempat yang dipimpin langsung oleh Patriark dan Penatua terhebat juga berada di sana—serta hanya murid-murid pilihan yang bisa menjadi murid Puncak Gunung Pedang itu.”


Zhao Jian dan yang lainnya langsung berharap diterima di Puncak Gunung Pedang itu.


“Puncak Kedua adalah Puncak Awan Putih yang dipimpin oleh Penatua Su Bimbing dan termasuk kedua paling kuat di Sekte Pedang Abadi. Namun, ia hanya memilih murid-murid wanita dengan bakat menentang langit saja. Oh, ya... Putri Mahkota Kekaisaran Jiang, Jiang Rou ada di sana. Dia termasuk murid yang sangat hebat, usianya baru Tujuh Belas Tahun dan ia sudah mencapai Ranah Tianzun. Namun, rumor yang beredar kultivasi-nya bisa secepat itu berkat Pil yang diberikan oleh Lu Xiaoran.”


Mendengar nama Lu Xiaoran, Zhao Jian langsung kesal. Karena Pemuda aneh itu selalu mendapatkan keberuntungan, bahkan kematian saja enggan menjemputnya.


“Puncak Ketiga adalah Puncak Gunung Persik, dipimpin oleh Penatua Yan Zhaoge yang merupakan Penatua dengan kemampuan berpedang paling cepat seperti kilat! Hanya segelintir ahli beladiri yang mampu melawannya. Kalau kalian diterima di sini kalian cukup beruntung sekali—karena yang tidak lolos di Puncak Gunung Pedang akan mendaftar kemari!” kata Duan Siliang.


“Mudah-mudahan saja aku diterima di Puncak Gunung Persik!” sahut Zhao Fu sembari mengepal tangannya, karena menurutnya sangat sulit baginya diterima di Puncak Gunung Pedang dengan bakat Beladirinya yang sekarang.


Zhao Jian juga berpikir sama dengan Jiang Fu, karena ia juga tidak yakin akan diterima di Puncak Gunung Pedang. Murid-murid di sana pasti berasal dari Klan besar dan keluarga Kekaisaran.


“Puncak Keempat adalah Puncak Tungku Surgawi! Pasti kalian sudah dapat menebak murid seperti apa yang diterima di sini!” kata Duan Siliang tersenyum cerah.


“Aku akan mendaftar ke sana!” sahut Luo Bing yamg merupakan Putri dari seorang Tabib dan sempat magang pada Tabib Kerajaan Zhao.


“Jangan lupa buatkan Zhao Jian Pil agar tegang terus sepanjang malam ha-ha-ha... karena istrinya kini akan bertambah, belum lagi ada Tiga Beast cantik yang siap merenggangkan kaki mereka di ranjang!” Liu Hao bercanda.


Liu Ruxu menatap tajam pada sepupu yang lebih tua tiga tahun darinya tersebut. Liu Hao dulunya juga peringkat pertama saat lulus dari Akademi Kerajaan Zhao.


Zhao Jian tersipu malu dan tersenyum masam, padahal ia belum pernah bertemu dengan Jiang Ruo calon istrinya yang merupakan Putri Mahkota Kekaisaran Jiang tersebut.


Duan Siliang kembali melanjutkan penjelasannya. “Puncak Kelima adalah Puncak Abadi yang dipimpin oleh Penatua Mo Yunfeng dan murid-murid yang diterima di sini adalah mereka yang tidak menggunakan Pedang sebagai senjata mereka. Walaupun nama Sekte kita adalah Sekte Pedang Abadi, tetapi kita juga menempa murid-murid yang menggunakan senjata lain karena dalam pertarungan itu tidak menjamin pengguna Pedang yang akan memenangkan pertarungan. Pengalaman bertarung, ilmu beladiri yang mumpuni serta keberuntungan sangat berpengaruh besar.”


“Aku juga akan ke sana, karena aku menggunakan Tombak!” seru Liu Hao!


