Beasts Master

Beasts Master
Dinasti Gu Agung



Setelah Zhao Jian berangkat ke Dinasti Gu Agung, Kaisar Jiang Long mengumumkan bahwa dia telah menjalankan misi pengintaian keluar dari Kekaisaran Jiang sehingga para entitas yang membencinya sangat senang mendengar kabar itu.


Mata-mata yang dikirim Ye Mo juga segera mengirim pesan padanya bahwa Zhao Jian telah menuju Gui Dao bernama Dinasti Gu Agung.


Jian San, Pemimpin penegak hukum Sekte Pedang Abadi juga segera mengirim pesan pada Lu Xiaoran bahwa Zhao Jian telah menuju Dinasti Gu Agung.


Hanya satu batang dupa setelah Kaisar Jiang Long mengumumkan kepergian Zhao Jian, Hakim Agung tiba-tiba mengundurkan diri dan Kaisar mengumumkan mengangkat Kasim Long menjadi Hakim Agung sementara sebelum ia menemukan sosok yang cocok mengisi posisi Hakim Agung.


Kaisar juga mengatakan kalau Jiang Ruo telah menjadi Hakim yang langsung berada di bawah perintah Kasim Long sehingga Hakim lain tidak dapat mengusik keputusan yang buat nantinya.


Kabar itu membuat Klan-Klan besar maupun militer panik, karena tidak menyangka calon Ratu masa depan Kekaisaran Jiang akan turun tangan langsung mengusik kepentingan pribadi mereka.


Hakim-hakim dan Petugas Pengadilan yang tergabung dalam faksi keadilan langsung bergabung dengan Jiang Ruo, sementara Hakim-hakim dan Petugas Pengadilan yang selama ini menikmati hasil suap menjadi panik karena tidak ada sosok kuat yang melindungi mereka.


Di hari pertama pengumuman Jiang Ruo menjadi Hakim, penangkapan besar-besaran di lakukan di Kota-kota besar di seluruh Kekaisaran Jiang. Hakim, Petugas Pengadilan, Komandan militer, beberapa Penatua berbagai Klan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan korupsi, suap, penggelapan pajak dan sebagainya.


Kaisar Jiang Ruo sangat senang dengan pencapaian yang diraih putrinya itu, walaupun penampakan itu tidak menyasar ke Patriark Klan dan Jenderal militer.


Dari awal ia sudah memperingatkan Jiang Ruo untuk tidak mengusik tokoh-tokoh besar karena itu dapat mengakibatkan kekacauan yang mengakibatkan para penduduk tidak bersalah menderita.


...***...


Sinar menyilaukan tiba-tiba muncul di langit Hutan belantara di salah tempat di Dinasti Gu Agung.


Sepuluh Ranah Saint yang menjaga formasi sihir langsung menghunus senjata masing-masing.


Mereka adalah Prajurit Dinasti Gu Agung yang ditugaskan menjaga lingkaran sihir itu, beberapa bulan yang lalu Komandan mereka menemukan orang-orang asing yang keluar dari hutan.


Saat ia menanyakan indentitas mereka, mereka malah kabur dan saat tertangkap melakukan bunuh diri dengan menelan Pil Racun sehingga ia tidak mengetahui apa motif mereka.


Namun, ia curiga mereka berasal dari luar Dinasti Gu Agung karena ada formasi sihir di dalam hutan. Awalnya dia menjaga formasi sihir itu dengan mengerahkan ratusan Prajurit dan akan menyerang apapun yang muncul dari sana, tetapi hari demi hari tak ada yang muncul dari formasi sihir itu dan dia pun mulai mengurangi jumlah Prajurit yang menjaganya hingga kini yang tersisa hanya Sepuluh Ranah Saint saja.


“Siapa kamu?” bentak salah satu Ranah Saint saat seorang Pemuda tampan muncul dari formasi sihir.


Sepuluh Ranah Saint terlihat panik karena Aura Ranah Paramita yang tentunya bukan tandingan mereka, bagi Ranah Paramita mengalahkan Ranah Saint hanya seperti membalikkan telapak tangan saja.


Salah satu dari mereka langsung menembakkan kembang api yang langsung membentuk gambar Kapak.


“Berpencar!” seru salah satu dari mereka.


Langkah itu agar salah satu dari mereka dapat melarikan diri sehingga nanti salah satu dari mereka akan melaporkan seperti apa wajah Pemuda itu, kemudian pelukis akan melukiskan wajah Pemuda itu dan menyebarkan lukisan wajahnya ke Kota-kota terdekat dari hutan itu.


“Hei, tunggu!” seru Zhao Jian bingung kenapa mereka malah kabur. “Apa mereka bukan Pasukan Naga?” gumamnya memutuskan mengejar salah satu dari mereka.


Hanya dalam hitungan beberapa tarikan napas, Zhao Jian telah menangkap salah satu dari mereka.


