
Dua hari telah berlalu kompetisi Perburuan Hutan Tengah, kelompok Zhao Jian telah memanen banyak herbal dan Beast level rendah.
Keterampilan bertarung Zhu Li, Zhu Huo, dan Dongfang Wei telah meningkat drastis. Ketiganya sangat bersyukur bergabung dengan Zhao Jian dalam kompetisi perburuan tersebut.
Kalau mereka tidak bergabung dengan Zhao Jian, mereka yakin tidak akan berkembang sejauh itu, bahkan mereka mungkin hanya akan menjadi pesuruh kelompok dari Puncak lain saja.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan tak jauh dari posisi kelompok Zhao Jian, Niat membunuh yang sangat kuat juga merembes dari sana.
Zhao Jian merasa Niat Membunuh itu tidak ditujukan kepada Beast, tetapi Niat membunuh seperti itu pasti ditujukan pada murid-murid Sekte.
Zhao Jian tidak menyangka ajang kompetisi perburuan ini sangat brutal dan nyawa seseorang seperti tak ada artinya saja.
“Apa yang akan kita lakukan senior Jian?” tanya Zhu Huo tampak ketakutan karena yang bertarung itu memancarkan aura Ranah Saint.
Sebagai Hakim Penegak Keadilan, tentu Zhao Jian sangat penasaran apa yang terjadi di sana dan akan menjadi penengah pertengkaran mereka agar tidak ada nyawa yang menghilang sia-sia.
“Kita akan ke sana dan jangan jauh-jauh dariku karena kita tidak tahu dari Sekte mana mereka berasal!” sahut Zhao Jian.
Zhu Huo segera menghunus senjatanya, berjaga-jaga mana tahu ada yang menyerang mereka secara tiba-tiba.
“Padahal kompetisi baru berlangsung dua hari, sudah ada yang tak sabaran merampas buruan murid lain!” gerutu Zhu Li kesal.
“Kau pasti takut, kan? Dasar lemah!” Dongfang Wei mengejek Zhu Li padahal dirinya sebenarnya sangat gugup dan telah menghunus Pedang panjangnya.
“Cih, sok keras kau bangsattttttttttttttttttt!” cibir Zhu Li, keringat dingin membasahi wajahnya saking gugupnya.
“Berhenti berkelahi, kita itu satu tim!” sela Zhu Huo kesal karena keduanya selalu saja bertengkar dan saling ejek, untung saja Zhao Jian orang yang penyabar dan baik hati sehingga keduanya tidak pernah dimarahi walaupun kadang-kadang Zhao Jian terlihat mengerutkan keningnya.
...***...
Belasan murid-murid Sekte Tianxin menyeringai jahat karena berhasil menyudutkan seorang murid terakhir yang kabur dari kelompok murid yang mereka bunuh.
“Serahkan herbal Jamur Tiram itu dan aku akan mempertimbangkan untuk melenyapkanmu tanpa merasakan penderitaan yang sangat pedih seperti yang dirasakan rekan-rekanmu!” cibir Ranah Saint yang memimpin kelompok murid Sekte Tianxin tersebut. “Bukankah kau mendengar rintihan kesakitan yang mereka rasakan menjelang kematian mereka, bahkan mata mereka sampai terbelalak ha-ha-ha!”
“Kalian hanya Sekte kecil, berani sekali kalian membunuh murid-murid Sekte Pedang Abadi. Apa kalian tidak takut Sekte kalian akan dihancurkan oleh Sekte kami, apalagi Patriark Sekte kami telah mencapai Ranah Immortal; melenyapkan Sekte kecil kalian hanya seperti membalikkan telapak tangan saja bagi Patriark kami!” ancam Murid Sekte Pedang Abadi itu walaupun tubuhnya dipenuhi luka-luka. Namun, dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah begitu saja dan bersiap-siap untuk bertarung hingga menghirup napas terakhir.
“Senior Shao Xinghe... sepertinya bocah ini meremehkan Sekte kita, hanya karena dia berasal dari Sekte besar dia mengira bahwa tak akan terkalahkan di Dunia ini. Bagaimana kalau aku mengiris-iris tubuhnya agar kita mendengar nyanyian merdunya he-he-he ....” Gadis cantik melangkah mendekati murid Sekte Pedang Abadi itu sembari menyeringai jahat, lidah menjulur ke depan seolah-olah menganggap murid Sekte Pedang Abadi itu adalah mangsa yang menggoda saja.