“Puncak Keenam adalah Puncak Gunung Emas. Kenapa dinamakan demikian, karena Paviliun-nya beratapkan emas dan Penatua Huang Que yang memimpin puncak itu bingung membuat nama puncaknya makanya ide itu akhirnya terbersit di benaknya. Sama seperti Puncak Abadi, ia menerima semua jenis murid jadi kalian tak perlu khawatir tak ada Puncak yang menerima kalian karena Puncak Gunung Emas menerima semua murid yang lolos ke Pelataran dalam.”


Zhao Jian dan yang lainnya bernapas lega, karena mereka sempat khawatir tidak ada Puncak yang menerima mereka—sehingga mereka terpaksa tinggal di lembah yang merupakan tempat para murid Pelataran Luar berkultivasi.


“Dan Puncak Gunung yang terakhir atau yang terlemah adalah Puncak Penjinak Beast yang dipimpin oleh Penatua Xiao Shi dan Aku juga adalah Penatua di sana ha-ha-ha... dan sekarang kami kedatangan murid yang sangat berbakat yang juga menantu Kaisar Jiang Long, maka reputasi Puncak Penjinak akan terkenal lagi walaupun sempat didesak oleh para Penatua lain agar Puncak Penjinak ini ditutup saja. Namun, Penatua Xiao Shi dengan tegas menolaknya dan mengancam mereka dirinya akan keluar dari Sekte kalau Puncak Penjinak Beast ditutup. Kalian tahu apa tanggapan para Penatua?” Duan Siliang malah berkata dengan bangga.


Zhao Jian dan yang lainnya menggelengkan kepada.


“Tentu mereka tidak melanjutkan desakan mereka untuk menutup Puncak Penjinak Beast karena Penatua Xiao Shi itu memiliki Beast Phoenix yang merupakan salah satu Beast terkuat, mereka tidak ingin kehilangan salah satu Penatua terkuat mereka. Ya, walaupun Puncak Penjinak Beast dianggap hanya beban saja untuk Sekte Pedang Abadi—karena murid-murid yang kami latih hanya mampu menjinakkan Beast lemah saja!” Duan Siliang menghela napas panjang. “Namun, dengan kedatangan Zhao Jian maka Puncak Penjinak Beast akan bersinar terang kembali ha-ha-ha ....”


Namun, Zhao Jian segera menyilang kan tangannya dan berkata, “Aku ingin memasuki Puncak Gunung Pedang atau Puncak Gunung Persik, karena Aku juga pengguna Pedang!”


Zhao Jian menghunus Pedang Keadilan dari sarung Pedang di punggungnya untuk meyakinkan Duan Siliang.


Duan Siliang terkejut Pedang milik Zhao Jian ternyata adalah artefak tingkat tinggi. Namun, ia langsung tersenyum dan melambaikan tangannya. “Buang saja rongsokan besi itu! Kalau Penatua Xiao Shi telah mengatakan kamu muridnya maka kamu tidak akan bisa menolak!” ejeknya.


Zhao Jian terkejut mendengarnya, kalau ia menjadi murid Puncak Penjinak Beast maka ilmu berpedang-nya tidak akan berkembang. “Tetap saja aku akan menunjukkan pada Patriark Sekte bahwa tehnik berpedang-ku juga sangat hebat sehingga ia akan membuatku berada di Puncak Gunung Pedang!” sahutnya.


Duan Siliang tetap tersenyum mengejek pada Zhao Jian. “Tenang saja, aku sebenarnya tahu sedikit cara mengayunkan Pedang—sehingga Pedangmu itu tetap bisa digunakan walaupun cuma buat gaya-gayaan saja!”


Zhao Jian ingin menangis mendengar ucapan Duan Siliang. Dan berpikir, kenapa ia tidak memilih Sekte besar lainnya saja saat perwakilan mereka datang ke Klan Zhao. Namun, nasi sudah menjadi bubur, terpaksa dinikmati saja bagaimana nasibnya ke depannya.