Dia tidak dapat bergerak karena Aura Ranah Paramita milik Zhao Jian menekannya, tubuhnya tidak dapat digerakkan lagi.


“Di mana orang-orang yang memasang formasi sihir itu?” selidik Zhao Jian.


Prajurit itu tak mau menjawab dan malah memaki-maki Zhao Jian, sehingga Zhao Jian mengerutkan keningnya kesal dengan ulahnya itu.


“Aku berjanji akan melepaskanmu bila kamu mengatakan apa yang terjadi pada mereka, kalau kamu tidak mau menjawabnya maka jangan salahkan aku bila ....” Sudut bibir Zhao Jian memancarkan seringai jahat. “Aku yakin seringaiku ini akan membuatmu ketakutan layaknya telah melihat hantu Kasim ngesot!” pikir Zhao Jian merasa sudah seperti tokoh antagonis saja.


“Ja-jangan bunuh aku tuan muda! Aku memiliki istri dan anak yang harus kunafkahi di rumah! Tolong lepaskan aku dan aku akan mengatakan apa yang terjadi pada mereka!” Prajurit itu menangis tersedu-sedu saking takutnya membayangkan siksaan yang dilakukan oleh Zhao Jian padanya.


“Cepat katakan!” sahut Zhao Jian sudah tidak sabar ingin mengetahui nasib Pasukan Naga itu.


“Ko-komandan Ma Xian menemukan keberadaan mereka dan mereka langsung menelan racun agar kami tidak mengetahui apa tujuan mereka membuat formasi sihir di dalam hutan ini!” seru Prajurit itu terbata-bata. “Bo-bolehkah aku pergi, tuan muda?”


“Siapa yang berani mengusik orang-orangku akan menyusul mereka ke Dunia bawah!” sahut Zhao Jian dengan tatapan tajam. “Itu yang biasanya dikatakan oleh tokoh-tokoh utama dalam cerita dongeng yang kubaca, tapi kita bukan berada dalam negeri dongeng maka kau kuampuni!” Sudut bibir Zhao Jian memancarkan senyuman tipis dan tiba-tiba langsung menghilang dibawa hembusan angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba muncul.


Prajurit itu bernapas lega Pemuda asing itu akhirnya pergi. Dia mengira lehernya akan ditebas olehnya karena ia sempat merasakan Niat Membunuh merembes dari Pemuda itu.


“Sial! Aku harus kembali ke Kota!” gumamnya segera melarikan diri karena takut Pemuda itu akan berubah pikiran.


Zhao Jian sebenarnya bersembunyi dibalik Pepohonan dan diam-diam mengikuti Prajurit itu keluar dari hutan.


“Kota Xin De,” gumam Zhao Jian membaca tulisan besar di gerbang masuk Kota tersebut.


Sebelum melangkah ke dalam Kota Xin De, ia melepaskan topeng kulit yang mirip wajah Xuan Ji dari wajahnya.


Dia sengaja menggunakan topeng wajah itu untuk berjaga-jaga ada yang akan menyergapnya di formasi sihir yang dibuat oleh Pasukan Naga. Dan dugaannya itu benar walaupun yang menunggunya hanya Pion-Pion kecil yang langsung melarikan diri saat mengetahui yang muncul ternyata sosok yang tidak dapat mereka kalahkan.


Dia juga sengaja meniru wajah Xuan Ji karena ia merasa Xuan Ji adalah sosok yang diberkahi oleh Surga dan akan menjadi Pendekar hebat di masa depan, sehingga tidak apa-apa memberikannya tambahan sedikit musuh, karena biasanya tokoh utama itu selalu memiliki banyak musuh.


“Selamat datang tuan muda di Kota Xin De!” sapa Prajurit yang berjaga di gerbang masuk Kota sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.


Zhao Jian melambaikan tangannya dan melempar satu Keping Perak ke hadapan Prajurit itu agar identitasnya tidak perlu diperiksa.


“Terimakasih tuan muda!” Prajurit itu tersenyum lebar dan menangkupkan tinju lagi.


Sudut bibir Zhao Jian memancarkan senyuman tipis dan melangkah dengan santai ke dalam Kota Xin De.


“He-he-he... ternyata memakai pakaian mahal dapat menyelesaikan sedikit masalah!” gumam Zhao Jian yang telah mengganti pakaiannya dengan Pakaian milik Kaisar Jiang Long saat masih muda.


Dia menyuruh Jiang Ruo mengambil pakaian itu dari lemari tempat koleksi pakaian milik Kaisar saat masih muda. Tak tanggung-tanggung, Jiang Ruo memberinya Sepuluh pakaian mewah dan bila dijual maka satu helainya mungkin berkisar 100 Keping Emas dan bila ia kehabisan dana maka ia sudah berpikir akan menjual pakaian itu walaupun ia mengatakannya pada Jiang Ruo hanya meminjamnya saja.