Semua murid-murid Sekte Tianxin semakin tertawa, tetapi senyuman yang memancar dari Ranah Saint yang memimpin mereka langsung memudar, tatapannya tertuju ke arah jalur Zhao Jian melesat ke arah mereka.
“Ada Ranah Saint yang mendekat! Bersiap-siaplah untuk bertarung!” seru Shao Xinghe tak menyangka masih ada Ranah Saint yang berkeliaran di bagian pinggiran hutan tengah——padahal kelompok murid-murid kuat lainnya di hari pertama langsung menuju bagian dalam hutan tengah untuk mendapatkan Beast level tinggi, karena tujuan mereka adalah untuk menjuarai kompetisi perburuan hutan tengah.
“Apaaaaaaaa? Padahal aku baru akan mulai mengiris bocah itu,” gerutu gadis yang hendak menyerang murid Sekte Pedang Abadi itu.
“Dia tidak bisa melarikan diri lagi, kita fokus dulu menghadapi Ranah Saint ini,” sahut Shao Xinghe dan dalam benaknya tidak mengerti kenapa Ranah Saint itu berani mendekati kelompoknya padahal dia hanya datang bersama Tiga Ranah Tianzun serta Dua Beast Ranah Tianzun juga.
Secara kekuatan, tentu kelompoknya menang jumlah karena mereka belasan orang dan basis rekan-rekannya adalah Ranah Tianzun.
Patriark Sekte Tianxin menyuruh mereka hanya berburu dipinggiran hutan tengah saja dan membunuh murid-murid Sekte lain kecuali murid-murid dari Sekte Gunung Hua.
Shao Xinghe tidak tahu kenapa Patriark Sektenya menyuruhnya melakukan itu, tetapi melihat hubungan Sekte Gunung Hua yang semakin harmonis dengan Sektenya; dia yakin Sektenya telah mendapatkan sumberdaya dari Sekte Gunung Hua, termasuk Kristal Beast Ranah Saint yang ia gunakan untuk menerobos ke Ranah Saint sebulan yang lalu.
Dari langit tiba-tiba muncul Beast Ayam Surgawi yang langsung mendarat dengan keras, sehingga permukaan tanah tempat pendaratannya hancur berkeping-keping.
“Lompatanmu semakin jauh saja, Ayam Jago!” Zhao Jian memuji Ayam Jago yang langsung berkokok lantang dan mengibaskan sayapnya karena senang mendapatkan pujian.
Beast Anjing berbulu hitam, Zhu Li, Zhu Huo, dan Dongfang Wei ketinggalan ratusan langkah di belakang padahal beberapa saat yang lalu Zhao Jian meminta mereka untuk tak jauh-jauh darinya.
“Ternyata dia Beast Master, pantas saja ia merasa dirinya sangat kuat walaupun sudah tahu jumlah kami lebih banyak. Dasar bocah bodoh yang tidak tahu betapa luasnya Dunia ini, hari ini darahnya akan menjadi pupuk organik hutan tengah he-he-he ....” Sudut bibir Shao Xinghe menyeringai jahat menatap Zhao Jian.
“Kakak Ipar!” Zhao Jian terkejut melihat kondisi murid Sekte Pedang Abadi yang penuh dengan luka-luka itu. “Di mana rekan-rekan Liu Hao? Apakah Puncak Abadi tidak membentuk kelompok murid dalam perburuan ini? Itu tak mungkin kecuali mereka telah dibunuh oleh murid-murid ini,” gumam Zhao Jian berspekulasi.
“Zhao Jian?” Samar-samar Liu Hao melihat sosok yang muncul dari langit itu adalah suami sepupunya, Liu Ruxu——apalagi sosok itu memanggilnya Kakak Ipar, hanya Liu Ruxu saja yang menikah muda di keluarga Liunya.
Setelah memastikan kalau murid itu adalah Liu Hao, darah Zhao Jian langsung mendidih dan sangat murka kepada murid-murid kejam ini. Hukuman yang pantas untuk mereka hanyalah merasakan murka dari bilah Pedang Keadilan.